Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 75


__ADS_3

Lalu Tan pun melepaskan tangan kanan Laluna yang sejak tadi dipegang erat olehnya.


"Duduklah, sebentar lagi kita akan sampai!" kata Tan.


"Tapi, ini bukan arah ke kediaman Tuan Lan kan, Tuan ?" tanya Laluna lalu beralih posisi duduk kembali dikursi belakang mobil.


"Aku tidak bilang kita akan kesana! Aku akan membawamu ke apartemen ku, agar kau puas jika mau mengomel lagi!" kata Tan.


Laluna pun tersenyum malu, antara bahagia, nervous, atau apalah itu perasaannya yang jelas saat ini campur aduk! Lagi-lagi Tan selalu mampu menenggelamkannya ke dasar jurang kebahagiaan yang membuat jantung Laluna tak berhenti berdebar-debar saat berada didekatnya.


Bahkan saat ini, Laluna ingin sekali salto, atau guling-guling di aspal untuk mengekspresikan perasaannya saat ini! Laluna tidak menyangka Tan akan menyusulnya, dan bahkan sampai menyamar menjadi supir taxi untuk bisa bersama dengannya.



"Kau tau, jam segini taxi disekitar sini sangat jarang yang lewat! Beruntungnya aku, karena ada satu taxi yang datang ke casino, untuk mengantar seorang tamu, jadi aku bisa membawanya!" kata Tan.


"Menyebalkan!" celetuk Laluna sambil wajahnya terus berseri-seri, dan itu jelas terlihat dari kaca spion atas.

__ADS_1


Akhirnya, Tan dan Laluna sampai di basemant apartemen milik Tan. Tan pun memarkirkan mobilnya, setelah posisi mobil sudah terparkir dengan sempurna. Tan pun melirik kearah Laluna.



"Nona, bisakah kau mendekat kepada ku?" tanya Tan.


"Ada apa? Apa kita tidak akan turun sekarang?" tanya Laluna.


"Kemarilah!" kata Tan.


Laluna pun mendekati Tan, lalu tangan kanan Tan langsung meraih pinggul Laluna dan memindahkan tubuh mungil namun sintal itu ke pangkuannya, hal itu membuat Laluna menjadi salah tingkah.


"Em itu! Aku tidak bermaksud begitu," kata Laluna lalu menundukkan wajahnya, sementara posisinya saat ini masih dikursi depan supir tepatnya dipangkuan kedua paha Tan.


"Aku suka kau mengomel! Lakukan lagi!" kata Tan, lalu meraih kedua tangan Laluna dan mengarahkannya agar melingkar dipundaknya.


"Tidak, aku sudah selesai mengomeli mu!" kata Laluna yang semakin salah tingkah, dan merasakan sesuatu yang dia tindih terasa semakin mengeras.

__ADS_1


Sstttt sial, kenapa langsung mengeras padahal aku hanya berdekatan dengannya. Batin Tan yang sudah merasakan knalpot racing miliknya, tau jika pawangnya berada beberapa inci saja darinya.


Wajah Tan terlihat semakin gelisah gundah merana, saat merasakan bira hi yang selalu hadir saat tengah bersama Laluna kini terasa sangat menggebu-gebu, Tan sangat merindukan Laluna karena beberapa hari ini dia sangat sibuk, bahkan saat ini Tan tidak tau apakah dirinya bisa mengontrol bira hinya saat ini.


Laluna mengangkat wajahnya, dan menatap wajah Tan! Kedua mata mereka saling bertatapan penuh arti.


"Apa kau tidak akan balik mengomeli ku?" tanya Laluna.


"Aku merindukan mu! Aku sangat merindukanmu!" lirih Tan.


Tanpa bisa lagi menahan has ratnya, Tan langsung meraih tengkuk leher Laluna untuk bisa menyambar bibir Laluna. Keduanya kini sudah saling berpagutan, Tan dan Laluna menumpahkan kerinduan yang tertahan selama berhari-hari, hingga ciu man itu berlangsung penuh bir a hi.



Tan me nye sap bibir Laluna, me lu matnya dengan rakus sambil terus menekan tengkuk leher Laluna agar puas menikmati bibir dari gadis berusia 18 tahun ini. Begitu juga dengan Laluna, dia balas me lu mat bibir bagian bawah Tan, lalu me nye sapnya.


Kedua tangan Tan kini terasa sangat mubazir bila dalam kondisi bira hi yang meletup-letup berkobar penuh has rat, tidak dia salurkan ke hal yang seharusnya. Tan mulai berani memeluk tubuh Laluna, meraba lekuk tubuh gadis cantik itu, hingga tubuh Laluna meng gelin jang penuh ga i rah.

__ADS_1



__ADS_2