Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Kenalkan!


__ADS_3

"Pa, hentikan orang-orangmu. Jangan biarkan mereka terus mengikutiku. Aku bukan buronan," pinta Al dengan tegas.


"Apa? Orang-orangku? Aku hanya minta mereka cari tau di mana tempat tinggalmu. Mengetahui kau bisa hidup layak, aku cukup lega. Mereka sudah tidak lagi menguntiti mu," sahut Baron berusaha meyakinkan.


"Mereka terus mengawasku sampai sekarang. Nyaris 1x24 jam," gumam Al dengan nada kecewa.


"Tidak, itu bukan orang suruhanku,"


"Maria?" tanya Al


"Untuk apa dia melakukannya? Dia sudah memanfaatkan mu jauh sebelum ia keluar dari penjara,"


"Hemmmm...," guman Al.


"Nanti aku bicarakan pada Maria,"


"Tidak usah, biarkan saja jika memang bukan suruhan Papa,"


"Jangan bikin ribut lagi dengannya!"


"Papa masih terus saja membelanya," protes Al.


"Tidak, aku hanya ingin kalian rukun. Ada masalah kita bicarakan. Ga perlu pakai kekerasan!" Baron mencoba menengahi.


"Pakai kekerasan? Justru aku yang sudah jadi korban. Siapa yang main kekerasan. Aku dihajar nyaris mati!"


"Sudahlah, Al. Semua sudah lewat. Kita perbaiki pelan-pelan. Semua butuh waktu,"


Al tidak menjawab. Percuma berdebat dengan tentang Maria, Papa pasti terus membelanya.


"Apa Papa masih sering ke Sudirman?" tanya Al lagi, setelah cukup lama keduanya diam. Berusaha berdamai dengan pikirannya masing-masing.


"Kenapa tiba-tiba kau peduli dengan bisnis itu? Apa kau sudah mau mengelolanya?" Pria itu tidak menjawab. Ia bertanya balik yang menyenangkan Al cukup kesulitan untuk menjawabnya.


"Aku belum punya pikiran ke sana, lagi pula aku tidak punya pengalaman untuk mengelola bisnis itu," Al memberi alasan.


"Kau bisa belajar dari kakakmu?"


Al tersenyum sinis. Papanya tahu jika ia paling tidak suka jika ada yang menyebut Maria itu ibunya dan Barent kakaknya. Tapi kali ini Baron mengulangi kata-kata itu lagi.


"Kenapa dia begitu memaksaku untuk mengakui dua ular berbisa itu menjadi bagian keluargaku?" Guman Al begitu kesal. Ia merutuki dirinya sendiri yang sampai detik ini tidak bisa memenuhi permintaan papanya itu.


"Barent anak yang baik. Wataknya memang keras tapi ia bisa menempatkan diri. Dia sangat senang jika kau mau menjalankan usaha itu bersama dirinya"

__ADS_1


"Apa Papa yakin dengan ucapan papa sendiri,"


Pria itu tidak menjawab, ia hanya menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan pelan.


"Jangan paksa dirimu mengakui hal yang sebenarnya tidak bisa diterima oleh akal sehatmu," Al mencoba menggoyah perasaan Papanya. Ia yakin papanya sudah mulai sadar akan kekeliruannya selama ini.


Saat keduanya diam, muncul Maria dari anak tangga dan menghampiri mereka. Senyum ramah dan nada bicara yang sangat bersahabat terlontar dari mulut wanita itu. Perempuan yang masih muda dan cantik dengan balutan pakaian olah raga yang cukup ketat.


"Ada tamu rupanya!" Ia menjatuhkan tubuhnya persis di sisi Baron setelah memberi salam pada Al.


"Ini Al, putraku," Baron memperkenalkan Al pada Nora.


"Aku sudah melihatnya ketika ia datang ke rumah beberapa waktu yang lalu," sahut Nora mengingatkan mereka pada pertemuan pertama Al dengan Papanya setelah sepuluh tahun tidak bertemu.


Al tersenyum dan menundukkan kepalanya. Ia memberi hormat pada wanita yang usianya terpaut tidak begitu jauh dengannya.


"Maaf jika Al harus menemuiku di sini," ujar Baron pada Nora.


"Never mine, Bang. Aku senang bisa ketemu dengannya. Sering-seringlah mampir ke sini," sahut Nora.


"Ini rumahmu juga, Al," lanjut Nora lagi.


"Terimakasih," sahut Al begitu sopan. Ia tidak menduga sikap istri ketiga Papanya ini berbeda jauh dengan Maria.


"Maria mengirim orang-orang yang dulu titip uang padanya ke apartemenku. Mereka minta pertanggungjawaban. Minta modal dan profit yang dijanjikan Maria. Kalau mau dipikir secara logis, kenapa orang itu diarahkan minta ke aku. Mereka bikin perjanjian dan setor uang melalui Maria. Dia mengarang cerita jika uang hasil tradingku sepuluh tahun yang lalu masih mengedap di Bank dunia, tidak bisa dicairkan karena ada indikasi pencucian uang," cerita Al.


Baron mendengar semua dengan khidmat, ia tidak menyela sedikitpun sebelum putranya itu selesai bicara.


"Sejak dulu aku trading modal sendiri. Uang saku yang aku dapat dari papa. Sejak ia jadi guru privatku, aku buka akun baru dengan mencantumkan rekening Maria sebagai transaksi. Semua hasil trading dari kedua akun itu ia ambil, aku dipaksa WD dua kali dalam seminggu. Hasilnya ia ambil, tidak secuil pun aku menerimanya. Alasannya waktu itu, uang itu akan diputar untuk main saham. Sampai aku pergi dari rumah, tidak ada yang aku bawa sedikitpun. Aku mulai trading dari nol, uang yang aku peroleh saat kerja di Singapura aku kumpulkan dan bisa buat modal," Al menarik nafasnya dengan dalam. Perasaan bisa lega bisa menceritakan semua itu pada orang tuanya.


Baron menggeser tubuhnya, ia merangkul pundak putranya. Menepuk-nepuknya dengan pelan.


"Maafkan Papa. Selama ini sudah lalai padamu," ucap pria itu dengan nada yang mulai bergetar.


"Aku tidak minta apapun darimu. Aku hanya ingin papa bisa melihat kebenaran. Kembalikan keluargaku. Aku sangat merindukanmu Papa dan Mama. Jika Maria ingin harta yang Papa miliki, aku tidak akan menghalanginya. Ambil jika itu yang dia mau. Aku hanya ingin orang tuaku,"


Baron mengelus-elus pundak putranya. Hatinya sangat teriris dengan pernyataan putranya itu. Betapa ia sudah berlaku dzolim padanya selama ini.


"Beri aku waktu. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah,"


"Aku percaya padamu. Untuk itu aku menyampaikan ini padamu," sahut Al.


"Aku permisi dulu. Semua yang ingin aku sampaikan sudah kau dengar," Al melepas rangkulan pria itu dan mengangkat tubuhnya. Ia hendak meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin minum kopi denganku?" tanya Baron.


"Aku akan menemui Papa, sesering mungkin. Jaga kesehatanmu," Al memeluk Papanya saat pria itu sudah berdiri di depannya.


"Jaga dirimu, Nak!"


"Terimakasih,"


"Al, kau belanja pakaian wanita agar punya alasan datang kemari atau kau memang ingin memberikan pada seseorang?" Baron memberanikan diri untuk bertanya.


"Untuk calon mantumu. Aku berharap saat kami menikah, ada Papa dan Mama yang mendampingiku,"


Lagi-lagi Baron menepuk pundak putranya. Ia tahu, Al begitu ingin mereka bisa bersama seperti layaknya keluarga.


"Aku janji, aku akan menemukan untukmu," Baron mengucapkan kata-kata itu dengan penuh keyakinan.


"Terimakasih,"


Al langsung meninggalkan tempat itu, ia tidak pamit pada Nora yang entah ada di mana. Sebelum meninggal ruko itu, Al menyelesaikan transaksi dari pakaian yang sudah dipilihnya.


"Sudah siap?" tanya Al pada pelayan butik yang tengah melayani pelanggannya.


"Sudah, Pak. Ini sudah saya siapkan sejak tadi," perempuan itu beranjak ke arah meja kasir dan mengambil godybac berukuran besar yang berisi pakaian untuk Ken.


"Mana tagihannya?" tanya Al karena wanita itu tidak menyodorkan slip pembayaran padanya.


"Nyonya memberikannya pada anda, Pak,"


Al tersenyum menyeringai, ia tahu jika Nora bersikap baik. Namun ia tidak mau menerima pemberian seperti ini. Al mengeluarkan dompet, ia mengambil sejumlah lebaran dan meletakkannya di atas meja.


"Tiga juta, cukup?" tanya Al


Wanita itu hanya diam. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Begitupun ketika Al pergi meninggalkan ruang itu.


******


Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.


Aku tetap menunggu


VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.


Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2