
Tuan Lan termenung sejenak mendengar Tan mengatakan ada orang yang memiliki dendam pribadi terhadap dirinya. Sementara selama ini Tuan Lan mengingat betul, dirinya tidak memiliki persolan pribadi dengan siapapun terkecuali masalah bisnis.
"Tidak Tan, tidak mungkin ada yang memiliki dendam pribadi padaku! Maksudmu, dia dendam padaku, begitu?" tanya Tuan Lan.
"Ya Tuan, aku yakin orang ini mengincar mu! Dia ingin melihat kau terpuruk, kau hancur, kau bersedih dan berduka!" kata Tan.
"Bre ng sek, ****! Siapa Tan? Aku tidak merasa memiliki masalah pribadi dengan orang lain diluar urusan bisnis!" kata Tuan Lan.
"Apa kau tidak mengingat apapun Tuan? kau harus memberitahu ku tentang konflik apa saja yang pernah kau alami selama ini, dengan siapapun itu! Dengan begitu aku bisa menganalisanya lebih cepat," kata Tan.
"Baiklah, aku akan coba mengingat apapun konflik yang pernah terjadi di hidupku!" kata Tuan Lan.
"Baiklah Tuan!" kata Tan.
Sejak sampai di kantor! Tuan Lan sangat terbebani oleh perkataan Tan yang mengatakan orang tersebut memiliki dendam pribadi terhadap dirinya, itu berarti Dev harus meninggal karena Tuan Lan yang memiliki musuh, rasa bersalah itu kembali muncul dibenak Tuan Lan.
Apalagi Tuan Lan sampai menganggap dan menuduh Larisha orang yang menyebabkan Dev meninggal, selama ini Larisha harus menanggung kekejamannya karena disalahkan atas kematian Dev. Tuan Lan sangat terpukul, bila mengingat semuanya.
"Siapa kau? Kenapa kau menaruh nar ko ba itu di minuman anakku, sampai dia kehilangan kesadarannya! Apa yang kau mau dariku?" Batin Tuan Lan yang sangat murka namun belum menemukan orang yang membuatnya murka.
Sementara itu, Larisha bertukar pesan dengan teman-temannya yang dulu kuliah bersama untuk bertemu di cafe salah satu mall. Sudah lama teman-temannya tidak bertemu dengan Larisha, sejak Larisha diculik, bahkan dinikahi oleh Tuan Lan. Kali ini Larisha ingin bertemu dan berbincang-bincang kembali dengan teman-temannya.
Larisha yang sudah bersiap untuk pergi ke mall? Menyempatkan diri untuk menemui Laluna di kamarnya.
"Luna," panggil Larisha lalu masuk kedalam kamar adiknya itu.
"Iya kak, wahhh nyonya besar, glamor sekali nyonya sekarang!" ledek Laluna.
"Luna hentikan! Kau terus meledek kakak," kata Larisha.
"Kakak akan pergi kemana?" tanya Laluna.
"Kakak ingin bertemu teman-teman kuliah kakak di mall! Kamu mau titip apa, nanti kakak belikan," kata Larisha.
"Tidak! Aku ingin ikut saja, aku bosan didalam kamar terus," kata Laluna.
__ADS_1
"Luna bersabarlah! Hanya satu Minggu kau didalam kamar terus, nanti sisa tiga Minggunya kau sudah bisa berjalan-jalan santai disekitar rumah!" kata Larisha.
"Baiklah apa boleh buat!" kata Laluna.
"Kalau begitu, kakak pergi dulu!" kata Larisha.
"Ya baiklah! Hati-hati dijalan!" kata Laluna.
Larisha pun keluar kamar Laluna menuju parkiran rumah tersebut, disana supir pribadi yang telah disiapkan Tuan Lan langsung membukakan pintu mobilnya untuk Larisha masuk, mobil itu pun melaju menuju tempat sesuai dengan perintah Larisha.
Sampailah Larisha disalah satu mall tempat dia dan teman-temannya akan berkumpul, sementara supir pribadinya menunggu di parkiran mall dan tidak ikut masuk. Larisha akhirnya bisa bertemu dengan teman-teman kuliahnya.
"Eh, itu Larisha sudah datang!" ujar salah satu temannya.
"Hai semuanya! Aku, rindu sekali dengan kalian," kata Larisha
"Ya ampun Risha, kau semakin cantik! Kami sangat sedih kau tidak kunjung kembali ke kampus, apalagi Dev kami dengar beritanya dia," kata salah satu temannya.
"Ah sudah-sudah, jangan buat Larisha sedih! Lebih baik sekarang kita cerita yang seru-seru aja! Kami dengar kau sudah menikah Risha, ceritakan itu saja!" kata temannya yang lain.
Keseruan siang itu mewarnai pertemuan Larisha dan teman-temannya, mereka asik bercanda dan mengobrol banyak hal. Sementara Tuan Lan dan Tan, tengah sibuk berada didalam satu ruangan untuk membuka setiap catatan siapa saja orang yang pernah terlibat perseturuan dengannya.
"Tuan, apa kau sudah mengingat sesuatu?" tanya Tuan Lan.
"Di catatan ini, semua masalah bisnis Tan! Dan kami biasa saling menghancurkan, tidak ada lagi masalah lainnya," kata Tuan Lan.
"Apa kau pernah berkelahi dengan seseorang, atau kau pernah membunuh?" tanya Tan.
"Tidak, untuk apa aku membunuh! Aku hanya pernah terlibat cekcok dengan mantan asisten pribadiku, ya benar asisten pribadiku sebelum kau Tan!" kata Tuan Lan.
"Oh ya? Apa penyebabnya Tuan?" tanya Tan.
"Dia korupsi uang hasil tempat judi milikku di Hongkong dan Taiwan, dan bahkan menyingkirkan dua orang anak buah ku yang mengetahui aksinya," kata Tuan Lan.
"Lalu apa yang terjadi dengan mantan asisten pribadi mu Tuan?" tanya Tan.
__ADS_1
"Anak buah ku mengurusnya! Dia sepertinya mati tertembak, karena terjadi aksi saling tembak," kata Tuan Lan.
"Apa kau masih memiliki alamatnya? Atau data pribadinya?" tanya Tan.
"Sudah lama sekali Tan, kejadian itu bahkan sudah berlalu 10 tahun lamanya! Apa arwahnya bisa bangkit lalu hendak menuntut balas padaku?" tanya Tuan Lan lalu tertawa.
Hahaha..
"Bukan arwahnya Tuan! Tapi bisa jadi penerusnya!" kata Tan, sambil memikirkan hal-hal yang bisa saja terjadi.
"Apa? Aku bahkan tidak mengetahui kalau dia punya keturunan, dia memiliki isteri atau anak, atau pun saudara aku tidak mengetahuinya Tan, karena saat itu dia belum lama menjadi asisten pribadiku!" kata Tuan Lan.
"Siapa nama mantan asisten pribadi mu dulu Tuan? Dan darimana asal negaranya?" tanya Tan.
"Dia bernama Fabio Alberto, dia berasal dari Brazil!" kata Tuan Lan.
"Aku akan ke Brazil kalau begitu!" kata Tan.
"Oh tidak Tan! Untuk apa kau kesana, orangnya sudah mati, lagipula bukan aku yang membunuhnya jadi untuk apa dia dendam terhadap ku?" tanya Tuan Lan.
"Meskipun anak buah mu yang terlibat baku tembak dengan Fabio Alberto itu hingga dia tewas, tapi jika dia memiliki saudara atau bahkan anak! Mereka pasti tau siapa yang mengutus anak buah mu hingga sampai disana! Yaitu kau Tuan!" kata Tan.
"Baiklah! Kalau begitu, tapi hanya tiga hari Tan! Kapan kau akan berangkat?" tanya Tuan Lan.
"Mungkin lusa, setelah aku mengurus pekerjaan disini," kata Tan.
"Tunggu Tan, jika benar orang ini memiliki dendam terhadap ku, dan ingin aku terpuruk! Apa itu artinya Larisha juga terancam?" tanya Tuan Lan yang baru saja teringat bahwa isterinya pergi tanpa pengawalan.
"Untuk apa risau Tuan! Lagipula setiap.nona Larisha pergi ke suatu tempat, toh ada beberapa anak buah mu bukan yang menjaganya?" tanya Tan.
"Tidak Tan, aku sudah mengatakan bahwa dia seutuhnya telah menjadi istriku dan bukan tawanan lagi! Jadi Larisha meminta untuk tidak lagi dikawal," kata Tuan Lan.
"Apa kau bercanda Tuan? Kau membiarkan nona Larisha keluar rumah seorang diri?" tanya Tan.
Tuan Lan segera mengambil handphone miliknya untuk menelpon Larisha, namun tak kunjung diangkat, kemudian Tuan Lan pun menelepon supir pribadinya yang mendampingi Larisha, namun handphone supir itu tertinggal di kediaman Tuan Lan jadi tidak tau jika Tuan Lan menelpon.
"Sttttttthhhhhh **** sial!!! Kemana kau Larisha!" kata Tuan Lan yang sangat khawatir.
__ADS_1