Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Ada Apa Denganmu?


__ADS_3

"Sudah tidur?" tanya Al melalui pesan WA. Setelah beberapa saat menunggu, terlihat Ken online dan sedang mengetik sesuatu.


"Ken?" panggil Al lagi


"Beberapa kali online dan terlihat mengetik sesuatu kok ga bales pesan aku. Maksudnya apa, nih?" gerutu Al mulai kesal.


"Awas ya!" umpatnya lagi.


Akhirnya Al melakukan vidio call ke nomer tersebut. Cukup lama, tetap tidak diangkat juga.


"Kenapa lagi? Kenapa ga diangkat juga?" tanya Al antara makin panik dan kesal.


Al mengingat-ingat sesuatu. Seharian ini rasanya ia tidak berbuat sesuatu yang menyinggung perasaan gadis itu. Ia juga belum menghubunginya lagi setelah pagi tadi ia mengantarkan Ken hingga naik ojol.


"Apa dia ngambek aku tidak berkabar seharian ini? Tapi rasanya ga mungkin deh? Ga di hubungi seminggu pun rasanya dia ga bakal cari tau?" Gumam Al masih menerka--nerka apa yang sedang terjadi pada Ken.


Al melihat jam sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Akhirnya ia memilih untuk istirahat. Setelah mematikan ponselnya dan meletakkan HP-nya di atas nakas, Ia merebahkan tubuhnya di kasur.


Sebelum terpejam, Al masih bisa membayangkan dengan jelas saat ia mengecup pipi Ken waktu itu. Pengalaman pertamanya melakukan itu pada wanita yang dicintainya dan membutuhkan cukup keberanian untuk melakukannya.


"Ken..... Aku kangen!" bisiknya lirih sebelum matanya menyipit dan terpejam dengan sendirinya. Senyum bahagia begitu terpancar dari wajahnya.


Seharian ini tenaga dan pikirannya benar- benar terkuras. Setelah mengunjungi Maria di rumahnya, Al harus mengantarkan Lisha kembali ke klinik. Al minta Mamanya untuk tinggal bersamanya, jadi Lisha harus menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu di yayasan itu sembari menunggu penggantinya.


Lisha minta waktu satu Minggu untuk membereskan pekerjaan, untuk sementara ia akan tinggal di yayasan. Al tidak keberatan, toh ia juga bisa menjenguk ibunya kapanpun ia mau. Begitu juga Lisha, ia bisa datang ke apartemennya karena jaraknya yang sangat dekat.


******


Usai subuh, Al sudah minta Bram untuk datang ke rumahnya secepat mungkin. Ia khawatir dengan kondisi Ken. Sejak semalam tindak bisa dihubungi.


"Mampir dulu ke rumah sebelum kau ke sini. Tolong, ya!" Pinta Al melalui sambungan telepon.


"Kau bisa telpon pak Parman. Telpon rumah juga ada kan? Setiap bulan aku masih bayar tagihannya walau tidak pernah di pakai," elak Bram.


"Jadi ga mau nih?"


" Bukan begitu bro, aku harus ke Bandung pagi ini. Stockies kita ga kirim barang beberapa hari ini. Kasian pelanggan kita, mereka datang kita ga punya koleksi yang baru," Bram memberi alasan.


"Ya udahlah, terus kapan mobil gua di anter?" tanya Al lagi. Beberapa hari yang lalu Al meminta Bram untuk membeli mobil untuknya.


"Siang atau sore. Langsung ke apartemen mu,"


"Ok, hati-hati ya. Selesai kalo da selesai langsung ke sini,"


"Iya, gua da kerja sama kompeni aja. Udah keluar kota nyetir sendiri masih di suruh ke apartemen lagi, nemui majikan," gerutu Bram.


"Ga usah ngomel, nanti ada bonus akhir bulan," seru Al untuk menghibur sahabatnya itu.


"Paling cuma bisa buat nonton midnight," keluh Bram.


"Enak aja, emang aku sekejam itu. Tapi kalau maunya begitu ya ga apa. Aku sangat berterima kasih,"


"Eh, jangan. Iya deh.....begitu selesai aku langsung ke apartemen,"


"Good," puji Al. Ia tersenyum geli ketika mendengar Bram menarik nafas beratnya. Suara itu terdengar begitu jelas dari hp yang masih dibiarkannya tetap hidup.


"Dasar," gerutu Al lagi. Ia melempar hp ke atas tempat tidur. Melangkah ke arah kamar mandi, membersihkan tubuhnya.


Hari ini ia tidak berencana ke manapun, akan diam di apartemen sembari trading karena market sedang bagus. Sejak tinggal di sini ia tidak bisa trading dengan maksimal. Banyak urusan yang harus diselesaikan, terutama urusannya dengan Maria.


******


[ Menjelang Sore]


Ken berjalan dengan santai meninggalkan kampus. Ia keluar dengan wajah sumringahnya. Perbaikan yang ia serahkan ke dosen pembimbingnya dua hari yang lalu sudah tidak ada perbaikan lagi, artinya ia sudah bisa mendaftar ujian.


Karena keteledorannya, hari ini ia terpaksa harus naik angkotan umum, la kehilangan HP-nya kemaren saat sedang menunggu ojol yang menjemputnya, ia memantau aplikasi di pinggir jalan. Akibatnya hp yang ada ditangannya itu di samber copet yang sudah mengintainya.

__ADS_1


Meskipun Ken sudah teriak sekeras-kerasnya namun tidak ada yang bisa menolongnya. Motor yang dikendarai copet itu sudah menghilang, melaju dengan kencang.


"Sudah jam 3, mampir ke apartemennya ga ya?" tanya Ken dalam hati.


Ken berdiri di halte depan kampus A. Ia menyapukan pandangannya ke sekitar mencari ojek pangkalan yang biasanya sering mangkal di sekitar wilayah ini.


"Tumben kok pada ga ada, ya?" keluhnya. Ken duduk di bangku. Kakinya yang panjang ia luruskan ke depan, pandangannya ia lemparkan pada ujung kakinya.


"Nungguin apa?" tanya seseorang. Ken bisa menebak pemilik suara itu tanpa harus melihat ke sumber suara.


"Ojek," sahut Ken. Tatapannya masih pada sepasang kaki yang berdiri di depannya. Menatap sendal jepit yang biasa dikenakan Al.


"Aku kira dengan muncul tiba-tiba begini bakal kasih surprise. Ternyata salah," ujar Al dengan nada agak kecewa.


"Ih, tanpa harus melihat wajahmu aku juga udah bisa ngenali," Ken akhirnya memalingkan wajahnya ke arah Al. Ia bisa melihat raut kecewa dari wajah pria yang berdiri di depannya itu.


"Dari jarak seratus meter, aku sudah mendengar detak jantungmu yang tidak beraturan," canda Ken. Ia sengaja mencibir dan tersenyum menggoda.


"Boong banget. Kenapa tidak angkat telpon dari semalem?" Todong Al.


"HP-nya di jampret orang kemaren. Di sini ini waktu lagi nunggu ojol,"


" Kok bisa?"


"Iya, aku lagi mantau Abang ojolnya udah sampe mana dari aplikasi, eh ada yang main samber aja. Karena lagi sepi, teriak juga percuma. Jampretnya keburu kabur duluan," jelas Ken.


"Tapi kau tidak apa-apa, kan?" selidik Al dengan mimik khawatir.


"Ga lah, nih masih sehat walafiat. Seger bugar,"


"Ga apa HP-nya diambil yang penting kamu ga apa-apa,"


"Ayo,"


"Kemana?" tanya Ken bingung


"Pulang. Dikira aku mau ngapain ke sini?" Sahut Al kesal.


Memahami apa yang ada di kepala gadis itu, memberi kode pada Ken untuk segera naik ke mobil barunya itu.


"Kau bawa mobil?" tanya Ken kurang yakin.


"Iya, dikira aku jalan kaki ke sini?"


"Biasanya kan naik taxi? Makanya aku tanya begitu?" Ken buru-buru meralat ucapannya.


"Ayo," ajaknya lagi.


"Aku udah lama banget ga bawa mobil jadi muter-muter sekitar sini buat ngelancarin,"


"Hah? Jadi kamu belum mahir?" tanya Ken kaget.


"Bukannya ga mahir, tapi udah 7 tahun lebih ga pegang kemudi. Rasanya kaku,"


"Sini, biar aku yang bawa"


"Emang bisa?"


"Jangan ngeremehin. Biar dikata ga punya mobil aku juga bisa mengemudi," sahut Ken bangga.


Al memberikan kunci mobilnya pada Ken. Begitu pintu terbuka, ia langsung mengambil posisi di samping sopir.


"Sabuk!" Al mengingatkan.


"Iya, ini mau dipasang. Ok, kita jalan ya" setelah menyalakan mesin mobilnya, Ken segera meluncur. Pelan, hanya 40 saja, meskipun sepi namun banyak tikungan. Sewaktu - waktu ada kendaraan yang muncul tiba-tiba.


"Pelan aja, ini masih area kampus!" tegur Al.

__ADS_1


"Ini juga udah pelan. Cuma 40!"


"Kurangi, emang kita di jalan raya apa?"


Al mengingatkan Ken karena beberapa kali Ken terpaksa harus ngerem mendadak karena berpapasan dengan kendaraan lain yang tiba-tiba muncul di depannya.


"Kita di jalan utama, harusnya mereka kalau masuk lihat kanan kiri dulu dong. Main nyelonong aja," oceh Ken.


"Ternyata kasar juga kalo nyetir. Biasa bawa container ya?"


"Ga, biasa bawa kereta," sahut Ken sekenannya.


"Jangan main-main, awas kalo lecet. Ini mobil baru di anter," oceh Al.


"Oh, ini mobil kamu. Baru belinya? Pantes masih bau pabrik. Joknya juga masih dibungkus plastik," ledek Ken sambil menahan senyum.


"Belum sempat dibuka, begitu dateng aku langsung ke sini!"


"Oh, terharu sekali," ucap Ken merasa di perhatikan.


"Buat belajar nyetir bukan jemput kamu. Jan sekalian aja aku bilang,"


"Ken..." Al tersentak begitu Ken ngerem mendadak.


"Ada kucing lewat," sahut Ken enteng. Ia mendongakkan kepalanya sesaat untuk memastikan kucing yang tiba-tiba melintas sudah benar-bebar lewat.


"Hati-hati ku bilang,"


"Test drive itu harus di coba dengan segala situasi. Kalau pelan-pelan susah kelihatan ini mobil lemaknya dimana? Toh masih ada ansuransinya ini," sahut Ken lagi.


"Ken, kamu bener-bener ya. Makin dekat, makin banyak jeleknya yang ketauan,"


"Ha..ha....dari dulu ga ada yang diumpet- umpetin. Ya begini aja," canda Ken tanpa mengubris Al yang terlihat begitu khawatir.


"Ken!" Teriak Al begitu Ken menerobos lampu merah.


"Tuh, masih dapet. Ga usah khawatir. Kalo nungguin kelamaan. Di sini lampu merahnya paling lama,"


"Bener-bener kamu, ya!" Al sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Belum juga seratus meter mobil yang dikemudikan Ken melewati perempatan, tiba- tiba ada polisi yang sedang razia. Meskipun tidak semua mobil diberhentikan, namun mobil mereka diminta untuk menepi. Ken segera membuka kaca mobilnya dan mencoba tersenyum pada polantas yang sudah mendekatinya.


"Selamat sore!" Setelah memberi hormat dan memberi salam memberitahukan kesalahan yang diperbuat oleh Ken.


"Maaf mbak, anda sudah menerobos lampu merah dan berbelok arah ditempat yang dilarang," ujar polisi yang bernama Andre itu dengan tenang.


"Maaf pak, saya terus melaju karena diujung batas marka lampunya masih hijau," Ken mencoba membela diri.


"Iya, tapi anda sudah mengambil arah yang salah. Tidak boleh langsung belok ke sini ambil lurus dulu. Putaran yang di depan sana baru bisa belok,"


"Iya, Pak. Maafkan teman saya. Ia belum faham dengan lokasi sini," Al mencoba menengahi.


"Tapi ada rambu yang terpasang. Putaran ini khusus untuk kendaraan dari arah sini," polisi itu kembali memberikan penjelasan.


"Iya, pak. Maaf," sahut Al kembali minta maaf.


Al maupun Ken hanya bisa pasrah ketika diminta kelengkapan kendaraannya.


**********


Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.


VOTE-nya tetep diharapkan


LIKE - nya sih hanya bisa satu kali/bab


KOMENTAR-nya bisa ratusan 🙈🙈

__ADS_1


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok biar nih Novel ga sepi kayak kuburan 🤗


Happy reading to semuanya 🤗


__ADS_2