
"Kenapa bu Ros mencari Fatma bahkan sampai ke mari?" tanya Tuan Kadir, dari ekpresinya sangat terbaca, ia cukup antusias mendengar nama itu di sebut.
"Ada urusan besar yang harus diketahui Fatma. Selama ini Bu Ros sudah mencari temannya itu namun tidak menemukan jejaknya. Ia baru ingat ketika melihat wajah Maria di TV, Maria yang ia kenal sebagai majikan Fatma,"
"Abang sudah tahu kalau Maria ada di tahanan polisi?" tanya Om Ryan.
"Iya, aku sudah menjeguknya dan ketemu Al di sana?"
"Kau jenguk dia, Al?" tanya Om Ryan kaget.
"Aku mau urus pajak kendaraan, kebetulan ketemu Pak Kadir,"
"Oh," Om Ryan jadi manggut-manggut sendiri.
"Jadi gimana, Pak. Apa bisa bantu aku untuk menemukan dimana keberadaan Fatma?" Al mandang Tuan Kadir dengan serius.
"Aku tidak tahu di mana dia sekarang? Terakhir aku datang ke kampungnya, mencari keberadaan dia, namun keluarganya tidak ada yang tahu. Mereka menganggap Fatma masih kerja di Jakarta karena ia masih rutin kirim uang untuk keluarganya. Aku juga meninggalkan alamat dan nomer telponku pada keluarga Fatma di kampung agar mereka memberitahu ku jika sewaktu-waktu ia kembali. Sampai hari ini tidak ada yang menghubungi ku,"
"Pak Kadir mencari dia sampai ke kampung? Spesial sekali!" Al cukup suprise mendengar Jawaban pria itu.
Ken belum tahu jika yang di bahas ini adalah ibu kandungnya. Bu Ros memang tidak pernah memberi tahu Ken nama asli ibunya. Selama ini ia mengenal ibunya dengan nama Camelia. Ibunya sangat cantik, wajahnya mirip artis Camelia Malik, jadi di kalangan pembantu dan tukang sayur Fatma lebih dikenal sebagai Camelia daripada nama aslinya.
"Iya, saya cari dia sampai ke tanah kelahirannya di ujung Surabaya sana karena dia itu istriku. Aku menikahinya secara sirih,"
Meskipun Al sudah menduganya, namun pengakuan pria itu cukup membuatnya kaget.
"Jika Fatma menikah dengan Tuan Kadir berarti Ken putri anak tukang parfum ini. Lebih sial lagi, dia benar-benar akan jadi saudara Barent," pikir Al yang bikin pusing kepalanya.
"Sejak kenal bisnis trading, Maria jarang di rumah. Ia sering kumpul-kumpul dengan komunitasnya. Sering keluar kota lah, pelatihan lah. Barent tidak ada yang mengurus. Saya sibuk mengurus toko,"
"Dia tipikal perempuan yang ambisius dan materialis. Karena ia sudah mengabaikan tanggung jawabnya, ia tidak keberatan jika aku menikah lagi. Dengan satu syarat ia yang memilih, siapa yang akan jadi madunya. Kata Fatma sudah dekat dengan Barent dan bekerja dengan kami sudah cukup lama, ia memilih Fatma jadi istri keduaku,"
"Berarti waktu saya sering ke sini, Fatma sudah jadi madunya?" tanya Om Ryan.
"Iya, kau bisa lihat sendiri kalau sudah mengundang teman-temannya ke rumah, ia ngerokok, judi, bahkan mabok sampe pagi. Aku sudah tidak dianggapnya lagi. Begadang seperti layaknya wanita bebas, kalau tidak di tegur petugas ronda tidak akan bubar,"
"Aku jadi malu. Waktu itu aku salah satu dari mereka," sesal Om Ryan.
__ADS_1
"Iya, begitulah dia. Susah diberi masukan. Sudah punya keluarga tapi lagaknya kayak orang bebas. Apalagi setelah aku menikah dengan Fatma, dia cuma minta jatahnya secara materi, kewajibannya sebagai istri dan ibu diabaikan,"
"Astaghfirullah," ucap Al.
"Terus bagaimana dengan Fatma?" Al memotong pembicaraan agar Tuan Kadir lebih fokus ke Fatma. Bagi Al, kehidupan Maria sudah ia kubur bersama nasibnya di penjara. Ia tidak mau mendengar apapun tentangnya.
"Dua menikah, Fatma hamil. Karena perutnya yang membesar tetangga pada curiga. Sejak awal Maria memang menyembunyikan pernikahan kami jadi orang-orang sini taunya dia tetap sebagai pembantu,"
Sampai di sini, Ken merasa apa yang sedang dibicarakan oleh ketiga pria itu ada kaitannya dengan kehidupannya namun ia masih diam, menunggu Tuan Kadir menyelesaikan kisahnya.
"Terus?" Ken tidak sabar.
"Fatma saya ungsikan ke ruko, dia tinggal bersama karyawan saya yang masih gadis. Hari-harinya tidak lagi mengurus rumah ini, ia membantu saya di toko. Fatma sudah ijin jauh-jauh hari padaku, ia ingin melahirkan di kampung dan aku akan mengantarkannya nanti jika sudah mendekati hari H karena aku tidak bisa berlama-lama di kampungnya. Maklum orang dagang,"
"Maaf Pak, apa Fatma dan Camelia itu orang yang sama?" Ken sudah tidak bisa menahan diri.
Al yang mendengar pertanyaan itu memegang tangan Ken, ia memberi isyarat pada wanita itu agar jangan terlalu banyak bicara.
"He...he.... kata orang-orang sini Fatma itu mirip artis Camelia Malik, jadi kalau di kalangan teman-temannya dia dipanggil Camelia,"
Ken igin bertanya lebih lanjut namun AL buru-buru memotongnya, dan melanjutkan pertanyaan?
"Apa Fatma jadi pulang kampung?"
"Fatma kabur. Sampai sekarang aku tidak menemukan jejaknya. Teman-temannya yang aku kenal juga tidak tahu keberadaannya,"
"Apa mungkin Maria mengusirnya?" tanya Om Ryan.
"Aku tidak tahu, Maria tidak pernah menginjakkan kakinya ke ruko,"
"Apa dia ga punya hp?" selidik Al makin penasaran.
"Ada, tapi nomer itu sudah tidak bisa dihubungi sejak ia menghilang,"
Apa yang di alami Fatma bisa jadi sama dengan yang di alami Lisha, Maria mengusir wanita itu dengan rencana yang sudah ia susun dengan rapi.
Apakah Ken memang benar-benar anak Tuan Kadir, kuncinya ada di Maria. Al akan mendatangi wanita itu untuk mencari tau keberatan Fatma.
__ADS_1
"Berarti bapak kehilangan jejaknya, ya? Apa boleh saya minta alamat Fatma di kampung?"
"Boleh Al, di sana masih ada bapak dan adik perempuannya. Nomer telpon mereka juga ada,"
Tuan kadir membuka ponselnya dan mengukir layar ponsel itu, tidak lama kemudian ia memberikan nomer telpon yang dimaksud.
"Ini, barang kali kau membutuhkannya," ujar pria itu.
Mereka izin pamit setelah mendapatkan petunjuk yang dibutuhkan. Al berjanji akan memberitahu Tuan Kadir jika ada informasi tentang Fatma.
"Berarti dia papaku?' tanya Ken tidak sabar ketika mereka sudah naik ke mobil.
Om Ryan yang mendengar pertanyaan Ken jadi kaget.
"Apa kau putrinya Fatma?" tanya Om Ryan masih dengan ekpresi yang susah untuk diartikan.
"Iya," sahut Ken singkat.
Kita jangan terlalu gegabah memutuskan kalau Tuan Kadir itu ayahmu. Kita harus menemui Maria atau keluarga Fatma yang lain yang tau kemana Fatma tinggal setelah ia kabur dari rumah suaminya.
"Tapi Al, jika dilihat-lihat ada kemiripan antara Ken dan Tuan Kadir," tukas Om Ryan sambil tersenyum.
Al tidak menjawab, ia juga ingin membenarkan ucapan itu tapi ia masih ingin mencari informasi yang menegaskan status pacarnya itu dan ia sangat berharap Kadir bukan calon mertuanya.
🌳🌳🌳🌳🌳
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!
__ADS_1