Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Di Mana Ken?


__ADS_3

Malam itu, mereka sudah berkumpul di meja makan. Bu Ros sudah menyiapkan makanan yang ia siapkan sendiri karena Nyonya Lisha tidak ke dapur sepanjang sore ini. Baron dan Lisha sudah menyiapkan piring di depannya masing-masing, namun mereka belum mau mulai makan karena Al belum turun dari kamarnya.


"Al kok ga turun-turun. Ngapain tuh anak?" tanya Lisha bingung.


"Biasanya tuan turun tepat waktu kok. Mungkin sebentar lagi," jawab Bu Ros yang tengah menyiapkan air minum.


"Eh, itu dia. Baru diomongin kok panjang umur," celetuk Baron yang melihat pintu kamar Al sudah terbuka.


Pria itu menuruni anak tangga dengan santai. Ia sudah terlihat rapi dan segar, sepertinya baru selesai mandi.


"Aku tadi ketiduran, bablas sampe magrib," ucap Al merasa tidak enak karena orang tuanya sudah menunggu.


"Kau sehat-sehat saja, kan?" tanya Ibu khawatir.


"Iya, cuma capek sedikit. Biasanya juga ga pernah tidur sampe segitu lama," sahut Al lagi.


"Ken kemana? Kok ga ikut makan?" tanya Al pada Bu Ros.


"Ken sudah pulang ke kontrakan tadi sore. Mau beres-beres soalnya kita ga mau perpanjang sewanya,"


"Pulang?" tanya Al kaget. Suaranya terdengar begitu keras.


"Iya, Tuan. Dia pulang ke kontrakan," sahut Bu Ros lebih tegas. Ia mengira Al tidak mendengar jawaban, untuk itu volume suaranya agak di perbesar.


Al langsung berdiri dari tempat duduknya. Tanpa bicara apapun, ia langsung ke kamarnya. Bu Ros jadi bingung melihat sikap majikannya itu. Ia melihat nyonya Lisha untuk mencari jawaban.


"Apa saya salah bicara?" tanya Bu Ros antara takut dan panik.


"Duduklah, Bu. Ibu tidak usah panik. Al tidak apa-apa kok," jawab Lisha dengan bijak. Sementara Baron hanya tersenyum tipis. Tidak ikut berkomentar.


Tidak lama kemudian, Al keluar dari kamar dengan jaket dan helm yang terpasang di kepala.


"Ma, Al keluar dulu," pamit Al sambil berlalu.


"Iya, hati-hati," sahut Lisha entah suaranya itu didengar atau tidak oleh putranya karena tidak lama dari itu suara motor Al sudah meninggalkan rumah itu.


"Tuan Al pergi? Naik motor?" Bu Ros makin bingung dengan apa yang dilakukan oleh majikannya.


"Iya, ada urusan hati yang ingin segera ia tangani," sahut Lisha menahan tawa.


"Urusan hati?" tanya Bu Ros lagi. Jujur saya ia makin tidak enak pikirannya namun ia tidak mau bertanya lebih lanjut karena Lisha dan Baron sudah mulai menikmati makan malamnya.


"Ayo, bu. Makan dulu. Urusan itu kita bicarakan nanti. Ga usah dipikirkan,"

__ADS_1


"Papanya banget," gumam Lisha setengah berbisik. Namun ia yakin ucapannya itu di dengar oleh suaminya karena Baron hanya tersenyum segaris tanpa berkata apapun.


Akhirnya, malam itu mereka makan bertiga saja. Bu Ros makin tidak enak karena kehadiran di meja itu dianggapnya tidak pantas. Namun nyonya Lisha dan Baron memaksanya untuk tetap tinggal dan menghabiskan makanannya.


********


Ken pernah memberitahu alamat kontaknya, namun Al tidak begitu hafal dengan pemilik kontrakan. Mengingat daerah yang akan ia datangin sangat padat dan jalannya sempit, Al cukup kesusahan juga.


Ia tidak mungkin bertanya dengan warga sekitar karena belum tentu mereka tahu orang yang dimaksud. Namanya juga di Jakarta, tetangga samping rumah aja kadang tidak saling mengenal.


Sialnya lagi, karena terburu-buru, Al tidak membawa ponselnya. Ia juga tidak bisa menghubungi Ken untuk bertanya alamat lengkapnya.


"Duh, udah sampe di sini lagi. Mau pulang jauh, mau nanya orang apa mungkin mereka tahu?" Al menyesali dirinya yang mulai sembrono. Pergi buru-buru hingga meninggalkan ponselnya di kamar.


Al menghampiri pos Betawi Rempug yang ada di dekat ia menghentikan kendaraannya. Kebetulan ada empat pria yang tengah main kartu di sana.


"Permisi, saya cari kontrakan Bu Ros. Terakhir dia bilang tinggal di RT. 8," tanya Al dengan sopan.


"Rw dan nomer rumahnya, bang?" tanya salah satu pria yang sedang main gaple itu.


"Justru itu saya kesulitan menemukannya. Saya tidak ingat nomer rumah dan RW berapa?" sahut Al merasa malu dan putus asa.


"Susah itu, di sini ada 8 RW, setiap RT ada sekitar 90 KK,"


"Kalau RT 8 yang sebelah mana aja, nih. Ga apa saya cek satu-satun?" tanya Al tidak mau purus asa.


"Saudara saya itu ngontrak satu petakan gitu. Dia tinggal dengan anak gadisnya yang bernama Keny. Biasanya di panggil Ken," Al berusaha membantu ingatan orang itu.


"Oh, Ken. Bilang dari tadi, bang. Kalau anaknya kita kenal. Tau sendiri, anak perawan pasti di kenal. Apalagi cakep kayak dia. Kalau ibunya jarang ada di rumah, kerjanya jauh," ucap pria itu lagi.


"Iya, Ken maksud saya. Ada di sebelah mana kontrakannya," wajah Al jadi gembira saat itu juga.


" Itu RT 8 / RW 5. Masuk gang ini, rumah ke 10 kayaknya kalau diitung dari ujung gang yang sebelah sana. Kontrakan yang berwarna ijo," pria itu menunjuk ke arah gang yang berada sekitar 15 meter dari gardu.


Al makin sumringah, harapannya untuk ketemu Ken sudah di depan mata. Saking senangnya, Al mengeluarkan empat lembar uang seratus ribuan dan memberikan pada orang yang membantunya tadi.


"Maaf, Bang. Main gaple ga enak kalo ga ada ngopi. Buat kopi sana udut," ujar Al sambil mengulurkan uang itu.


Pria yang ada di gardu itu saling pandang, baru kali ini ada orang yang datang bertanya dan memberi mereka yang sebanyak itu.


"Semuanya?" tanya pria itu tidak percaya.


"Buat gorengannya juga. Biar semangat main gaplek-nya," sahut Al bercanda.

__ADS_1


"Wah, terimakasih banget ini. Sering-sering tanya alamat ke sini kalau begitu,"


"Ha.....ha.....," Tawa Al sembari meninggalkan gardu.


Al segera naik ke atas motornya dan masuk ke gang seperti yang di katakan oleh orang yang ada di gardu tadi.


Gang itu sangat sempit sekali. Hanya bisa dilalui oleh satu motor. Jika berpapasan dengan kendaraan lain, Al terpaksa harus berhenti dan memiringkan motornya agar salah satu diantara mereka bisa lewat.


"Duh, kalau bukan karena kamu, ogah banget aku ke sini," gerutu Al. Karena ia harus berkali-kali berhenti. Belum lagi banyak anak-anak yang bermain di jalanan.


Al juga harus mengapa dan memberi salam pada warga di gang itu yang duduk-duduk di depan rumahnya.


"Cari rumah siapa, Om ganteng? tanya salah satu ibu muda yang mengenakan daster cukup minim, duduk di depan rumah sambil menghisap rokok.


"Kontrakan Ken, Bu?" sahut Al ramah.


"Oh, Ken. Temen kuliahnya, ya?" tanya wanita itu menyelidik.


"Saya sepupunya. Bu Ros adek mama saya," ucap Al berbohong.


Wanita yang awalnya terlihat sinis jadi tersenyum ramah. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Al.


"Yang itu rumahnya. Paling pojok. Sudah lama ia ga keliatan," wanita itu bicara seolah sudah akrab dengan Al. Ia bersandar di motor Al dan menepuk pundaknya.


"Iya, Ken baru pulang kampung. Saya mau ketemu karena ada urusan," ucap Al lagi.


"Permisi,"ucap Al sambil menunduk kepalanya pada wanita yang membuat Al bergidik. Ia berani memegang pundak Al, orang yang baru dikenalnya.


"Iya, panggil Salsa aja Bang. Saya single, kok,"


"Iya, Salsa. Maaf saya permisi dulu," Al terpaksa harus mengikuti kemauan wanita itu karena ia menghalangi motornya.


"Silahkan, ganteng," salsa memberikan jalan untuk Al. Tidak lupa ia menepuk pundak Al dan mengedipkan mata kirinya.


🎀🎀🎀🎀


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya

__ADS_1


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2