
Karena lelah mondar-mandir didepan kamar Laluna, akhirnya Tan pun duduk dilantai bersandar pada pintu kamar Laluna, sementara Laluna yang tengah berada didalam kamarnya! Terus menerus menatap ke layar handphone yang dia dapat dari Tan, tapi Tan sekali pun tidak pernah mengirim pesan padanya.
"Menunggu itu ternyata sangat menyebalkan! Aku kira dia memberikan handphone ini padaku agar dia bisa mengirim pesan padaku, tapi ternyata aku terlalu berharap!" Gumam Laluna lalu melempar handphone itu keatas ranjang.
Laluna pun ingin keluar kamar karena sudah hampir satu Minggu dan tubuhnya sudah merasa lebih baik. Dia lantas membuka pintu kamarnya.
Klek..
Bugthh..
"Ah sial!" kata Tan yang jatuh ke lantai karena tadinya bersandar pada pintu kamar Laluna.
"Tuan, kau sedang apa disitu?" tanya Laluna heran.
"Sedang apa kau bilang? Kau yang membuatku jatuh seperti ini, membuka pintu tanpa melihat," kata Tan.
"Mana aku tau kalau kau ada dibalik pintu kamar ku! Oh, aku tau sekarang, apa kau mengintip ku Tuan?" tanya Laluna penuh curiga.
"Mengintip? Untuk apa aku mengintip gadis yang masih dalam masa pertumbuhan? Ah sudahlah, aku akan pergi sekarang," kata Tan lalu meninggalkan Laluna begitu saja.
"Dasar aneh!" kata Laluna yang melihat punggung Tan kian meninggalkannya.
Tan pun menepuk dahinya sendiri karena justru malah bertengkar dengan Laluna.
"Bodoh, kenapa aku malah memarahinya! Aku padahal ingin memberitahunya kalau besok aku pergi ke Brazil selama beberapa hari, tunggu! Kenapa juga aku memberitahunya." Gumam Tan yang merasa perasaannya campur aduk saat ini.
Sementara di dalam kamar Tuan Lan, de sah dan era ngan itu terus terdengar semakin kencang. Larisha menggerakkan pinggulnya diatas tubuh Tuan Lan, keatas dan kebawah dengan tempo yang semakin cepat.
"Oughttt honey aku ingin sampai!" lirih Tuan Lan.
"Emth, ah Tuan!" d es ah Larisha.
Tuan Lan membantu pergerakan Larisha diatas tubuhnya agar semakin kencang bergerak mengguncang knalpot traktor sawah miliknya, hingga semburan itu kembali tumpah pada rahim istrinya itu. Tubuh Larisha roboh diatas tubuh Tuan Lan, dan Tuan Lan memeluknya senang.
Keesokkan harinya!
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Larisha sudah mengantar Tuan Lan menuju mobilnya! Di dalam mobil sudah ada Tan, karena Tuan Lan akan mengantarkan Tan dulu ke bandara. Supir pribadi Tuan Lan pun sudah menyalakan mesin mobil.
"Aku pergi dulu ya! Jika ingin keluar rumah beberapa anak buah ku akan standby untuk mengantar," kata Tuan Lan lalu menge cup bibir istrinya.
"Iya Tuan! Berhati-hatilah!" kata Larisha.
Mobil itu berlalu dari hadapan Larisha, menuju ke bandara. Sesampainya di bandara Tuan Lan dan Tan turun.
"Tan, segeralah kembali!" kata Tuan Lan.
"Baik Tuan, aku juga tidak tenang bila meninggalkan anda terlalu lama!" kata Tan.
Tan pun pergi dari hadapan Tuan Lan karena pesawatnya akan segera berangkat. Sementara Tuan Lan meninggalkan bandara menuju perusahaan iklan miliknya. Siang ini pekerjaan kantor harus sudah ia selesaikan karena setelahnya dia harus mengurus casino dan tempat hiburan malam miliknya.
Setelah melewati penerbangan yang cukup panjang, Tan tiba di bandara Internasional Guarulhos Sao Paulo Brazil (GRU). Karena hari sudah gelap Tan memutuskan untuk beristirahat dan mencari penginapan dekat bandara, sehingga besok pagi dia bisa mulai mencari alamat Fabio Alberto.
Pagi hari di Sao Paulo!
Tan selesai mandi lalu keluar hotel untuk mencari taxi, dia pun mendapatkan taxi lalu menuju tempat tinggal Fabio Alberto. Dari informasi yang diperoleh oleh Tan, komplek kediaman Fabio Alberto terletak tak jauh dari Katedral bersejarah yang terkenal disana, Praca da Se, Sao Paulo nomor 101.
Seorang wanita paruh baya datang membukakan pintu rumah tersebut, dan melihat sosok Tan dibalik pintu.
"Tuan, kau cari siapa?" tanya wanita tersebut.
"Apa benar disini kediaman Fabio Alberto?" tanya Tan.
"Itu nama pemilik rumah ini sebelum aku membeli rumah ini dari anaknya, duduklah!" kata wanita itu, wanita paruh baya itu terlihat ramah pada Tan.
Tan pun duduk di ruangan utama rumah tersebut, sambil kedua matanya sesekali melirik menelaah bangunan rumah ini.
"Apa Fabio Alberto memiliki anak, nyonya?" tanya Tan.
"Ya, aku membeli rumah ini atas izin anaknya! Malang benar nasib anak itu," kata wanita itu.
"Lalu dimana anak Fabio berada? Dan kenapa nasibnya bisa malang?" tanya Tan.
__ADS_1
"Bagiamana dia tidak bernasib malang, saat usianya baru 10 tahun, dia harus menyaksikan dengan kedua matanya sendiri orang tuanya tewas ditembak oleh orang-orang tidak dikenal, beruntung dia dapat sembunyi dibalik lemari," kata wanita itu.
"Kau benar dia sangat bernasib malang, apa kau tau dimana anak itu sekarang?" tanya Tan.
"Setelah melihat peristiwa tragis itu Briant Alberto nama anak itu, dia depresi berat dan hidup dibawah asuhan pemerintah, tapi berita terkahir yang ku dengar dia masuk rumah sakit jiwa selama tiga tahun, dan baru setahun terakhir ini dia keluar dari sana!" kata wanita itu.
"Apa kau memiliki foto Briant?" tanya Tan.
"Tidak, tapi jika kau pergi ke rumah sakit jiwa itu kau akan mendapatkannya disana! Tapi kau ini siapanya Fabio?" tanya wanita itu.
"Fabio Alberto adalah teman lama Ayahku, dan aku diminta oleh Ayahku untuk mencarinya karena sudah lama mereka tidak bertemu!" kata Tan.
"Kalau begitu pergilah ke rumah sakit jiwa itu, siapa tau kau dapatkan alamat tempat tinggal Briant saat ini!" kata wanita itu.
Setelah mendengarkan cerita dari wanita paruh baya itu! Tan dapat perkirakan umur Briant saat ini 20 tahun, pria yang sudah memasuki usia dewasa dan pernah menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Dugaan Tan semakin mengarah pada Briant.
Tan kemudian pergi ke rumah sakit jiwa yang disebutkan oleh wanita paruh baya itu. Sesampainya disana, Tan meminta pada petugas adminstrasi data pribadi milik Briant Alberto. Dari data tersebut, Tan memfoto wajah Briant, dan mencari alamat tempat tinggalnya disana, namun tidak tertulis.
"Nona, kenapa alamat tempat tinggalnya tidak tertulis?" tanya Tan.
"Ya, memang pasien tersebut sudah tidak tinggal di negara ini! Dia tidak memiliki tempat tinggal, jadi saat keluar dari rumah sakit jiwa ini aku membantunya mencairkan asuransi milik kedua orangtuanya, lalu membantunya untuk membuat visa dan pasport," kata petugas wanita itu.
"Visa? Pasport? Memang pergi kemana Briant?" tanya Tan.
"Dia bilang dia ingin pergi ke Korea Selatan," kata petugas itu.
"Apa kau tau untuk apa dia pergi kesana?" tanya Tan.
"Kau kan tadi bilang kau saudaranya, mengapa kau tidak tau apa-apa?" tanya petugas itu.
"Aku kehilangan kontak dengannya, aku ingin sekali menemukannya nona! Bantulah aku," kata Tan.
"Dia pergi ke salah satu tempat disana! Wonjin Plastic Surgery Clinic!" kata petugas wanita itu.
Tan kemudian berterimakasih banyak pada petugas wanita itu, dan langsung memesan taxi untuk kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, Tan membuka laptop miliknya lalu melakukan pencarian, tentang klinik yang disebutkan oleh wanita tadi.
__ADS_1