Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 117


__ADS_3

Setelah menetapkan gaun pengantin yang akan dikenakan di hari pernikahannya nanti! Laluna, Tan, Tuan Lan, Larisha serta ketiga anaknya pergi meninggalkan butik untuk pulang ke kediaman Tuan Lan.


Sesampainya di kediaman Tuan Lan! Mereka turun, lalu berkumpul bersama di ruangan televisi.



"Tan, jadi kapan kau akan cuti?" tanya Tuan Lan.


"Mungkin H-5 saja Tuan, barulah aku akan menyerahkan formulir cutinya," kata Tan.


"Oke, aku akan dengan senang hati memberikan mu cuti dua Minggu berturut-turut!" ledek Tuan Lan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Tan.


Membuat Brithney yang sejak tadi menyimak obrolan orang dewasa itu, bertanya-tanya kenapa Dadynya mengedipkan sebelah mata.



"Dady, kenapa kau mengedipkan sebelah matamu?" tanya Brithney.


"Brith, kenapa kau selalu ingin tau urusan orang dewasa?" tanya Laluna.


"Iya Brith, itu urusan orang dewasa kau tidak akan paham!" kata Larisha.


Brithney pun menyunggingkan bibirnya, karena kesal tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


"Tuan Tan, sebaiknya mulai sekarang kau panggil kami jangan dengan Tuan atau Nyonya! Panggil kakak saja," kata Larisha.


"Iya benar itu Tan! Apa yang istri ku katakan, kita ini akan segera menjadi satu keluarga, masa kau terus memanggil ku dengan sebutan Tuan, aku melarang keras untuk itu!" kata Tuan Lan.



Laluna pun tersenyum, sementara Tan sepertinya kesulitan untuk memulai nama panggilan baru untuk kedua calon kakak iparnya.


"Baiklah Kak, Kak Lan dan Kak Risha! Senang akan menjadi bagian dari kalian," kata Tan sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakang akibat salah tingkah.


"Nah begitu Tan! Aku suka kau memanggilku kakak," kata Tuan Lan.


"Luna, sebaiknya kau juga cuti dari sekarang! Calon pengantin wanita tidak baik masih pergi bekerja saat hari H pernikahannya sudah dekat!" kata Larisha.


"Aku paling lusa baru mengajukan cuti kak! Hari ini dan besok belum bisa, karena yang mengambil cuti sudah banyak," kata Laluna.

__ADS_1


"Benar ya, lusa pokoknya kau harus sudah cuti!" kata Larisha.



"Iya kak, aku juga berpikir untuk berhenti kerja saja! Aku ingin menjadi istri Tan seutuhnya, yang mengurus segala keperluannya dan menunggunya pulang kerja!" kata Laluna.


"Memang sebaiknya sebagai seorang istri begitu Luna! Kau hanya perlu mengurusi suami dan anak-anak mu kelak," kata Tuan Lan.


"Bagaimana Arthan? Apa kau kau aku menjadi ibu rumah tangga saja?" tanya Laluna.


"Tentu aku sangat bahagia jika kau memutuskan untuk berhenti bekerja!" kata Tan.


"Baiklah, akan aku pikirkan secara serius keputusan ku ini!" kata Laluna.


Keesokkan harinya! Laluna datang pagi-pagi ke stasiun televisi tempatnya bekerja, dan hal yang paling dia takutkan ternyata benar terjadi! Laluna sampai di kantor disaat Daniel juga baru saja sampai, keduanya berjalan saling berjauhan. Daniel seperti biasa akan sama dengan yang lainnya, menunggu didepan pintu lift untuk menuju ruangannya.



Sementara Laluna, masih merasa tak enak hati dan lagi-lagi dia putuskan untuk belokkan kakinya ke sebelah kanan menuju akses tangga darurat. Daniel yang melihat Laluna berbelok arah, sudah paham pasti Laluna akan menyiksa dirinya kembali dengan menaiki tangga darurat.


Daniel pun menyusulnya! Saat Laluna akan melangkah menaiki anak tangga pertama! Daniel muncul disampingnya, dan ikut menaiki tangga darurat itu.


"Astaga! Kau!" gugup Laluna yang menatap tajam kearah Daniel.


"Ti-tidak bukan begitu Daniel, aku hanya tidak mau membuat mu terluka jika melihat ku terus menerus," kata Laluna.


"Aku sudah terlanjur terluka, bahkan hancur sehancur hancurnya! Jadi jangan lagi takut aku akan lebih terluka, bahkan hatiku sudah mati rasa," kata Daniel yang kemudian pergi meninggalkan Laluna yang masih terdiam.


Daniel menaiki anak tangga satu persatu, perkataan Daniel membuat Laluna semakin dirundung rasa bersalah! Apalagi Daniel mengatakan bahwa dirinya sudah mati rasa.


..."Aku harus bagaimana Daniel? Aku tau bagaimana kerasnya usahamu setiap hari selama lima tahun lebih meyakinkan aku untuk mencintai mu! Aku tau betapa besar harapan mu terhadap ku, dan aku juga bisa merasakan bagaimana hancurnya hatimu saat ini karena ulahku." Batin Laluna....



Laluna duduk di anak tangga darurat, dia menenggelamkan wajahnya disela-sela kedua kakinya. Laluna menangis, dan tidak mau Daniel sampai mati rasa seperti itu.


Hiks.


Hiks.

__ADS_1


Hiks.


Setengah jam berlalu, padahal pagi ini Laluna ada siaran berita, namun dirinya masih duduk diantara anak tangga. Laluna menoleh ke jam tangan hitam yang dipakai di lengan sebelah kirinya.


"Ya ampun! Luna, Luna dasar ceroboh! Haduh, aku telat siaran nih." Gumam Laluna yang lalu bergegas untuk menuju ruang siaran berita.


Setibanya di ruangan tempat siaran berita! Rupanya sudah ada orang yang menggantikannya melakukan siaran pagi bersama dengan Daniel.


"Haduh Luna! Luna! Untung ada yang gantiin kamu loh, kamu kemana aja si jam segini baru nyampe? Udah tau ada siaran pagi!" kata seorang karyawan.


"Sorry deh, tadi ada masalah di depan! Oke, gini aja sebagai gantinya biar aku yang gantiin siaran di lapangan siang ini! Gimana?" tanya Laluna.


"Ya udah deh, kebetulan kita lagi kekurangan presenter di lapangan! Nanti siang kita ke daerah xxx, karena ada berita perampokan di salah satu rumah disana! Kamu liput berita di lokasi, sama tim berangkatnya bareng-bareng!" kata karyawan itu.


"Oke sip rebesss pokoknya!" kata Laluna.


Huuuuuhhhhh...


Laluna meniupkan nafas panjangnya, akhirnya masalahnya mendapat jalan keluar dengan menjadi presenter sementara di lapangan, yang akan membacakan berita langsung dari lokasi kejadian. Dan dari kata-kata Daniel tadi pagi, Laluna semakin yakin untuk berhenti bekerja setelah menikah nanti.


Daniel yang melihat Laluna tengah melamun di meja kerjanya sambil memegangi kepalanya! Datang menghampiri Laluna.


"Aku minta maaf jika perkataan ku membuat mu tidak nyaman!" kata Daniel.


"Daniel, kau tidak perlu minta maaf setelah semua hal kejam yang aku lakukan padamu! Bahkan kau berhak memaki ku sepuas mu!" kata Laluna.


"Tidak ada gunanya aku melakukan itu! Mulai sekarang naiklah menggunakan lift, jika melihat ku anggap saja aku tidak ada disana!" kata Daniel.


"Baiklah jika itu keinginan mu Daniel," kata Laluna.


Daniel pun pergi, tanpa tau bahwa Laluna siang ini akan menjadi presenter di lapangan, pekerjaan yang cukup berbahaya karena cukup banyak resiko ketika seorang wartawan dan pembawa berita, melakukan siaran langsung dari tempat kejadian.


Tiba-tiba, seorang karyawan datang setelah mendapatkan telepon dari seorang yang misterius! Dengan kabar bahwa di jembatan terpanjang yang menghubungkan kedua kota antara kota A dengan kota B, terpasang beberapa bom yang siap di ledakan.


Peneror tersebut menginginkan panggilan teleponnya ditayangkan secara live di stasiun televisi terbesar itu, agar keinginannya dapat didengar oleh seluruh orang di negara ini, terutama pimpinan kontraktor yang membangun jembatan terpanjang tersebut.


❤️❤️❤️❤️


__ADS_1


Pagi-pagi awali pagi mu dengan yang menjernihkan mata dan menggetarkan bagian bawah ya maak ouw ouw ouw..🤭😅


Arthan mau dong jadi tatonya, biar bisa nempel terus sama kamu, asikkkk💃💃


__ADS_2