Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 88


__ADS_3

Aaaaaaaa..


Tolong....


Tolong..


Para tamu berhamburan menyelamatkan diri begitu mendengar suara tembakan mengenai seseorang! Tuan Lan memeluk Larisha dan tersenyum padanya, sementara wajah Larisha berubah menjadi ketakutan dan penuh kesedihan.


"Tidak!! Dad, ku mohon bertahan lah!" tangis Larisha pecah ketika Tuan Lan menghalangi peluru itu agar tidak menembus kepalanya, yang justru malah membuat tembakan itu mendarat di kepala Tuan Lan bagian belakang.


Para anak buah Tuan Lan berupaya mengejar pembunuh bayaran itu! Namun terlalu banyaknya orang-orang yang berlarian kesana-kemari, membuat anak buah Tuan Lan kesulitan menemukan pembunuh bayaran yang sudah berhasil berlarian mengikuti tamu-tamu lain pada umumnya.



Tan dan Laluna yang mendengar suara tembakan disertai suara teriakan dari dalam gedung, segera mengakhiri permainan keduanya meskipun belum sampai finish. Tan dan Laluna saling bertatapan, wajah mereka mendadak panik! Suara tembakan itu pasti adalah pertanda buruk, keduanya buru-buru merapihkan pakaian masing-masing dengan tergesa-gesa!


"Tuan, a-ada apa ini? Kenapa seperti suara tembakan?" kata Laluna dengan nada ketakutan.


"Kita harus kesana sekarang!" kata Tan yang baru saja selesai memakai celana bahan hitamnya kembali.


Tan pun berlari, sementara Laluna mengikutinya dari belakang! Sampai di depan pelaminan, Tan melihat Larisha tengah menangis histeris, sementara tubuh Tuan Lan terkapar dalam pangkuannya.


Hiks..


Hiks..


Hiks..


"Tuan! Semua anak buah yang lain tengah mengejar penembak itu!" ujar salah satu anak buah Tuan Lan yang langsung menghampiri Tan.


Laluna yang baru saja melihat Tuan Lan bersimbah darah dalam pangkuan Larisha, langsung menutup mulutnya sendiri dan tak kuasa melihat kejadian ini. Kedua mata Tan berkaca-kaca tubuhnya bergetar.


"Tuan! Dokter pribadi kita tengah dalam perjalanan kesini menggunakan ambulans!" ujar salah seorang anak buah Tuan Lan yang berjaga didekat Larisha.


Tubuh Tan bergetar melihat Tuan Lan bersimbah darah akibat luka tembak dibagian kepala belakang, tubuh Tan roboh menangis dihadapan tubuh Tuan Lan.

__ADS_1


"Tuan, kau harus kuat!" kata salah seorang anak buahnya.


Tan menghapus air mata penuh sesal di pipinya, lalu mengangkat wajahnya kembali, sementara Larisha terus menangis histeris dan Laluna pun datang memeluknya.


"Kau ikutlah dengan ambulans nanti!" kata Tan dengan nada berat.


"Baik Tuan! Ini pistol mu!" kata anak buahnya sambil memberikan satu buah pistol pada Tan.


Tan segera bangkit dan berdiri kembali, tidak ada waktu lagi untuk menangisi semua ini, yang ada dalam pikiran Tan saat ini adalah penembak itu harus dia tangkap. Tan berlari menyusul para anak buahnya yang sedang mengejar pembunuh bayaran itu.


Wiuw..


Wiuw..


Wiuw..



Ambulans datang begitu juga dengan beberapa Dokter pribadi Tuan Lan, saat ini kondisi Tuan Lan sudah tidak sadarkan diri, beruntung ambulans cepat datang! Tuan Lan langsung mendapatkan pertolongan pertama, dengan dipasang oksigen untuk membuatnya tetap bernafas dengan baik, Lalu Tuan Lan pun segera di bawa ke kediamannya menggunakan ambulans pribadinya itu! Laluna dan dua orang anak buah Tuan Lan yang tersisa ikut dalam ambulans tersebut.


Sementara tak ada kata yang bisa terucap dari bibir Larisha, tubuhnya gemetaran melihat keadaan Tuan Lan sekarat seperti ini.


Tiba di kediaman Tuan Lan!


Dokter dan beberapa perawat segera membawa Tuan Lan ke ruangan khusus untuk segera dilakukan pertolongan. Sementara Larisha yang memang sedang dalam kondisi kehamilan yang lemah, tidak dapat lagi bertahan! Larisha pingsan dalam dekapan Laluna, lalu kedua anak buah Tuan Lan sigap untuk meminta bantuan salah satu perawat menolong Larisha.


"Kakak!" teriak Laluna yang berusaha menahan tubuh Larisha agar tak jatuh ke bawah.


"Nona, akan aku panggilkan perawat!" ujar salah seorang anak buah Tuan Lan.


Larisha kemudian diistirahatkan di dalam kamarnya! Ditemani oleh Laluna, sementara kedua anak buah Tuan Lan berjaga didepan pintu ruangan khusus, tempat Tuan Lan mendapatkan perawatan serius.


Larisha masih belum sadarkan diri! Membuat Laluna tidak tau harus berbuat apa saat ini, bingung, takut, dan merasa bersalah karena dia bersama dengan Tan penembak itu jadi memiliki celah untuk melancarkan tembakannya.


Sementara Kedua Dokter dan beberapa perawat sedang berjuang keras untuk menyelamatkan nyawa Tuan Lan! Dokter melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bagian belakang kepala Tuan Lan.

__ADS_1



Sementara Tan dan para anak buah Tuan Lan terus melakukan pengejaran disekitar area gedung, namun padatnya tamu undangan yang masih ketar-ketir berlarian ingin segera meninggalkan gedung resepsi, membuat pembunuh bayaran itu bisa lolos dengan mudah.


Aaaaa......


Tan berteriak, da danya terasa sesak membayangkan hal terburuk yang bisa saja terjadi pada Tuan Lan, sementara dia gagal menemukan penembak itu. Hanya rasa penyesalan, yang saat ini dirasakan oleh Tan.


"Kenapa harus Tuan? Kenapa tidak aku saja! Aku gagal melindungi mu Tuan! Aku gagal, aku lalai maaf kan aku Tuan!" teriakan Tan sangat kencang hingga membuat seluruh anak buah Tuan Lan ikut menundukkan kepalanya, mereka pun merasakan hal yang sama dengan Tan.


Di mata para anak buah Tuan Lan, dialah sosok malaikat yang selalu memberikan kesejahteraan pada para anak buahnya! Namun sesesal apapun yang dirasakan para anak buah Tuan Lan, tidak akan ada yang merasakan penyesalan begitu dalam seperti Tan saat ini.


Tan seluruh anak buah Tuan Lan kembali dulu ke kediaman Tuan Lan untuk melihat kondisi Tuan Lan, namun di ruangan khusus operasi itu, Dokter masih belum memberikan tanda-tanda operasi selesai, atau bagaimana kondisi Tuan mereka saat ini.


Sementara di dalam kamar Larisha!



Kedua matanya mulai terbuka, Larisha melirik kearah orang disampingnya! Berharap orang yang saat ini tengah berada disampingnya adalah Tuan Lan, namun itu tidak mungkin.


"Kak, kau sudah sadar! Kau haus? Ini minumlah!" kata Laluna lalu mengambil segelas air putih yang terletak di meja samping ranjang.


"Luna, bagaimana keadaan suamiku?" tanya Larisha.


"Sudah 8 jam lamanya kak, tapi Dokter belum juga keluar dan memberikan informasi pada kita!" kata Laluna.



"Antar kakak kesana!" kata Larisha.


"Tapi kak," Laluna hendak menolak membawa Larisha kembali ke ruangan itu, tapi melihat tatapan kedua mata Larisha yang seperti hilang semangat hidupnya, Laluna pun mengantar Larisha untuk turun ke lantai satu tempat ruangan Tuan Lan operasi.


Larisha sampai di depan ruangan operasi, Dokter pun terlihat sedang memberikan penjelasan terhadap Tan. Sementara Tan hanya menundukkan wajahnya penuh sesal, Dokter menggeleng-gelengkan kepala tanda menyerah dengan keadaan Tuan Lan, dan dia pun menepuk pundak Tan maksud untuk lebih tabah dengan kondisi terburuknya.


Larisha yang melihat Dokter seperti sudah angkat tangan dengan kondisi suaminya, langsung lemas kembali hingga Laluna pun harus memegangi tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.

__ADS_1



__ADS_2