Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 122


__ADS_3

Laluna terus meng era ng, dan mencengkram kuat rambut Tan! Sementara Tan justru semakin asik memainkan kedua melon import milik Laluna. Setelah beberapa lama, Tan barulah melepaskan kedua melon import milik Laluna, namun nafas Laluna masih terengah-engah akibat terlalu banyak men de sah.


Tan dan Laluna saling menatap penuh cinta, keduanya saat ini sudah diselimuti oleh puncak bira hi yang berapi-api.


"Naiklah keatas meja!" kata Tan.


Membuat Laluna sejenak terbengong! Namun Tan membantunya untuk duduk diatas meja.


"Sayang, mau kau apakan aku?" tanya Laluna.


"Aku akan membuatmu terus menjerit saat bersama ku, bukalah kedua kakimu jangan ditutup rapat begitu," kata Tan.


Laluna pun menurut atas apa yang dikatakan oleh Tan, perlahan Laluna membuka kedua kakinya yang semula tadi ia rapatkan, kini merenggang dihadapan wajah Tan. Sekilas Tan mengamati bagian tengah disela-sela kedua kaki yang di renggangkan itu. Terlihat sudah basah, hingga membuat Laluna malu karena Tan tersenyum setelah melihat miliknya sudah sangat basah.



"Basah sekali sayang," kata Tan lalu mendekatkan wajahnya pada milik Laluna.


"Ya sudah, jangan!" kata Laluna seraya menutupinya dengan kedua tangannya.


"Terserah ku, ini seutuhnya milikku! Singkirkan tanganmu dari situ!" kata Tan.


Laluna pun lagi-lagi menuruti apapun yang diminta oleh Tan, rasa malunya sudah kalah telak oleh rasa inginnya menumpahkan has rat yang setiap berdekatan dengan Tan, akan langsung bangkit menuntut untuk sebuah kepuasan.


Tan dengan perlahan tapi pasti mulai mendekatkan wajahnya pada milik Laluna, diciumnya meskipun tak mengenai langsung karena masih terhalang oleh penutup bagian dalamnya. Tan menekan-nekan wajahnya pada milik Laluna, dari balik layar yang masih belum dilepaskan, kendati begitu Laluna sudah bisa merasakannya.


"Emtthhhhh ah Tan, belum dilepas," kata Laluna.


"Tidak apa, aku sedang ingin membuatnya lebih basah lagi," kata Tan diiringi dengan senyuman nakal dari bibirnya.

__ADS_1


Laluna pun hanya pasrah saja saat ini apapun yang akan dilakukan oleh Tan, yang jelas itu akan menimbulkan sebuah kenikmatan. Laluna tetap melebarkan kedua kakinya, dan Tan kembali mendekatkan wajahnya pada milik Laluna, digigitnya dari balik penutupnya, hingga membuat Laluna bergidik geli.


"Ahhh ssstttt," de sah Laluna.


"Kau suka?" tanya Tan yang sejenak menghentikan dulu aktivitasnya.


Laluna mengangguk senang, membuat Tan kembali menenggelamkan wajahnya pada milik Laluna, Tan masih betah duduk dikursi kerjanya sambil terus mencium-cium milik Laluna hingga Laluna yang sudah tidak tahan, menekan wajah Tan semakin tenggelam dibawah sana.


"Aughttttttt sssstttttttt kau nakal sekali Tan, aku semakin basah," lirih Laluna.


Untuk beberapa saat Tan kesulitan bernafas karena ditekan oleh Laluna, setelah beberapa saat kedua tangan Laluna barulah melepaskan Tan, dan membiarkannya bernafas lega. Tan tersenyum nakal melihat wajah Laluna yang sudah sangat ter ang sang olehnya.


Dilepaskannya celana bagian da lamnya, sementara rok mini berwarna hitam itu dibiarkannya menyingkap. Tan menjatuhkan celana da lam milik Laluna ke lantai. Kini milik Laluna sudah polos dihadapannya, Tan menatapnya penuh ingin, seperti seekor serigala yang hendak melahap habis mangsanya begitulah kira-kira tatapan tajam kedua mata Tan.


Tan kembali mendekatkan wajahnya ke dalam milik Laluna, dan dengan lahapnya Tan melu mat milik Laluna, sentuhan bibir Tan dimilik Laluna, membuat Laluna mendongakkan wajahnya keatas, kedua tangannya berpegang erat pada ujung meja yang menjadi tempat dirinya dinikmati oleh Tan.


Tan menjulurkan lidahnya menji latnya seolah itu adalah permen lollipop yang manis dan nikmat untuk di ji lat, sesekali Tan meny e sapnya dengan kuat, membuat Laluna meng gelinjang hebat.


"Arthan, cukup ahhhh! Tan, a-aku pengen pipis ahhhhh, Tan Ahhh," teriak Laluna saat Tan men y e sap kuat miliknya hingga Laluna pun mencapai puncak kenikmatannya, dan menyemburkan pencapaiannya pada mulut Tan.


Tubuh Laluna bergetar hebat, dan kini setelah berhasil mencapai puncaknya, tubuhnya sangat lemas. Sementara Tan tersenyum puas dan mengangkat wajahnya dari dalam sana, Tan mengelap sisa-sisa pencapaian Laluna yang masih tertinggal diarea bibirnya.


"Wajahmu terlihat cantik saat merasa puas begini," goda Tan yang disambut oleh senyuman manis Laluna.



Nafas Laluna masih terengah-engah, dan tubuhnya masih terkulai lemas diatas meja, Tan langsung menggendong tubuh Laluna seolah tak mau membiarkan Laluna bersantai-santai saat sedang bersamanya. Tan menggendong tubuh Laluna menuju sofa berwarna hitam yang berada di ruangan kerja miliknya itu.


Direbahkannya tubuh Laluna disofa empuk tersebut, Tan yang melihat Laluna masih mengenakan rok mininya, langsung dia lepaskan karena risih dan mengganggu aktivitasnya! Dilemparkannya rok tersebut, kini Laluna sudah benar-benar polos dihadapan Tan.

__ADS_1


"Tan, aku masih lemas! Biarkan aku istirahat dulu!" rengek Laluna.


"Hei sweety, aku tidak bisa menunggu lagi! Gai rah ku sudah tidak tertahankan lagi sayang!" kata Tan.


Melihat wajah Tan yang sudah seperti orang kelaparan akan kepuasan naf su dari tubuhnya, Laluna pun kembali bersemangat dan siap memberikan kepuasan untuk Tan. Luna bangkit lalu membuka kancing kemeja milik Tan satu persatu.


Kemeja putih itupun terlepas dari tubuh Tan, kini tubuh yang dipenuhi otot-otot besar itu, terlihat gagah dan menantang dihadapan Laluna, sontak saja has rat dalam diri Laluna kembali menggebu-gebu saat melihat otot-otot roti sobek milik Tan.


Laluna meraih resleting celana bahan hitam yang dikenakan oleh Tan, diturunkannya oleh Laluna! Membuat Tan semakin tak tahan ingin segera menancapkan knalpot miliknya, setelah berhasil menurunkan resleting milik Tan, Laluna melepaskannya, termasuk celana bagian akhir yang dikenakan oleh Tan.


Hingga tubuh Tan dan Laluna kini sama-sama tak mengenakan sehelai benangpun. Knalpot racing itu sudah membentang tinggi menjulang dan tak bisa ditidurkan kembali sebelum meraih puncak kejayaannya. Laluna mulai meraba-raba knalpot racing yang super duper big big big itu.



"Tan ini besar sekali! Apa ini lebih besar dari biasanya?" tanya Laluna.


"Ya sayang, itu karena semakin hari aku semakin tergila-gila denganmu," kata Tan.


Laluna mulai memainkan knalpot racing itu dengan tangannya, membuat Tan me leng uh saat tangan Laluna menarik ulur knalpot racing miliknya.


"Ssssttt sit, sweety arghhtttttttt emtt Luna sayang," de sah Tan.


Laluna terus menarik ulur knalpot racing milik Tan yang semakin dia mainkan semakin mengeras, perlahan Laluna mendekatkan wajahnya pada knalpot racing itu, Laluna pun memasukkan knalpot racing milik Tan ke dalam mulutnya, hingga mulutnya dipenuhi oleh knalpot racing milik Tan, itupun belum bisa masuk seluruhnya, hanya setengahnya saja.


❤️❤️❤️


Hayo maak siapkan senjata dinas kalian buat nanti malam,, jangan mau kalah sama babang Arthan yang udah nyolong start duluan siang-siang begini makin hareudang hareudang panas panas panas.😂😂😂😂


Tapi jangan lupa juga, Like, Komen, Votenya ya maak💃💃

__ADS_1


__ADS_2