Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 123


__ADS_3

Wajah Tan menengadah keatas saat miliknya berada didalam rongga mulut Laluna, terasa menggelikan namun begitu nikmat hingga Tan merasakan tubuhnya tengah melayang di udara,


"Ahh sayang kau, liar sekali sittttt ah,"


Tan meracau saat Laluna dengan kepandaiannya memanjakan Knalpot racing itu didalam rongga mulutnya. Di mainkannya oleh ujung lidah Laluna lalu di hi sapnya lagi begitu terus menerus.


Tan yang begitu sudah tidak tahan ingin membuang lahar putih yang sejak tadi sudah mendesak agar segera keluar,


"Luna, oughttt aku ingin keluar sweety aku tak tahan,"


Laluna pun terus meng hi sapnya semakin cepat, sementara Tan menekan wajah Laluna agar semakin tenggelam kedalam knalpot miliknya, hingga akhirnya.


"Aaaa,,,,, ohhh Fu ck, sssstttttt ah ah ah,"



Tan menyemburkan cairan kenikmatannya didalam rongga mulut Laluna, membuat Laluna buru-buru meraih tisu yang berada diatas meja dekat sofa, lalu kemudian memuntahkannya.


Tan yang sudah berhasil mencapai puncak kenikmatannya, masih mengatur nafas duduk bersandar di sofa itu, sementara knalpot racingnya masih terlihat kemana-mana. Luna masih terlihat sibuk membersihkan mulutnya dari sisa-sisa cairan kenikmatan milik Tan.


"Sayang, kenapa dimuntahkan?" tanya Tan.


"Entahlah Tan, hari ini aku merasa sangat mual sekali! Apa mungkin ini efek trauma akibat kejadian di jembatan tadi siang?" tanya Laluna.


Mendengar calon istrinya merasa tidak enak badan, Tan segera mengenakan celananya kembali lalu merangkul pinggang Laluna.


"Kau sakit?" tanya Tan sambil merengkuh tubuh Laluna dari belakang.


"Iya, aku sedang mual. Sebenarnya dari tadi pagi, hanya tadi pagi tidak separah sekarang," kata Laluna.


"Baiklah, hari ini aku tidak akan meminta ronde ke dua! Aku akan mengantarmu pulang ke rumah," kata Tan.


"Iya, ku rasa aku hanya perlu sedikit istirahat saja!"


Laluna pun memakai pakaiannya kembali, bersama dengan Tan keduanya meninggalkan kantor untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Laluna seget diantar ke kamarnya oleh Tan.



Dibaringkannya tubuh Laluna diatas ranjang, terlihat Laluna sedikit pucat wajahnya. Tan merasa khawatir dengan keadaan Laluna seperti ini, padahal hanya tinggal hitungan hari keduanya akan menggelar pernikahan mewahnya.


"Luna, aku akan meminta pelayan untuk membuatkan bubur untukmu!"


"Tidak, aku sedang tidak mau makan,"


"Tapi wajahmu pucat, aku akan panggilkan dokter agar dia memeriksa keadaan mu sekarang,"


"Tidak usah Tan, besok juga aku sudah membaik. Percayalah!"


Tok..


Tok..


Tok..


__ADS_1


"Luna ini kakak," kata Larisha yang berada dibalik pintu kamar Laluna, karena mengetahui dari pelayan bahwa Laluna sudah pulang ke rumah.


"Iya kak, masuk aja,"


Larisha pun membuka pintu kamar Laluna, terlihat Tan tengah duduk dibibir ranjang sembari menggenggam tangan Laluna yang saat ini sedang terbaring di ranjangnya.


"Kalian ini, udah mau nikah masih aja pacaran terus! Tan, mulai hari ini jangan ketemu Luna dulu, biar nanti kalian sama-sama kangen ketika sudah sah menikah,"


"Iya kak, aku akan pulang sekarang! Tadi aku mampir karena Luna sepertinya sakit,"


"Luna? Apa kau terluka saat di jembatan itu? Mana yang sakit bilang sama kakak!"


"Kak, aku tidak apa-apa hanya mual saja pingin muntah,"


"Pokoknya mulai hari ini, kamu tidak boleh keluar rumah lagi sampai hari pernikahan kamu Luna,"


"Tapi kak, besok aku akan memberikan surat untuk pengunduran diri dari pekerjaan itu,"


"Pengunduran diri? Tan dan Larisha sontak terkejut mendengar Laluna akan mengundurkan diri dari pekerjaannya mulai besok bukankah Laluna bilang hanya akan cuti dulu?


"Iya, setelah memikirkan banyak hal sepertinya memang aku ingin berhenti besok,"


"Bagus Luna, pekerjaan mu membuat kakak khawatir terus! Kakak senang akhirnya kamu memutuskan untuk berhenti, besok biar kakak datang ke kantor, kalau perlu kakak akan bertemu Daniel untuk menitipkan surat pengunduran diri kamu!"


"Luna, kamu tidak cerita apapun padaku tadi?"


"Maaf Tan, tadi kan tidak sempat," Luna berbisik ditelinga Tan, boro-boro bilang berhenti kerja saat di tempat kerja Tan, orang mulut cuma bisa ah ah ah terus.


"Aku senang sekali, kau mengambil keputusan penting ini Luna! Aku berjanji akan membahagiakan mu,"


"Ya, memang sebaiknya begitu Tan,"


"Kalau begitu, aku pulang dulu Luna, kak, cepet sembuh sayang," Tan mengecup kening Laluna lalu menarik bad cover berwarna putih itu untuk menyelimuti tubuh Laluna.


Tan pergi meninggalkan kediaman Tuan Lan, sementara Larisha masih menemani Laluna di dalam kamarnya! Terdengar dari luar kamar, Brithney memanggil-manggil nama Momynya.



"Momy! Momy! Mom, Momy!


"Brith, Momy di kamar aunty masuklah!"


Klek..


Pintu dibuka oleh Brithney, dan gadis kecil itu masuk ke dalam kamar Laluna langsung duduk dibibir ranjang.


"Hei setan kecil,"


"Aku bukan setan kecil aunty,"


"Lantas kenapa kau selalu gentayangan dimana-mana disekitar rumah ini?"


"Karena kau membuat Momy ku berada disini!" ketus Brithney.


"Brith, besok mau ikut Momy ke kantor aunty Luna tidak? Momy akan kesana bertemu paman Daniel loh,"

__ADS_1


"Baiklah Mom, aku akan ikut bersamamu!"


"Luna, kalau begitu kau siapkan surat pengunduran dirinya! Besok pagi kakak ambil, sekarang kakak mau menjemput Bright dan Domanick dari tempat lesnya!"


"Iya kak, nanti aku akan buat,"


Larisha dan Brithney keluar dari dalam kamar Laluna, keduanya bergegas turun ke lantai satu kediaman mewah tersebut lalu masuk ke mobil untuk menjemput Bright dan Domanick. Sementara di dalam kamar, Laluna melihat kalender jadwal menss truasinya rupanya sudah terlewat seminggu dari tanggal seharusnya.


Laluna pun menelepon pelayan, untuk segera datang ke kamarnya!


Tok.


Tok.


Tok.


"Nona,.ini aku," seorang pelayan telah tiba di kamar Laluna.


"Iya iya, cepat masuk,"


Pelayan masuk untuk mengetahui kenapa Laluna memanggilnya,


"Ambil uang ini, dan tolong belikan aku testpack yang paling mahal dan paling akurat!" Laluna menyodorkan uang selembar.


"Apa nona? Apa saya tidak salah dengar, testpack?"


"Iya benar testpack untuk mengetes apakah aku hamil atau tidak!"


"Ba-baik nona,"


Pelayan tersebut langsung mengambil uang yang diberikan oleh Laluna tanpa bertanya lebih jauh lagi! Pelayan itu sadar, bahwa itu bukan urusannya, pelayan pun pergi meninggalkan kamar Laluna lalu menggaruk-garuk kepalanya sambil memegangi uang selembar itu.


"Huhhhh, nikahnya masih beberapa hari lagi tapi hamilnya udah sekarang! Memang ya, menabung lebih dulu itu penting, sekarang hasilnya sudah ada," gumam pelayan,


Pelayan tadi pun menepuk jidatnya dengan uang selembar itu, sambil cengengesan sendiri.


Sesampainya di tempat les, terlihat Domanick dan Bright baru keluar dari dalam ruangan belajar.



"Hei anak-anak, bagaimana kalian happy bisa mendapatkan pelajaran tambahan?" tanya Larisha.


"Happy? Mom, aku malas belajar dan karena les sialan ini, aku jadi harus lebih banyak lagi belajar,"


"Wow Nick, percayalah itu hanya kau rasakan diawal saja, nanti kau pasti akan menyukai belajar karena itu akan membuatmu lebih pintar!"


"Pintar dan menjadi kutu buku seperti orang disebelah ku ini!"


"Bright maksud mu? Bright, Momy menjemput tapi kau tidak mengatakan apapun pada Momy,"



Bright pun lantas masuk terlebih dahulu ke dalam mobil tanpa berkata apapun lagi! Ya, seperti itulah Bright dia hanya mau bicara jika keadaan mendesak.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Ingat maak menabung itu penting kata pelayan itu juga🤪 pokoknya ini novel bener-bener unfaedah ya maak jadi jangan ditiru😅


__ADS_2