Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 42


__ADS_3

Keesokkan harinya!


Tuan Lan dan Larisha tengah mengurus administrasi kepulangan Laluna, setelahnya mereka akan bertolak kembali ke negara mereka. Tiba-tiba Tan muncul dari arah depan pintu utama rumah sakit, Tuan Lan yang melihat Tan segera menghampirinya.


"Tan! Akhirnya kau sudah kembali!" kata Tuan Lan.


"Tuan maafkan aku pergi selama ini!" kata Tan menundukkan wajahnya.


"Ya tidak apa-apa! Apa kau sudah membaca pesan dariku untuk menyelidiki kasus kematian anakku?" tanya Tuan Lan.


"Ya, aku sudah membacanya Tuan! Setelah kita sampai di negara kita, aku akan langsung pergi ke Bar yang dikunjungi oleh Tuan Dev sebelum dia kecelakaan," kata Tan.


"Baiklah aku percayakan padamu! Tapi Tan, kenapa wajahmu sedikit pucat, kau juga kurusan? Apa kau sakit?" tanya Tuan Lan.


"Apa? Tidak Tuan, aku rasa itu hanya perasaanmu saja!" kata Tan berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Ah, aku tau! Aku paham Tan, kau pasti kelelahan akibat seminggu full bercocok tanam dengan pacar barumu itu kan? Hahaha, mengaku sajalah Tan, tidak usah malu denganku!" kata Tuan Lan sambil menepuk-nepuk pundak asisten pribadinya itu.


"Iya Tuan kau benar!" kata Tan yang tak ingin urusannya lebih panjang lagi.



Hahaha..


"Apa kau pakai obat ampuh! Bagi-bagilah denganku Tan, aku juga ingin bercocok tanam selama seminggu tanpa jeda sepertimu!" kata Tuan Lan.


"Aku tidak memakai obat Tuan! Tapi jika anda ingin, aku akan pesankan," kata Tan.


"Wah wah, lancang kau Tan! Kalau kau saja sanggup tanpa obat, apalagi aku, jelas aku akan unggul lebih darimu!" kata Tuan Lan lalu tertawa.


Larisha yang sedang sibuk membaca beberapa dokumen mengenai hasil medis milik Laluna, menengok kearah Tuan Lan dan Tan rasa Larisha penasaran atas apa yang dibicarakan oleh kedua laki-laki itu? Kenapa Tuan Lan sampai tertawa terus menerus, membuat Larisha merasa curiga.


"Baiklah ayo Tan, kita akan ke bandara setelah mengurus administrasi rumah sakit gadis penyakitan itu!" kata Tuan Lan.


"Baiklah Tuan!" kata Tan.


Larisha pun berinisiatif menyapa Tan karena sudah lama tidak melihatnya.


"Apa kabar Tuan Tan, lama tidak melihat anda! Biasanya anda seperti ekor harimau yang terus berada mengikuti kepala harimau," sapa Larisha.

__ADS_1


"Apa baru saja kau menyamakan aku dengan seekor harimau Larisha?" tanya Tuan Lan.


"Aku kabar baik nona!" kata Tan.


"Upss apa kau marah Tuan? Ucapan ku sepertinya salah?" tanya Larisha menanyakan pada Tuan Lan yang melihatnya sinis akibat disamakan dengan kepala harimau.


"Tentu aku tidak marah! Kau benar sekali aku persis seperti seekor harimau, dan kau adalah seekor kelinci yang bisa dengan mudah aku terkam, bersiaplah menerima kebuasan ku Larisha!" kata Tuan Lan.


"Cihhh." Larisha malas melanjutkan perdebatannya dengan Tuan Lan, mereka lantas menuju ruangan Laluna untuk segera berkemas dan pergi meninggalkan rumah sakit.


Klek..


Pintu ruangan rawat Laluna terbuka, gadis itu sudah sedikit lebih segar meskipun rambutnya masih tipis akibat mengalami kerontokan! Larisha pun tersenyum dan disambut oleh senyuman Laluna, dilihatnya oleh Laluna Tuan Lan turut masuk kedalam ruangan itu dan disusul oleh Tan.



"Tuan Tan." Gumam Laluna yang terus memandanginya.


Namun Tan tak menatap Laluna dan hanya menunduk layaknya asisten pribadi pada umumnya.


"Ayo Luna, kita akan langsung ke bandara! Kau yakin sudah benar-benar baik-baik saja kan?" tanya Larisha.


Tuan Lan, Larisha, Tan dan juga Laluna keluar dari rumah sakit, dan langsung dijemput oleh beberapa mobil yang juga berisi para anak buah Tuan Lan yang akan kembali ke negara mereka bersama-sama.


"Terimakasih Singapure! Kau negara yang mengajarkan aku, bahwa yang sakit bisa saja sembuh, dan yang tidak memiliki masa depan kembali akan memiliki masa depan! Batin Laluna.



Setelah melakukan penerbangan yang cukup lama. Rombongan itu tiba ke negara asalnya, beberapa orang anak buah Tuan Lan sudah melambaikan tangannya, mereka yang datang menjemput dan mengantarkan rombongan itu kembali ke rumah mewah yang memiliki 5 lantai itu.


Akhirnya sampailah di rumah mewah yang sudah hampir satu bulan ditinggalkan oleh pemiliknya karena harus berada di Singapure mengurus pengobatan Laluna.



"Akhirnya aku kembali ke rumah ku yang sangat nyaman ini!" kata Tuan Lan.


"Nyaman? Ini seperti neraka bagi aku dan kakakku," celetuk Laluna.


"Apa kau bilang? Neraka, hei gadis kecil yang hampir terseret pada jurang kematian! Kau tidak lihat betapa indah dan megahnya rumah ini, mana mungkin ada neraka sebagus ini!" kata Tuan Lan.

__ADS_1


"Kak, apa tidak bisa kita kembali ke rumah kita?" tanya Laluna.


"Luna, kakak tidak bisa mengabulkan itu!" kata Larisha.


"Tan seret gadis itu dan tunjukkan kamar untuknya!" perintah Tuan Lan yang meminta Tan menunjukkan kamar untuk Laluna yang akan tinggal di kediaman mewah itu.


"Baik Tuan! Mari ikut denganku nona!" kata Tan yang langsung beranjak meninggalkan Tuan Lan dan Larisha.


Laluna pun mengikutinya dari belakang, meskipun dengan wajah cemberut karena tak ingin tinggal satu atap dengan Tuan Lan.


"Tuan apa aku boleh menemani adikku terlebih dahulu, dia kan masih sakit?" tanya Larisha.


"Tidak, kau pikir aku tidak tau kalau itu hanya alibi mu saja untuk bisa menghindari ku! Kau milikku Larisha, sekarang ikutlah ke kamar bersama ku!" kata Tuan Lan.


"Baiklah!" ketus Larisha.


Larisha dan Tuan Lan pun pergi ke kamar mereka! Kamar yang saat pertama kali Larisha datang ke rumah ini dirinya mengalami siksaan dari laki-laki asing yang kini telah menjadi suaminya.


Sementara di sebuah kamar di lantai 2 rumah itu, Tan mengantarkan Laluna dan membantu memasukkan barang-barang milik Laluna ke kamar itu.



"Wow luas sekali! Hei Tuan, kenapa kau tidak ada basa-basinya menegurku? Kita kan pernah tinggal satu atap," kata Laluna.


"Istirahatlah! Dokter menyuruhmu untuk tidak melakukan aktivitas apapun dahulu," kata Tan.


"Tuan, tidak bisakah aku kembali ke apartemen mu saja?" tanya Laluna.


Namun Tan tak menggubris perkataan Laluna, dan hendak keluar kamar itu. Namun Laluna memegangi tangan Tan.


"Tuan, aku betah di apartemen milikmu!" goda gadis yang sebentar lagi genap 18 tahun itu.


"Aku tidak bisa mengabulkan keinginan mu nona!" kata Tan.


Tan pun keluar dari dalam kamar Laluna, dan menengok pada lengan yang tadi disentuh oleh Laluna, lalu tersenyum kala mengingat rengekan gadis itu.


Didalam milik Tuan Lan, Larisha tengah menyiapkan air hangat untuk Tuan Lan berendam, setelah itu dia menyiapkan pakaian tidur untuk Tuan Lan, kaki Larisha berjinjit untuk meraih pakaian yang berada di rak lemari yang lumayan tinggi!


Melihat Larisha yang kesulitan mengambil pakaian! Tuan Lan datang dari arah belakang, lalu mengambilkannya, satu tangan Tuan Lan memegang pinggul Larisha, sementara satu tangannya memegangi pakaian yang telah dia raih namun Larisha masih diam terpaku karena saat ini posisi Tuan Lan tepat berada dibelakang tubuhnya.

__ADS_1



__ADS_2