Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Aku Melakukannya.


__ADS_3

Ken berdiri di depan pintu apartemen, terlihat ia sedang menekan kode pintu yang sudah diingatnya dengan baik. Keadaan disekitar gedung yang setinggi 50 lantai itu begitu sepi padahal waktu sudah menunjukkan pukul 16.10 WIB. Saatnya pegawai/karyawan pulang dari tempat kerja mereka.


Sesaat kemudian, ia sudah berhasil membuka pintu. Ia mencari tombol saklar, menyalakan penerangan sekaligus AC di ruang itu. Hawa sejuk langsung menyapu tubuhnya. Seketika itu juga rasa gerah yang ia rasakan luruh dengan sendirinya.


Ken mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, meskipun apartemen itu tidak terlalu luas namun ada dua kamar, satu kamar mandi, dapur, dan ruang tamu. Semua ruang di desain dengan megah dan ekslusif.


"Sepertinya dia belum pulang," gumam Ken dalam hati.


Ken meletakkan tas ranselnya di atas meja kemudian merebahkan dirinya sendiri di atas sofa nan empuk itu. Ia merenggangkan seluruh persendiannya yang berasa kaku setelah seharian penuh hanya bisa duduk di depan ruang dosen pembimbingnya. Menunggu antrian untuk menyerahkan bab 4 dan 5 yang sudah dikerjakan secara merathon seminggu ini.


Ken menggeliat malas. Kemudian mengangkat pinggangnya sebentar dan meluruskannya kembali. Setelah dirasa tubuhnya mulai rileks, ia menggerak-gerakkan ujung jari kakinya agar betisnya yang kaku juga mulai lemas.


"Enak sekali," gumannya lagi. Matanya mulai menyipit, rasa kantuk mulai menyerangnya


"Kruuuuukkkkk," panggan halus terdengar dari perutnya. Ken memang belum makan siang. Uang sakunya habis untuk biasa fotokopi skripsi dan membeli air mineral untuk membasahi tenggorokan selama ia menunggu. Ken hanya menyisakan dua puluh ribu rupiah untuk ongkos ojol menuju ke apartemen.


"Sabar ya......tahan....," Ken berusaha mengajak perutnya untuk bersabar sedikit lagi. Capek yang ia rasakan lebih menuntutnya untuk rebahan dari pada mengisi lambungnya dengan makanan.


Sekali lagi Ken menggeliat malas dan kebalikan tubuhnya. Kini posisi dalam keadaan tertelungkup. Perlahan matanya terpejam. Ken tidak sadar jika ia sudah tertidur di waktu yang sangat tidak dianjurkan untuk kesehatan tubuhnya. Kelelahan membuat lupa segalanya, kini dengkuran halus itu sudah terdengar. Ken tertidur begitu pulasnya.


*******


Menjelang magrib, Al tiba di apartemennya. Ia cukup kaget mendapati Ken yang tengah tergeletak di sofa ruang tamu. Awalnya ia khawatir gadis itu pingsan atau sakit, namun dengkuran halus itu membuatnya tersenyum.


"Tidur beneran ga,sih?" tanya Al dalam hati.


Untuk memastikan gadis itu benar-benar tidur dan tidak sedang bersandiwara, Al mendekati Ken. Ia membungkukksn tubuhnya, menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Ken.


"Pulas sekali," bisik Al dalam hati hingga ia tidak tega untuk membangunkannya.


Al bergegas ke kamar dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh Ken yang terlihat kedinginan. Setelah ia membenahi tubuh Ken yang nyaris jatuh dan memasang selimut hingga menutupi bagian tubuhnya, Al kembali lagi ke kamar.

__ADS_1


Ia ingin segera membersihkan tubuhnya yang berasa lengket. Seharian ini ia menghabiskan waktunya untuk menemani dan bicara dengan Bik Sum. Asisten rumah tangga yang yang sudah bekerja di rumah orang tuanya selama 30 tahun lebih.


Al menanggalkan seluruh pakaiannya, ia bergegas melangkah ke kamar mandi yang ada di bagian kamarnya. Tubuhnya yang lengket dan gerah diguyur air dingin. Shower itu ia nyalakan maksimal.


"Kasihan Papamu, Al," kalimat yang diucapkan oleh Bik Sum terngiang-ngiang kembali di telinganya.


Wanita itu menceritakan banyak hal yang terjadi di rumah itu setelah kepergiannya. Terutama nasib bisnis yang dipercaya Baron pada putra tirinya itu.


Menurut Bik Sum, karyawan di perusahaan papanya itu sudah banyak yang mengundurkan diri karena tidak kuat dengan sistem kerja yang diterapkan Barent. Begitu juga klien yang sudah bertahun-tahun bekerja sama dengan mereka. Mereka menarik diri secara berlahan-lahan.


Tidak seperti ayah tirinya, Barent lebih memilih cara yang kasar dan jorok pada piutang yang punya sangkutan dengan kliennya. Ia berani menyadap kontak telpon mereka dan melakukan teror pada keluarga dan kerabatnya.


Karena merasa dipermalukan, mereka tidak mau membayar hutang. Akibatnya klien merasa dirugikan. Jika usahanya berhasil, Barent juga meminta royal fee sebesar 20% dari total tagihan yang sudah dibayar. Pemerasan secara halus ini cukup merugikan karena hitungan diluar dari biaya yang sudah ditetapkan.


Hampir setiap malam Bik Sum mendengar pembicaraan ibu dan anak itu melalui sambungan telpon. Biasanya Barent menghubungi ibunya dari taman yang ada di belakang agar tidak terdengar oleh sang ayah. Bik Sum bisa mendengar semuanya karena ia sengaja menguping jika Barent sudah bergegas ke belakang rumah.


"Mereka benar-benar terlalu, kapan sandiwara mereka terbongkar?" Al mengarahkan kepalan tinjunya ke tembok.


"Sebenarnya ia bisa trading ga,sih?" guman Al makin geram. Kemarahan pada wanita yang pernah menjadi guru privat itu makin menjadi setelah bayak masalah yang dibuatnya.


"Buatlah Papamu sadar, ia harus tahu bahwa ibu dan anak itu adalah ular berbisa. Sewaktu-waktu bisanya akan mematikan seluruh keluarga ini," pinta Bik Sum dengan nada penuh pengharapan.


Sambil membasuh tubihnya, Al terus saya mengingatkan semua yang diucapkan Bik Sum dan berusaha keras meencari solusi untuk menyelesaikan permasalahannya itu.


Sepuluh menit sudah Al menghabiskan waktunya di kamar mandi. Ia menyeka tubuhnya dengan handuk dan meninggalkan kamar mandi. Ia langsung mengenakan pakaian dan ingin bergegas cari makan karena perutnya sudah lapar.


Begitu sudah ada di ruang tamu, Al melihat Ken masih tertidur pulas. Posisinya tidak berubah sedikitpun. Hanya wajahnya yang sedikit bergeser, lebih terlihat dari arah samping. Al berniat membangunkannya karena sudah waktunya ia makan malam. menundukkan kepalanya ke arah gadis itu dan memegang pelan bahunya.


"Ken,bangun!" panggil Al, mendekati telinga Ken.


Ken membuka matanya dengan pelan. Ia terkesima, bola matanya melihat malaikat tampan tepat dihadapan. Sesaat pandangan mereka bertemu. Senyum pria itu mengembang begitu sempurna. Manis sekali.

__ADS_1


Al tidak bisa melawan keinginan, melihat Ken yang begitu polos sedang menatap tajam kearahnya membuat wajahnya semakin mendekat. Tanpa sadar, ia melakukannya.


"Cup," satu kecupan mendarat di pipi kiri gadisnya itu.


"Al," teriak Ken kaget.


"Maaf," sahut Al gelagapan karena bingung bercampur malu.


"Bangunlah, kita cari makan di luar," ajak Al masih dengan suara yang terlihat begitu gugup.


Wajah keduanya langsung memerah. Ken buru-buru menutup mukanya dengan selimut dan beringsut, menarik dirinya dari sofa itu. Al hanya bisa memandangi Ken yang berlari ke arah kamar mandi dengan senyum.


"Aku malakukannya," Al memegang bibirnya dengan dua jari kanannya. Jantungnya terus berdengup. Ia masih belum bisa mengatur nafasnya yang mendadak begitu sesak.


"Begini ya,rasanya? Akhirnya aku bisa melakukannya," ujarnya lagi. Suaranya nyaris terpekik karena tidak bisa menyembunyikan rasa kegembiraan di hatinya.


"Ken... I love you," teriaknya lepas.


"UPS...," buru-buru ia menutup mulutnya. Al mengendap-endap berjalan ke kamar mandi. Ia ingin tau apakah suaranya itu terdengar oleh Ken atau tidak. Namun mendengar keadaan kamar mandi yang begitu berisik, Al jadi sedikit lega.


"Mandi atau berantem tuh orang," gumnya lirih.


Al melangkah ke dapur untuk mengambil minuman. Sejak tadi tenggorokan berasa kering, mungkin karena suhu undara di Jakarta yang begitu panas dan suasana hatinya yang membara.


*******


Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.


Aku tetap menunggu


VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.

__ADS_1


Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗


__ADS_2