
Ken menghentikan langkahnya ketika akan masuk lift. Langkahnya terhenti seketika itu juga karena ia melihat dua pria yang sudah lebih dulu di dalam melihat ke arahnya.
"Ikut ga?" tanya salah satu pria yang melihat Ken tampak ragu.
"Saya mau turun," Ken memberanikan alasan agar pria itu tidak curiga. Lift dalam kondisi menuju lantai berikutnya.
Pria itu menutup pintunya dan membiarkan Ken menunggu di tempatnya berdiri. Cukup lama Ken hanya bisa berdiam diri, berharap lift disebelah bisa cepat terbuka.
"Siapa mereka?" tanya Ken dalam hati karena ia melihat orang yang sama ketika akan masuk ke apartemen Al beberapa waktu lalu.
"Apa mungkin ia sedang mengintai seseorang?" Pikir Ken makin parno.
"Belum turun juga, nungguin aku ya?" Tiba-tiba suara dari sebelahnya cukup mengagetkan Ken. Ia menoleh ke arah sumber suara dan melihat barisan gigi Bram yang putih, pria itu tersenyum ke arah Ken.
"Nunggu lift," sahut Ken singkat.
"Selama itu masa tidak ada yang bergerak," selidik Bram.
Belum juga menjawab, pintu lift yang tadi sudah terbuka. Ken melihat dua pria yang tadi masih ada di sana.
Karena tujuan lift memang akan turun dan untuk menghilangkan kesan bahwa Ken mengindari orang itu, Ken melangkah masuk dikuti Bram.
Tadinya Ken akan memberitahu Bram tentang keberadaan dua orang yang ada di belakang mereka, gerak geriknya cukup mencurigakan namun Bram sudah terlanjur membuka pembicaraan yang lain.
"Naik apa?" tanya Bram.
Ken tidak menjawab, ia berakting seolah-olah tidak kenal dengan Bram. Sebagai kode, ia mengeryitkan ujung matanya ke arah Bram.
Bram tidak bisa membaca bahasa tubuh Ken, ia menganggap Ken masih kesal karena ucapannya di dalam tadi.
"Aku tanya kau pulang naik apa?" tegas Bram lagi.
"Maaf pak, saya biasanya bawa motor sendiri saat anter catering. Cuma hari ini motornya lagi di servis jadi saya naik angkutan," sahut Ken dengan suara yang cukup keras. Ia sengaja melakukannya agar dua orang yang ada di belakang mereka bisa mendengar ucapan itu.
Bram bingung. Ia tidak tahu maksud ucapan gadis itu. Ken melihat kekesalan di wajah Bram yang ditujukan padanya.
"Besok saya antar makanan lebih siang karena harus nganter pesanan beberapa dosen lebih dulu. Mohon pengertiannya ya pak, saya belum bisa bayar kurir," Ken menundukkan kepalanya seperti seseorang yang sedang meminta pengertian dari atasannya.
Bram makin kesal, ia sudah tidak bisa menahan amarahnya. Ia merasa Ken terlalu memuakkan. Sandiwaranya itu tidak lucu. Baru saja ia mau menghardik Ken, pintu lift terbuka. Ternyata mereka sudah sampai di lantai dasar.
Ken langsung melangkah ke luar, Bram tidak mau ketinggalan. Ia segera mengikuti langkah Ken dan berusaha mensejajarkan langkah mereka.
__ADS_1
Ken melirik ke arah dua pria tadi, ternyata orang itu menuju ke sofa yang ada di lobby tengah. Ken bisa bernafas lega karena bisa menjelaskan semua ini pada Bram.
"Jangan menoleh ke belakang, tapi cukup dengarkan kata-kataku," ujar Ken.
"Kenapa?" tanya Bram penasaran.
"Dua pria yang ada di lift tadi sepertinya sedang mengintai seseorang. Aku tidak yakin kamar mana yang ia amati namun waktu aku mau masuk apartemen Al, aku melihat ia berjalan mondar mandir di sekitar kamar itu,"
"Mungkin dia penghuni salah satu kamar yang ada di dekat Al, yang aku tahu ada beberapa kaamar yang disewakan oleh pemiliknya," sahut Bram.
"Keluarlah lebih dulu, pura-puralah memesan ojol. Aku akan ke mini market dulu,"
Bram langsung membelokkan langkahnya menuju mini market yang ada di pojok pintu sembari melambaikan tangan ke arah Ken. Layaknya orang yang akan berpisah.
Bram masuk ke dalam mini market, ia segera memilih beberapa barang untuk di belinya sementara matanya tetap mengawasi pria yang dicurigai Ken dari sudut matanya.
"Eh, bener juga tuh. Kenapa dia ngikuti Ken," tanya Bram dalam hati ketika ia melihat pria itu beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke arah Ken yang sedang berdiri sendirian.
Bram tidak mau gegabah. Ia mengambil beberapa minuman dingin dan kue kering. Sambil terus mengamati Ken, ia menuju ke kasir dan membayar belanjaannya. Ia melihat Ken sedang berbicara dengan dua pria itu.
"Apa mungkin dia orang suruhan Baron? Atau kaki tangan Barent?" Pikir Bram dengan keras.
Begitu ia selesai belanja, Bram pura-pura tidak melihat Ken masih di situ. Ia keluar dari pintu selatan, sebelah kiri dari kini market tempatnya belanja.
********
"Iya," sahut Ken yang terus memandang layar ponselnya. Menunggu ada driver yang mengambil orderannya.
"Udah dapat," tanya pria itu lagi.
"Lagi mencari,"
"Jam sibuk. Banyak pegawai yang mau pulang kerja, makanya loading terus," pria itu beralasan.
"Mungkin juga," sahut Ken.
"Saya anter, saya biasa mangkal di perempatan sini," Ferdy menawarkan jasanya.
Ken mengeryitkan keningnya. Ia memandang pria berkostum serba hitam itu dengan tatapan mencurigai.
"Mangkal? Mangkal ngapain coba? Cari penumpang atau sedang mengintai. Dari style-nya orang ini tidak ada tampang sebagai tukang ojek," pikir Ken dalam hati.
__ADS_1
"Sepertinya anda ragu. Bisa di cek, orang sekitar sini kenal dengan saya. Jangan takut," Ferdy meyakinkan.
"Kalau mau pake mobil, teman saya yang antar. Kami berdua sudah biasa membawa penumpang yang menghuni apartemen ini," Ferdy berusaha meyakinkan lagi.
"Eh, ini sudah ada dapet. Maaf ya pak, next time saya ga usah order pake aplikasi," Ken memperlihatkan Hp -nya ke arah Ferdy yang masih berdiri di sisinya.
"Iya, tidak apa. Paling tidak kita sudah tau keperluan kita di sini. Senang bisa kenal dengan anda," Timpal Ferdy.
"Ken segera melambaikan tangan pada driver ojol yang sedang mencari -cari penumpangnya. Di lihat dari plat kendaraannya, sepertinya itu driver yang datang menjemputnya,"
"Saya duluan, Pak," pamit Ken.
Merasa ada sesuatu yang ganjil, Ken tidak menuliskan alamat rumah Al pada orderannya. Ia berencana ke kos-kosannya lebih dulu. Selain untuk mengecohkan sang pengintai, Ken juga akan mengambil beberapa buku referensi yang belum dibacanya. Buku itu sangat ia butuhkan untuk melanjutkan bab 4 yang akan segera dikerjakannya.
********
Kedua pria itu tersenyum merekah dan melambaikan tangan begitu Rey sudah duduk di jok belakang dan meninggalkan pelataran apartemen yang ditinggali oleh Al.
"Kemana tujuan perempuan itu!" tanya pria satunya pada Ferdy.
"Kemiri muka no. 45 Beji,"
"Pemukiman padat penduduk, berati ia memang pengantar makanan untuk Al, bukan keluarga atau orang terdekatnya,"
"Bisa jadi. Kita bisa cari informasi dari perempuan itu kedepannya. Sepertinya ia lugu dan gampang percaya dengan orang yang belum dikenal,"
"Sepertinya begitu," pria itu mengangkat kedua bahunya dan mengikuti Ferdy yang kembali ke dalam. Duduk di sofa yang ada di lobby tengah.
"Kita laporan dulu ke bos, belum ada perkembangan yang signifikan nih," seru Ferdy pada temannya
"Kenapa bos ingin tau sekali dengan orang yang bahkan tidak pernah komunikasi dengan orang itu," sahut pria itu.
"Entahlah, tugas kita hanya melaporkan apa yang kita lihat," sahut Fredy.
Terlihat ia sedang menghubungi seseorang. Beberapa saat kemudian ia melaporkan hasil pantauannya hari ini. Mulai saat mereka mengikuti Al yang meninggalkan apartemen dan menemui seseorang di perumahan mewah hingga saat Al kembali lagi ke apartemen.
****
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
__ADS_1
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗