
Pagi itu, saat akan berangkat ke klinik bersama pak Komar, Lisha dikejutkan oleh kedatangan Bram. Pria yang dikenal sebagai sahabat dan asisten anaknya itu datang mengendarai motor. Tergesa-gesa seperti sedang mengejar sesuatu.
Pria itu membunyikan klaksonnya berkali-kali. Minta segera di bukakan pintu gerbang, membuat kaget seisi rumah.
"Siapa itu?" tanya Baron yang sudah siap berangkat ke kantornya.
"Ga tau, kalau orang yang belum kita kenal ga akan seperti itu," sahut Lisha yang membatu suaminya membenahi pakaiannya.
"Iya, juga sih," Baron melongo ke arah luar dari kaca jendela yang dibuka sudah dibuka sedikit.
"Oh, itu Bram. Asisten anakmu," ujar Lisha setelah Bram membuka helm dan buru- buru masuk ke rumah.
"Bram?" tanya Baron.
"Dia keponakan pak Komar. Ayahnya yang membantu Al waktu itu. Al kerja di Singapura juga karena ikut ayahnya,"
"Oh," sahut Baron sedih. Ia tiba-tiba membayangkan masa-masa bagaimana sulitnya Al menjalani hidup karena diabaikan oleh orang tuanya.
"Itu sudah lewat, tugas kita sekarang bagaimana menjaga kebahagiaan yang baru ia dapatkan kembali. Jangan sampai anak itu kecewa lagi,"
"Iya, aku akan menjaga kalian. Apapun yang terjadi," ucap Baron begitu yakin.
"Terimakasih, Bang. Udah rapi nih. Buruan Berangkat keburu kena macet," Lisha mengingatkan suaminya.
"Iya, kenapa tidak ikut denganku. Aku bisa mengantarkanmu sebelum ke kantor," Baron menawarkan tumpangan pada isterinya.
"Kejauhan, Bang. Biar aku sama pak Komar. Lagian juga bahaya, jika Maria tahu bisa bikin masalah lagi,"
"Iya, maaf ya. Biar aku menyelesaikan urusanku dengan dia agar hidup kalian bisa tenang,"
"Iya, aku percaya kau bisa menyelesaikannya," ucap Lisha penuh keyakinan. Baton mencium kening istrinya sebelum mereka meninggal kamar.
*******
"Akhirnya nyampe juga," ucap Al ketika Bram masuk kamar dan menyerahkan kunci motor barunya .
"Lagian lu kelewatan banget jadi orang. Minta cariin motor dalam waktu singkat. Tau sendiri, cari dealer yang mau dibayar cash itu cukup sudah. Sudah beberapa dealer yang punya motor sesuai keinginamu tapi mereka maunya sistem kredit,"
"Harga kredit bayar cash. Masa iya tidak mau?"
"Gila, selisihnya 10 jutaan. Mending muat gua duitnya,"
__ADS_1
"Ya sudah, salahnya sendiri mau dibuat repot," sahut Al dengan entengnya.
"Iyalah, sultan mah ga pernah salah. Aku ikut sampe Kramat, mau cek barang di sana,"
"Gak, naik ojol. Aku mau pergi sama Ken,"
"Oh, kau minta motornya dianter sepagi ini cuma untuk itu?"
"Lah emang kenapa? Ada yang salah?"
"Gak, sih. Cuma bikin repot aja. Dah lah kalau ga bisa nebeng aku mau pulang sekarang," Bram meninggalkan kamar Al begitu saja. Ia jadi kesel karena tingkah Al yang banyak berubah setelah tau cewek. Mendadak keluar dari persembunyian dan kelakuan aneh lainnya.
"Cinta memang bikin bahagia pemiliknya tapi jadi perkara jongosnya kalo begini mah," gerutu Bram.
"Tante, Om," Bram tiba-tiba menghentikan langkahnya dan memberi salam pada Lisha dan pria yang ada di sampingnya. Meskipun ia belum pernah bertemu, ia tahu ini Papanya Al. Foto Baron kerap muncul di media online.
"Mau kemana?" tanya Lisha bigung karena ia keluar sendirian sambil ngedumel berkepanjangan.
"Pulang, Tente. Saya cuma nganterin motor,"
"Nganterin motor?" tanya Lisha dan Baron nyaris bersamaan.
"Oh....," Guman pasangan suami istri itu nyaris bersamaan lagi.
Saat keduanya sedang membicarakan motor, Ken muncul dari arah ruang makan. Tas ransel bututnya sudah menggantung di bahunya. Ia kaget melihat Bram dan kedua orang tua Al ada di depan pintu.
"Udah mau berangkat?" tanya Lisha pada Ken.
"Iya, Bu. Soalnya banyak administrasi yang harus dibereskan,"
"Bareng ibu sampe stasiun, ya!" ajak Lisha meliiat Ken tengah memesan Ojol untuk dirinya.
"Ga usah. Biar aku yang anterin," sahut Al dari dalam. Otomatis semua yang ada di depan pintu memandang ke arah Al.
Al sudah mengenakan jaket dan perlengkapan layaknya orang mau naik motor. Ditangannya ada switer warna navy yang kemudian ia berikan pada Ken
"Pake, biar ga kena angin," ucapnya sembari mengalungkan benda itu ke bahu Ken.
Ken bingung, ia belum tahu maksud ucapan Al. Namun kerika laki - laki itu memasang kunci motor dan menyalakan mesin nya, ia baru sadar bahwa pria itu akan mengantarnya ke kampus pagi ini.
"Ayo, katanya buru-buru," Ajak Al melihat Ken masih bengong dan berdiri di tempat tanpa bergeming sedikitpun.
__ADS_1
"Motor Bram?" Ken menunjuk ke arah kendaraan roda dua yang sudah ditumpangi Al.
"Bukan, itu motornya. Baru beli kemaren, khusus untuk nganterin kamu," ucap Bram dengan wajah kesalnya.
"Udah ga usah degerin dia. Ayo!," ajak Al lagi.
Dengan ragu Ken berjalan ke arah Al dan baik ke jok belakang. Al juga memberikan helm pada Ken dan meminta wanita itu untuk mengenakannya.
"Pa, ma, Al duluan ya," pamit Al begitu mereka sudah siap untuk melaju.
"Iya, hati-hati," sahut Lisha disertai senyumannya yang khas. Ia juga melambaikan tangannya ke arah pasangan kekasih itu.
Lain halnya dengan Baron dan Bram. Dua pria itu hanya bisa memandang kepergian Al dan Ken dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Lihat, Bang. Dia itu persis sekali sama kamu. Inget ga waktu dulu kau....," Lisha belum menyelesaikan kalimatnya namun Baron sudah buru-buru memotongnya. Ia takut juga apa yang dikatakan oleh Lisha terdengar oleh Bram.
"Iya..iya....aku ingat. Ga usah diteruskan," ucapnya malu.
Karena pak Komar sudah siap di belakang kemudinya, Lisha berangkat lebih dulu. Tidak lama, mobil Baron mengikuti dari belakang. Selama perjalanan, Baron banyak bertanya tentang Al pada Bram. Bram menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
Bram ikut terharu ketika diam-diam Baron menyeka air matanya. Pria yang dikenal sangat keras dan tegas itu bisa menetes air mata. Semua karena penyesalan pada dirinya sendiri, dia sudah menyia-nyiakan darah dagingnya sendiri dan lebih percaya pada orang yang telah membintangi.
"Terimakasih,Bram. Aku ingin bertemu orang tuamu dan mengucapkan terimakasih padanya secara langsung. Ia sudah menjadi putra kesayanganku begitu tegar dan kuat,"
"Iya, Om. Baru saya sampaikan ke Papa. Maaf jika sepagi ini sudah membuat om sedih,"
Baron menepuk bahu Bram. Ia tersenyum pada sahabat anaknya itu.
*****
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!
__ADS_1