Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Kencan Pertama


__ADS_3

Entah alasan apa yang membuat Al jadi cowok pertama yang suka sama Ken. Meskipun secara fisik cukup menarik, namun penampilan dan status sosialnya menjadikan Ken cukup minder dalam pergaulan.


Sebagai mahasiswa, ia bisa dibilang mahasiswa yang paling parah dalam hal penampilan. Bagaimana tidak, baju yang ia kenakan sampai bisa diingat oleh teman-temannya. Itu -itu saja. Sepatu dan tasnya juga cuma satu, baru bisa dicuci jakau libur kuliah. Tidak heran jika tidak ada kaum Adam yang dekat dengannya, menjadikan dia sebagai teman spesialnya.


Ken tidak pusing akan hal itu, jika ada yang berteman dengannya Alhamdulillah, ga juga ga masalah. Tujuannya ke kampus hanya untuk kuliah untuk memperbaiki masa depannya.


Sejak menggantikan ibunya mereka tinggal satu atap karena ikatan majikan dan pembantu pengganti, keduanya jadi sering berkomunikasi. Bahkan prilaku Al yang cenderung tertutup bisa dikatakan begitu manis pada gadis itu meskipun tutur katanya kerap menjengkelkan.


Seperti siang ini, mereka sudah janjian dan berencana jalan. Memenuhi permintaan Ken yang ingin sekali diajak kencan layaknya orang pacaran. Mereka ketemuan di salah satu rumah makan yang sedang fenomenal di di kota Bogor.


Ken mengenakan kaus putih lengan panjang dan jeans warna biru yang sudah belel warnanya. Tidak ketinggalan, ia menggendong tas rangsel di pundaknya. Tas yang tidak kalah bututnya dengan Jean yang di kenakannya sore itu.


"Dia?" Ken masih menebak-nebak bagaimana penampilan Al sore ini. Apakah masih setia dengan kaos oblong dan celana pendeknya atau berpenampilan rapi layaknya orang yang ingin menemui sang kekasih.


Ken berdiri di simpang jalan, bersandar pada tembok restoran tempat mereka janjian. Menunggu dengan gelisah. Rasa gugup tergambar di wajahnya. Ia belum masuk ke restoran karena belum melihat mobil Al terparkir di sana.


Saat Ken membuka ponselnya, langkah kaki perlahan menghampirinya. Al berjalan menuju ke arahnya dengan penampilan yang sangat berbeda. Ia mengenakan kemeja putih yang digulung hingga setengah lengan dipadu celana panjang navy. Sendal jepit yang biasa ia kenakan berganti Skechers warna biru. Al terlihat begitu tampan dan elegant.


Satu senyuman menyapa saat ia sudah berdiri tepat di depan Ken, senyum yang mampu mengguncangkan jantungnya.


"Udah lama" sapa pria itu.


"Lumayan sih" Ken menjawab sambil menggaruk kepala. Ia merasa tidak begitu percaya diri harus berhadapan dengan laki-laki itu. Dipandanginya Al dari atas hingga ke bawah.


"Aku tidak melihat mobilmu, jadi aku tunggu di sini aja," ucap Ken memberi alasan.


"Tuh, parkir di situ," Al menunjuk ke arah mobilnya yang di parkir di pinggir jalan dengan memonyongkan bibirnya.


"Oh," gumam Ken setelah ia melihat kendaraan yang dimaksud.


"Kenapa jadi serba salah begini? bisiknya lagi. Apa karena ia tidak percaya diri dengan penampilannya atau jantungnya yang makin berdengup. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Ken bisa mencium aroma tubuh Al yang begitu maskulin.


"Apa begini rasanya anak muda yang melakukan kencan? Akhirnya... Impian itu terwujud. Yeahh!!," Pekik Ken begitu senang. Tentu saja hanya dia sendiri yang bisa mendengar.


"Mau di sini aja," ujar Al yang menyadarkan Ken dari lamunannya.


"He...he.....ga diajak masuk,sih,"


"Dari tadi bengong aja. Kayak ga pernah liat cowok ganteng aja," ujar Al yang sudah menggandeng tangan Ken menuju ke dalam. Ken tak mau mendebat, hati kecilnya juga mengakui jika orang yang menggandeng tangannya saat itu memang ganteng dan kharismatik.


Perlahan mereka berjalan menelusuri barisan meja yang ada di lantai bawah. Sudah banyak pengunjung yang duduk dan menikmati hidangan makan malam mereka.


Al berjalan sambil menanyakan hal selayaknya petugas sensus. Dari rumah jam berapa, sudah daftar ujian belum? berapa lama nunggu prosesnya? Cerewet sekali, ia begitu ingin tahu apa saja yang dikerjakan keseharian ini. Pertanyaan receh yang tidak penting untuk dibahas saat kencan begini.


Mereka akhirnya sampai di sebuah meja yang sudah dipesan lebih dulu dipesan oleh Al. Meja dengan kapasitas dua orang yang ada di lantai dua. Sofa berbentuk setengah lingkaran dengan meja bundar di depannya.


Mereka duduk bersebelahan, seolah tidak ingin jauh dari Ken, Al merapatkan tubuhnya hingga wanita itu makin leluasa memanjakan penciuman dengan aroma parfum yang yang dipakai Al.


"Makan apa?" tanya Ken tidak sabar. Al hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu.


"Sudah dipesan, tunggu aja. Sebentar juga datang," ujar Al dengan santai. Tatapan mata mereka bertemu, hanya beberapa detik tapi mampu membekukan dunia. Mereka hanya saling memandang, tersenyum dan akhirnya membuang muka ketika pelayan yang membawa pesanan sudah datang.


Banana Chocolate Smoothies, minuman yang sama, terhidang di depan mereka.


"Kompak sekali," ucap Ken


"Ini minuman andalan di sini, konon rasanya endos banget. Cobain deh," Al mengambil cangkir yang ada di depannya dan menyodorkannya ke arah Ken.

__ADS_1


"Terimakasih," sahut Ken. Tangannya mengambil cangkir yang diberikan Al padanya. Perlahan ia seruput minuman itu.


Rasanya asing karena pada dasarnya ia memang tidak pernah makan di restoran, namun rasanya menang benar-benar enak.


"Iya, endos banget. Ini kayaknya bukan minuman, tapi lebih tepat di sebut bubur. Kental banget," seru Ken begitu ia sudah meneguk minuman yang kental itu.


"Kan ada sendok, ga di seruput begitu," Al membersihkan ujung bibir Ken. Membersihkan cairan kental yann tertinggal. Mesra sekali, seperti kencan yang diharapkan Ken. Kencan layaknya film-film yang ia lihat di tv.


"Ga bilang, sih. Aku ga tau," Ken berusaha mencari pembenaran karena malu, terlihat norak di depan Al.


"Ga apa, biar ada alasan menyentuh bibirmu," sahut Al menggoda.


"Ih, apaan sih," Ken jadi tertunduk mendengar ucapan pria itu. Apalagi Al memandanginya dengan intens.


Butuh waktu berjam-jam untuk mengabiskan secangkir minuman dengan tambahan potongan pisang dan coklat chif di atasnya. Minuman itu sangat manis untuk ukuran lidah Ken.


Mereka lebih banyak diam dan saling melempar ketika pandangan mereka saling bertemu. Entah mengapa, hingga steak daging yang menjadi pilihan makan malam mereka itu habis, keduanya diam tanpa kata. Tidak ada cerita.


"Suka?" tanya Al ketika ia sudah menelan suapan terakhir.


"Suka," sahut Ken pelan dan malu-malu.


"Jadi mulai sekarang kita udah pacaran?" tanya Al lagi. Ia mengarahkan pandangannya ke arah Ken untuk mengetahui ekpresi gadis itu.


"Belum,"


"Kok? Kan udah kencan" protes Al. Bola matanya membesar seketika.


"Aku mau nonton," rengek Ken manja.


"Nonton YouTube?"


""Ok......ok. Selesai ini kita nonton," sahut Al pasti.


"Habiskan dulu minumnya. Ga usah buru-buru. Masih banyak waktu," ucap Al.


"Emang filmnya jam berapa?" tanya Ken.


"Ada yang jam 9 atau midnight. Terserah mau yang mana. Aku ikut maunya bidadariku saja,"


"Jam 9 aja,"


"Sepertinya ga keburu, malam Minggu jalanan macet. Sekarang aja udah jam 8 " ujar Al.


"Midnight juga boleh,"


"Ok, kita akan ke sana, yang penting kau senang,"


"Terimakasih," sahut Ken malu-malu. Ia begitu senang, kali ini Al begitu memanjakan dirinya.


Al menatap layar televisi yang menyiarkan acara bola, sesekali iya menampakkan wajah kesal karena kesalahan salah satu pemain yang menyianyiakan kesempatan untuk mencetak gol.


"Sial," teriak Al ketika ada tendangan yang meleset dari gawang.


Tidak jauh dari tempat mereka, sekelompok pria duduk dalam satu meja dengan kapasitas sekitar 10 orang. Tampanya mereja sengaja mabar sembari menikmati hidangan di restoran ini.


"Aku ke toilet dulu" pamit Ken.

__ADS_1


"Iya," sahut Al tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.


Ken meninggalkan Al yang tampak lebih asik dengan pertandingan bola daripada kehadiran. Ken hanya bisa menghela nafaa lembut. Tidak ada kencan yang seperti ini. Pusat perhatian pasangannya beralih ke televisi.


Hingga Ken kembali lagi ke mejanya, Al masih pada posisinya semula.


"Bentar ya, bolanya lagi seru" ujar Al begitu Ken sudah duduk lagi di sampingnya.


"Pindah aja ke situ. Gabung dengan mereka kan jadi seru," sindir Ken yang makin tidak nyaman dengan kondisi kencannya yang mendadak ambyar.


"Sialll... " seru Al lagi tanpa menghiraukan ucapan Ken.


"Iya nich, sial banget," gumam Ken menimpali. Ia bicara untuk dirinya sendiri.


"Udah?" tanya Al


"Udah apanya?" tanya Ken bingung.


"Makannya!"


"Udah,"


"Nih, bayar ke kasir," Al menyodorkan dompetnya yang baru saja ia keluarkan dari saku celananya.


"Hah....," Gumam Ken lagi. Mana ada kencan seperti ini di TV. Yang ada sang pria memanggil pelayan, minta bon dan mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya, memberi tips pada pelayan. Bukan seperti ini!


"Menyebalkan. Baru juga dipuji-puji," gerutu Ken makin kesal.


Ken berjalan meninggalkan tempat itu. Seorang pelayan menghampirinya sebelum ia sampai di meja kasir.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu ramah.


"Mau bayar," ucap Ken dengan nada sedikit jengkel.


"Oh, meja berapa kak? Tunggu ditempat juga bisa, biar ke sana,"


"Buru-buru soalnya," sahut Ken bohong


"Bisa ke kasir kalau begitu. Di sebelah sini, Kak," pria itu menunjuk ke arah kasir.


"Terimakasih," Ken berusaha ramah meskipun hatinya jengkel.


Usai transaksi di kasir, Ken masih harus menunggu cukup lama. Bahkan Al memesan minuman kembali karena tenggorokan mulai kering. Ken jadi malu begitu yang membawakan minuman itu adalah pelayanan yang menyapanya tadi.


"Udah boong buru-buru, ternyata masih betah di sini. Pake tambahan minuman lagi," keluh Ken makin kesal. Ken hanya bisa tersenyum menyeringai ketika pelayan itu memandang sekilas ke arahnya.


*********


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.

__ADS_1


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2