Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Fatma


__ADS_3

Bu Ros kaget, saat ia sedang bersih-bersih ruang tengah sembari nonton TV, ada pemberitaan tentang penggerebekan diskotik.


Bukan berita penggerebekan yang menarik perhatian Bu Ros tapi saat wajah pemilik diskotik itu tersorot kamera, Bu Ros bisa mengenali wajah, meski ia menggunakan masker.


"Sepertinya itu Nyonya Maria?"


Bu Ros terus menyimak, hingga di sebutkan nama pelaku tersebut, ia makin yakin itu orang yang ia kenal.


Bu Ros buru-buru ke kamar Al. Ia ingin memberitahu apa yang barusan ia lihat pada calon mantunya itu.


"Ada apa?" tanya Al saat ia membuka pintu untuk Bu Ros.


"Di patroli ada bos diskotik yang ditangkap polisi," ujar Bu Ros.


"Ada apa dengan Bos diskotik itu? Ibu kenal?" Tanya Al penasaran.


"Dia itu majikannya Fatma!"


"Fatma?" tanya Al bingung. Ia mengeryitkan keningnya.


"Fatmatun Nissa, ibunya Ken,"


"Oh," guman Al sambil bengong.


"Al buru-buru lari ke bawah, namun tayangan yang dimaksud Bu Ros sudah berganti iklan. Ia menarik nafas kecewa.


"Apa ibu ingat namanya?"


"Iya. Maria Kurnia,"


"Deg....," Jantung Al berdetak keras.


Ia membuka ponselnya. Mencari berita yang sama di internet dengan fokus gambar Maria yang lebih dominan.


"Ini maksud ibu?" Al menyodorkan HP nya ke Bu Ros. Ia masih deg-degan dan berharap itu bukan orang yang sama.


'iya, Nak. Ini nyonya Maria, majikan .... Dulu aku kerja di samping rumah beliau dan di situ saya kenal ibunya Ken,"


"Oh....," Al bergumam panjang sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ibu juga tau dong dengan suaminya Maria?"


"Iya, dia dagang parfum di ruko yang sekaligus tempat tinggalnya. Namanya Tuan Kadir, keturunan Arab,"


"Iya, Bu. Saya akan ke sana. Mungkin ia bisa memberi petunjuk pada kita di mana Ibunya Ken? Paling tidak mereka tau daerah asal Ibunya Ken,"


"Iya, Nak. Semoga ada titik terang," sahut Bu Ros.

__ADS_1


Al langsung menelpon Om Ryan dan minta ia untuk bersiap-siap. Al akan menjemputnya di apartemen beberapa saat lagi dan ingin mengajak dia ke suatu tempat. Al juga memberitahu hal yang sama pada Ken.


"Aku harus ajak Om Ryan, aku lupa jalan menuju ke rumah tukang Parfum itu,"


**********


"Patokannya ini, dari SD internasional terus aja sekitar 200 meter ada belokan, kita puter balik. Nah itu gapuranya," Om Ryan yang duduk di jok belakang memberi arahan.


"Memang ada apa lagi nemuin Tuan Kadir, apa kau berniat ingin membantu Maria? tanya Om Ryan.


"Tidak, ini urusan yang lain. Tidak ada sangkut pautnya sama wanita itu,"


"Oh....tuh Setelah gardu ada rumah yang paling gede. Inget kan?"


"Iya kalau udah sampe sini sih inget,"


Ken yang duduk di samping Al hanya diam, ia menyimak obrolan Al dengan Om Ryan. Memang Al sudah memberitahunya bahwa mereka akan menemui orang yang bisa memberi petunjuk di mana keberadaan ibu kandungnya.


Ken deg-degan sejak tadi. Jika orang yang dimaksud tahu dimana ibu dan keluarganya, berarti sebentar lagi ia akan punya keluarga yang baru.


"Seperti apa mereka? Apa mungkin setelah ketemu aku tetap diizinkan tinggal dengan ibu?"


"Jangan tegang," Al membuat Ken kaget. Lamunannya jadi buyar.


"Kita sudah sampe nih, ayo turun," usai memarkirkan mobilnya di bahu jalan, Al turun dari mobilnya. Diikuti Ken dan Om Ryan.


"Eh, ada tamu," ucap Tuan Kadir kaget.


"Siang, Pak. Maaf ganggu," Al menundukkan kepalanya dan mengulurkan tangannya ke arah pria itu.


"Ayo masuk. Al, ini calonku?" tanya Tuan Kadir karena ia baru ketemu satu kali ini dengan Ken.


"Bentar lagi kita makan enak, Bang," seloroh Om Ryan.


"Alhamdulillah, aku ikut senang kalau begitu.


Mereka semua di ajak duduk di ruang tamu. Rumahnya cukup luas, sejuk, dan bersih. Tapi sepertinya penghuni tidak ada, sangat sepi. Ken menyapu pandangan ke seluruh ruang.


Di dinding rumah bercat putih bersih itu juga tidak ada foto keluarga,hanya ada tulisan kaligrafi berukuran sangat besar dan satu jam dinding lawas berlafadz Allah.


"Sebentar saya ambilkan minum, tidak enak kalau ngobrol tengkoraknya kering. He...he....," candanya. Ia masuk ke dalam dan tidak lama kemudian ada perempuan dengan dandanan sangat sederhana datang membawa minuman dan kue kering yang ada di toples kecil.


"Terimakasih, Mbak," ucap Tuan Kadir pada asisten rumah tangganya itu.


"Ayo, di minum dulu. Ini ada nastar, dicicipi," ujarnya lagi.


"Terimakasih," sahut Om Ryan. Ia meraih cangkir berisi teh hangat dan meneguknya pelan. Al dan Ken juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Om Ryan.

__ADS_1


"Saya ke sini menemani Al, dia lupa jalan ke rumah ini," Om Ryan membuka pembicaraan.


"Iya, ribet nyarinya ya Al. Ya begini inilah yang saya miliki. Alhamdulillah cukup untuk berteduh dengan putraku,"


"Ini juga sangat lumayan. Pada masanya ini kompleks perumahan saudagar Arab. Ga punya duit MM, mana bisa tinggal di sini,"


"Pak Ryan bisa aja. Kamu diem aja Al," sergah Tuan Kadir.


Al yang sejak tadi mengamati Tuan Kadir jadi tergagap, melihat setiap garis wajah pria itu dan membandingkan dengan Ken.


"Saya ke sini ingin menanyakan keberadaan seseorang yang pernah kerja di sini," Al mulai bicara.


"Seseorang yang pernah kerja di sini?" mata Tuan Kadir membulat.


"Iya, Tuan. Tapi sudah lama sekali. Sekitar 26 tahun yang lalu. Namanya Fatma. Fatmatun Nissa," Al menyebutkan nama orang yang di carinya dengan jelas.


"Fatma?" seru Tuan Kadir. Kekagetan pria itu bisa di baca oleh Al. Ia makin deg-degan. Apa yang bisa ia dapat dari Tuan Kadir ini.


"Iya, dia pernah bekerja di sini, sudah lama sekali. Apa kau mengenalnya, Al?" kini Tuan Kadir yang balik penasaran.


"Aku belum pernah ketemu dengan nya, aku ke sini karena membantu Bu Ros menemukan sahabatnya,"


"Ros, Ros mana ya?" Pria itu berusaha mengingat-ingat sesuatu.


"Saat Fatma bekerja di sini, ada pembantu tetangga sebelah yang dekat dengannya. Aku tidak ingat namanya,"


"Mungkin Tuan masih ingat dengan wajahnya, ini fotonya," Al menyodorkan ponselnya ke arah Tuan Kadir. Pria itu terlihat sedang berjuang mengingat sesuatu. Namun ia mengangkat kedua bahunya.


"Entahlah, aku tidak ingat. Aku hanya melihatnya sesekali saja, saat sore mereka sering ngobrol sambil nyapu halaman," ucap Tuan Kadir lagi.


"Kenapa bu Ros mencari Fatma bahkan sampai ke mari?" tanya pria itu lagi.


"Ada urusan besar yang harus diketahui Fatma. Selama ini Bu Ros sudah mencari temannya itu namun tidak menemukan jejaknya. Ia baru ingat ketika melihat wajah Maria di TV, Maria yang ia kenal sebagai majikan Fatma,"


(Bersambung....... Sabar ya, ini ngetik abis subuh. Duh, ga sempet ngedit lagiπŸ™ˆ)


🌳🌳🌳🌳🌳


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


βœ“ VOTE


βœ“ LIKE, dan


βœ“ KOMENTAR-nya


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.

__ADS_1


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2