
Tuan Lan pun masih terus mencoba menghubungi Larisha, sambil menggigit kukunya sendiri sembari terus mondar-mandir karena takut bila orang itu akan mencelakai gadis yang sudah bisa membuatnya jatuh cinta.
Tuan Lan segera mengambil jas miliknya yang tergantung didekat meja kerjanya, berniat untuk pergi menyusul istrinya.
"Tan ayo ikut! Kita susul saja Larisha, buka GPS di handphone milikmu, dan lacak keberadaan mobil yang dipakai istriku!" kata Tuan Lan.
"Baik Tuan!" Tan segera beranjak dari kursi dan mengikuti langkah kaki Tuan Lan yang terburu-buru seperti debt colector hendak menagih hutang.
Larisha yang tengah asik ngemil makanan ringan sambil mengobrol bersama teman-temannya, melihat ke layar handphone miliknya dan melihat panggilan masuk dari Tuan Lan. Handphone itu memang tidak pernah memakai nada dering ataupun getar, hanya mode silent karena Larisha juga jarang bermain dengan handphonenya itu.
📞"Hallo Tuan!" sapa Larisha dengan nada santai.
Tuan Lan yang mendengar jawaban dari Larisha pun menghentikan langkah kakinya.
"Dimana kau Larisha? Aku akan segera menjemput mu!" kata Tuan Lan.
"Tuan kau sudah berjanji untuk membiarkan aku bermain sebentar saja dengan teman-temanku, aku mohon jangan kesini setelah sore hari aku pasti secepatnya pulang ke rumah!" kata Larisha yang tak suka jika suaminya itu bergabung dengan para teman-temannya karena itu akan membuat canggung.
"Ta-tapi!" kata Tuan Lan.
"Sutttt, aku merindukanmu! Kita bertemu di rumah ya nanti sore," goda Larisha.
"Baiklah jika begitu! Tapi ingat, pastikan kau berada ditempat ramai," kata Tuan Lan.
"Iya Tuan, sudah dulu ya, dah!" panggilan telepon itu terputus.📞
Tuan Lan kembali memasukkan handphone miliknya kedalam saku celana, sambil menghela nafas panjang saat mengetahui Larisha baik-baik saja.
"Bagaimana Tuan?" tanya Tan.
"Kau kembalilah bekerja! Sore nanti, kita akan mengunjungi tempat casino untuk menyapa tamu baru kita yang akan menjadi member tetap kita untuk berjudi selama berada di negara ini," kata Tuan Lan.
"Baiklah Tuan, kebetulan aku harus secepatnya menemukan biodata dari Fabio Alberto ( mantan asisten pribadi Tuan Lan yang sudah tewas ) dan menemukan alamat rumahnya di Brazil!" kata Tan.
"Ya, lakukanlah Tan!" kata Tuan Lan.
__ADS_1
Tan kemudian pergi dari hadapan Tuan Lan, sementara Tuan Lan kembali bergelut dengan meja kerjanya di perusahaan iklan atau bisnisnya yang legal.
Sore hari!
Larisha dan teman-temannya mengakhiri pertemuan itu, mereka membubarkan diri masing-masing! Larisha pun berjalan seorang diri menaiki eskalator mall hendak turun ke lantai dua dan menuju basemant tempat mobil dan supirnya menunggu.
Saat melewati sebuah stand cafe, Larisha mendapati seseorang laki-laki yang dia temui di Singapore, laki-laki yang begitu mirip dengan Dev saat ini tengah menatapnya tanpa berkedip, Larisha pun berpura-pura tak melihatnya, lalu ingin segera melewati stand tersebut.
Namun usaha Larisha gagal saat laki-laki tersebut kini malah menghampirinya, dan mengajaknya bicara.
"Hei nona, kita bertemu lagi kebetulan sekali!" sapa Briant Alberto.
"Kau, menyingkir lah!" kata Larisha.
"Nona apa wajahku ini menjijikkan, atau membuatmu takut? Kenapa kau sampai tidak pernah mau menatap ku, padahal aku hanya ingin berkenalan denganmu," kata Briant yang terus berdiri dihadapan Larisha.
"A-aku hanya!" kata Larisha yang gugup berkata-kata.
"Nona aku hanya seorang pelayan cafe dan senang berjumpa kembali dengan gadis yang aku temui saat aku berlibur di Singapore, aku tidak akan menyakitimu!" kata Briant mencoba meyakinkan Larisha.
"Duduklah dulu, aku akan buatkan minuman gratis untuk mu! Apa kau malu berteman dengan pelayan seperti ku?" tanya Briant yang terlihat seperti seseorang yang tulus.
"Tidak bukan begitu!" kata Larisha lalu duduk karena tak enak hati bila laki-laki yang menyapanya salah sangka.
Briant bergegas membuatkan minuman untuk Larisha dan menemani Larisha duduk disalah satu meja di cafe itu!
"Nona sebenarnya kenapa kau seperti ketakutan melihatku?" tanya Briant.
"A-aku hanya berpikir wajahmu sangat mirip dengan orang yang ku kenal," kata Larisha.
"Lalu memang kenapa? Kau juga mirip dengan artis idola ku," kata Briant menggoda Larisha.
"Kau ini, aku serius!" kata Larisha yang mulai bisa tersenyum pada Briant.
__ADS_1
"Kenalkan, namaku Briant Alberto aku berasal dari Brazil dan cafe ini milik pamanku!" kata Briant tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya.
Senyuman yang entah mengapa terasa seperti benda keras yang menghantam luka lama atas kehilangan sosok yang berharga untuk Larisha.
"Aku Larisha, maaf Briant aku bersikap seperti itu! Aku hanya kaget saja!" kata Larisha.
"Tidak apa-apa, so! Karena aku tinggal di Brazil sebelumnya, jadi aku tidak memiliki banyak teman. Kalau kau mau menjadi temanku, aku pasti akan memberikan mu minuman gratis setiap kau kesini," goda Briant yang diiringi senyuman manis dibibirnya.
"Ya Briant senang berteman dengan mu, tapi aku harus pergi sekarang, terimakasih sudah memberikan minuman ini," kata Larisha.
"Sama-sama Larisha, kapan-kapan kemari lah kau sudah menjadi temanku sekarang!" kata Briant.
Larisha hanya tersenyum mengangguk lalu pergi meninggalkan cafe itu.
"Kena kau Larisha! Aku yakin dengan wajah ini kau pasti akan kembali menemui ku disini!" Gumam Briant.
Sepanjang jalan menuju perusahaan Tuan Lan, Larisha hanya melamun dan terus terbayang akan wajah dan orang yang bernama Briant itu. Namun lagi-lagi Larisha menepis pikiran negatifnya, dia mencoba berpikir biasa dan menganggap memang Briant ingin berteman dengannya.
Tiba di loby kantor Tuan Lan, Larisha melihat suaminya itu tengah berjalan bersama dengan para anak buahnya dan juta Tan yang mengikutinya dari belakang.
"Tuan!" panggil Larisha sambil berlari menghampiri Tuan Lan.
"Larisha, kenapa kau bisa di kantor ku?" tanya Tuan Lan.
"Kenapa lagi, aku ingin menemanimu bekerja! Apa boleh?" tanya Larisha dengan wajah memanja.
Para anak buah Tuan Lan hanya bisa menahan senyuman mereka melihat untuk pertama kalinya Tuan Lan bekerja didampingi oleh seorang gadis.
"Emth, baiklah aku akan mengajakmu ke tempat casino milikku," kata Tuan Lan lalu merangkul pundak Larisha dan mengajaknya menuju mobil.
Sesampainya di tempat casino terbesar di kota ini! Larisha dibuat takjub saat masuk kedalam ruangan itu! Begitu banyak tamu yang berasal dari berbagai negara, tempat itu ramai dan banyak kepulan-kepulan nikotin yang menyeruak ke udara.
__ADS_1
Belum lagi banyak wanita-wanita seksi yang tengah asik bergelendotan pada para tamu yang rata-rata sudah berumur itu, menemani para member berjudi dengan nominal yang selalu fantastis.