
Tan pun melepaskan ciumannya!
"Sekarang kau kembalilah ke kamarmu! Bersabarlah sampai esok, kita bertemu keluarga Daniel, bisa?" tanya Tan.
Laluna pun mengerucutkan bibirnya, karena masih sangat merindukan Tan, tapi apa boleh buat, status hubungannya dengan Daniel harus diputus terlebih dahulu.
"Oke, my love!" kata Laluna lalu pergi meninggalkan kamar tamu itu.
Malam harinya, Tuan Lan dan juga Tan telah berada di dalam ruangan kerja Tuan Lan, tepatnya di lantai satu dekat dengan ruangan khusus medis rumah mewah itu. Satu persatu calon-calon kandidat untuk menggantikan Tuan Lan, mewarisi bisnis hitam yang setiap bulannya meraih income yang luar biasa besar itu, berdatangan untuk melakukan meeting tentang siapa yang paling layak menerimanya.
Sedikitnya meeting malam ini dihadiri oleh dua puluh orang, mereka adalah anak buah terbaik Tuan Lan yang salah satunya akan terpilih sebagai pewaris group Limson. Melalui berbagai argumentasi yang cukup pelik, semua orang di dalam ruangan kerja itu saling mengutarakan pendapatnya masing-masing, dan dari hasil musyawarah bersama-sama akhirnya, Tuan Lan memutuskan Stevano sebagai pimpinan group Limson yang baru.
Stevano adalah anak buah Tuan Lan yang ahli menembak, maupun ahli menggunakan senjata tajam laras panjang! Kemampuan bertarungnya pun sudah tidak di ragukan lagi, sikap setia dan paling sigapnya membuat Tuan Lan akhirnya menjatuhkan pilihan untuk mewariskan seluruh bisnis-bisnis hitam itu kepada Stevano.
Meeting telah usai, dan semua orang menerima keputusan secara bersama itu dengan hati yang lapang, mereka pun akan segera mengadakan pesta peresmian ketua pimpinan baru group Limson, namun sepertinya Tuan Lan dan juga Tan memutuskan untuk tidak hadir, karena tak ingin lagi terlibat apapun itu yang menyangkut bisnis hitam.
Akhirnya, satu persatu anak buah Tuan Lan berpamitan dari kediaman Tuan Lan! Begitu juga anak buahnya yang selama ini standbye di kediamannya untuk mengamankan kediamannya! Kini mereka tak lagi berada di kediaman Tuan Lan, hanya tersisa security, tukang kebun, dan beberapa pelayan.
"Tan, aku sangat lega sekali malam ini! Rasanya tali pengikat yang selama ini mengikat tubuhku dengan sangat kencang akhirnya bisa aku lepas!" kata Tuan Lan sambil menyalakan sebatang rokok.
"Kau benar Tuan! Sekarang kita harus benar-benar fokus dengan perusahaan iklan milik mu, kita harus memenangkan tender sebanyak-banyaknya," kata Tan.
"Aku percaya padamu Tan! Kau adalah CEO terbaik, perusahaan kita pasti semakin tak terkalahkan," kata Tuan Lan.
Keesokkan harinya, di ruang keluarga!
"Dad, Dad, oh my God!" teriak Domanick saat mengetahui seluruh anak buah Tuan Lan menghilang dari kediamannya.
"Nick, ada apa?" tanya Tuan Lan.
"Hari ini adalah hari libur sekolah, lalu dimana semua anak buah mu Dad? Kenapa tidak ada satu pun?" tanya Domanick.
"Nick, mulai sekarang rumah ini akan menjadi rumah yang normal seperti rumah lain pada umumnya! Tanpa ada penjagaan ketat dari anak buah Dady," kata Tuan Lan.
"Tapi kenapa Dad? Lalu dengan siapa aku akan belajar bertarung?" tanya Domanick.
"No, Nick kau tidak boleh belajar bertarung lagi! Fokuslah hanya pada pelajaran sekolah," kata Tuan Lan.
"Dady jahat! Kembalikan mereka!" teriak Domanick yang langsung marah-marah memukul sofa yang tengah ia duduki.
__ADS_1
Sementara Bright acuh saja dengan sikap saudara kembarnya itu. Laluna tiba di ruangan keluarga.
"Hai Nick, kenapa dengan wajah mu jelek begitu?" goda Laluna.
"Kau yang lebih jelek!" ketus Domanick.
"Galaknya kau Nick, kita lihat kalau yang satu ini apa akan marah bila ku goda," kata Laluna lalu merampas buku yang tengah dibaca oleh Bright.
"Aunty, kembalikan buku milik ku! Jangan ganggu aku!" protes Bright.
"Luna, sudah cukup pusing dengan Nick! Kembalikan bukunya agar Bright bisa terus belajar!" kata Tuan Lan.
"Baiklah anak pintar?" kata Laluna, yang kemudian mengembalikan kembali buku milik Bright.
"Luna, bagaimana? Apa Daniel sudah mengabari mu?" tanya Tuan Lan.
"Ya, dia sudah dalam perjalanan Kak!" kata Laluna.
Tak lama Tan muncul, lalu mengajak Nick yang sedang kesal untuk bermain pukul-pukulan dengannya.
"Hei jagoan, kau mau melatih otot lengan mu?" tanya Tan.
"Ready!" kata Tan lalu membuka kedua telapak tangannya agar Nick bisa meninjunya.
Larisha pun muncul setelah hidangan di dapur di rasa siap untuk di hidangkan di atas meja. Larisha membuat beberapa kue kering untuk menyambut keluarga Daniel di rumah ini.
"Mom, kau darimana saja? Kau tau betapa aku pusing tadi mengahadapi anak-anak ini!" kata Tuan Lan, lalu bersandar di sofa itu.
Larisha pun duduk, di samping Tuan Lan lalu tersenyum.
"Dad, kau baru beberapa menit tinggal dengan anak-anak sudah pusing, bagaimana denganku yang setiap hari harus darah tinggi menghadapi ketiganya," kata Larisha.
"Di mana si cerewet itu? Aku tidak melihatnya kak?" tanya Laluna.
"Husttt jangan di sebut, bila kau sebut dia pasti akan datang!" kata Bright.
Dan benar saja Brithney yang baru saja selesai mandi, diantar oleh pengasuhnya untuk berkumpul dengan yang lain di ruangan keluarga itu.
"Hai Momy, Hai Dady!" kata Brithney yang langsung duduk di tengah-tengah Momy Dadynya.
"Hai Brith, hemm kau sudah wangi ya sekarang," kata Tuan Lan.
__ADS_1
"Ya, bagaimana aku tidak wangi. Hari libur ku, aku tetap di paksa bangun pagi, lalu diceburkan ke dalam bathtub," kata Brithney.
Hahahaha...
Larisha pun tertawa mendengar Brithney protes karena pagi-pagi di hari libur di paksa untuk mandi.
"Tapi kan sekarang kau jadi cantik Brith," kata Laluna.
"Kata Momy dan Dady, aku memang sudah cantik sejak aku masih berbentuk cairan!" kata Brithney.
"Oh my God, kau bicara begitu yang mengajarinya Dady mu kah?" tanya Laluna.
"Tentu," kata Brithney.
Hahahaha...
Tuan Lan pun tertawa mendengar Brithney yang menghapal segala ucapan tidak sengajanya. Tak lama kemudian, keluarga Daniel tiba di kediaman Tuan Lan.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Damian dan Angeline.
"Nyonya Angeline, kau sudah pulih?" tanya Larisha yang langsung memeluk Angeline.
"Tentu nyonya, semua berkat suami dan asisten pribadi keluarga ini! Aku tidak bisa bayangkan bagaimana nasib keluarga ku tanpa kalian," kata Angeline.
"Duduklah Nyonya, Tuan Dam, silahkan duduk! Hai Daniel," kata Larisha menyapa Daniel yang sejak tadi hanya diam.
"Hai kak," singkatnya.
Daniel, dan kedua orangtuanya duduk di sofa bersama-sama dengan keluarga Tuan Lan. Mendadak suasana terasa kaku dan serius. Apalagi melihat ekspresi wajah Daniel yang sejak datang, tak pernah sekalipun pun tersenyum.
"Daniel, bagaimana dengan luka di perutmu apa sudah membaik?" tanya Laluna yang berusaha sebisa mungkin mencairkan suasana.
"Kurasa begitu," singkat Daniel yang terlihat sudah putus asa tentang hubungannya dengan Laluna.
"Aku harap kau bisa segera kembali bekerja! Akhir-akhir ini, banyak sekali berita bencana alam dan berita kriminal, biasanya kita siaran berdua, kini orang lain yang menggantikan mu dan aku tidak terlalu suka!" kata Laluna.
"Akan aku usahakan Luna!" kata Daniel yang terlihat cuek, karena mungkin tau bahwa pertunangannya dengan Laluna akan kandas hari ini.
❤️❤️❤️
Semangat Daniel, nanti juga ketemu jodohnya! Tapi kasihan jodohnya sekarang masih kecil kinyis-kinyis cerewet, manja, bin ngeselin di tunggu aja ya nanti udah gedenya bisa kok bikin hati cenat cenut 😅😅
__ADS_1
Sekalian bikin anunya cenat-cenut, eh tapi apa ya sebutannya buat anu nya Daniel, maak belum nyiapin nih😂😂