Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Ngambek?


__ADS_3

"Sharelock," bunyi pesan WA dari Al. Ken melihat sesaat kemudian menutup kembali HP. Ia tidak berniat membalas pesan itu.


"Sharelock. Buruan!" pesan dari orang yang sama. Kali lebih ke nada perintah.


"Maksa," ucap Ken pada dirinya sendiri. Ia kembali menutup HPnya.


Selang beberapa saat kemudian, Al minta panggilan Video. Ken makin jengkel karena Al kerap memaksa jika keinginan belum terpenuhi.


"Mau jawab pesan atau mau dipecat!" ancam Al disertai dengan emoticon marah.


"Bisanya cuma maksa, ngancam!" keluh Ken.


Ken masih antri di loket pembayaran, ia tidak mau direpotkan dengan ulah Al yang makin menjengkelkan. Akhirnya ia memilih untuk meluruskan permintaan Al. Ken mengirimkan lokasi keberadaannya saat ini melalui pesan WA.


Tidak ada tanggapan atau ucapan terimakasih. Pesan itu sudah centang dua dan berubah warna menjadi biru.


[ Beberapa menit kemudian ]


Al sudah tiba di kampus, ia melihat Ken sedang menunggu antrian di loket administrasi. Entah masih berapa nomer lagi tiba gilirannya, yang jelas ia masih terlihat santai. Duduk setengah selonjor sembari menatap ke arah langit-langit gedung yang megah itu.


"Sepagi ini sudah ngelamun," ucap Al dalam hati.


Ia melangkah pelan. Menghampiri gadisnya dan berdiri tepat di depan Ken. Al memasang senyum termanisnya. Ia tidak bisa duduk di samping Ken karena samping kiri dan kanan kursi yang ada di situ sudah ditempati.


Ken melihat sekilas ke arah Al, tidak lama ia membuang muka. Ia masih kesal sudah ditinggal begitu saja di pinggir jalan.


Al hanya tersenyum, ia tahu kalau Ken marah padanya. Namun ia tidak mau menanyakan hal itu, selain mereka berada di tempat yang ramai, Al merasa lucu melihat wajah Ken yang ditekuk seperti itu


Karena merasa dicueki, Al memilih pergi. Ken mengikuti kemana perginya Al dari sudut matanya. Al duduk di bangku yang masih kosong. Kira-kira berjarak sekitar 50 meter dari tempat duduk Ken. Ia duduk dengan tenang, kedua tangannya dilipat di atas dada.


"Ah, bukannya minta maaf. Malah pergi. Dasar manusia tinggi hati," gerutu Ken yang terus mengamati Al dari ujung matanya.


Hati Ken makin panas ketika ada mahasiswa yang duduk di samping Al dan mengajak pria itu ngobrol. Meskipun terkesan sedikit acuh, Al tetap melayani wanita itu. Apalagi begitu melihat wanita itu tertawa, Ken makin panas.


Ken sadar, Al punya wajah yang tampan dengan penampilan yang keren. Cowok model begini, jika dibiarkan di kampus dalam beberapa waktu saja, sudah pasti di samber cewek-cewek genit. Cewek pemburu pria tampan dan mapan.


"Cewek genit diladeni. Apa dia sengaja begitu biar aku cemburu," pikir Ken.


Meskipun Ken sadar, Al bisa jadi sengaja melayani obrolan wanita itu agar menarik perhatiannya, namun ia cukup was-was. Bagaimana jika perempuan itu memang benar-benar tertarik dengan Al. Apalagi si cewek itu terlihat cukup agresif. Sialnya lagi, Al mau melayani obrolannya.

__ADS_1


"Ga bisa begini. Kalau dibiarkan, bisa-bisa dia dibawa cewek itu," Ken makin kesal melihat keakraban mereka.


Jiwa posesif tiba-tiba muncul. Ia tidak rela jika baru beberapa hari status jomblo yang sudah berakar pada dirinya tanggal, harus kembali lagi karena Al di gebet cewek itu. Cewek yang terlihat lebih cantik dan modis darinya.


Ken yang sedang berdiri di loket pembayaran, terus mengawasi gerak-gerik mereka. Hingga ia ditegur oleh petugas karena keliru membubuhkan tanda tangan. Seharusnya kolom tanda tangan kaprodi malah ia tanda tangani. Akhirnya Ken harus menunggu petugas itu ngeprint ulang formulirnya.


"Fokus dong, mbak. Masa nama jelas ada di bawah kolom tanda tangan sampe ga kebaca. Kan bikin repot aja," gerutu pria yang berusia sekitar 30 tahun itu.


"Iya, Pak. Maaf. Saya lupa bawa kaca mata," sahut Ken terpaksa berbohong karena menahan malu.


"Kan posisinya juga beda. Udah merasa jadi pejabat aja, mau tanda tangan di sisi kiri," ucap pria itu dongkol.


"Iya, Pak. Maaf," ucap Ken lagi. Ia benar-benar malu karena mahasiswa yang ada di belakangnya ikut menahan senyum melihat ekpresi petugas administrasi itu.


"Apa tanpa kaca mata aku juga terlihat tua. Dari tadi terus menerus kau panggil aku bapak," protes pria. Matanya mendelik ke arah Ken.


Ken harus berdiri beberapa saat lagi di depan loket itu, menunggu petugas loket mengeprint bukti pembayaran uang ujian miliknya. Matanya terus menatap ke arah Al dan semakin panas melihat mereka.


Begitu urusannya selesai, dengan memasang wajah cemberut, ia menghampiri Al. Berdiri di depan pria itu tanpa bicara apapun


"Udah selesai?" tanya Al. Ken belum sempat menjawab, wanita yang ada di sebelah Al malah bertanya pada Al. Satu pertanyaan yang cukup membakar pendengaran Ken.


"Oh ini adeknya, yang lagi mau daftar ujian?" tanya Gadis yang ada di samping Al sembari menatap Ken dan mengembangkan senyum ramahnya.


"Sialan. Berarti dia bilang ke cewek itu kalau dia lagi nungguin adeknya daftar ujian? Keterlaluan sekali dia," gerutu Ken makin kesal.


"Kak, kita harus buru-buru pulang. Ibu kan mau ngenalin kakak sama anak perempuan temannya," ajak Ken dengan bahasa kebohongan.


Al ingin tertawa mendengar kalimat yang diucapkan Ken. Ia tahu Ken cemburu dan itu membuatnya senang.


"Iya, aku ingat. Kalau sudah selesai kita pulang," sahut Al


"Kok hari gini masih mau dijodohin si, yang rela melemparkan dirinya padamu juga banyak," canda perempuan itu dengan genit.


"He..he....," Al hanya tersenyum menyeringai.


"Kamu fakultas apa? Kok kita ga pernah ketemu di kampus, ya?" tanya wanita itu sok akrab.


"Akutansi," sahut Ken

__ADS_1


"Duh kita satu jurusan. Seneng ketemu sama kamu. Tapi kenapa tidak dari dulu?" oceh cewek itu lagi.


"Iya, ya. Aku mah sudah semester banyak. Udah ga ada kuliah kagi," sahut Ken ketus.


Al merasa lucu. Ia begitu menikmati ekpresi Ken yang berusaha menjawab setiap pertanyaan mahasiswa yang ada di sampingnya. Makin jelas, Ken cemburu pada gadis itu.


"Boleh minta WA-nya. Aku juga mau daftar ujian. Biar bisa sharing,"


"WA aku atau WA kakakku?" Tembak Ken yang membuat muka gadis itu merah saat itu juga.


"Keduanya juga boleh,"


"Udah, yuk katanya buru-buru," Al menggandeng tangan Ken dan membawa pergi dari hadapan perempuan yang belum ia kenal namanya.


"WA-nya?" tanya gadis itu.


"Besok -besok aku akan sering ke sini nganterin dia. Kalau jodoh pasti ketemu," jawab Al buru-buru meninggalkan tempat itu.


"Jangan kenceng-kenceng. Sakit" Ken berusaha melepas tangan Al karena pegangan Al dirasa terlalu kencang.


"Buruan, aku khawatir kau akan menelan Wanita itu hidup-hidup,"


"Enak aja. Emang aku terlihat garang?"


"Enggak, tapi aku bisa melihat kalau kau begitu cemburu padanya," sahut Al geli.


"Jangan tertawa,"


"Ga, senang ternyata kau begitu takut kalau aku di gaet orang," ucap Al begitu pedenya


🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya

__ADS_1


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2