
Water Strider
Tepat pukul 24.00 WIB, market tutup. Meskipun sudah berusaha keras, namun hasilnya tidak maksimal. Memang tidak mengecewakan sepenuhnya. Satu dari lima akunnya masing menggantung. Akun keramat lagi.
Al menyebutnya sebagai akun keramat, karena akun ini yang menyimpan modal paling besar diantara yang lainnya. Dalam setahun, paling banyak 10 kali WD dari akun ini. Itu ia lakukan agar ada proses administrasi dari kegiatan trading yang di jalankan. Akun pertama yang ia miliki sejak kenal dunia trading. Bisa dikatakan, aku ini adalah akun kesayangan. Modalnya tidak begitu besar, namun jika dilihat dari historinya orang bisa geleng-geleng kepala. Ia bisa mencapai profit 200-300 % perbulan, sementara kerugian yang dialami hanya beberapa kali saja.
Al harus sabar menunggu 2 hari lagi. Sabtu Minggu libur, ia harus menunggu hari Senin untuk membereskannya. Kalau sudah begini, ia bisa sakit kepala.
Satu akunnya mengalami loss, kerugian yang dialami cukup besar sehingga ia harus berjuang lebih keras lagi untuk mengembalikan modalnya di akun kedua. Prediksi kali ini benar-benar melesat. Hingga ia harus menelan pil pahit yang jarang sekali ia rasakan.
Untung tiga akunnya yang lain masih bisa menutupi. Dalam 5 hari kerja, bisa menghasilkan profit 185%. Al sudah mengamankan keuntungannya. Ia hanya mengisahkan modal awal di akunnya. Sejak mengenal dunia trading, Al punya prinsip
"Kalo jualan/dagang/bisnis/trade, jika sdh untung/profit, ambil dulu keuntungan/profitnya, biar modal awal yang kerja ".
Tidak heran jika setiap Minggu ia bisa gajian, WD dari profit yang dihasilkannya selama sepekan.
Empat akun ia jalankan sesuai prinsip, sementara akun keramat itu ia jadikan bahan percobaan. Selama ini ia belajar trading secara mandiri, baik dengan membaca buku yang di tulis oleh trader kelas dunia maupun ikut kelas online yang sering ia ikuti.
Setelah ia merasa, sudah mempunyai cukup ilmu dan banyak merasakan asam garam mencari uang dari dunia trading, tiga tahun terakhir ia membuka kelas online gratis. Memberikan bimbingan dan pendampingan bagi trader-trader pemula. Tentu saja dengan menggunakan nama samaran. Dunia trading mengenalnya sebagai water strider EA.
Ia cukup disegani, banyak orang yang mencarinya, ingin berguru secara langsung bahkan ada yang ingin menitipkan sejumlah uang untuk di mainkan, dengan sistem bagi hasil.
Al menolak semua itu dengan halus, ia sudah digariskan untuk hidup dalam pengasingan karena suatu kesalahan yang ia perbuat tujuh tahun yang lalu. Yang memaksa dirinya jauh dari keluarga dan membuang segala indentitasnya.
"Hoaaam.... Lelah sekali. Aku harus tidur secepatnya agar pusingnya segera hilang," bisik Al dalam hati.
Ia berangkat dari tempat duduknya setelah mematikan semua perangkat komputernya. Tidak lupa, ia juga mematikan semua penerangan yang ada di ruang kerjanya sebelum pergi ke kamar.
******
__ADS_1
Tiba di kamarnya, Al baru sadar jika Ken ia pindahkan ke kasurnya. Ia melangkah pelan menuju ke atas pembaringan. Sangat hati-hati sekali agar suaranya tidak terdengar oleh Ken.
Al duduk di sisi tempat tidurnya, ia tengah mengamati Ken yang tidur di kasurnya begitu pulas. Posisinya tidak bergeser sama sekali, masih seperti ketika ia memindahkan wanita ini 3 jam yang lalu.
"Melihatmu tidur seperti ini, membuat aku begitu tenang. Aku berharap, waktu bisa berhenti sejenak, untuk saat ini" pinta pria itu penuh harap. Dengan sepenuh hati, ia berdoa di dalam hati.
Meskipun ia sudah mengibas-ibaskan tangannya di muka Ken beberapa kali, mata itu tetap tertutup rapat. Begitupun ketika Al mencoba membenahi selimutnya. Ia tidak bergerak sama sekali.
"Nyenyak sekali, dia. Terus aku tidur dimana?" Pikir dia lagi.
"Jika aku nekad tidur di sisinya, yang ada ia malah histeris ga karuan jika bangun nanti. Udah ketauan, selain cengeng dia juga selalu berprasangka negatif pada orang," gumam Al lagi.
Namun Al tidak bisa menahan kantuknya, ia begitu ingin membaringkan tubuhnya yang sudah begitu lelah itu.
"Ah....,"
Al menarik tubuhnya ke atas kasur. Di sebelah kiri Ken yang masih terlelap. Ia menyandarkan kepalanya di atas tumpukan bantal yang cukup tinggi sehingga posisinya terlihat seperti orang yang setengah berbaring. Ia segera mengosongkan pikiran, mengganti penerangan di kamar dari yang terang menjadi redup dengan remote kontrol yang ada di samping tempat tidurnya. Tidak lama kemudian ia pun tidur. Dengkuran halus terdengar dari saluran pernapasan.
*****
"Dimana aku?" Ken mengucek-ucek matanya agar pandangannya semakin jelas.
"Ah....," Keluhnya. Ia baru sadar ketika akan berbalik, ada tubuh yang begitu dikenalnya tengah berbaring di sisinya.
"Kenapa bisa begini?" tanyanya bingung. Ia berusaha mengingat kejadian semalem yang membuat dirinya malu sendiri.
"Berarti dia yang memindahkan aku ke sini?" pikir Ken lagi.
"Tapi ..... Apa iya?" Ken mulai ragu. Jika menang Al yang membopongnya, kenapa ia bisa tidak merasakannya sama sekali.
__ADS_1
"Ga mungkin pindah sendiri?" Ujarnya lagi. Karena ia bukan tipikal orang yang suka berpindah tempat atau jalan kemana-mana dalam posisi sedang tidur.
"Duh," Ken memukul keningnya dengan keras. Namun karena sadar tindakan itu bisa membangun orang yang ada di sisinya, Ken jadi takut sendiri. Ia memilih diam untuk beberapa saat. Ia ingin tau, apakah Al benar-benar masih tidur atau tidak?
Ken menyisihkan selimut yang menutupi tubuhnya dengan pelan. Dengan sangat hati-hati, ia turun dari kasur dan berjalan mengendap-endap ke arah pintu. Ken ingin kabur secepatnya dari kamar itu sebelum Al bangun.
"Jangan pergi!" suara dari arah tempat tidur itu cukup mengagetkan Ken. Ken berdiri di sisi pintu. Ia menahan langkahnya untuk keluar.
"Jangan pergi!"
Ken kembali ke tempat tidur, dengan langkah yang pelan ia menghampiri Al yang masih di posisinya semula. Ken bisa melihat dari cahaya yang temaram jika pria itu masih terpejam.
"Sepertinya dia menggigau," bisik Ken dalam hati.
"Jangan pergi," ucap Al lagi. Kali ini dengan suara yang begitu terdengar menyayat telinga.
Ken memberanikan diri naik ke tempat tidur, ia ingin memastikan apakah Al baik-baik saja. Namun ketika Ken menempelkan telapak tangannya di kening pria itu, Al malah menariknya. Kini posisi Ken ada di atas tubuh Al. Pria itu memeluk gadis itu begitu erat, seolah tidak ingin ditinggalkan.
"Duh, bagaimana ini?" Ken Arok begitu ketakutan.
Cukup lama, tidak ada tindakan apapun. Ken juga tidak berani bergerak. Ketika suara dengkurannya terdengar lagi, buru-buru Ken memindahkan tangan itu dengan hati-hati. Kini ia bisa melepaskan diri.
*****
Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini ada tugas negara yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.
Mohon maaf, ya!
Ojo lali!
__ADS_1
VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.