
Kemana dia selama berhari-hari ini? Di sini juga aku tidak melihatnya? Setelah merenggut ciu man pertama ku, lalu dia menghilang. Dasar buaya tidak berperasaan. Gumam Laluna.
Dokter pun pergi meninggalkan kamar itu setelah memberikan beberapa vitamin untuk Larisha, sementara Larisha yang melihat Laluna hanya berdiri didekat pintu sambil melamun, langsung memanggilnya untuk masuk.
"Luna! Luna! Luna!" panggil Larisha.
"Eh iya kak, bagaimana? Apa kakak benar-benar hamil?" tanya Laluna.
"Iya Luna, kau tau kakak sangat bahagia sekali sekarang, kakak hamil kembar tiga sekaligus, Luna!" kata Larisha dengan kedua mata yang berbinar-binar.
"Oh ya, ini sungguh membahagiakan kak, selamat ya kak, tapi kok bisa langsung kembar tiga kak?" tanya Laluna sambil melirik kearah Tuan Lan, tepatnya tatapan Laluna tertuju pada bagian tubuh bawah Tuan Lan.
"Hei gadis kecil, kenapa tatapan mu seperti itu? Kau meragukan itu hasil bercocok tanam ku?" tanya Tuan Lan.
"Ti-tidak, ya hanya sedikit heran saja aku kira itu sudah terlalu tua bahkan harusnya sudah di meseum kan kakak ipar!" ledek Laluna.
__ADS_1
Hahaha..
Larisha dan Laluna pun tertawa terbahak-bahak menertawakan Tuan Lan.
"Kau ini! Sudahlah, bukankah besok kau mulai masuk kuliah Luna?" tanya Tuan Lan.
"Iya, aku kesini ingin minta izin pada Kakak ku dan kau kakak ipar, untuk pergi keluar membeli beberapa keperluan kuliah ku, boleh ya kak?" tanya Laluna.
"Ya sudah, kau pergilah dengan supir di rumah ini!" kata Tuan Lan.
Okey," kata Laluna lalu pergi meninggalkan kamar Larisha.
"Memangnya kenapa?" tanya Larisha yang sudah menebak pasti Tuan Lan inginkan nama panggilan lain.
"Bagaimana bisa kau terus memanggil ku Tuan, Tuan. Tidak kah kau tau sayang, ketika anak-anak kita lahir mereka akan menganggap ku adalah majikan mu!" kata Tuan Lan.
"Ayolah Tuan, aku masih butuh waktu lagipula aku bingung harus memanggil mu dengan apa?" kata Larisha.
__ADS_1
"No, tidak ada waktu lagi! Kau harus memanggil ku dengan panggilan lain, ayo ucapkan sekarang!" kata Tuan Lan.
"Tuan, aku tidak tau harus memanggil mu apa?" rengek Larisha yang malu sendiri dibuatnya.
"Em, kau bisa memanggilku Papa, dad, atau honey, atau baby atau apapun itu asal jangan Tuan," kata Tuan Lan.
"Oh my God, itu menggelikan sekali!" kata Larisha sambil menutupi wajahnya sendiri karena malu-malu.
"Aku akan kembali nanti sore! Dan kau harus sudah putuskan memanggil ku dengan nama apa? Jika tidak, nanti malam akan ku buat kau menjerit penuh nikmat!" goda Tuan Lan lalu menge cup dahi Larisha.
"Oke baiklah akan aku pikirkan!" kata Larisha.
Tuan Lan pun pergi meninggalkan kamar, menuju lantai satu rumahnya, rupanya Tan baru saja tiba sengaja untuk bertemu Tuan Lan. Di saat yang sama, Luna baru keluar dari lift di lantai satu dan melihat Tan dan Tuan Lan tengah berjalan bersama sambil mengobrol.
Tan pun melirik sekilas kearah Laluna yang hendak pergi keluar rumah, tanpa sapaan atau tanpa senyuman Tan melewati Laluna begitu saja. Hal itu berhasil menyulut amarah Laluna.
__ADS_1
Wah, kau serius Tuan! Apa baru saja dia berpura-pura tidak melihat ku? Dia mengabaikan aku? Kau lihat saja Tuan Tan, aku akan mendatangi mu besok, aku akan mencakar wajahmu yang tampan itu! Aku akan menghabisi mu!!! Begitulah teriakan hati sanubari Laluna saat ini.