Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Apa Ada Dedemit?


__ADS_3

"Bu, sekitar jam 3 lewat tadi aku ketiduran. Aku inget betul ada 6 potong sawo yang sudah dikupas belum dimakan ada di depan aku. Pas aku bangun kok sudah ga ada," Keluh Ken pada ibunya malalui sambungan telepon.


"Loh, emang kamu ketiduran dimana?" tanya ibunya penasaran.


"Di kursi makan, Bu. Habis sepi banget. Ga ada yang di kerjain,"


"Walah, Nak. Besok-besok kalau tidur di kamar aja. Ga enak sama yang punya rumah,"


"Ketiduran, Bu. Bukan di sengaja,"


"Iya, tapi jangan diulangi lagi ya,"


"Kan sudah aku bilang ga sengaja, masa diulangi Kalau diulangi lagi itu sudah diniatkan. He..he....,' Ken mencoba bercanda agar ibunya tidak terlalu panik.


"Bu, emang ibu pernah ngalamin yang begini?"


"Ngalami apa?"


"Itu tadi, kehilangan makanan?"


"Enggak,"


"Apa mungkin di rumah ini ada penunggunya?"


"Penunggu?"


"Sejenis makhluk halus iseng yang suka nyolong makanan gitu? Tuyul, dedemit, atau apalah sebutannya,"


"Hus....jangan mikir yang enggak-enggak. Walau rumahnya sepi tapi ibu tidak pernah melihat hal-hal yang tidak wajar,"


"Lah, ini beneran loh. Masa ia majikan ibu yang ngambil makanan bekas aku?"


"Sekarang Ken tanya, apa pernah dia keluar dari kamar jika butuh sesuatu?"


"Apa dia mau makan sisa orang?" tegas Ken lagi. Ken menghujani ibunya dengan berbagai pertanyaan.


"Enggak, sih," jawab ibu setengah berpikir.


"Tuh, kan. Berarti dugaan Ken bener. Pak Parman juga sudah ga ada dari siang. Lalu siapa?"


"Ibu juga ga bisa menebak, Ken. Kamu banyak-banyak berdoa, jangan tinggalkan sholat biar pikiranmu tenang. Baca-baca kalau kau merasa takut. Maaf ya, Nak. Ibu sudah merepotkanmu,"


"Enggak, Bu. Ken cuma ingin memastikan saja. Insya Allah Ken bisa menjaga titipan ibu dengan baik," janjinya meskipun ia kurang yakin akan hal itu.


"Bagaimana dengan tugasmu hari ini?"


"Beres, Bu. Sarapan yang aku buat habis tak bersisa. Dia juga suka banget sama ikan bakar yang aku buat untuk makan siang. Malah minta dibuatkan lagi,"

__ADS_1


"Oh, ya. Apa dia bicara denganmu?" Ibunya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Apa mungkin majikan itu bisa berubah sikap dalam waktu yang begitu singkat.


"Iya, kebetulan saja. Pas dia selesai makan, Ken baru selesai bersih-bersih," Ken terpaksa berbohong karena ia tidak ingin ibunya khawatir.


"Oala, Ken. Ibu kan sudah bilang. Beres-beresnya kalau dia sudah kembali ke kamar. Kan ibu sudah bilang kalau dia tidak suka bertemu dengan orang yang tidak di kenal,"


"Tapi kita kan sudah kenal,"


"Ken!" Ibu berusaha mengingatkan anaknya.


"Maksud aku, karena dia majikan ibu jadi akan kenal juga, kan nantinya," buru-buru Ken mengoreksi ucapannya.


"Ya sudahlah, jangan macem-macem. Ibu percaya sama kamu,"


"Iya, Bu,"


"Terimakasih Ken, kau sudah mau membantu ibu,"


"Iya, Bu. Ibu sudah ketemu bude?"


"Iya, sudah sejam yang lalu sampe. Besok kita mau bersih-bersih makan Mbah dan pakdemu. Lusa baru berangkat,"


"Hati-hati ya, Bu. Doain Ken juga biar bisa ke sana,"


"Itu sudah pasti sayang. Kamu juga harus hati-hati. Jangan berbuat sesuatu yang membuatnya tidak nyaman!"


"Tutup semua pintu sebelum magrib, jangan lupa nyalakan semua lampu sebelum gelap,"


"Iya, Bu,"


"Isi air putih yang ada di kamarnya. Tambler warna hijau dan merah yang ada di sampinh kulkas itu tahan panas, khusus untuk air putih yang disiapkan di kamarnya,"


"Iya,Bu," Ken berbohong lagi. Ibu tidak bilang sebelumnya jika ia harus menyiapkan air putih di kamarnya. Jadi benda yang dimaksud ibunya itu belum pernah dilihatnya.


"Ya, sudah. Kamu juga jangan lupa makan. Kau bisa masak apa yang kau suka, tidak harus mengikuti menu yang ibu buat untuknya," Pesan ibu sebelum menutup telponnya.


"Iya, Bu,"


Ken menutup sambungan telponnya begitu tidak terdengar suara apapun dari seberang sana.


Ia bersyukur ibunya sudah ada di kampung dan bertemu dengan kakaknya, satu-satunya keluarga yang masih dimiliki.


Ken melihat cuaca begitu gelap padahal belum juga jam lima sore. Ia bergegas kembali ke kamarnya setelah menutup pintu depan dan memastikan pintu gerbang depan terkunci.


*****


[ Di balkon ]

__ADS_1


"Hem.... Pinter banget sandiwaranya," Al yang mendengar semua percakapan Ken dengan ibunya hanya bisa tersenyum menyerigai.


"Ha...ha....dia pikir yang makan potongan sawonya itu dedemit," tawanya geli.


"Dikira ini rumah hantu apa?"


Al berpikir cukup keras. Mengetahui jika Ken penakut, ia ingin memberikan pelajaran pada gadis itu agar tidak sembarang lagi padanya.


"Tunggu waktunya, ya,"


Al kembali ke kamarnya, ia menutup rapat pintu dan jendelanya karena mendung semakin pekat. Sepertinya hujan akan segera turun.


*****


Ken mengecek menu makan malam. Seperti biasa, ia harus mengeluarkan bahan-bahannya dari kulkas sebelum mengerjakan yang lainnya. Cah kangkung, gepuk goreng.


Di dalam box sayur ada satu ikat kangkung ukuran sedang yang dibungkus kertas koran. Daunya masih sehat dan hijau, "Sepertinya ibu baru membelinya,"


Di tumpukan lauk pauk, Ken memeriksa box yang berisi daging, ternyata ibu juga sudah merebus daging itu dengan bumbunya hingga Ken hanya tinggal menggorengnya saja.


"Baiklah, ini dikeluarkan dulu abis isya baru di masak," Ken meletakkan semua bahan-bahan yang akan di masaknya itu di samping kompor sebelum ia masuk kamar.


Sambil menunggu magrib, Ken membuka laptopnya. Membaca ulang bab 3 yang sudah ia revisi sebelum diserahkan kembali kepada dosen pembimbingnya.


"Mudah-mudahan besok beres. Ga ada revisi lagi biar bisa mulai melakukan penelitian," gumam Ken.


Ken cukup disibukkan oleh skripsinya karena dosen pembimbing 2 nya cukup reseh. Dari semua bab yang sudah di acc oleh pembimbing satu dicoret-coret semua. Disuruh memperbaiki sesuai dengan arahannya.


"Gimana kalau pembimbing satu komplain? Bisa ga selesai-selesai nih urusan. Malah judulnya pake disuruh ganti segala," Ken harus sabar dan banyak-banyak istighfar menghadapi dosen yang satu itu. Ia memang dikenal dengan dosen yang saklek. Apapun keinginan tidak ada yang bisa membantah.


"Harusnya sebagai pembimbing dua dia ikut acc aja apa yang sudah di sepakati pembimbing satu. Lah ini sok-sokan banget. Kalau sudah begini yang repot kan mahasiswanya. Tiga semester bisa ga kelar kalo begini terus,"


Setiap kalimat dibacanya dengan teliti hingga tanda bacanya pun di cek ulang. Ken tidak ingin dosennya itu menemukan kesalahan sedikitpun agar usahanya kali ini tidak sia-sia.


"Nemuin dia aja susahnya udah kayak mau ketemu presiden. Jadi jangan sampai harus bolak-balik," kesalnya.


*******


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2