Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 125


__ADS_3

Bright tak mengindahkan protes yang dilayangkan oleh Tuan Lan terhadapnya, dia cuek saja menyantap sarapan yang tersaji didepannya.


Setelah sarapan selesai, Tuan Lan berpamitan terlebih dahulu karena ada meeting pagi hari dan tidak mau sampai terjebak oleh kemacetan, setelahnya Bright dan Domanick pun pergi bersama dengan pengasuh mereka diantar oleh supir pribadi Tuan Lan untuk pergi bersekolah.


"Kak, aku ke kamar lagi ya! Kepalaku agak pusing,"


"Ya sudah Luna istirahatlah!"


Laluna pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat, sementara Larisha dan Brithney bersiap-siap untuk berangkat ke stasiun televisi tempat Laluna bekerja.


"Com on sweetheart, seharian ini kau bolos sekolah demi menemani Momy mu, kau senang?"



"Ya aku senang Momy, aku ingin bersama Momy terus selamanya!"


"Tidak mungkin Brith, kelak kau dewasa kau pasti akan pergi meninggalkan Momy karena kau akan menikah tentunya harus dengan laki-laki baik,"


"Aku tidak mau menikah, jika menikah membuatku meninggalkan mu mom,"


"Kau ini, manis sekali si! Tunggu Brith, Momy lupa meminta surat pengunduran diri aunty mu, Brith tunggu disini ya, Momy segera kembali!"


"Ya Momy,"


Larisha pun buru-buru pergi ke kamar Laluna untuk meminta surat pengunduran dirinya!


Tok.


Tok


Tok.



"Luna, kakak mau ambil suratnya,"


"Iya kak, masuk saja,"


Larisha kemudian membuka pintu kamar adiknya itu, dilihatnya Laluna sedang terbaring diranjang sambil memegangi kepala yang pusing,


"Luna, kita sebaiknya ke dokter saja Kaka perhatikan sakitmu semakin parah,"


"Tidak kak, aku tidak mau aku sudah sehat kok,"


Laluna berusaha terlihat baik-baik saja, agar tidak dibawa ke dokter setidaknya Larisha dan Tuan Lan harus tau dirinya hamil ketika di pesta pernikahan, jika sampai Larisha mengetahuinya sekarang, pasti Larisha akan mengomel tujuh hari tujuh malam pada Laluna.


"Mana suratnya?"


"Dimeja kak, ambil saja disana!"

__ADS_1


Kata Laluna yang terasa lemas untuk berjalan kearah meja yang terletak di pojok kanan kamarnya, Larisha pun berjalan menuju meja untuk mengambil sendiri surat pengunduran diri adiknya itu,


Saat hendak mengambil surat pengunduran diri yang tergeletak diatas meja, ada yang mencuri perhatian Larisha! Sebuah testpack dengan garis dua di meja yang mampu membuat kedua mata Larisha melotot tajam,


"Luna! Luna," teriak Larisha,


"Astaga kakak, kenapa berteriak si?


Laluna beranjak dari ranjang untuk menghampiri Larisha, seketika melihat wajah Larisha yang sudah bertanduk itupun Laluna teringat akan satu hal, bahwa testpack miliknya memang ditaruh didekat surat pengunduran diri itu!



"Oh my God,"


Laluna segera berjalan mundur menjauhi Larisha yang sudah menatapnya tajam, Larisha dengan sorot mata mencekam terus mendekati Laluna dan hal itu membuat Laluna berlari menjauh dari Larisha,


"Hei Luna, kemari kau! Pantas saja kau pusing dan mual,"


"Kak ampun kak, aku tidak sengaja,"


Laluna terus menjauh, keduanya terlibat kejar-kejaran mengelilingi sofa yang berada didalam kamar itu, kemudian mengelilingi ranjang milik Laluna, Larisha terus mengejar Laluna hingga dapat sementara Laluna berusaha keras agar Larisha tidak berhasil menyentuhnya,


"Tidak sengaja kau bilang? Tidak sengaja sampai tumbuh begitu?"


"Kak, aku bisa jelaskan! Semua ini salah Tan, dia merayuku kak, aku diperkosa olehnya, sungguh kak!"


"Kakak tidak percaya apa yang kau katakan, mana mungkin laki-laki seperti Tan mau memperkosa mu, yang ada justru kebalikannya kau yang gatel kan?"


"Luna kau ini benar-benar menguji kesabaran kakak, bagaimana bisa kau malah hamil lebih dulu? Bagaimana kalau Tan laki-laki bejat yang tidak bertanggungjawab, Luna kakak tidak pernah mengajarkan mu seperti itu!"


Keduanya masih terlibat kejar-kejaran hingga akhirnya Larisha berhasil menjambak rambut Laluna, keduanya jatuh bersama diatas kasur yang empuk, Larisha menjambak rambut adiknya itu namun hanya pelan saja,



"Kakak ampun kak, aku janji tidak akan mengulanginya lagi,"


"Tentu saja tidak akan diulangi, kau kan memang akan dinikahi, tapi Luna kau benar-benar bisa membuatku mati muda!"


"Sudahlah kak, sudah terlambat untuk mengomel, terlanjur tumbuh juga,"


"Luna!!!!!! Kakak tidak tau lagi harus bicara apa denganmu, kau ini makhluk sejenis apa si susah sekali dinasehati!"


Larisha pun melepaskan jambakannya, lalu menjewer satu kuping Laluna, tak terima terus dihajar habis-habisan oleh kakaknya. Laluna membalikkan keadaan dia membalas menjewer kuping sebelah kiri Larisha, keduanya bergelut diatas ranjang,


"Jangan salahkan aku ya kak kalau kupingmu sampai terlepas, rasakan ini!"


"Beraninya kau Luna!"


Klek,

__ADS_1


Pintu kamar Laluna terbuka, Brithney datang untuk menemui Momynya yang tak kunjung datang, dan melihat keduanya tengah melakukan pertempuran sengit diatas kasur,


"Momy!"


Suara Brithney membuat Laluna dan Larisha berhenti saling menjewer,


"Brith, sayang kenapa kau kemari?"


Larisha segera turun dari atas ranjang, sementara Laluna mengerucutkan bibirnya dan merapihkan rambutnya yang acak-acakan,


"Momy selalu melarang Brith untuk tidak melakukan kekerasan pada teman Brith, tapi Momy kasar terhadap adik Momy sendiri, itu tidak boleh Momy,"


Jleb,


Brithney sudah pandai membalikkan perkataan Larisha yang membuat Larisha malu setengah mati dihadapan gadis kecil itu!


"Good job Brith, kau memang anak yang sangat pintar,"


Hahahaha


Laluna tertawa girang melihat Larisha mati kutu akibat ucapan anaknya sendiri,


"Diam kau Luna, sudah kakak akan antarkan surat ini ke tempat kerjamu! Dan sampaikan pada Tan, dia tidak akan selamat jika bertemu denganku!"


"Bye kaki sayang,"


Larisha segera pergi meninggalkan kamar Laluna bersama dengan Brithney, keduanya pergi bersama menuju stasiun televisi tempat Laluna bekerja,


Setelah beberapa saat melakukan perjalanan menuju stasiun televisi, Larisha dan Brithney tiba di halaman depan stasiun televisi tersebut, keduanya turun dari mobil!



Larisha dan Brithney masuk ke dalam, dan menemui bagian resepsionis untuk bertemu dengan HRD disana, namun belum sempat sampai dimeja resepsionis, Daniel melihat Larisha dan Brithney kemudian Daniel pun menyapa keduanya,


"Kak Risha, hai Brith! Sedang apa kalian disini?"


"Daniel, kebetulan kita bertemu! Ini, Laluna sakit dia juga sudah memutuskan untuk berhenti bekerja,"


"Hai paman,,"


Larisha menunjukkan sebuah amplop berisi surat pengunduran diri Laluna pada Daniel, sontak Daniel terkejut dengan keputusan Laluna untuk berhenti bekerja secepat ini! Rasanya sangat sedih bila setiap hari dirinya tidak akan lagi bisa melihat Laluna,


"Apa Luna sakit? Sakit apa kak? Kenapa sampai berhenti kerja, apa parah?"


Larisha yang melihat Daniel masih sangat mengkhawatirkan Laluna, sampai tak enak hati padanya,


"Tidak kok, Luna tengah mengandung saat ini,"


❤️❤️❤️

__ADS_1


Aduh bang Daniel masih aja galau sama Luna, kasihan itu jodohmu dihadapan mu tanpa kau sadari, untung masih pitik jadi belum mengenal arti jeleous ya Brith,,😂


Btw, kisah Domanick ketika udah besar jadi Casanova vs office girl seksi bakalan aku up di aplikasi pink ya maak, kalau lolos itu juga, doa'in maak🙏🤗


__ADS_2