
Sudah hampir lima menit Al berada di dalam taxi, menunggu Robby keluar dari rumah orang tuanya dan mengizinkan dia masuk.
"Apa-apa tuh orang, kenapa ia harus izin Barent lebih dulu. Bukankah aku mau masuk rumahku sendiri, menemui Papaku?" Keluhnya kesal.
"Sebentar ya, Pak. Nanti saya tambah bonusnya," pinta Al pada driver taxi yang sudah terlihat gelisah.
"Iya, pak saya sudah menekan sampai. Takutnya dapet orderan lagi," jelas driver itu.
"Oh begitu. Matikan aplikasinya dulu. Jika saya ga jadi bertemu,saya charter ke tempat yang tadi,"
"Alhamdulillah, baik pak," seru pria itu begitu senang. Al mengeluarkan dompet dari saku celananya, ia menarik 3 lembar uang seratus ribuan dan memberikan pada pak driver.
"Ini, Pak,"
Dengan wajah heran dan ragu, pria itu menatap Al dengan serius. Ia belum mengulurkan tangannya,
"Kebanyakan, itu. Ongkosnya cuma 55rb kok," pria itu menunjuk aplikasi yang baru saja ia buka. Disitu ada nominal yang harus dibayar oleh Al.
"Udah terima aja, itung-itung rezeki anak bapak," Al memberi alasan.
"Waduh, saya ga bisa nolak kalo sudah begini. Terimakasih ya, Pak. Semoga rezekinya makin lancar,"
"Aamiin,"
Pintu mobil di ketuk, Al bisa melihat Robby dan kakak tirinya itu sudah berdiri di sisi mobil. Barent memberi kode agar Al membuka pintunya.
"Kita bicara di luar saja, ayo pak kita jalan," perintah Barent begitu ia sudah duduk di samping Al.
"Kenapa aku tidak boleh menemuinya? Aku melihat Naria sudah keluar beberapa jam yang lalu,"
"Pagi tadi mereka ribut, Ayah masih marah dan mengunci diri di ruang kerja. Aku tidak mau mengganggunya," jelas Barent.
"Biar aku yang bicara," paksa Al
"Jangan sekarang, kau bisa kembali lain kali,"
Al malas untuk berdebat, ia memilih diam dan membiarkan mobil itu melaju meninggalkan komplek perumahan mewah itu.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi," Barent membuka pembicaraan. Tangan kirinya menepuk paha Al dengan pelan.
"Kau kaget?" tanya Al menyelidik. Ia menyingkirkan tangan Barent dari pangkuannya.
"Kenapa berpikir begitu?" Barent balik bertanya. Ia cukup tersinggung mendapat tanggapan seperti itu.
"Aku pastikan kau tahu apa yang terjadi 10 tahun yang lalu, tapi kau tidak bicara apapun pada Papa. Membiarkan Maria histeris hingga ia membiarkan aku pergi,"
__ADS_1
"Kau tau sendiri, jika ia ibu sudah marah tidak ada yang bisa menghentikan, meskipun ia harus kehilangan nyawanya. Aku diam agar ibu bisa lebih tenang dan bisa menggunakan logikanya, tapi kau keburu pergi,"
"Hemmmm.... sepuluh tahun ga ketemu, aktingnya masih amatiran saja," bisik Al dalam hati.
"Apa Papa masih berkantor di Sudirman?" tanya Al pada kakak tirinya itu.
"Jarang, seminggu belum tentu ia ke sana?"
"Kenapa?" tanya Al penasaran.
"Penyakitnya menghendaki ia harus lebih banyak beristirahat di rumah," Al cukup tercekat. Ia tidak mengetahui jika Papanya sakit. Ia bisa melihat pria itu sehat bugar.
"Siapa yang urus bisnisnya,"
"Kau tidak usah khawatir. Untuk sementara aku yang mengurus semuanya tiga tahun terakhir,"
"Ayah kena serangan stroke tida tahun yang lalu, meski ia terlihat baik-baik saja namun belum bisa berpikir berat. Alasan itulah aku mengajakmu bicara di luar. Aku akan sampaikan pada ayah jika kau ingin menemui, tapi tidak sekarang. Aku khawatir dia drop lagi,"
"Aku sudah datang ke sini 3 hari yang lalu dan bicara empat mata dengannya,"
"Oh, ya," Barent memasang wajah kagetnya.
"Sialan, lagi-lagi aktingnya amatiran,"
"Aku yakin kau mengetahuinya, entah itu dari siapa. Aku bisa pastikan orang yang mengikutiku beberapa hari ini adalah orang-orangmu, bukan?"
"Kau masih saja curiga denganku?" Elak Barent.
"Bukan curiga, itu fakta. Apa perlu aku mematahkan tangannya biar kau percaya," Al makin geram melihat sikap Barent yang tidak mau mengakui perbuatannya.
"Pak, kita turun di cafe depan aja," perintah Barent pada sang driver.
"Baik, Pak,"
Tiba di kafe yang dimaksud, Al mengikuti Barent yang lebih dulu turun dari mobil. Ia juga berjalan di belakang Barent, mengikuti langkahnya menuju private room yang ada di sisi kanan kafe.
"Silahkan," Barent menarik kursi dan mempersilahkan Al duduk. Tak lama ia memanggil pelayan dan membuat pesanan. Al tersenyum kecut saat Barent memesan makanan dan minuman kesukaannya.
"Aku ingat betul kau suka nasi goreng seafood dan jus buah naga," ucap Barent begitu ia menyerahkan daftar pesanan itu ke pelayan yang menunggu di samping mereka.
"Temani aku mengelola bisnis Ayah, aku akan merahasiakan ini dari Ibu sampai ia bisa menerimamu kembali,"
"Menerimaku? Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan. Semua yang kau nikmati sekarang ini milik Papaku. Kalian tidak punya hak apapun selama ia masih hidup. Ingat! Kau hanya diberi kepercayaan untuk mengelolanya bukan merasa memilikinya," nada bicara Al sudah mulai tidak bersahabat ketika mendengar ucapan Barent yang membuatnya tersinggung.
"Aku tidak meminta apapun dari Papa, asal dia sehat dan mau percaya bahwa aku tidak seburuk yang dipikirkannya, itu sudah cukup. Jika kalian mau ambil apa yang dimiliki papa saat ini, silahkan. Aku tidak akan mempermasalahkannya," Al terpaksa bicara seperti itu untuk memancing emosi Barent.
__ADS_1
"Apa pekerjaamu saat ini?" tanya Barent serius.
"Bukan urusanmu. Aku bisa hidup dan tidak jadi pengemis itu sudah cukup,"
"Maaf,"
"Untuk apa? Kau sudah sadar atas kesalahannya ibumu?"
"Kau harus percaya padaku. Aku tidak tahu apapun sepuluh tahun yang lalu. Bisnis apa yang menjerat ibu hingga ke jeruji besi dan membuatmu khilaf ingin melenyapkan nyawa Om Ryan, aku tidak tidak tahu sama sekali,"
"Aku tidak percaya, usiamu jauh lebih tua dariku. Otakmu juga pasti lebih cerdik darimu," Al makin sinis.
"Percayalah, aku sudah berusaha jujur padamu,"
Al tidak menjawab, ia segera meraih Minum yang baru saja diletakkan di atas meja itu oleh pelayan. Al menyeruput jus buah naga itu dengan pelan. Ia menyukai minuman ini karena ibu kerap membuatnya dan juga Papa.
"Apa om Ryan masih hidup," tanya Al. Ia meletakkan gelas itu di atas meja.
"Masih, nyawanya terselamatkan,"
"Kenapa ia juga ikut tutup mulut?"
"Aku tidak tahu. Sejak peristiwa itu, ia tidak pernah lagi menampakkan diri di rumah,"
"Apa dia ayahmu?"
"Kenapa kau berpikir begitu," tanya Barent bingung.
"Kalian punya kesamaan sifat,"
"Ha....ha.....kau minum jus buah. Tapi kenapa bisa mabok seperti ini. Kesamaan dari Hongkong," canda Barent,"
"Aku akan mencari tau tentang itu,"
"Al, berhentilah untuk menyulut permusuhan ini. Meski tidak sedarah, kita ini bersaudara,"
"Hem....," Al hanya bergumam. Ia sebenarnya malas untuk berlama-lama dengan pria ini. Akhirnya memilih diam dan membiarkan Barent ngoceh tidak karuan.
Pria itu terus saja memintanya bekerja membatu dirinya mengelola diskotik ayahnya. Barent sengaja membujuk Al agar bisa memantau aktifitas adik tirinya itu lebih mudah, bukan karena ia benar-benar menginginkannya.
****
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
__ADS_1
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗