Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 46


__ADS_3

Laluna pun hendak kembali saja kedalam kamarnya karena kakinya masih terlalu lemas untuk berjalan ke dapur di lantai 2 itu. Saat hendak menutup pintu kamarnya! Tan menahan pintu itu.


"Tuan, kau? Bukankah kau sudah berlalu pergi tadi, kenapa kembali?" tanya Laluna.


"Sebenarnya apa yang mau kau lakukan malam-malam begini keluar kamar? Bukankah Dokter memintamu untuk tidak beranjak dari tempat tidur mu selama satu Minggu ini?" tanya Tan.



"Aku haus Tuan, dan kau berlalu begitu saja padahal aku ingin meminta tolong ambilkan air untuk ku! Jika aku berteriak di rumah sebesar ini siapa yang akan mendengar teriakan ku," kata Laluna.


"Astaga, kau ini norak sekali, untuk apa berteriak! Apa matamu yang besar itu tidak bisa melihat ada telepon rumah disamping ranjang mu! Telepon pelayan lewat telepon itu, dan mereka akan menghampiri mu!" kata Tan.


"Aku tidak tau nomor teleponnya Tuan!" kata Laluna.


"Bukalah laci dibawahnya, maka akan ada buku kecil yang berisi nomor telepon untuk menghubungi pelayan, setiap ruangan di rumah ini!" kata Tan berusaha menjelaskan.


"Kau ini, malah memarahiku! Sudahlah aku jadi tidak haus melihat laki-laki tempramen seperti mu!" kata Laluna yang kesal karena Tan selalu bicara ketus terhadapnya. Laluna pun masuk kedalam kamarnya lalu menutup pintunya begitu saja.


Melihat Laluna masuk kamar, Tan pun pergi untuk mengambilkan air minum di dapur, lalu kembali dengan air satu botol tupperware besar air minum.


Tok.


Tok.


Tok.


Laluna yang masih lemas, tak mau beranjak dari tempat tidurnya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu. Tan pun akhirnya masuk kedalam kamar itu, dan melihat Laluna sedang berbaring menengok kearah datangnya Tan.



"Ini, aku bawakan air minum untukmu!" kata Tan lalu memberikan satu botol air minum pada Laluna.


Laluna pun duduk bersandar pada ranjang, dan menerima botol berukuran besar itu.


"Terimakasih Tuan," kata Laluna.


"Apa kau punya handphone sekarang?" tanya Tan.


"Tidak, handphone ku yang dulu hilang entah kemana," kata Laluna.


"Ini, pakailah handphone milikku!" kata Tan sambil menyodorkan handphone miliknya.


"Tidak usah Tuan, nanti kau bagaimana?" tanya Laluna.


"Aku memiliki handphone lebih dari satu! Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu, disitu terdapat nomor My number 2, hubungi aku ke nomor itu!" kata Tan.


"Baiklah Tuan, terimakasih banyak!" kata Laluna.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pergi dulu!" kata Tan.


"Iya Tuan, sampai jumpa lagi," kata Laluna.


Tan pun pergi meninggalkan Laluna dengan wajah menahan senyuman. Begitu juga dengan Laluna yang sejak awal memang sudah mengagumi ketampanan Tan.



"Astaga, lihatlah laki-laki tua itu! Dia tampan sekali, apalagi dia memberikan baku handphone miliknya! Aduh meleyottt banget hati ade, Om Om memang lebih menggoda ya!" kata Laluna.


Hahaha...


Keesokkan harinya!


Larisha dan Tuan Lan sudah bangun, seperti biasanya Larisha memakaikan jas pada Tuan Lan, membawakan tas kerjanya dan bersiap untuk mengantar Tuan Lan ke mobil.


"Tuan, apa kau yakin tidak sarapan dulu?" tanya Larisha.


"Sampai kapan kau akan memanggil ku Tuan? Apa kau lupa aku sudah merobek perjanjian pernikahan itu! Kau adalah istri ku, panggil aku dengan sebutan yang layak," kata Tuan Lan.


"Tapi aku masih butuh waktu untuk menyesuaikan dengan semua ini! Maksudku begini Tuan, aku masih tidak menyangka kau akan menjadikan aku istri sungguhan," kata Larisha.


"Baiklah, satu Minggu! Kau aku beri waktu hanya satu Minggu untuk mengganti nama panggilan mu terhadap ku! Bagiamana?" tanya Tuan Lan.


"Baik Tuan, aku akan secepatnya beradaptasi, tapi jika aku adalah istrimu apa aku boleh keluar dari kamar ini? Aku bukan lagi tawanan mu kan Tuan?" tanya Larisha.


"Tapi aku tidak suka bila beberapa anak buah mu terus mengawal ku! Aku mohon Tuan, izinkan aku jalan-jalan sendiri, berbelanja sendiri dan bertemu dengan teman-temanku sendiri!" kata Larisha.



"Oughttt, kau jangan memasang wajah atau bersuara merengek begitu Larisha! Benar-benar membuat has r at ku memuncak kembali," kata Tuan Lan.


"Tuan, kau tidak ada puasnya!" kata Larisha malu-malu.


"Karena sekarang kau sudah liar sekali, itu membuatku semakin tidak ada puasnya denganmu!" kata Tuan Lan sambil tersenyum.


"Apa kau suka aku seperti semalam?" tanya Larisha.


"Ya tentu! Kau bukan lagi gadis polos, tapi kau sudah bisa bergerak sendiri diatas tubuhku, liar sekali kau ini!" kata Tuan Lan.


"Tuan sudah cukup, aku malu! Jadi bagaimana?" tanya Larisha.


"Ya baiklah! Tapi kau akan tetap diantar oleh supir pribadiku, aku tidak mungkin membiarkan mu pergi menggunakan kendaraan umum! Apa kau mengerti?" tanya Tuan Lan.


"Iya Tuan, aku mengerti! Ayo aku antar sampai kedepan!" kata Larisha.


"Kiss me please!" kata Tuan Lan.

__ADS_1


"Tuan, kau sudah ditunggu oleh Tan! Nanti malam saja!" kata Larisha.


"Ya ya, baiklah istriku!" kata Tuan Lan.


Tuan Lan dan Larisha pun keluar kamar mereka, namun saat hendak menaiki lift untuk turun ke lantai satu! Tuan Lan malah menarik pinggul Larisha, lalu meraup bibir ranum Larisha dengan lahapnya, Larisha pun membalas ci u man itu, hingga keduanya terus ber c i uman didepan lift.



Ting..


Pintu lift terbuka dan ada Tan didalamnya! Karena Tan hendak menemui Tuan Lan di kamarnya.


"Sebaiknya aku turun lagi saja!" kata Tan.


Suara Tan, membuat Larisha sontak mendorong Tuan Lan hingga kedua insan itu pun berhenti ber ci u man. Larisha hanya tertunduk malu dihadapan Tan, sementara Tuan Lan tersenyum sumringah Tan melihat aksinya.


"Itu sarapan pagiku!" kata Tuan Lan lalu masuk kedalam lift.


"Mari nona!" kata Tan tersenyum meledek.


Tan pun menutup pintu lift, dan turun ke lantai satu bersama Tuan Lan.


"Ya ampun! Bagiamana ini, Tuan Tan melihat aku ber ci u man, memalukan! Ini semua gara-gara Tuan Lan yang tidak sabaran." Kata Larisha menggerutu sendiri.


Tuan Lan dan Tan sampai di lantai satu, keduanya keluar dari dalam lift dan menuju ke parkiran untuk segera berangkat ke kantor. Didalam mobil Tan sibuk membaca berkas-berkas dengan seksama.



"Tan, bagaimana tentang Dev? Semalam aku sibuk jadi tak mengangkat telepon mu," kata Tuan Lan.


"Aku paham, mulai sekarang aku tidak akan mengganggu diwaktu malam hari," kata Tan tersenyum meledek.


"Oh, sitttt, ayolah kau meledekku Tan?" tanya Tuan Lan sambil tersenyum malu.


"Tidak Tuan, aku hanya memahami!" kata Tan.


"Jadi bagaimana?" tanya Tuan Lan.


"Setelah aku mengecek ke Bar tersebut, ada seseorang yang sengaja menghapus rekaman cctv saat Dev berada disana Tuan! Dan sejak semalam aku membuka berkas daftar orang-orang yang terlibat hubungan bisnis kurang baik denganmu! Aku pelajari semuanya, jika ini menyangkut bisnis tidak mungkin orang tersebut membunuh Dev!" kata Tan.


"Jadi maksudmu Tan?" tanya Tuan Lan.


"Orang ini, ingin menyerang personal dirimu Tuan! Itu berarti, dia memiliki dendam pribadi diluar persoalan bisnis, jika orang orang ini rekan bisnismu dia mungkin hanya akan menghancurkan tempat bisnismu buka membunuh anakmu!" kata Tan.


"Apa? Dendam personal?" tanya Tuan Lan yang sangat terkejut mendengarnya.


__ADS_1


__ADS_2