Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 78


__ADS_3

Ting, pintu lift terbuka.


Tan dan Laluna yang masih terus berci u man, keluar dari dalam lift dan berjalan sambil terus berpagutan sesuai langkah kaki Tan, hingga tibalah mereka didepan pintu salah satu kamar apartemen, Tan mengeluarkan tangannya yang sejak tadi masih betah didalam inti milik Laluna.


Mencoba merogoh saku celananya untuk mengambil kartu akses untuk masuk ke dalam kamar apartemennya! Tan kemudian mendapatkannya, lalu dia menempelkan kartu untuk membuka pintunya dengan terus saling berci u man dengan Laluna.



Tit..


Pintu tak kunjung terbuka, hingga pemilik kamar apartemen itu merasa terganggu karena pintu nya terus berbunyi! Penghuni kamar yang merupakan seorang laki-laki cukup umur pun, membuka pintu kamar apartemen miliknya.


Klek.


Dan penghuni kamar apartemen itu dibuat melotot dengan dahsyatnya ci um an Tan dan Laluna, keduanya benar-benar tidak dapat diganggu dan masih terus menye sap, tangan Tan pun masih berusaha menempelkan kembali kartu tersebut ke pintu, walaupun pintu itu seolah menghilang.


Ekhem..


Penghuni kamar berdiri sambil geleng-geleng kepala melihat Tan dan Laluna yang belum juga sadar bahwa keduanya salah kamar. Tan dan Laluna yang menyadari ada suara berdehem, akhirnya melepaskan ci umannya dan dibuat melongo karena penghuni kamar langsung menunjuk kearah no kamar apartemennya.


__ADS_1


"Maaf Tuan kami salah kamar!" kata Tan yang langsung menarik tangan Laluna dan pergi begitu saja dari kamar apartemen tadi.


Tan dan Laluna salah kamar, karena kamar keduanya masih berselang tiga pintu dari kamar tadi. Sambil keduanya menahan tawa, akibat keganasan keduanya sampai lupa akan segalanya, Tan dan Laluna tiba di kamar apartemen milik Tan.


Klek..


Pintu terbuka, dan Tan langsung melahap kembali bibir Laluna lalu keduanya saling berpagutan menuju ke arah ranjang, setibanya diatas ranjang tubuh Tan langsung menindih tubuh Laluna, sejenak keduanya berhenti ber ci uma n dan saling melepaskan pakaian yang mereka kenakan masing-masing, dengan tidak sabaran.



Pakaian keduanya bertebaran kemana-mana sementara pemilik dari pakaian yang berhamburan tadi, sudah polos bak toples kaca. Tan sejenak melepaskan ci u mannya, lalu membelai lembut wajah Laluna.


"Mau kah kau menjadi kekasih ku?" tanya Tan bersungguh-sungguh.


"Ya, a-ku mau! Aku mencintaimu Tuan Arthan," kata Laluna.


Tan pun sangat senang mendengar Laluna menerima pernyataan cintanya, namun karena has ratnya sudah diujung tanduk, rasa bahagia itu kini condong ke rasa ingin memiliki dan rasa ingin melampiaskannya lewat naf su.


"Maafkan aku karena aku tak bisa menahannya," lirih Tan.


"Aku pun tidak bisa menolak mu Tuan, kau membuat ga i rah ku tidak terkendali," lirih Laluna.

__ADS_1


Tan langsung kembali me lu mat bibir Laluna, lalu berpindah pada leher dan pundak di ke cupnya setiap inci dari leher dan pundak gadis yang usianya terpaut 12 tahun dengannya itu.


Tan terus melu ma t leher hingga pundak Laluna hingga meninggalkan sisa-sisa saliva disekitarnya! Lalu ci u man itu turun pada kedua buah melon import yang sejak tadi mene gang sempurna, di hi sa pnya hingga sang empunya merasa tubuhnya tersengat aliran listrik saat kedua buah melon miliknya secara bergantian di hi sap oleh Tan.



Hingga setelah puas membuat lecet kedua buah melon milik Laluna, Tan mengarahkan knalpot racing miliknya, sejak tadi Laluna memang belum sempat melihat bentuk dari benda yang selalu mengeras setiap kali Tan berada didekatnya, malam ini Laluna dibuat melongo saat mengetahui besaran knalpot racing milik Tan, yang membuatnya berpikir untuk mundur alon-alon bila knalpot itu harus bersarang dimilikinya, karena terlalu besar dan itu membuat Laluna cemas.


"Tunggu Tuan! Kenapa sebesar itu? Aku ingin lebih kecil saja," protes Laluna.


"Kalau tidak besar tidak akan bisa masuk sayang, punyamu sudah banjir jadi tidak akan terlalu sakit!" lirih Tan yang sudah tak tahan lagi.


"Ta-tapi!" belum selesai Laluna protes, Tan sudah kembali menyumpal mulut Laluna dengan mulutnya.


Dan dengan satu kali dorongan pelan serta penuh kehati-hatian Tan mendorong knalpot racing miliknya kedalam inti milik Laluna, sontak hal itu membuat Laluna ingin menjerit, tapi tidak bisa. Yang saat ini bisa dilakukan oleh Laluna adalah menahan rasa sakitnya, kedua tangan Laluna bahkan memukul-mukul kasur, lalu juga memukul punggung Tan karena merasa kesakitan dan ingin berhenti.



❤️❤️❤️


Novel ini berlatar di luar negeri ya maak, kalau di Indo ya jangan ditiru belum halal udah digas pol aja😂 bisa jadi bahan ghibah satu kampung bahkan satu negara kalau kejadian begitu, aman ya Tan sama Laluna gak akan diarak sama warga🤪

__ADS_1


Tan untung Lo ye ga salah masuk kamar othornya, kalau sampe nyasar ke kamar othor, ya auto ngajak tuker posisi lah sama Luna😅


__ADS_2