
Tan mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan, sementara Laluna masih meronta-ronta mendapatkan serangan dari knalpot racing milik Tan yang begitu sesak didalam inti miliknya.
"Oughttt sit! Ah, nona aku menyukai tubuh mu!" de sah Tan.
"Ah, Tuan emmmthhh pelan-pelan, kau membuatku kesakitan!" teriak Laluna.
Tan merasakan kenikmatan luar biasa setelah sekian lama tidak dia dapatkan hal yang sangat langka ini, kini dirinya menikmati gadis yang masih bersegel sekaligus gadis yang sangat dia cintai hingga membuatnya rela mendonorkan sumsum tulang belakang itu pada Laluna.
Tan kembali me lu m at bibir Laluna seiring gerakan pinggulnya yang tetap stabil bergerak mengoyak-ngoyak inti milik Laluna, tapi semakin lama semakin membuat Laluna terbiasa akan kehadiran knalpot racing milik Tan yang mulai memberikan kenikmatan untuknya,, bahkan rasa sakit itu telah hilang.
"Ah Tuan, emthhh ah!" de sah Laluna yang sekarang sudah bisa tersenyum karena berhasil melewati rasa sakit akibat ulah Tan didalam intinya.
Keduanya melakukan penyatuan dengan penuh ga i rah, Tan tidak akan melepaskan Laluna begitu saja malam ini! Laluna harus bertanggungjawab karena telah membuat Tan merasakan ketagihan akan himpitan gadis perawan.
Sementara di kediaman Tuan Lan!
Tok.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Seorang anak buah Tuan Lan mengetuk pintu kamar Tuan Lan, mendengar ada yang mengetuk pintu! Tuan Lan yang masih terjaga, segera beranjak untuk membuka pintu kamarnya, sedangkan Larisha sudah tertidur pulas.
Klek.
"Ada apa?" tanya Tuan Lan.
"Tuan, pengiriman senjata ilegal kita dicekal di dermaga!" kata seorang anak buah Tuan Lan.
"Ba jingan! Siapa yang berani mengganggu bisnis baruku?" tanya Tuan Lan yang mulai menunjukkan wajah sangarnya.
Tuan Lan memang baru saja membuka bisnis hitam baru, yakni jual beli senjata api ilegal yang dia pasok untuk orang-orang di beberapa negara yang membutuhkannya.
Tuan Lan menengok kearah Larisha, dilihatnya istirnya yang tengah mengandung itu tertidur pulas, berat rasanya bila malam ini Tuan Lan harus pergi meninggalkannya tidur sendirian, apalagi besok Tuan Lan akan mengajak Larisha untuk mengambil gaun pengantin! Tapi apa boleh buat, Tuan Lan harus membereskan semua kekacauan ini.
"Siapkan mobil! Kita ke dermaga sekarang, suruh yang lain bersiap-siap dan pakai rompi anti peluru!" kata Tuan Lan yang langsung menutup pintu kamarnya, membiarkan Larisha tidur seorang diri.
Tanpa disadari oleh Tuan Lan, Larisha sebenarnya tidak benar-benar tidur! Hanya saja, Larisha berpura-pura tertidur agar bisa menguping apa yang sedang dialami oleh suaminya. Hati Larisha rasanya tidak sanggup bila setiap saat nasib suaminya bisa saja terancam, Larisha memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya nanti jika Tuan Lan sampai kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Dad, bukan aku tidak percaya dengan kemampuan mu melindungi ku! Tapi istri mana yang sanggup melihat setiap hari, suaminya pulang kadang dengan berbagai macam luka? Aku sangat ingin meminta mu untuk berhenti dari bisnis hitam ini!" Batin Larisha.
Tuan Lan menelpon Tan agar segera menyusul ke dermaga bersama para anak buahnya yang berada di casino saat ini.
Kring.
Kring.
Kring.
Handphone Tan berdering disamping ranjang bergoyang apartemen itu. Tan yang mendengar handphonenya berdering, tapi apalah daya saat ini sedang dalam posisi wenak, posisi nanggung dan tidak mungkin dia akhiri begitu saja.
"Oughttt nikmat sekali nona! Ah sittt, handphone sial itu terus berdering!" kata Tan yang masih bisa mengumpat disela-sela kesibukannya menggerakkan pinggul maju mundur menghantam inti milik Laluna.
"Ahhh, Tuan angkatlah! Aku janji tidak akan berisik," de sah Laluna sambil meminta Tan agar mengangkat telepon itu.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Kasihan Larisha ga berani bicara kalau sejujurnya dia tidak suka dengan Tuan Lan yang terus bergelut di dunia hitam itu, tapi belum memiliki keberanian untuk bicara secara langsung hanya bisa dipendam sendiri.
Pengen ngasih sepuluh jempol buat Tan yang bisa nganu-nganu sambil angkat telepon, kuat banget dia😅