Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Tentang Nora


__ADS_3

Mereka yang hidup layaknya keluarga bahagia, kini menjalani takdirnya masing-masing. Maria tinggal dan menetap di diskotik pemberian Baron. Suami yang menikahi secara sirih sudah menjatuhkan talak padanya. Selain diskotik ini, ia sudah tidak punya hak atas harta yang dimiliki oleh Baron.


Sejak meninggalkan rumah, Barent memilih tinggal di rumah sederhana milik ayahnya. Ia sudah tidak pernah lagi menemui Maria, termasuk ke diskotik yang sudah menjadikan pria muda itu sebagai direktur utama di sana. Barent membantu ayahnya di toko kecil yang menjual Refill parfum.


Sedangkan Baron, ia sering menghabiskan waktu di rumah Al. Ia jarang pulang ke rumah. Hanya Bik Sum dan Robby yang mengurus rumah besar dan megah itu. Meskipun berkali-kali Baron mengajak Lisha kembali, namun istrinya itu tidak mau menginjakkan kakinya di rumah kembali.


Bagaimana hubungan Baron dengan Nora? Masih seperti biasa. Baron mendatangi istri mudanya itu sesuai dengan jadwalnya. Nora sudah tahu dari Barent jika suaminya itu sudah berkumpul dengan anak dan istrinya kembali. Namun ia tidak mau membahasnya selagi Baron tidak menceritakan sendiri padanya.


"Bang, beberapa waktu yang lalu Barent memintaku datang ke diskotiknya. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan,"


"Apa kau menemuinya?" Selidik Baron.


"Iya, dia dan ibunya memintaku untuk membujukmu. Mereka ingin kau segera melimpahkan perusahaan dan aset yang kau miliki pada mereka. Maria menjanjikan akan memberikan jatah 30% dari total yang dia dapat padaku,"


"Apa kau kau menyanggupinya?" tanya Baron lagi.


"Aku tidak langsung memberi jawaban. Aku. Minta waktu untuk berpikir. Aku tidak mau jika mereka menaruh curiga padaku," ucap Nora jujur.


" Baguslah kalau begitu. Berarti kau tidak bersekongkol dengan mereka," gumam Baron.


Pagi itu Baron datang menemui Nora, sesuai jadwal berkunjungnya. Nora sudah menyiapkan sarapan karena tahu suaminya akan datang. Mereka menikmati sarapan di lantai dua, tempat Baron biasa beristirahat jika berkunjung ke mari.


Tidak lama kemudian, Al datang. Nora cukup kaget mendapati anak suaminya itu menyusul papanya ke rumahnya.


"Ayo sekalian sarapan, saya masak cukup banyak kok," ajak Nora.


"Tidak, terimakasih. Aku sudah sarapan di rumah," ucap Al dengan sopan.

__ADS_1


"Al, ada sesuatu yang ingin kau sampaikan hingga menyusulku ke mari? tanya Baron.


"Tidak, aku biasa ke sini kok. Beberapa hari yang lalu aku juga menemui Nora di sini," ucap Al dengan santai.


"Kalian bertemu? Ada apa?" tanya Baron curiga.


"Waktu itu Al mengikuti mobil Barent. Barent mengantarku setelah pembicaraan itu.Secara kebetulan Al melihat aku keluar dari diskotik dan mengikuti hingga ke mari," jelas Nora.


"Begitu? tanya Baron pada Al. Al tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kedua bahunya.


"Kau dan Barent pasangan serasi kenapa kalian tidak bersatu saja. Aku juga juga heran, kenapa bujang lapuk itu tidak segera menikah. Jangan-jangan ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari Papa," todong Al.


Nora hanya tersenyum. Ia tahu Al menduga seperti itu karena secara kebetulan mereka bertemu saat ia sedang bersama Barent. Wajar jika ada dugaan seperti itu.


"Dulu aku memang bekerja di diskotik itu. Aku bukan wanita yang bersih. Namun ketika Maria masuk penjara, Barent menawarkan pekerjaan baru padaku. Menjadi istri papamu karena ia tidak ingin ada wanita lain yang menggantikan posisi ibunya di rumah itu. Aku menerimanya karena suatu kesempatan untukku. Aku tidak harus bekerja melayani tamu namun bisa punya penghasilan untuk menghidupi keluargaku. Tawaran itu aku terima dan aku jadi istri sirih papamu," jelas Nora.


"Apa yang aku lakukan sesuai dengan standar kerja yang sudah di susun Barent. Mengurus makan dan melayani kebutuhan biologisnya. Terus saja begitu hingga waktunya Maria keluar dari penjara dan hari itu juga harus meninggalkan rumah itu," ucap Nora lagi.


"Al, kenapa bertanya seperti itu? Jangan memojokkan dia?" Baron memperingatkan anaknya.


"Tidak apa. Dia berhak bertanya seperti itu. Karena kau ingin mengetahuinya, aku juga harus bicara jujur. Terus terang awal aku menerima tawaran itu, aku memposisikan diri hanya sebagai pekerja bukan sebagai istri. Karena aku tidak punya hak atas apapun yang dimiliki oleh papamu. Aku hanya menjalankan tugasku sebaik mungkin. Karena kebaikan Tuan Baron lambat laut sikap itu berubah. Aku lebih menghormatinya karena ia memperlakukan aku dengan baik. Maaf jika aku harus bicara seperti itu," ucap Nora.


Baron hanya bisa menarik nafas dalam-dalam mendengar penjelasan Istrinya. Ia memang merasakan jika Nora terlalu sopan padanya, sikap lebih menunjukkan bahwa ia adalah pelayan daripada sikap sebagai istri.


"Aku tahu dari Barent jika Nyonya Lisha sudah kembali. Karena mereka panik Nyonya Lisha dan Al akan kembali ke rumah itu dan mengambil alih semua yang ia miliki, mereka minta bantuanku untuk merayu Papamu. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa, aku bisa begini saja sudah sangat bersyukur. Aku jadi merasa lucu dengan sikap mereka. Selama ini aku bekerja sesuai dengan perintah mereka, lantas kenapa mereka minta bantuan padaku untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya mereka tau aku tidak punya kemampuan untuk melakukannya. Maria begitu panik jadi ia sudah kehabisan akal,"


"Bang, aku tahu arah pembicaraan Al. Ia ingin menanyakan posisi karena Nyonya Lisha sudah kembali. Aku tidak ingin menjadi penghalang Nyonya Lisha kembali ke sisimu. Jika dengan menyudahi hubungan ini bisa menyatukan kalian kembali, aku akan melakukannya. Aku tau berapa menderitanya kalian selama ini karena ulah Maria,"

__ADS_1


"Jadi kau menceraikan papaku?" selidik Al.


" Al, jangan memojokkannya. Bersikaplah dewasa sedikit," tegur Baron.


"Mengetahui ia tidak pernah meninggalkanku dan semua yang terjadi karena rekayasa Maria membuat aku semakin bersalah pada Lisha. Aku ingin mengembalikan kebahagiaan yang menjadi miliknya meskipun aku harus kehilangan semuanya. Aku sangat mencintainya dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua yang dia berikan padaku," ucap Baron sedih.


"Aku tahu, Bang. Jika Abang ingin kembali padanya aku ikhlas. Biar menjadi rahasia kita jika itu akan menimbulkan luka untuk Lisha. Aku juga merasa bersalah telah mengambil tugasnya, berada disisimu untuk waktu yang sekian lama," Ujar Nora lagi.


"Aku pikir baiknya begitu. Mama tidak perlu tau hubungan ini. Karena aku sangat menghawatirkan perasaannya. Aku sangat berterima kasih jika kau bersikap seperti ini," ucap Al pada Lisha.


"Aku sadar diri, siapa Aku. Jangan salahkan papamu, tidak semua laki-laki bisa bertahan hidup sendiri. Jika takdir menghendaki kita semua harus kembali pada posisi masing-masing, aku bisa menerimanya dengan iklas. Kembalilah ke sisi Nyonya Lisha dengan begitu aku merasa lega," Nora mengungkapkan itu dengan tulus.


"Terimakasih, Nora. Kau sudah membantuku menyelesaikan masalahku," ucap Baron begitu bersyukur.


Al juga ikut lega, tujuannya untuk menyelesaikan masalah Nora dan Papanya bisa berjalan sesuai rencana. Ia ingin yang terbaik untuk Mamanya.


Ketika Lisha memutuskan untuk menerima papanya, ia juga harus menjamin bahwa mamanya tidak akan terluka. Urusan papa dengan wanita-wanitanya bukan lagi hanya urusan Papa, tapi akan menjadi urusan yang harus ia selesaikannya.


🎀🎀🎀🎀🎀


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya

__ADS_1


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2