Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Well Come, Ma!


__ADS_3

Menjelang dhuzur, mobil yang dikemudikan Al sudah sampai di rumahnya. Lisha yang duduk di jok belakang langsung turun dari mobil, memandang takjub pada suasana rumah yang baru saja di masukinya.


Rumah yang besar dan sejuk serta pohon-pohon yang mengelilingi pekarangan rumah membuat udara di sekitarnya begitu segar untuk pernapasannya.


"Ini rumahmu, Al?" tanya Lisha tidak percaya.


"Iya, Ma. Aku membelinya sekitar tujuh tahun yang lalu. Bram yang menemukan lokasi ini untukku," jelas Al yang sudah berdiri di sisi mamanya.


Ken yang ikut dalam mobil itu segera turun, ia membawa tas Lisha untuk di bawa ke dalam.


"Saya bawa ke kamar, Ya?" Ucap Ken seolah minta izin pada Al.


"Iya, duluan aja. Maaf merepotkan, Mama masih ingin melihat-lihat pemandangan di sini," sahut Lisha buru-buru ketika Ken sudah menyeret koper yang berisi pakaiannya.


"Iya, Bu. Saya masuk duluan sekalian mau menyiapkan makan siang," pamit Ken lagi.


"Udah dibilang panggil mama aja, jangan ibu," protes Al mendengar Ken masih menyebut Mamanya dengan panggilan ibu.


"Sudah biarin, mungkin dia belum terbiasa. Nanti juga terbiasa dengan sendirinya," Lisha berusaha membela Ken. Ken hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya ke arah Lisha sebelum meninggal ibu dan anak itu.


Al membawa mamanya keliling rumah, termasuk ke gazebo yang menjadi spot favorit nya selama tujuh tahun terakhir. Beberapa pohon yang sedang berbuah membuat Lisha tak henti-hentinya berdecak kagum.


"Sehat banget tempat tinggalmu, sayang. Buah-buahan ini bisa jadi asupan vitamin yang sangat bagus untuk tubuh kita. Alami. Mateng di pohon," ujar Lisha yang melihat mangga, belimbing, sawo, jambu biji, tengah berbuah lebat.


"Iya, Ma. Buah-buahan nyaris tidak pernah beli. Sejak ada Ken hampir tiap hari ia membuat jus dari hasil panen,"


"Dia rajin ya?" Puji Lisha. Ia menatap wajah putranya itu untuk mengetahui reaksinya ketika ia memuji Ken.


"Iya, rajin dan tekun," sahut Al bangga.


"Mama lihat kau semakin dekat dengannya," selidik Lisha lagi. Sepanjang perjalanan ia memperhatikan dua sejoli itu. Al kerap mencuri pandang pada Ken yang duduk di jok belakang menemani Lisha, begitu sebaliknya.


"He..he....," Al hanya bisa tertawa menyeringai.


"Mama ikut senang jika kamu bahagia," ujar Lisha yang terus melangkah di sisi putranya mengamati suasana di sekitar rumah Al yang begitu rapi dan asri.


"Terimakasih, Ma!" ucap Al sembari merangkul bahu mamanya.


"Pak Parman, mamaku sudah datang," pekik Al ketika dari kejauhan ia melihat Pak Parman yang tengah memetik sawo di ujung pekarangan belakang.


Pak Parman yang mendengar teriakan itu langsung meletakkan galah yang ada di tangannya. Ia buru-buru menghampiri Al dan ibunya.


Al memperkenalkan Pak Parman pada Lisha. Beberapa menit mereka terlihat saling bertanya. Lisha yang selalu bersikap ramah, membuat pak Parman merasa sudah mengenal wanita itu sekian lama.


Setelah selesai keliling halaman, Al mengajak ibunya masuk ke dalam. Mereka duduk di ruang tengah karena Ken sudah menyiapkan jus jambu segar dan potongan mangga yang begitu menggoda iman.


"Sudah siap aja,baru beberapa menit masuk rumah," ujar Lisha takjub.

__ADS_1


"Jusnya sudah saya buat dari subuh tadi. Kalau mangga sudah disiapkan pak Parman di meja. Aku tinggal mengupasnya saja. Lagi musim Bu, yang sudah terlihat ranum lebih dulu di petik pak Parman. Kalau sampai jatuh bisa lembek karena terlalu tinggi. Kecuali yang pendek-pendek dibiarkan hingga jatuhan," sahut Ken menjelaskan.


"Tuh kan, dia rajin," puji Al.


"Iya, kau sudah mengatakan 999 kali hari ini," canda Lisha.


"Masa?" sahut Al tidak percaya.


"Itulah tanda-tanda orang yang lagi mabok. Ia sendiri butuh waktu yang lama untuk mengingat apa yang sudah diucapkannya," seru Lisha lagi.


"Aku ga pernah minum, Ma. Mana mungkin bisa mabok," sahut Al pura-pura tidak faham akan maksud ucapan mamanya.


"Kau mabuk bukan karena minuman keras tapi otakmu sudah diracuni virus asmara,"


"Hem......mungkin begitu," guman Al lirih.


"Iya, apa lagi jika tidak seperti itu," sahut Lisha


"Mama bisa aja,"


"Mama juga pernah muda, apa yang kalian alami. Aku lebih dulu merasakannya,"


"Iya, namanya juga senior,"


"Kau mau bilang mama sudah tua pake istilah senior segala,"


Anak dan ibu itu terus saja bercengkrama, Ken yang di tahan untuk duduk bersama mereka hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat candaan mereka, apalagi ketika membicarakannya. Ken masih merasa canggung dengan kehadiran Lisha, namun ia berusaha untuk bersikap sewajarnya.


Ken bisa melihat bagaimana bahagianya Al bisa berkumpul lagi dengan ibunya. Pria itu terlihat begitu manja. Ia tidak segan-segan memeluk dan mencium ibunya di depan Ken.


Saat pesanan makan siang datang, Ken mohon pamit untuk menyiapkan makanan itu di meja makan. Al memesan sate kiloan dan sop iga dari warung yang tidak jauh dari rumahnya.


Siang itu mereka makan bersama. Lisha juga mengajak Pak Parman makan bersama mereka di satu meja. Tidak ada batas antara majikan dan pembantu pada saat. Itu. Mereka menikmati makanan siangnya layaknya sebuah keluarga.


"Aku pesan sate dua kilo lagi. Nanti di bawa pulang untuk ibu dan anak-anak," ujar Al pada Pak Parman.


"Terimakasih, Den Bagus," sahut Pak Parman yang tengah menarik daging bakar dengan ujung giginya agar lepas dari tusuknya. Al sudah biasa seperti itu, sekali waktu ia membeli makanan yang cukup banyak untuk dirinya sendiri dan keluarga Pak Parman.


Buah-buahan di sini juga bisa Pak Parman petik dan di bawa pulang. Al tidak pernah mempermasalahkannya. Bahkan jika panennya berlimpah, Al meminta pak Parman untuk membagi-bagikannya pada warga sekitar.


"Pak, ambil ikan. Nanti malam buat dibakar. Biar mama ngerasain legitnya ikan yang baru ditangkap dari kolam," pinta Al.


"Siap, banyak kok yang sudah besar. Nanti diambilin,"


"Ada ikan juga, Al?" tanya Lisha


"Iya, yang di depan gazebo tadi ikan mas dan mujair, Ma. Semua yang pelihara Pak Parman,"

__ADS_1


"Oh, tadi ga keliatan,"


"Mungkin lagi ngumpet. Kan cuacanya panas,"


"Iya juga ya," sahut Lisha lagi.


"Oh yang biasa dibakar itu Ikan dari kolam?" tanya Ken.


"Iya, ibumu sering ambil dari situ kalau mau masak ikan bakar," sahut Pak Parman.


"Waktu itu saya malah beli di pasar. Repot sekali karena pasarnya jauh dan harus naik angkutan. Tau di kolam banyak, aku ngambil di situ aja," Ken mengingat bagaimana susahnya ia waktu itu ketika Al minta ikan bakar dan ia terpaksa mencarinya di pasar dekat stasiun yang sering ia lewati.


"Kamunya aja yang ga mau tanya, susah sendiri," Ledek Al.


"Iya, harusnya kau bilang. Aku kan ga tau,"


"Sudah lewat. Repotnya udah kapan tau ngapain di bahas lagi," sahut Al sekenannya saja.


"Al suka iseng, Ya? Kamu jangan begitu sayang. Bikin susah orang itu ga baik," tegur Lisha karena ia melihat Ken yang terlihat sedih.


"Ga, Ma. Shock terapi aja. Waktu itu dia kan masih baru," sahut Al merasa puas.


Ken hanya tertunduk mengetahui alasan Al yang telah membuatnya begitu repot waktu itu. Meskipun ingin sekali menusuk perut pria itu dengan tusukan sate namu Ken tidak bisa melakukannya. Ia malu, karena ada Pak Parman dan Bu Lisha di situ.


"Udah ga usah di dengerin tuh si Al, tar malem mama bantuin masak. Kita bikin ikan bakar yang lezat. Ambil beberapa ya Pak. Sekalian untuk di rumah,"


"Iya, bu. Kalau saya mah bisa kapan-kapan. Isi kolom itu lebih sering saya dan keluarga kok yang makan," sahut Pak Parman.


"Oh, ya udah. Berarti ambil secukupnya saja,"


"Jangan lupa, petik kemangi juga ya, Pak. Yang banyak," Al mengingatkan laki-laki yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri .


"Baik, tar saya pilih yang tidak ada buahnya," sahut pak Parman.


Satu kilo sate kambing dan sop yang terhidang di meja bersih tidak bersisa. Semua di santap dengan lahapnya oleh mereka berempat. Usai makan pak Parman buru-buru pulang, mengantarkan sate yang dibeli Al untuk keluarganya.


******


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.

__ADS_1


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2