Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 86


__ADS_3

Larisha dan Tuan Lan berjalan bersama menuju tempat pelaminan, diikuti oleh Laluna yang tak kalah memukau dengan memakai gaun berwarna putih juga make up wajah yang glossy! Tan pun tak bisa berhenti untuk memandang wajah cantik gadis yang kini sudah menjadi kekasihnya itu.


Meskipun Laluna masih terlihat ngambek karena permintaannya belum bisa dikabulkan oleh Tan, namun Laluna pun sempat mencuri-curi pandang kearah Tan yang hari ini sangat gagah dan rapih.



MC acara mempersilahkan Tuan Lan dan Larisha untuk memberikan salam pembuka kepada para tamu yang datang ke acara resepsi pernikahan mereka. Di sana para tamu sudah memadati gedung yang dirias sedemikian indah itu, sementara Tan sudah lebih dulu berbaur dengan para tamu untuk dapat mengawasi para tamu.


Tan sibuk lalu lalang kesana kemari, memastikan di pintu masuk bahwa tamu yang datang memanglah yang membawa kartu undangan khusus, jika tidak maka anak buahnya wajib menahan. Sejauh ini situasi aman terkendali, semua tamu yang datang memiliki kartu undangan khusus yang tidak mungkin bisa diduplikat karena ada stempel group Limson di undangan tersebut.


Laluna yang melihat Tan terus sibuk mondar-mandir memastikan keadaan aman selama resepsi, hanya bisa berdiam diri sendirian karena tidak mungkin juga Luna ikut naik keatas pelaminan bersama kakaknya.


"Lebih baik aku ambil minum, kebanyakan di kacangin haus juga!" Gumam Laluna.


Brughhh..


Laluna menabrak seorang laki-laki yang seusianya, dan wajahnya sudah sangat familiar di mata Laluna.



"Daniel?" sapa Laluna yang tak menyangka akan bertemu Daniel teman satu kampusnya.


"Luna! Kenapa kau disini?" tanya Daniel yang juga tak menyangka sekaligus bahagia bisa bertemu Laluna diluar kampus, apalagi melihat Laluna memakai gaun cantik membuatnya seperti bidadari.


"Ini resepsi pernikahan kakakku, kak Larisha! Kau sendiri, kenapa?" tanya Laluna.


"Ya, aku diajak oleh Dady! Lagipula aku kenal dekat dengan Tuan Lan, Dady dan Tuan Lan itu teman dekat jadi aku ikut hadir di acara pernikahannya!" kata Daniel.


Daniel adalah teman kuliah Laluna, bahkan keduanya mengambil jurusan yang sama yaitu S1 jurnalistik. Daniel merupakan anak dari rekan bisnis Tuan Lan. Di kampus bahkan Daniel adalah sosok yang selalu ada untuk Laluna, yang selalu membantu Laluna bila mengalami kesulitan, atau ada hal yang tidak dia mengerti! Bahkan Laluna berhasil membuat Daniel merasakan bagaimana jatuh cinta pada pandangan pertama.


Tan yang sedang kesana-kemari mengawasi setiap orang yang hadir didalam gedung, tak sengaja melihat Laluna tengah asik mengobrol dengan seorang laki-laki tampan dan masih cukup muda bila dibandingkan dengannya! Laluna tampak tertawa gembira bersama laki-laki itu, entah apa yang sedang keduanya bicarakan.

__ADS_1



Tan yang melihat Laluna akrab dengan laki-laki lain, langsung meradang! Hatinya seperti terbakar bahkan nyaris gosong menyaksikan wanita yang dicintainya tertawa untuk laki-laki lain. Buru-buru Tan menghampiri Laluna, dan menarik satu tangannya.


"Hei sayang!" panggil Tan dengan wajah yang manis.


Ada apa dengan spesies satu ini? Kenapa dia tiba-tiba bersikap manis seperti ini padaku?


"Sayang?" kaget Daniel.


"Perkenalkan, aku calon suaminya!" kata Tan lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Daniel.


"Oh oke, Luna! Aku tidak menyangka kau sudah memiliki calon suami," kata Daniel.


"AMM itu!" kata Laluna yang bingung dengan sikap Tan yang tiba-tiba aneh.


"Ayo sayang, aku ingin bicara sebentar dengan mu!" kata Tan lalu menggandeng tangan Laluna dan mengajaknya ke lorong gedung yang cukup sepi.



"Kenapa kau bersikap aneh?" tanya Laluna.


"Siapa laki-laki tadi? Apa kau menyukainya? Apa kau tidak bilang kalau kau sudah memiliki kekasih? Kau ini genit sekali!" kata Tan yang langsung memborbardir Laluna dengan pertanyaan-pertanyaan sebanyak itu.


"Kau cemburu Tuan Arthan?" goda Laluna.


"Cih, lain kali jika kau tersenyum seperti tadi pada laki-laki lain, aku akan memberikan mu hukuman!" kata Tan.


"Hukuman? Dengan apa?" goda Laluna, lalu menarik dasi yang dikenakan oleh Tan hingga wajah keduanya semakin dekat.


"Kau sudah membangunkan buaya yang sedang tenang menjadi lapar!" bisik Tan.

__ADS_1


"Lalu apa kau akan melahap mangsa mu di sini?" goda Laluna yang tak segan menggerayangi bagian da danya.


"Kenapa tidak!" kata Tan.


Tan lalu meraup bibir berwarna merah muda itu dengan sangat liar, tak peduli dimana pun dan kapanpun itu jika keduanya berdekatan pasti akan terjadi pertempuran untuk meraih kenikmatan. Tan dan Laluna saling menye sap, bahkan kedua tangan Tan sudah meraba-raba paha mulus Laluna meskipun masih tertutupi oleh gaun indah berwarna putih itu.



Sejenak meninggalkan ramainya acara resepsi Tuan Lan dan Larisha, karena Tan sudah memastikan bahwa situasi sejauh ini aman-aman saja tidak ada satu orangpun yang mencurigakan, tanpa Tan tahu bahwa malapetaka akan segera datang tanpa bisa dicegah.


Daniel masih betah menatap kearah Laluna dan Tan yang pergi bersama ke arah lorong, meninggalkan keramaian di sini!


Luna! Aku kira kita bisa lebih dari sekedar teman! Ternyata kau sudah memiliki kekasih, aku harap laki-laki itu tidak akan pernah menyakiti hatimu! Karena jika sampai aku mengetahui laki-laki itu membuat mu terluka, aku pastikan akan merebut mu dari sisinya.


Seorang pembunuh bayaran berdiri di samping jalan sambil melambaikan tangan kearah pengemudi targetnya, tentunya dengan mobil yang sepertinya mogok! Membuat salah seorang karyawan di perusahaan iklan milik Tuan Lan yang hendak pergi ke gedung resepsi, menepikan mobilnya sejenak untuk bertanya.


Karyawan laki-laki di perusahaan iklan yang mengemudi seorang diri itu, turun dari mobil.


"Tuan, mobilmu mogok?" tanya karyawan tersebut.


"Iya Tuan, sit! Padahal aku hendak pergi ke gedung resepsi untuk menghadiri pernikahan rekan bisnis ku!" ujar pembunuh bayaran itu dengan santai tanpa memperlihatkan wajah menakutkan sama sekali.


"Oh kebetulan kalau begitu, aku bekerja di perusahaan Tuan Lan dan aku akan menuju ke gedung resepsi! Ikutlah denganku Tuan," ajak karyawan itu.


"Terimakasih Tuan, kau sungguh baik hati!" ujar pembunuh bayaran itu.


Lalu keduanya masuk kedalam mobil, namun belum sempat karyawan tadi memakai seatbelt untuk bersiap mengendarai mobilnya, satu pisau berukuran besar tertancap dibagian perutnya hingga membuat karyawan tersebut tewas ditempat.


Pembunuh bayaran itu menarik tubuh karyawan itu, lalu mendudukkannya di kursi belakang mobil, dan membiarkan pisau itu masih tertancap dibagian perutnya! Dilepaskannya jas milik karyawan itu, lalu dibuat untuk menutup pisau yang menancap.


Pembunuh bayaran itu dengan santainya mengendarai mobil milik karyawan itu, dan tentunya kartu undangan khusus itu kini sudah dia pegang.

__ADS_1



__ADS_2