Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 108


__ADS_3

Larisha sedikit melunak setelah tau bahwa Tan adalah orang yang ternyata sudah mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Laluna. Namun, permasalahan ini sungguh membuat Larisha pusing memikirkannya, bagaimana nanti menghadapi keluarga Daniel, mereka selalu ada saat keluarga Tuan Lan mengalami masalah, bahkan Ayah Damian (Ayah Daniel) adalah orang yang membantu Tan mengurus bisnis keluarga ini, selama Tuan Lan koma.


"Sudahlah mom, sekarang semua sudah terjadi! Biarkan kita berterus-terang apa adanya besok di depan keluarga Daniel, kita bicarakan baik-baik, dan kita cari solusinya sama-sama!" kata Tuan Lan.


"Baiklah Dad, keadaan ini serba sulit dua-duanya adalah laki-laki baik yang sangat mencintai adikku, biarkan besok kita bicarakan terlebih dahulu bagaimana baiknya," kata Larisha.


"Luna, sekarang sudah malam sebaiknya kau istirahat lah dulu!" kata Tuan Lan.


"Baik kak Lan, terimakasih banyak sudah mau mengerti!" kata Laluna.


Laluna lantas pergi meninggalkan kamar Tuan Lan, lalu Larisha pun menutup pintu kamarnya!


"Dad, aku tidak enak hati dengan keluarga Daniel! Tapi aku juga tidak bisa membiarkan perasaan Luna dan Tuan Tan menderita," kata Larisha.



"Ya, apapun itu mom! Besok mudah-mudahan bisa diselesaikan dengan baik-baik, akan bagus bila Daniel menerima keputusan Laluna dengan hati yang lapang," kata Tuan Lan.


Keesokkan harinya!


Tuan Lan, Larisha, dan Laluna sudah berkumpul di ruangan keluarga untuk menunggu kedatangan keluarga Daniel. Sementara anak-anak mereka tengah berada di sekolah. Tak lama, Tan datang menemui Laluna.


"Tuan Tan, kau sudah datang, duduklah!" kata Larisha.


Tan pun duduk di sofa yang sama dengan Laluna.



"Nona, aku yakin kau sudah mendengar tentang hubungan ku dengan adikmu! Aku minta maaf atas kegaduhan ini," kata Tan.


"Iya kau benar Tuan, aku sudah mendengarnya! Dan sungguh aku terkejut, tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah, kau adalah orang yang menyelamatkan nyawa adikku!" kata Larisha tersenyum pada Tan.


"Aku tulus melakukan itu nona, aku sangat mencintai Luna!" kata Tan.


"Terimakasih Tuan Tan, aku sangat lega akhirnya aku mengetahui siapa orang yang sudah mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Luna! Kami benar-benar berhutang budi padamu," kata Larisha.

__ADS_1


Ekhem,, ekhmm..


"Rupanya, yang semula lampu merah kini sudah berubah menjadi lampu hijau!" ledek Tuan Lan.


"Masalah belum selesai Tuan, aku harus bicarakan ini dengan keluarga Daniel secara baik-baik!" kata Tan.


"Sudahlah, kau tenang saja! Aku tau Damian dan Angeline orangtua yang baik, mereka pasti tidak akan membiarkan anaknya menikah apabila wanita yang akan dinikahinya itu tidak mencintai anaknya!" kata Tuan Lan.



Meskipun Tuan Lan santai saja dengan masalah ini karena mengenal baik keluarga Daniel, tapi tetap saja Tan dan Laluna sangat takut bila nantinya keluarga Daniel akan marah besar.


Tuan Lan menengok ke jam tangan yang dipakai disebelah kiri lengannya! Dilihatnya, waktu sudah menunjukkan pukul 11.15 siang.


"Hmm, tumben sekali Damian terlambat," kata Tuan Lan.


"Apa mungkin keluarga Daniel tidak datang karena sudah tau dari Daniel, dad? Mereka marah dan tidak mau menemui kita?" tanya Larisha.


"Tidak mom, Damian dan Angeline (orangtua Daniel) bukan orang yang seperti itu!" kata Tuan Lan.


Tuttt..


Tutt..


Handphone Damian tidak aktif, Tuan Lan pun mencoba menelpon ke nomor Angeline, namun sama-sama tidak aktif.


"Kenapa Dad?" tanya Larisha.


"Tidak aktif mom," kata Tuan Lan.


"Luna coba kau hubungi Daniel!" kata Larisha.


"Iya kak," kata Laluna lalu mengeluarkan handphone miliknya dari saku celana dan mencoba menelpon Daniel.


...Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut....

__ADS_1


"Sama kak, handphone Daniel pun tidak aktif! Kenapa ya kak, mana mungkin Daniel tiba-tiba menghilang seperti ini," kata Laluna.


Tuan Lan pun meminta salah seorang anak buahnya untuk pergi ke kediaman keluarga Daniel, akhirnya anak buah Tuan Lan segera pergi meninggalkan kediaman Tuan Lan untuk mendatangi kediaman keluarga Daniel.


Tidak dapat di pungkiri, kini Tuan Lan pun jadi ikut gelisah. Dirinya takut kalau Damian dan Angeline sahabatnya itu marah akibat ulah Laluna. Setelah menunggu hampir setengah jam, anak buah Tuan Lan yang ditugaskan untuk mendatangi kediaman keluarga Daniel pun menelepon.


"Tuan permisi, ada telepon untuk anda!" kata salah seorang anak buahnya sambil menyerahkan telepon genggamnya pada Tuan Lan.


Tuan Lan menerima telepon genggam itu.


..."Halo, kau dimana? Apa sudah sampai di kediaman Daniel?" tanya Tuan Lan....


..."Tuan! Se-sebaiknya anda kesini sekarang!" kata anak buahnya....


..."Ada apa? Kenapa nada bicara mu seperti orang ketakutan?" tanya Tuan Lan....


Mendengar Tuan Lan mendadak panik setelah berbicara ditelepon, Tan dan yang lainnya semakin penasaran apa yang terjadi sebenarnya.


Tuan Lan mendengarkan penjelasan anak buahnya, meskipun anak buahnya berbicara dengan tidak tenang! Setelah mendengarkan semua yang terjadi, Tuan Lan segera berdiri.


"Tan! Ikutlah denganku!" kata Tuan Lan dengan suara berat.


"Baik Tuan!" kata Tan.


"Dad, ada apa?" tanya Larisha yang khawatir.


"Mom, tunggu lah disini!" kata Tuan Lan.


"Tapi," kata Larisha belum selesai Larisha bicara, Tuan Lan sudah pergi meninggalkan ruangan keluarga itu.


Tuan Lan mengajak serta Tan untuk ikut dengannya. Sementara Larisha dan Laluna bertanya-tanya tentang apa yang terjadi sebenarnya? Lalu kenapa Tuan Lan mengajak Tan untuk pergi bersamanya.



❤️❤️❤️

__ADS_1


Daniel kenapa ya? Masa iya acara penting demi kejelasan hubungannya dia gak mau datang?? Please ngaku siapa yang umpetin Daniel, hayo🤔🤔🤨


__ADS_2