Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 121


__ADS_3

Tan berjalan menuju ruangan kerjanya dengan terus menggandeng tangan Laluna, meskipun sikapnya yang manis terhadap wanita seperti itu, membuat para karyawan wanita di kantor yang melihatnya terpotek-potek hatinya.


Banyak sekali karyawan wanita yang sangat mengharapkan bisa berada diposisi Laluna saat ini, pesona Tan memang mampu mengalahkan pesona Tuan Lan yang juga banyak digandrungi para karyawan wanita disini.


Setibanya di depan ruangan kerja, terlihat Tuan Lan berjalan terburu-buru menghampiri pasangan yang tengah bucin itu.



"Luna! Astaga! Kau ini benar-benar pembuat onar!" teriak Tuan Lan.


"Kak Lan, datang-datang sudah marah-marah terhadap ku!" kata Laluna.


"Bagaimana aku tidak marah hah? Kau tau, aku dan kakakmu menonton berita di televisi, kami melihat bagaimana kau dengan sadarnya berada di lokasi berbahaya itu!" kata Tuan Lan.


"Kak Lan! Aku ada meeting, silahkan kau mengomel sepuas mu terhadap calon istri ku, oke! Aku akan segera kembali!" kata Tan yang buru-buru meninggalkan Tuan Lan dan Laluna.


"Adududuu!!!" ringis Laluna.


Saat satu tangan Tuan Lan dengan entengnya menjewer kuping sebelah kiri Laluna.


"Ampun Kak, aku berjanji tidak akan seperti itu lagi, lepaskan kak Lan," rengek Laluna.


"Dengar! Ini peringatan untuk mu yang terakhir kali dariku, segera berhenti dari stasiun televisi itu dan jangan pernah masuk kedalam situasi berbahaya seperti itu, apa kau paham?" tanya Tuan Lan.


"Paham Kak, tidak istrinya tidak suaminya kompak memarahiku," gumam Laluna.


Tuan Lan pun pergi meninggalkan Laluna untuk menyusul Tan, sementara Laluna masuk ke dalam ruangan kerja milik Tan. Ruangan yang luas dan nyaman, pantas saja Tan sanggup berlama-lama bekerja di perusahaan ini.


Laluna duduk di sofa untuk beristirahat, sambil menunggu Tan selesai meeting. Hampir setengah jam, Tan barulah kembali itupun dengan salah seorang karyawan wanita yang ikut masuk ke dalam ruangan Tan.



Klek..


"Baiklah, biar aku pelajari dulu jika memang klien kita yang satu itu keberatan dengan nominal yang kita berikan!" kata Tan sambil mempelajari sebuah berkas di tangannya.


"Baik Tuan, aku rasa mereka tidak paham bahwa perusahaan kita memberikan harga lebih mahal dari kompetitor karena kualitas kita diatas kompetitor," kata karyawan wanita yang mengobrol dengan Tan itu.

__ADS_1


Sementara Laluna yang melihat Tan dan wanita tersebut saling mengobrol padahal ada dirinya di dalam ruangan itu, langsung mengerucutkan bibirnya, menaikkan alisnya karena merasa Tan mengabaikannya.


"Oke, berkas ini besok baru akan aku tangani! Silahkan, kau kembali ke ruangan mu!" kata Tan.


"Baik Tuan, saya permisi! Permisi nona Luna!" kata karyawan tersebut sambil menorehkan senyum mengembang.


"Hmm,," singkat Laluna.


Karyawan wanita tersebut berlalu dari ruangan Tan, meninggalkan Tan dan Laluna di dalam ruangan kerja itu.


"Menyebalkan!" kata Laluna.


Tan pun duduk di kursi kerjanya, dan sama sekali tidak menggubris perkataan Laluna. Karena kesal Tan yang masih terus sibuk, Laluna pun menghampiri Tan lalu menarik kursi yang tengah diduduki oleh Tan menghadap dirinya, Laluna pun duduk dipangkuan Tan lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Tan.



"Luna, tunggulah dulu aku masih harus mengirim email dulu sebentar," kata Tan.


"Siapa wanita tadi?" tanya Laluna.


"Memang kau tidak lihat id card yang dipakainya?" tanya Tan.


"Lalu? Kau tau kan, dia karyawan di kantor ini, kenapa masih bertanya?" tanya Tan.


"Karena dia terlalu cantik untuk ukuran karyawan wanita, kenapa di kantor ini banyak wanita cantik-cantik?" tanya Laluna.


"Tidak ada yang secantik dirimu! Sudahlah, kau turun dulu!" kata Tan.


"Tidak mau! Mau tetap disini, dipangkuan mu," kata Laluna yang bernada manja.


Sikap manja Laluna yang seperti itu, membuat Tan tidak dapat lagi berkonsentrasi kerja, Laluna terlihat menghemat saat merengek seperti itu! Membuat darah Tan berdesir hebat.


"Kalau begitu, aku akan bekerja dan kau tetap duduk dipangkuan ku!" kata Tan.


"Oke," kata Laluna.


Tan berusaha menyelesaikan pekerjaannya! Tangannya sedang fokus dengan layar laptop yang berada di meja kerja tersebut, sementara kedua matanya justru kehilangan fokus! Bagaimana tidak, bila tepat didepan matanya, ada kedua melon import yang sangat besar dan menggoda.

__ADS_1


Tan pun menghentikan sejenak pekerjaannya, kini kedua tangannya justru menaikkan baju atasan yang dikenakan oleh Laluna, sehingga kedua melon import yang sintal itu menggantung sempurna dihadapannya, dibukanya pengait brra yang dikenakan oleh Laluna, hingga kedua gundukan besar itu polos tanpa tertutupi sehelai benangpun.



"Katanya mau kerja dulu sebentar!" goda Laluna.


"Luna, kau benar-benar membuat ku terus berga i rah sayang! Aku ingin meng hi sa pnya," kata Tan.


Tanpa menunggu persetujuan dari Laluna, Tan segera meng hi sap melon import sebelah kiri Laluna dengan kuat dan penuh naf su.


"Oghtttttttt, oh my God pelan-pelan sayang!" de sah Laluna saat Tan meng hi sapnya tanpa ampun.


Dengan kedua tangannya, Tan memainkan kedua melon import besar yang sangat nikmat itu! Sambil secara bergantian terus dia hi sap, seperti bayi yang sedang lapar. Laluna pun menggigit bibir bawahnya, akibat Tan yang penuh naf su menye dot melon import miliknya secara bergantian.


Brewok yang tumbuh disepanjang wajah Tan, menempel dan tergesek pada bagian pucuk melon import milik Laluna, membuat tubuh Laluna meng ge linjang hebat.


"Oughttt sssstttttttt Arthan, kau meng hi sapnya terus aku tidak tahan lagi," de sah Laluna.


Mendengar de sahan yang keluar dari bibir Laluna, membuat Tan semakin bernaf su menghi sap kedua melon import itu, Tan juga mengigit tipis ujung pucuk kedua melon import yang berwarna merah muda itu, gigitan-gigitan kecil di kedua melon import milik Laluna, membuat Laluna merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Laluna bahkan mencengkram kuat rambut Tan, lalu menenggelamkannya semakin dalam terbenam pada kedua melon import miliknya.


"Ahhhhh sitttttt, Arthan terus kan sayang, emtthhhhh hi sap terus sayang, Ahhh Arthan ohhh Ahhh Arthan," de sah Laluna.


Laluna terus menekan kepala Tan agar semakin tenggelam pada kedua melon import miliknya, setiap hisa pan, gigitan, dan sapuan brewok di kedua melon import miliknya membuat Laluna mendapatkan kenikmatan yang melambungkan dirinya ke udara.


Tan pun melepaskan mulutnya dari kedua melon import milik Laluna, ditatapnya wajah penuh ga i rah Laluna yang terlihat pasrah duduk dipangkuannya.


"Kau terlihat sangat ber na f su sekali sayang, kau membuatku ingin selalu menikmati tubuhmu!" kata Tan dengan kedua mata sayu.


Laluna melihat kedua melon import miliknya sudah dibasahi oleh sisa-sisa saliva Tan yang tertinggal, Laluna menatap wajah laki-laki yang sudah membuatnya kecanduan akan urusan knalpot.


"Aku suka kau menikmati tubuhku sayang, aku sudah tidak tahan lagi!" lirih Laluna.


Tan pun kembali menyambar kedua melon import milik Laluna yang masih menggantung menantang' di hadapannya! Tan melahapnya dengan rakus, memasukkan seluruhnya ke dalam mulutnya meskipun dia tau itu tidak akan muat.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Arthan tau aje ntar maljum, udah ambil start duluan aja nih orang🤭😅


__ADS_2