
Tuan Lan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, perasaannya sangat berkecamuk antara takut bila Larisha tidak bisa dia selamatkan, rasa bersalah karena sudah membuat Larisha mengalami kejadian yang membahayakan nyawanya. Tuan Lan merasa gagal melindungi dan menjaga Larisha, selalu gagal menjaga orang-orang yang dia cintai.
Setelah kehilangan Dev, trauma itu sangat dalam bagi Tuan Lan, dan sekarang bagaimana mungkin jika sampai dirinya harus kembali kehilangan seseorang yang sangat dia cintai dalam hidupnya, membayangkannya saja sudah membuat Tuan Lan putus asa.
Mobil yang dikendarai oleh Briant melewati jalanan yang jauh dari kota, hanya terdapat pepohonan disepanjang jalan yang dilalui. Hanya sesekali saja ditemukan area peternakan sapi dan kuda. Membuat Larisha semakin dirundung ketakutan.
Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan merasakan ditodong sebuah pistol dikepalanya, Larisha menangis sesak yang dia pikirkan saat ini, bagaimana jika Tuan Lan benar-benar datang seorang diri tanpa senjata untuk menyelamatkannya.
"Kita sudah sampai sayang! Bagiamana, sempurna bukan untuk tawanan cantik seperti mu!" kata Briant, yang baru saja memberhentikan mobilnya didepan sebuah bangunan tua.
Bangunan bertingkat itu terlihat seperti berusia puluhan atau bahkan mungkin ratusan tahun, karena sudah tak berbentuk. Tidak ada satupun rumah disekitar sini, sepi dan menakutkan.
Briant membawa Larisha masuk kedalam gedung itu! Di sana terdapat sekitar lima orang yang berjaga di bagian depan, samping kana, kiri dan belakang gedung.
"Beritahu aku, jika tamu istimewa ku sudah tiba!" kata Briant menepuk pundak salah satu anak buahnya.
"Baik Tuan!" kata anak buahnya.
Briant menyeret paksa Larisha ke lantai atas gedung itu, dengan menodongkan pistol dikepala Larisha membuat Larisha tidak memiliki cara lain selain mengikuti perintah Briant.
Sementara Tuan Lan masih terus berjibaku di jalanan yang sudah memasuki daerah sepi dan terpencil mengikuti maps alamat yang diberikan Briant padanya! Tanpa disadar oleh Tuan Lan, Tan mengikutinya dari belakang namun dari jarak yang cukup jauh.
"Larisha, tunggulah aku! Aku berjanji akan menyelamatkan mu, tidak peduli apapun nanti yang akan terjadi padaku!" kata Tuan Lan.
Sementara anak buah Tuan Lan yang lain mengikuti Tan dari arah belakang dan menunggu aba-aba untuk berhenti! Hingga akhirnya, Tan melihat mobil Tuan Lan berhenti disebuah titik di GPSnya, Tan pun menghentikan mobilnya. Dan mengirim pesan pada para anak buahnya untuk standbye disekitar sini.
__ADS_1
Setelah mengirim pesan, Tan melanjutkan perjalanan untuk mencapai titik GPS mobil Tuan Lan.
Tuan Lan tiba didepan sebuah bangunan yang nyaris roboh itu! Dia bergegas masuk kedalam sana, disana anak buah Briant langsung berteriak.
"Tuan Briant, tamu anda telah tiba!" ujar salah seorang anak buah Briant.
Kemudian tubuh Tuan Lan diperiksanya oleh anak buah Briant, untuk memastikan bahwa Tuan Lan tak membawa senjata. Setelah aman, Tuan Lan diminta naik ke lantai atas gedung tua itu.
Tuan Lan berlari menaiki satu persatu anak tangga demi cepat bertemu dengan Larisha, sesampainya diatas! Tuan Lan melihat Larisha yang terikat kaki dan tangannya, serta mulutnya yang dilakban.
Hati Tuan Lan seperti dicambuk, melihat air mata keluar dari bola mata indah Larisha. Tuan Lan bisa mengerti betapa ketakutan Larisha saat ini.
"Berhenti disitu Alan Limson!" kata Briant.
"Larisha, bertahanlah sayang! Aku akan membawamu pulang," kata Tuan Lan.
"Selamat datang pembunuh orangtuaku!" kata Briant.
"Kau, kenapa kau memakai wajah putraku! Breng sek, kau tidak pantas menggunakan wajah itu!" teriak Tuan Lan.
"Diam! Atau aku ledakan pistol ini hingga menembus kepala istrimu!" teriak Briant sambil menodongkan pistol dikepala Larisha.
"Oke tenang Briant! Tenang, aku mohon jangan sakiti Larisha, bebaskan dia dan aku akan menggantikannya disini, ikatlah tangan dan kaki ku! Bahkan nyawa ku pun akan aku berikan, tapi aku mohon biarkan Larisha pergi meninggalkan tempat ini," kata Tuan Lan.
"Apa kau lupa Alan Limson, kau sudah membuat aku kehilangan kedua orangtuaku!" teriak Briant.
__ADS_1
"Dengar, anak buah ku tidak bermaksud menembak mati orang tuamu, mereka datang baik-baik atas perintah ku untuk membawa kembali uang yang dikorupsi oleh ayahmu Briant, tapi ayah mu justru menembak secara membabi-buta anak buah ku, hingga aksi baku tembak itu tidak dapat terhindarkan!" kata Tuan Lan.
"Tetap saja kau membuatku kehilangan orang-orang yang aku cintai! Maka kau juga harus merasakan hal yang sama, didepan kedua mata mu sendiri!" kata Briant.
"Briant, kau boleh membunuh ku! Tapi Larisha, dia tidak mengerti apapun, aku mohon aku mohon bebaskan dia!" kata Tuan Lan yang tidak tahan melihat kondisi Larisha terikat ketakutan seperti ini.
"Baiklah, karena aku seorang gantleman, bagaimana kalau kita bertaruh! Kau boleh maju ke arah istri mu untuk menyelamatkannya, tapi setiap kau melangkah aku akan melepaskan tembakan ini yang entah pelurunya akan menembus bagian tubuhmu yang mana," kata Briant tersenyum menakutkan.
Tuan Lan pun tak lagi dapat berpikir jernih! Setidaknya butuh lima langkah besar untuk bisa meraih Larisha, itu artinya akan ada lima tembakan yang akan menembusnya.
Tan yang sudah tiba didekat lokasi mobil Tuan Lan berhenti, tak bisa memarkirkan motornya lebih dekat lagi karena takut Briant akan mengetahuinya! Tan pun memarkirkan motornya dipinggir jalan, dan segera mengendap-ngendap mendekati gedung.
Disana terlihat beberapa orang yang berjaga. Tan harus bisa melumpuhkan satu persatu tanpa ada suara yang menarik perhatian satu sama lainnya. Tan masuk dari arah samping gedung dan langsung menutup mulut anak buah Briant, lalu Tan mematahkan leher anak buah Briant.
Tan terus diam-diam menyelinap untuk bisa menyingkirkan semua anak buah Briant tanpa harus diketahui Briant. Berlanjut dengan anak buah Briant yang berjaga didepan Tan pun berhasil menyingkirkannya, tersisa disamping kiri dua orang dan dibelakang gedung satu orang.
Tan menyingkirkan terlebih dahulu anak buah Briant yang berjaga dibelakang dengan memukul lehernya lalu kembali dia patahkan leher anak buah Briant.
Dor..
Larisha histeris melihat Tuan Lan tertembak hingga darah segar keluar dari bagian perutnya yang tertembak, air mata Larisha tumpah ruah menyaksikan suaminya tertembak didepan kedua matanya sendiri.
Terdengar jelas ditelinga Tan, suara tembakan dari lantai atas! Tuan Lan yang sudah melangkah maju tertembak di bagian perutnya. Namun hal itu tidak membuat Tuan Lan jatuh, dia tetap melangkah kembali demi menggapai Larisha.
Dor..
Kembali satu tembakan melesat dilengan sebelah kanan Tuan Lan.
Tan langsung panik dan tidak memiliki waktu lagi, Tan akhirnya terpaksa menembak kedua anak buah Briant yang tersisa hingga Briant pun mengetahui ada orang lain yang mencoba menyelamatkan Tuan Lan dan Larisha.
__ADS_1