
Hasil investigasi Om Ryan di yayasan, tempat penyaluran TKW tidak membuahkan hasil. Selain ilegal, yayasan itu sudah lama tidak beroperasi.
Om Ryan bertemu dengan pemilik rumah, ia menjelaskan bahwa rumahnya pernah di kontrak sebagai kantor penyaluran tenaga kerja saat ia tugas ke luar negeri.
Sudah sepuluh rumah yang menjadi kantor penyaluran TKW itu ditempati sendiri oleh pemiliknya. Namun tidak ada yang tau kemana mereka pindah.
Tak ada yang bisa dilakukannya selain melaporkan hasil kerjanya pada Al dan menunggu perkembangan lebih lanjut.
Di saat yang bersamaan, Barent mendatangi yayasan sosial yang pernah di datangi ibunya untuk mencari keberadaan Bu Fatma.
Barent masih ingat, ia pernah melihat Ibunya mengusir perempuan yang ia kenal sebagai pembantu rumah tangganya itu.
Maria juga pernah mengajak Barent menemui seseorang di yayasan itu. Saat itu Maria menjemput Barent dari sekolahnya dan ia bilang ingin mampir, menemui temannya.
Barent bisa mengingat semuanya karena waktu itu ia sudah berusia 8 tahun. Sudah duduk di kelas 2 SD. Kebetulan yayasan itu dekat dengan sekolahnya dan tidak hanya sekali ibunya pergi ke sana.
Yayasan swasta yang di kelola oleh pensiun Bidan Desa itu sangat kecil dan sumpek. Penghuninya makin lama makin banyak sementara donaturnya tidak bertambah.
Barent cukup beruntung, ia bisa bertemu langsung dengan pemilik yayasan. Dari wanita yang sudah berkepala enak itu, Barent banyak mendapatkan informasi.
Dari arsip yang ditunjukkan oleh wanita itu, menang benar. Fatma melahirkan anak kembar, laki -laki dan perempuan di waktu yang sama. Ini dibuktikan oleh surat kenal lahir yang si simpannya.
Dari arsip yang ditunjukkan oleh wanita itu, menang benar. Fatma melahirkan anak kembar, laki -laki dan perempuan di waktu yang sama. Ini dibuktikan oleh surat kenal lahir yang si simpannya.
"Dimana anak-anaknya?" selidik Barent.
"Anak perempuannya dia titipkan ke sahabatnya. Katanya sih pembantu yang bekerja di samping rumah majikannya. Saya lupa namanya, tapi dia tinggal di kota x,"
"Yang laki-laki?"
"Anak laki-lakinya dirawat dan besar di sini. Nasibnya bagus, Ia mendapat orang tua asuh yang mau membiayai sekolahnya hingga perguruan tinggi,"
"Oh, ya?"
"Sekarang dia tidak tinggal di sini namun masih rutin berkunjung setiap awal bulan. Ia membantu adik-adiknya di sini, terutama biaya pendidikan anak-anak yang berprestasi,"
Obrolan mereka terputus karena kedatangan Al. Barent menyambut mereka berdua dengan senyum. Matanya langsung tertuju pada Ken. Menyapu dari kepala hingga ke ujung kakinya.
"Hem....," Al merasa terganggu dengan pemandangan itu.
Merasa di tegur, Barent langsung memperkenalkan Al dan Ken ke pemilik yayasan itu. Ibu Susi.
__ADS_1
"Jadi anda yang mencari Bu Fat?" tanya wanita itu pada Al.
"Iya, saya menjalani hubungan yang serius dengan putrinya. Kami ingin mencari keberadaannya sebelum menikah," ucap Al dengan pasti.
"Apa dia yang kau maksud?" Bu Susi memandang lekat pada Ken.
"Kita masih menyelidikinya karena belum ada yang memberikan keterangan dengan tegas," ucap Al.
"Selama ini, saya dirawat dan dibesarkan oleh Bu Ros, ibu Asuh saya bilang, saya putri dari temannya, waktu itu Bu Fat hanya menitipkan saya sebentar karena ada urusan yang penting tapi sampai sekarang ia tidak pernah kembali,"
"Siapa namamu, Nak,"
"Keny Bu, kata ibu saya nama itu pemberian Bu Fat,"
Bu Susi bangkit dari tempat duduknya dan merangkul Keny. Ia menyibak rambut Ken yang terurai.
"Iya, kamu anaknya Fat. Ada tanda lahir di leher belakang. Aku tahu persis karena aku yang membantunya saat lahiran,"
"Ya Allah, akhirnya aku bisa melihatmu lagi, Nak," Bu Susi memeluk dengan erat.
"Tadi kau bilang ada bukti administrasi. Mana? Tanya Al pada Barent.
"Ibu masih menyimpan data-data Bu Fat. Bisa di lihat, nih," Bu memberikan map kertas yang sudah sangat lusuh pada Al. Al menerimanya dan memeriksa berkas-berkas yang ada di situ.
" 5 November,"
'iya, di sini juga sama. Nama suami tertera Kadir Jaelani," jelas Al.
"Ada fotonya juga," seru Al.
"Itu foto bu Fat," Barent menimpali.
Al memberikan foto itu pada Ken, ternyata benar kata orang-orang. Ibunya mirip artis senior Camelia Malik.
"Dia cantik sekali," gumam Ken.
"Iya, ia cantik dan sangat baik," sahut Barent.
"Apa kau mengenalnya?" Selidik Ken.
"Aku Barent, anak Pak Kadir,"
__ADS_1
"Oh," Ken sedikit terkesiap. Sejak masuk ruangan ini Barent terus-menerus memandangnya namun ia tidak sadar kalau pria itu kakak.
"Kau ini, kan sudah ku bilang. Yang menelpon dan nunggu kita di sini itu anak tukang....,"
"Al .....," Buru-buru Ken menghentikan ucapan pria itu.
"Ga usah dicegah, aku sudah biasa mendengar kalimat itu," sergah Barent.
"Maaf, aku keceplosan," Ucap Al malu. Ia melihat Ken yang memasang wajah galaknya.
"Jadi kalian ini bersaudara, satu ayah beda ibu. Kau anak Maria dan dia anaknya Fat," Bu Susi melerai dengan pertanyaan yang cukup menarik perhatian ketiganya.
Tidak ada yang menjawab, semuanya hanya saling memandang.
"Waktu itu Maria bilang, Fat tersesat di Jakarta dan tidak punya siapa-siapa. Ia menemukan di jalan dan membawanya kemari. Beberapa kali ia ke sini untuk melihat keadaan Fat, namun sejak Fat jadi TKW dia tidak pernah datang lagi," Jelas Bu Susi.
"Apa yang memberangkatkan Bu Fat jadi TKW juga wanita itu?" Selidik Al.
"Iya, dia yang megurus dokumen dan memastikan sampai Fat berangkat,"
"Ya Tuhan," Barent meremas rambutnya. Lagi-lagi, kekejaman ibunya ia dengar sendiri.
"Ke negara mana Bu Fat pergi?" Al makin penasaran.
"Saya tidak tahu, selama mengurus berkas, Maria tidak pernah cerita. Dan sejak itu juga, Fat seolah menghilang dari muka bumi. Tidak ada kabar beritanya,"
Baik Al, Ken, dan Barent semua menarik nafas panjang mereka sadar, ini pasti permainan licik Maria untuk menyingkirkan madunya.
Bersambung.......
******
Semangat 💪💪💪 update walaupun pembacanya sepi🙈🙈🙈.
Untuk kalian yang masih mengikuti kisah Ken feat Al, jangan segan-segan untuk meninggalkan :
* Komentar
* Like
* Vote-nya
__ADS_1
Dukungan dari anda menjadi semangat imbalan yang tak ternilai harganya. Terimakasih....... Happy reading 😘😘😘