Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 90


__ADS_3

Tak lama kemudian, ketiga perawat datang menggendong masing-masing satu orang bayi! Ketiga bayi itu dibawa untuk bergantian diberikan A S I oleh Larisha.


"Siang Nyonya Larisha, kami datang membawa bayi kembar anda!" kata seorang perawat.


Lalu ketiga perawat itu memberikan bayi-bayi lucu dan mungil itu pada Larisha, untuk mendapatkan A S I pertama mereka, setelahnya ketiga perawat itu meninggalkan ruangan Larisha.



"Kalian tunggulah di luar!" kata Laluna.


"Baik nona, kami akan berjaga di luar!" ujar salah seorang anak buah Tuan Lan, lalu mereka pergi meninggalkan ruang perawatan.


Larisha pun mulai menatap satu persatu bayi yang baru saja dia lahirkan! Dua anak laki-laki dan satu anak perempuan.


"Kak, bayi mu yang ini sepertinya tidak bisa diam! Lihat kepalanya bergerak-gerak terus!" kata Laluna sambil gemas memperhatikan satu persatu dari ketiga bayi kembar itu yang memang sangat berbeda-beda karakter.


"Iya, dia sepertinya paling aktif! Kakak akan memberikan nama Domanick Limson untuk bayi laki-laki kakak yang ini!" kata Larisha.


"Wah nama yang gagah! Tapi terdengar seperti nama seorang Casanova," kata Laluna.


"Oh ya? Mudah-mudahan kelak besar dia tidak menjadi Casanova sungguhan," kata Larisha.


Hahahaha..


"Lalu yang ini kak, dia kalem sekali! Sejak tadi dia yang paling pendiam," kata Laluna.



"Kau benar, dia paling tenang! Kakak akan memberinya nama Bright Limson, apa bagus?" tanya Larisha.


"Iya kak, bagus sekali aku suka! Hai Ade Bright, uhh kau tenang sekali sayang!" kata Laluna.


Utututu..


Namun baby Bright dan baby Domanick mengerucutkan bibir mereka seolah meledek Laluna.


"Ah gemas sekali! Mereka merespon kak, ketika aku panggil nama mereka masing-masing!" kata Laluna.


"Iya, mereka sepertinya setuju dengan pemberian nama dari masing-masing, sekarang giliran putri cantik kesayangan Momy! Nak, Momy akan memberikan nama Brithney Limson, kau suka cantik?" tanya Larisha yang mulai membuka kancingnya untuk memberikan a si pertamanya untuk Brithney.


Oeeee...


Oeeee...

__ADS_1


"Uluh-uluh manja sangat kamu cantik! Langsung nangis," goda Laluna.


Larisha pun memberikan a sinya satu persatu pada Domanick, Bright, dan Brithney secara bergantian. Namun kedua mata Larisha terasa semakin berat dan tak mampu lagi membendung bulir bening yang sejak tadi berusaha dia tahan.


Air mata Larisha akhirnya tumpah, saat melihat ketiga bayi kembarnya lahir tanpa didampingi oleh Dady mereka!


"Kak, aku yakin kakak ipar akan segera bangun dari koma! Nanti kita akan bawa si kembar tiga ini ke ruangan kakak ipar," kata Laluna mencoba menenangkan Larisha yang menangis sesenggukan.


Hiks..


Hiks..


"Entahlah Luna! Kakak sudah pesimis dengan keadaan Dadynya anak-anak, kakak tidak melihat progres yang signifikan dari hari ke harinya!" kata Larisha.


"Hei kak, kau tidak boleh putus asa seperti ini! Aku mengenal mu kak, kau orang yang kuat dalam menghadapi cobaan berat sekalipun! Kita belum mencoba mendekatkan ketiga bayi ini ke sisi kakak ipar, aku yakin alam bawah sadarnya pasti bisa merasakan ketika ketiga bayinya berada didekat Kakak ipar!" kata Laluna.


Beberapa hari kemudian!


Larisha dan ketiga bayinya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit! Sesampainya di kediaman Tuan Lan, Larisha langsung meminta Laluna untuk menemaninya menemui Tuan Lan, yang masih terbaring koma itu!



Sampai di ruang tamu, Tan rupanya sudah menunggu kedatangan Larisha dan ketiga bayinya!


"Tuan Tan!" kata Larisha.


"Nona, maaf aku baru sempat mengucapkan selamat atas kelahiran ketiga bayimu!" kata Tan.


"Tidak apa-apa Tuan Tan, aku paham betul kondisi mu pasti sangat sibuk beberapa bulan ini!" kata Larisha.


Sementara Laluna hanya terdiam membisu, bahkan Tan sama sekali tak menyapanya.


"Aku minta maaf nona!" kata Tan.


"Untuk apa Tuan? Kau tidak perlu minta maaf, aku justru banyak berterimakasih karena kau sudah membantu mengurus semua pekerjaan suamiku!" kata Larisha.


"Kalau begitu, aku permisi sekarang nona! Banyak pekerjaan yang sudah menunggu ku!" kata Tan.


"Tuan! Tunggu!" kata Larisha dengan nada berat penuh beban pikiran.


"Iya nona?" tanya Tan.


"Apa kau sudah menemukan pembunuh bayaran itu? Aku ingin kau menangkapnya, hidup ataupun mati! Aku ingin kau membawanya ke hadapan ku!" kata Larisha menahan sedih, marah, dan tak terima orang yang sudah membuat suaminya sampai seperti ini masih bebas berkeliaran diluar sana.

__ADS_1


"Aku pasti akan menangkapnya dan membawanya ke hadapan mu, nona!" kata Tan lalu melangkah pergi meninggalkan Larisha dan Laluna.


Melihat Tan pergi begitu saja! Laluna pun meminta Larisha untuk masuk ke ruangan Tuan Lan duluan, sementara Laluna bergegas menyusul Tan sebelum Tan masuk ke dalam mobilnya.



"Tuan tunggu!" kata Laluna.


Tan pun menghentikan langkah kakinya namun masih membelakangi Laluna.


"Sebenarnya hubungan macam apa yang sedang kita jalani ini?" tanya Laluna yang sudah capek menghadapi sikap Tan yang acuh terhadapnya.


"Aku sudah bilang, aku sedang fokus untuk semua tugas yang harus aku selesaikan dulu!" kata Tan dengan masih enggan menengok kearah Laluna.


Laluna pun menarik tubuh Tan agar menghadap kearahnya.



"Sudah beberapa bulan ini, kau tidak pernah menghubungi ku! Kau sangat jarang menemui ku, bahkan jika kau datang ke rumah ini, kau sangat acuh padaku! Apa kau pikir enak berada diposisi ku?" tanya Laluna dengan nada tinggi.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku harus bermesraan kembali denganmu? Sementara orang yang sudah membuat Tuan Lan koma selama ini masih bebas berkeliaran diluar sana! Aku harus terus bermesraan denganmu, meskipun kakak mu harus melahirkan ketiga bayinya tanpa didampingi oleh suaminya? Jawab!" bentak Tan didepan wajah Laluna.


Plakk....


Satu tamparan mendarat di pipi sebelah kanan Tan, Laluna tanpa sadar menampar Tan karena ucapan Tan sangat menyakiti hatinya.


"Kau tidak punya perasaan Tuan! Aku pikir kau mencintaiku, tapi ternyata itu semua hanya omong kosong!" kata Laluna.


"Sudahlah! Aku harus pergi sekarang!" kata Tan.


"Kalau begitu untuk apa kita memiliki hubungan, untuk apa aku menjadi kekasih mu!" lirih Laluna.


"Maksudmu apa?" tanya Tan yang mulai menatap ke wajah Laluna.


"Kita akhiri saja hubungan kita! Anggap kita tak pernah memiliki hubungan apapun!" kata Laluna sambil menatap kedua mata Tan, kedua mata sayu dari laki-laki yang sangat dia cintai.


"Kalau itu keinginan mu! Aku akan menurutinya!" kata Tan yang terlihat sangat sedih atas keputusan Laluna.


Laluna pun pergi dari hadapan Tan, berlari sekencang-kencangnya menuju ke kamarnya! Sementara Tan masih terdiam mematung karena tidak tahu harus berbuat apa saat ini! Laluna tidak mau bersabar sedikit lagi saja, padahal Tan hampir menemukan pembunuh bayaran itu, karena seorang informan menemukan supermarket tempat dimana pembunuh bayaran itu berbelanja kebutuhan rumahnya.



❤️❤️❤️

__ADS_1


Hayo Dad, abis ini maak othor deketin kamu sama ketiga hasil gedebag gedebug di ranjang, semoga kamu bisa membuka kedua matamu dan lihat betapa lucu-lucu dan gemasnya hasil brag brig brug gerakan pinggul mu itu Dad😌


Kalau kamu sadar pasti banyak yang ngasih hadiah sama Vote, ayo Dad bangun!!!!😁


__ADS_2