
Malam di dalam kamar Tuan Lan dan Larisha, keduanya sudah berkeringat mengucur karena melampiaskan has rat yang entahlah sudah berapa lama mereka lakukan.
Keduanya masih terus saling berpagutan, merubah posisi dari mulai tengkurap, terlentang, berdiri dan banyak lagi. Tuan Lan masih juga belum merasa puas, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi, namun naf su keduanya tak kunjung padam.
Sudah ronde kesebelas mereka belum juga mu berhenti! Larisha masih setia melayani naf su suaminya itu.
"Oughttt sssss Dad, kakiku pegal sekali!" lirih Larisha.
"Tahan Mom, aku masih ingin," kata Tuan Lan yang terus menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan tempo yang semakin cepat.
Dua jam kemudian berlalu begitu saja, Tuan Lan sudah merasakan miliknya hendak memuntahkan lahar putih yang sejak tadi sudah dia tahan-tahan agar tak keluar dulu.
"Mom, aku hampir sampai ahhhhh," de sah Tuan Lan disertai dengan mencengkram kedua tangan Larisha.
"Ah Dad, percepat Dad ayo Dad keluarkan!" de sah Larisha.
Tuan Lan pun bergerak dengan begitu cepat hingga dapat dirasakan gerakannya begitu dahsyat.
"Ahhhh mom," er ang an panjang Tuan Lan tanda berakhirnya pergulatan keduanya malam ini.
Larisha langsung tertidur begitu juga dengan Tuan Lan yang langsung merebahkan dirinya disamping Larisha. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi namun keduanya justru baru mengakhiri kegiatan berkeringat itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 siang.
Tok..
Tok..
Tok..
Seorang anak buah Tuan Lan dan juga Laluna mencoba membangunkan Tuan Lan dan juga Larisha.
"Kak Risha! Kak ini sudah siang, kita sudah telat nih ketemu orangtuanya Daniel!" kata Laluna.
Hari ini, Larisha akan menemani Laluna untuk bertemu Daniel dan juga orangtua Daniel di salah satu butik paling terkenal! Laluna dan Daniel akan memilih konsep untuk acara pertunangan mereka, dan juga gaun yang akan mereka gunakan.
"Tuan! Anda ada meeting siang ini! Tuan, anda bilang anda yang akan mengambil alih meeting! Bangunlah Tuan!" kata salah seorang anak buah Tuan Lan.
__ADS_1
Setelah diketok-ketok puluhan kali, Tuan Lan dan Laluna pun berhasil dibangunkan! Larisha melihat kearah jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul 10.15, tentu ini sudah sangat terlambat.
"Iya Luna, Kaka sudah bangun!" teriak Larisha yang buru-buru memakai pakaiannya.
Begitu juga dengan Tuan Lan yang langsung kelabakan mencari pakaiannya, Larisha yang sudah memakai pakaiannya kembali segera membukakan pintu.
Klek..
"Astaga, rambut mu kak!" kata Laluna yang melihat rambut Larisha sangat acak-acakan.
"Luna, kau tunggu dibawah aku akan mandi dengan cepat!" kata Larisha yang langsung buru-buru pergi menuju kamar mandi.
Tak lama Tuan Lan menghampiri anak buahnya.
"Aku akan mandi dulu! Tunggulah dibawah," kata Tuan Lan.
"Kalian berdua benar-benar kompak berantakannya!" kata Laluna.
"Hei Nyonya Daniel, sebaiknya kau juga tunggu dibawah sana! Dan satu lagi, aku tidak bisa ikut bersama kalian karena sudah banyak pekerjaan yang menunggu ku!" kata Tuan Lan.
"Ya baiklah kakak ipar," kata Laluna lalu pergi meninggalkan kamar Tuan Lan bersama dengan ank buah Tuan Lan.
Hari ini semua anak buah Tuan Lan sangat bersemangat karena Tuan Lan akan kembali mengurus bisnis, mereka semuanya sibuk. Larisha dan Tuan Lan pun turun ke lantai satu setelah keduanya mandi. Di sana sudah ada Laluna dan beberapa anak buah Tuan Lan yang menunggu.
"Mom, aku minta maaf tidak bisa mengantar mu kau pergi dengan supir dan satu anak buah ku, karena yang lainya sedang sibuk," kata Tuan Lan.
"Tapi Tuan, aku pun harus ke dermaga untuk membantu pengiriman barang kita!" kata anak buah Tuan Lan.
"Ya sudah kalau begitu kau dan Laluna hanya diantar oleh supir saja," kata Tuan Lan.
"Bukankah ada Tuan Tan yang sedang tidak ada pekerjaan? Dia bukannya kau berikan cuti seminggu kedepan?" tanya Larisha.
Sontak hal itu membuat jantung Laluna berdetak lebih cepat setiap nama Tan disebut dihadapannya.
"Tan adalah pengecualian, dia tidak bisa dilibatkan kedalam pekerjaan bisnis ku, jadi tidak mungkin Tan ikut bersama mu untuk mengurus pertunangan Laluna!" kata Tuan Lan.
__ADS_1
"Aku bisa mengawal nona Larisha dan juga nona Laluna, Tuan!" kata Tan yang baru saja tiba dikediaman Tuan Lan.
Setelah sekian purnama, hari ini Tan muncul dihadapan Laluna begitu tiba-tiba. Posisi keduanya kini telah berbeda, Laluna sudah terlanjur menerima lamaran Daniel, lalu kenapa Tan malah muncul membuat hati Laluna yang sudah susah payah dia tata dengan rapih kini harus berantakan kembali.
"Nah kan, aku tau Tuan Tan pasti mempunyai selera yang bagus untuk menentukan konsep dan gaun yang akan digunakan di acara pertunangan mu Luna," kata Larisha, sebuah pernyataan polos Larisha tanpa dia sadari itu sangat menusuk ke relung hati Tan.
"Kau benar nona, aku akan membantu mempersiapkan pesta pertunangan nona Luna dengan sebaik-baiknya!" kata Tan.
Jleb..
Hati Laluna seperti dihantam benda keras yang membuatnya merasakan sakit! Kenapa harus Tan? Kenapa harus laki-laki yang dia cintai yang akan membantu mengurus segala persiapan pertunangannya dengan laki-laki lain. Kedua mata Laluna sedang berusaha keras menahan bulir bening yang tidak boleh sampai menetes.
"Tan, apa yang kau lakukan?" kesal Tuan Lan.
"Aku adalah asisten pribadi mu Tuan, jika kau tidak bisa mengurus kepentingan keluarga mu bukankah memang tugas ku disini, lagipula benar apa yang dikatakan oleh nona Larisha, aku memiliki selera yang cukup bagus!" kata Tan.
Entah apa yang dirasakan oleh Tan saat dirinya dengan lantang mengatakan akan mengurus pertunangan Laluna. Sakit? Kecewa? Atau kemarahan? Semua itu berhasil Tan tutupi di depan semua orang yang ada dihadapannya saat ini.
Laluna bahkan hanya diam mematung menghadapi situasinya saat ini. Tetapi Tan sama sekali tidak menatap kearahnya.
"Baiklah, masalah dapat diselesaikan Dad! Sekarang kau pergilah bekerja, dan aku aka pergi bersama Tuan Tan, aku yakin keluarga Daniel pasti sudah sangat kesal menunggu kami!" kata Larisha.
Tuan Lan hanya bisa menatap pergi Larisha yang menarik Laluna untuk segera naik ke mobil, diikuti oleh Tan yang sempat memberikan senyum pada Tuan Lan. Larisha dan Laluna duduk dibangku belakang, sementara Tan lebih memilih menyetir mobilnya sendiri.
Laluna sangat tidak nyaman dengan situasi seperti ini! Hatinya sakit, melihat Tan justru hendak membantunya mengurusi pesta pertunangan itu! Namun Larisha yang sama sekali tidak mengetahui permasalahan diantar keduanya, cuek-cuek saja dan menikmati pemandangan di jalan raya menuju butik.
Tan mengubah posisi kaca spionnya, dilihatnya wajah Laluna yang sama sekali tidak pernah lagi tersenyum, ingin rasanya Tan mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh Laluna saat ini.
"Setelah sekian lama kau acuh padaku! Kau tak pernah menemui ku, kenapa disaat aku sudah bersama yang lain kau malah kembali datang dan bahkan kau menawarkan diri untuk membantu mengurus pesta pertunangan ku! Tidak kah kau terlalu kejam Tuan?" Batin Laluna yang begitu sesak.
❤️❤️❤️
Haduh ga kuat liat Tan, sedih banget 🥲 Gak bisa dibayangkan menjadi orang yang membantu untuk Persiapan acara pertunangan dari wanita yang dicintainya bersama laki-laki lain. Makjleb banget maak.
__ADS_1