
Larisha dan Tuan Lan pun duduk di ruang tamu rumah itu karena percuma berada didalam kamar untuk istirahat pun tidak bisa, ranjang itu sudah patah hingga Tuan Lan dan Larisha memilih untuk duduk saja di kursi ruang tamu.
"Tuan, seharusnya kau jangan kesini! Rumahku tidak layak untuk ditinggali, untung saja tadi pinggang mu tidak parah karena ranjang tua itu patah," kata Larisha.
"Tidak masalah, aku akan merenovasi rumah ini!" kata Tuan Lan.
"Tidak usah Tuan," kata Larisha tertunduk malu.
"Ayolah tidak perlu malu-malu begitu, aku menerima segala hal tentang mu, sekarang ikutlah pulang kembali ke rumahku! Dan setelah rumah ini direnovasi, kita bisa sesekali menginap di rumah ini," kata Tuan Lan.
"Kau yakin Tuan? Kau benar-benar tidak jadi menceraikan ku?" tanya Larisha.
Tuan Lan pun menarik tubuh Larisha kedalam dekapannya!
"Aku sangat takut saat tadi mendengar mu pergi dari rumah! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bila kita sampai terpisah," kata Tuan Lan.
"Aku percaya padamu! Kau pasti bisa menjagaku Tuan," kata Larisha.
"Ya, dan aku akan sedikit mengajarimu cara-cara bertarung, semacam bela diri," kata Tuan Lan.
"Baiklah aku mau Tuan! Aku akan bersemangat mengikuti apa yang nanti kau ajarkan," kata Larisha.
"Ya sudah, sekarang kemasi barang-barang mu kembali! Aku akan menelpon Tan agar menjemput kita," kata Tuan Lan.
"Ya ampun Tuan!" kata Larisha yang baru saja mengingat bahwa Luna belum juga pulang dari membeli makan malam, padahal ini sudah pukul 00.00 malam.
"Ada apa Risha?" tanya Tuan Lan.
"Luna, aku baru ingat dia belum kembali ke rumah sejak tadi," kata Larisha.
"Oh Luna, kau jangan khawatir dia pergi bersama dengan Tan agar kita bisa bicara berdua," kata Tuan Lan lalu mengambil handphone miliknya untuk menelpon Tan.
"Syukurlah aku lega, aku kira Luna diculik," kata Larisha.
"Cepatlah berkemas, aku akan menelpon Tan," kata Tuan Lan.
Tuan Lan pun menelepon Tan, namun nomor teleponnya mendadak tidak aktif setelah sebelumnya sempat aktif.
Tan memang sengaja menonaktifkan handphonenya, karena dia ingin berlama-lama dengan Laluna. Keduanya duduk disebuah taman namun tidak saling mengobrol. Laluna yang bosan, akhirnya mulai buka suara.
"Tuan! Sebenarnya sampai kapan kita akan terus disini?" tanya Laluna.
__ADS_1
"Sabarlah! Tuan Lan belum menghubungi ku lagi," kata Tan.
"Baiklah Tuan, ngomong-ngomong berapa usiamu Tuan?" tanya Laluna.
"30 tahun, kenapa?" tanya Tan.
"Tidak, kau tua sekali," celetuk Laluna.
"Cih, memang apa yang salahnya menjadi tua," kata Tan.
"Kau benar tidak ada yang salah dengan tua, aku berharap sebelum aku tua! Aku sudah bisa menemukan pendonor itu," kata Laluna.
"Memangnya kau sangat penasaran dengan orang yang mendonorkan sumsum tulang belakang padamu?" tanya Tan.
"Hmm, rasanya tidak ada kata-kata yang bisa mengutarakan bagaimana bahagianya aku jika aku berhasil menemukannya!" kata Laluna sambil menatap langit beserta bintang-bintang.
"Apa yang akan kau lakukan jika berhasil menemukannya?" tanya Tan.
"Jika dia seorang wanita, aku akan menjadikannya saudara ku aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi ja Risha, tapi jika dia seorang laki-laki. Aku akan menikahinya!" kata Laluna.
"Apa? Menikahinya?" tanya Tan sambil tertawa cengengesan.
"Tentu saja itu lucu! Apakah ada seorang gadis melamar pria?" tanya Tan.
"Memangnya kenapa? Aku bukan hanya akan melamarnya, tapi aku akan langsung menikahinya!" ketus Laluna yang kesal dengan Tan yang menertawakannya.
"Baiklah lakukan sesukamu!" kata Tan yang masih terus tertawa ringan.
Tan dan Laluna pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Sesampainya di depan rumah, Laluna dan Tan masuk kedalam rumah dan melihat Tuan Lan dan Larisha tengah tertidur dikursi ruang tamu.
"Astaga, kenapa mereka tidur disini! Kenapa tidak dikamar?" tanya Laluna.
"Entahlah! Aku akan bangunkan Tuan Lan!" kata Tan.
Laluna pun menengok kearah kamar Larisha, dan melihat ranjang dikamar itu roboh.
"Astaga! Apa yang sudah terjadi?" teriak Laluna, teriakan Laluna sontak membangunkan Larisha dan juga Tuan Lan.
"Luna, kau sudah datang!" kata Larisha.
"Kenapa dengan ranjang didalam kamarmu kak? Roboh seperti itu?" tanya Laluna.
Sementara Tan hanya bisa tersenyum tipis. Tuan Lan dan Larisha pun gelagapan harus menjawab apa pada Laluna, tidak mungkin jika mengatakan ranjang itu roboh akibat gerakan Larisha yang fenomenal.
__ADS_1
"Honey, kita harus secepatnya keluar dari rumah ini! Lihat bahkan ranjangmu saja roboh karena sudah terlalu tua, aku yakin sebentar lagi bangunan ini juga akan roboh hanya dengan tiupan angin!" kata Tuan Lan yang langsung berdiri menarik Larisha agar Laluna tak lagi bertanya.
Hahaha..
"Iya benar Tuan, Luna ayo kita tinggalkan rumah ini! Baju-bajumu sudah kakak kemasi," kata Larisha lalu bergegas keluar rumah.
Laluna pun akhirnya mengikuti mereka dan masuk kedalam mobil meskipun masih melirik kearah Larisha dan Tuan Lan dengan tatapan penuh kecurigaan.
Di mobil!
"Apa kakak, dan kakak ipar sudah berbaikan?" tanya Laluna.
"Luna, kenapa bertanya begitu?" tanya Larisha.
"Kalau kalian memang sudah berbaikan, izinkan aku untuk kuliah di Singapore ya kak, please aku mohon. Aku tidak mau kuliah di negara ini!" kata Laluna.
"Sayang, kenapa adikmu begitu ingin kuliah di Singapore?" tanya Tuan Lan.
"Dia ingin sekali menemukan pendonor itu Tuan, Laluna terus merengek untuk kuliah disana," kata Larisha.
"Gadis kecil, kau itu belum genap 18 tahun, apa jadinya jika kau hidup sendirian di negara orang? Kau masih memerlukan pengawasan dari kami!" kata Tuan Lan.
"Kak, ayolah bujuk kakak ipar agar mengizinkannya! Aku janji akan membiayai kuliah ku sendiri, aku akan mencari pekerjaan," kata Laluna.
Sementara Tan hanya menyimak saja pembicaraan Laluna, Tuan Lan dan Larisha.
"Luna nanti kita bicarakan lagi di rumah! Kakak perlu berpikir untuk melepaskan mu hidup sendirian di sana!" kata Larisha.
"Tidak ada waktu lagi, aku harus secepatnya mendaftar!" kata Laluna.
"Iya akan kakak pikirkan itu!" kata Larisha.
Sesampainya di kediaman Tuan Lan, Larisha dan Laluna pergi ke kamar mereka untuk merapihkan kembali pakaian mereka ke lemari. Sementara Tuan Lan dan Tan, mengobrol disamping kolam renang.
"Tan, sampai kapan kau akan menutupinya! Gadis itu mencari mu sampai seperti itu, bicaralah padanya bahwa kau yang mendonorkan sumsum tulang belakang itu!" kata Tuan Lan.
Tuan Lan memang telah mengetahui bahwa Tan lah yang mendonorkan sumsum tulang belakang itu pada Laluna, karena sangat mudah sekali bagi Tuan Lan untuk mencari informasi itu! Hanya saja, Tan meminta Tuan Lan agar tidak memberitahukan itu pada Larisha maupun Laluna.
"Kau jatuh cinta pada gadis itu?" tanya Tuan Lan.
__ADS_1