Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Curiga


__ADS_3

Maria kembali ke rumah sudah mendekati subuh dalam kondisi mabuk. Saat Bik Sum membukakan pintu untuknya, aroma alkohol tercium dari nafas wanita itu.


"Jangan bilang Tuan kalo saya pulang jam segini, aku akan tidur di kamar belakang," perintah wanita itu.


"Iya, nyonya," Bik Sum belum bilang kalau tuan Baron tidak di rumah saat ini, namun wanita itu sudah meninggal Baik Sum dalam kondisi yang sempoyongan.


"Sudah tua kok kerjaan mabok, cari penyakit," keluh Bik Sum yang semakin prihatin melihat kondisi rumah ini.


Meskipun punya tiga isteri, Tuan Baron kerap makan sendiri. Maria dan anaknya nyaris tidak pernah makan di rumah, kecuali sarapan pagi.


Nyonya besarnya itu, yang menjadi penguasa rumah ini juga jarang di rumah. Pergi pagi, pulang menjelang subuh. Kadang malah tidak pulang sama sekali.


"Keluarga macam apa ini?" Bik Sum hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus dada.


🎀🎀🎀🎀


"Kenapa ga bilang kalo Tuan tidak di rumah?" oceh Maria ketika pagi-pagi ia tidak menemui suaminya di kamar.


"Semalem saya mau bilang tapi Nyonya keburu masuk kamar,"


"Alasan, aku tau kalian bersekongkol, kan?"


"Tidak Nyonya, saya tidak tau ke mana tuan pergi. Kemaren berangkat jam 9 dengan pakaian rapi,"


"Awas kamu, jika menyembunyikan sesuatu dariku!" ancam wanita itu.


"Mungkin Tuan ada di rumah Nyonya Nora?"


"Ini bukan jadwal ia nginep di rumah pelakor itu. Jangan coba-coba membela majikanmu. Dan ingat baik-baik, jangan pernah panggil wanita itu dengan sebutan Nyonya, hanya aku satu-satunya istri sah Tuan Baron," ucap wanita itu ketus.


"Hemmmmmm....pelakor. dikira kamu sendiri siapa? Istri sah Tuan Baron itu Nyonya Lisha, bukan dia atau Nora," geeitu Bik Sum dalam hati. Ia makin dongkol dengan perilaku Maria yang suka semena-mena itu.


"Ada apa, Ma?" tanya Barent yang baru keluar dari kamarnya.


"Kapan kamu pulang, mama ga liat kamu di kamarmu?"


"Baru aja, semalem ada tamu dari Singapura. Mereka mau kerjasama dengan kita," ujar Baren gembira.


"Oh, ya? Apa itu?" selidik Maria.


Barent melirik ke Bik Sum sebelum menjawab pertanyaan Mamanya, pembantu yang sudah puluhan tahun mengabdi di rumah itu cukup tau arti lirikan itu. Biru- buru ia pamit setelah menyiapkan sarapan untuk majikannya.


"Pembantu mau tau aja urusan orang," gerutu Barent


"Udah ga usah dipusingkan babu tua itu. Kita bisa disingkirkan sekarang juga jika kau mau,"


"Dia orang kesayangan, Papa. Biarkan saja,"


"Ya udah, abaikan saja wanita itu. Balik ke permasalahan tadi. Siapa yang mau kerja sama?"


"Semalam ada pelanggan kita yang memperkenalkan temannya, ia ingin kerja sama dengan kita. Bandar judi yang menguasai Kasino di Asia. Mereka sudah sering mengadakan permainan di beberapa negara, Singapura yang sering menjadi langganan mereka. Kali ini ia ingin mengadakannya di Indonesia, di diskotik kita,"


"Tapi tempat kita ga begitu luas, Sayang,"


"Mereka tidak melihat seberapa luas tempat yang kita miliki. Yang mereka butuhkan keamanan dan kenyamanan. Jumlahnya juga tidak lebih dari 30 orang, hanya mereka yang punya modal besar yang bisa bermain,"


"Berita bagus ini, Kapan?"


"Secepatnya. Ada kenalan yang mau urus keamanannya,"


"Bagus, ternyata kau tumbuh begitu hebat. Dalam waktu singkat kau sudah bisa membangun relasi antar negara,"


"Semoga jadi awal kerjasama yang baik. Jika sering menjadi tempat terpilih, kita akan mendapat banyak keuntungan, Ma,"


"Pasti itu. Kau memang cerdas,"


"Kok Papa ga ikut sarapan?"


"Kakek tua bangka itu tidak pulang. Mungkin dia pingsan di jalan atau sudah nyenyak di kuburnya,"


"Ma," tegur Barent.

__ADS_1


"Mama kesal, berani-beraninya dia ga pulang ke rumah tanpa berkabar,"


"Sudah-sudah. Mama juga sering ga pulang tapi papa ga protes,"


"Kalo mama ga pulang, dia seneng tapi kalo dia ga pulang diluar jadwal nginep di rumah Nora, kita harus waspada,"


Barent menggeser kursinya. Kini posisinya sudah begitu dekat dengannya. Ia membisikkan sesuatu pada wanita itu.


"Sepertinya Ferdy sudah tidak bisa dipercaya. Ia tidak melaporkan pada kita kemana perginya papa?"


"Ah, aku baru ingat. Dia sudah beberapa hari ini tidak menghubungiku. Sudah mulai berani tuh anak,"


"Telpon dia sekarang," perintah Maria.


Barent segera menghubungi orang yang di maksud melalui poselnya. Namun sebelum sambungan telepon itu tersambung, buru-buru Maria manggil Bik Sum untuk datang ke meja makan.


"Ada apa nyonya," tanya Bik Sum yang datang tergopoh-gopoh.


"Cepat sekali kau datang, nguping ya?" todong Maria.


"Engga, nyonya. Saya lagi membersihkan kompor. Suara nyonya cukup keras untuk di dengar dari jarak 10 meter," ucap Bik Sum begitu jujur.


"Maksudnya apa?" gertak Maria.


"Tidak Nyonya, saya tidak bermaksud menyinggung nyonya. Tapi itu memang benar,"


"Ah, sudah...sudah. Cepat pergi ke taman, belikan aku jeruk nipis yang masih berwarna hijau,"


"Dirumah ada Nyonya, butuh berapa?"


"Ada berapa yang di rumah,"


"Tiga atau empat?"


"Aku butuh satu kilo. Ujar Maria merasa menang.


"Kalo itu sepertinya di tukang sayur juga ga ada, saya akan mencarinya ke pasar,"


"Baik nyonya,"


"Sambil keluar, panggil Robby kemari,"


"Baik, nyonya,"


"Dah, Sono!" Usir wanita itu.


"Permisi Nyonya,"


"Lama banget nyambungnya," tanya Maria tidak sabar.


"Iya, mungkin dia lagi di jalan,"


Tak lama menunggu, Robby muncul dari pintu belakang. Pria itu datang tergopoh-gopoh.


"Kemana Tuan,"


"Saya tidak melihat ia pulang,"


"Apa dia pergi di jemput seseorang?"


"Tidak!"


"Apa Al pernah datang?"


"Tidak, Nyonya. Hanya sekali saja, yang dulu,"


"Aku masih bisa mempercayaimu, kan?"


"Bisa, Nyonya,"


"Sip, pergilah,"

__ADS_1


Maria menarik nafasnya dalam-dalam. Ia sadar, banyak hal yang dlterjadi diluar sepengetahuannya. Namun ia tidak mau gegabah, butuh waktu untuk menyelidiki siapa orang yang masih bisa di percaya.


" Nih, Ma,"


Maria menyambar Hp yang dipegang oleh putranya. Terlihat ia begitu tidak sabar, bahkan terkesan panik.


"Lama amat, kemana aja?"


"Lagi di jalan, Nyonya,"


"Tuan di kantor?"


"Pas saya pulang, Tuan masih di tempat,"


"Serius?" Selidik Maria.


"Iya Nyonya, saya melihatnya sebelum pulang,"


"Jam berapa?"


"Sekitar jam 5, ini mobilnya juga masih terparkir di depan. Saya rasa tuan tidak kemana-mana sejak kemarin," ucap Ferdy dengan tidak jujur.


"Kau tidak bohong kan?" tanya Maria curiga.


"Nih saya VC biar ibu percaya," beberapa detik kemudian Maria bisa melihat Ferdy yang ada di depan kantor Baron dan mobil suaminya yang terparkir di sana.


"Sudah..sudah,"


Maria langsung menutup sambungan teleponnya. Setidaknya kini ia bisa lega karena Baron memang benar -benar ada di kantor. Ia tidak tahu jika Ferdi sudah membohonginya.


"Untung dia tidak minta VC sama Tuan," Ucap Ferdy jadi lega.


"Aman....aman," ujar Ferdy lagi. Ia buru-buru lari ke ruang bosnya. Ia ingin tahu apakah mereka sudah kembali lagi ke kantor lagi.


"Ternyata dia belum kembali juga," ketika ia sudah di lantai dua dan mendapati ruangan masih tertutup.


"Mau ketemu, bapak?" Tanya Mbak Susi yang dipercaya sebagai sekretaris Tuan Baron itu.


"Iya, kemarin ia pesan agar aku membawa mobilnya ke bengkel,"


"Bapak lagi ke luar," ucap perempuan itu.


"Oh, saya kira ada di dalam,"


"Ga, tadi bilangnya mau ngopi di depan dan mau menemui klien,"


"Oh, ok mbak terimakasih,"


Ferdy jadi nyengir sendiri, apakah wanita ini termasuk orang yang diminta untuk bersandiwara oleh bosnya itu. Sekarang baru pukul 08.00 wib dan mobil yang ada di depan posisinya tidak berubah sama sekali, bagaimana ia bisa bilang kalo bosnya sudah datang dan sedang minum kopi.


"Biasanya Tuan Baron paling cepet sampe kantor jam 10.00 wib," gumam Ferdi geli.


"Sandiwaramu sudah terbaca olehku,cantik,"


Ucap Ferdy sembari berlalu.


"Kenapa, Pak?" tanya perempuan itu bingung.


"Gak," sahutnya singkat. Ferdy meninggalkan dan membiarkan wanita itu dengan wajah bingungnya.


******


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.

__ADS_1


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2