
Usai sarapan dan membereskan piring kotor Ken segera pamit. Ia harus ke kampus karena akan mengambil hasil revisi dari pembimbing dua.
Lisha hanya bisa tersenyum dan memandang dari kejauhan ketika Al terus mengikuti Ken hingga ke pintu, bahkan ketika gadis itu sudah melangkah menuju ke lift.
"Mau kemana? tanya Ken bingung. Ia melihat Al mengikutinya.
"Nganterin," Jawabnya setengah berbisik karena ada beberapa orang yang sudah lebih dulu ada di dalam lift yang mereka masuki.
Ken mengeryitkan keningnya, dalam hati ia bertanya-tanya, mau nganterin pakai apa? Sedangkan Al tidak punya kendaraan apapun.
Al mengamit tubuh Ken agar lebih merapat ke arahnya ketika ada beberapa orang lagi yang masuk. "Sinian," bisik Al lembut. Tepat di telinga Ken.
Ken hanya diam, begitu juga ketika tangannya digenggam oleh Al. Hingga lift penuh terisi dan turun menuju ke lantai dasar, mereka tidak bicara apapun. Pandangan satu sama lain cukup mewakili perasaan mereka saat itu.
"Setelah beberapa hari ini aku mencarinya, akhirnya Mama ketemu. Ternyata ia tinggal di dekat sini," ujar Al ketika mereka sudah keluar dari lift dan berjalan ke arah lobby.
"Pak Komar, paman Bram yang menjemput dan mengantarnya semalam," tambah Al lagi.
"Aku ikut senang, akhirnya kau bisa bertemu mama kembali,"
"Aku akan minta mama tinggal di rumah, di sini cukup berbahaya untuknya. Jika para pengintai itu tahu mama ada bersamaku, mungkin saja mereka akan memisahkan kami lagi,"
"Iya, baikknya juga begitu," Ken hanya bisa mendukung rencana Al. Jujur saja ia sendiri bingung harus berbuat apa pada kondisi seperti ini.
"Kamu selesai jam berapa?" tanya Al lagi.
"Tergantung dosennya. Kalau dia stay di tempat paling ga sampe sejam. Tinggal ngambil skripsi yang udah di koreksi doang kok,"
"Langsung pulang, ya!" ujar Al setengah memerintah.
"La iya, emang mau ke mana?" sahut Ken heran.
"Kau cantik sekali, aku tidak iklas membiarkanmu pergi sendiri," guman Al lirih.
Ken bisa mendengar ucapan itu dengan jelas karena jarak mereka yang begitu dekat. Ia mengurungkan niatnya untuk mengorder ojol dan kembali menatap Al.
"He....he...Cantik ya? Aku juga merasa begitu. Biasanya kan pake blus yang harga 100 ribu dapet tiga. Bajunya aja udah cantik, makin cantik kalo aku yang pakai. Nyaman banget di kulit," canda Ken untuk menetralkan sikapnya yang merasa serba salah karena pujian itu.
"Emang ada blus 100 ribu dapet tiga?" tanya Al sembari mengeryitkan keningnya.
"Yang biasa aku pake. Baru dipake beberapa jam sudah keringetan dan bikin mau. He...he......," sahut Ken lagi sembari bercanda.
"Baju ini terlalu canti untukmu. Nyesel aku," gumam Al.
"Bajunya atau yang pake? Kalau aku ga boleh ke kampus pakai baju ini, aku pulang dulu. Ganti baju," ujarnya lagi pura-pura ngambek.
"Jangan. Ngaco aja, emang deket apa jaraknya," protes Al.
"Krukkkk," suara khas dari perut Ken terdengar samar-samar namun bisa terdengar oleh Al.
__ADS_1
"Kamu lapar?" Selidik nya. Suara itu membuat Al melupakan masalah penampilan Ken. Tidak ada jawaban dari gadis itu. Ken hanya mengangguk malu.
"Kenapa tadi ga ikut makan?" tanya Al bingung bercampur panik.
"Aku cuma bawa makanan cukup dua porsi. Tadinya aku nahan ga makan dirumah karena mau sarapan bareng sama kamu," Ken memberi alasan.
"Ya Tuhan. Kamu ini. Kenapa harus malu sama Mama, dia orangnya baik. Nasi uduk yang kupesan akhirnya juga ga ada yang makan," gerutu Al.
"Kan aku udah terlanjur bilang udah sarapan. Masa ada nasi uduk mau aku makan," sesal Ken.
"Ayo," Al menggandeng tangan Ken dan mengajak berjalan ke arah selatan.
"Kemana?" tanya Ken bingung.
"Kau harus sarapan sebelum pergi," ujar Al sambil terus berjalan.
Ken membiarkan Al menggagam tangannya, ia memilih diam dan mengikuti langkah pria yang berjalan di sampingnya itu.
"Jangan seperti ini lagi. Kalau terus menunda lapar, kau bisa sakit maq," oceh Al.
"Iya," sahut Ken. Perutnya yang lapar dan ingin segera diisi menyebabkan ia hanya bisa mengikuti kemauan pria itu.
Mereka berhenti di warung bubur ayam Jakarta yang ada di seberang apartemen. Warung yang tidak pernah sepi pengunjung baik pagi maupun malam hari.
"Bubur satu, lengkap ya!" Al langsung membuat pesanan begitu mereka sudah sampai di depan warung itu. Karena di dalam bangku sudah penuh, mereka duduk di bangku panjang yang ada di depan, di ruang terbuka.
"Habiskan makananmu, baru boleh pergi," perintah Al lagi.
Saat pesanannya sampai, Ken langsung menikmati bubur ayam yang masih panas itu dengan pelan. Al beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil minuman yang ada di lemari pendingin, di samping gerobak yang ada di sisi kiri toko itu. Ia mengambil dua botol air mineral yang belum terlalu dingin untuk dirinya dan Ken.
Saat ia membalikkan tubuhnya, Al menangkap wajah orang yang cukup dikenalnya tidak jauh dari tempat Ken menikmati sarapannya. Al memberikan satu botol minuman itu pada Ken. Ia minta Ken untuk menunggunya sebentar kemudian melangkah, menghampiri dua orang yang tengah minum kopi di kedai roti bakar. Kira-kira berjarak 5 toko dari warung bubur ayam.
"Cuma ngopi, ga sarapan?" tanya Al yang langsung duduk di depan dua orang itu.
Mendapati Al yang tiba-tiba duduk di depannya, membuat Ferdy dan temannya itu cukup gelagapan.
"Saya tidak akan marah atau berbuat kasar pada kalian karena saya tahu, kalian hanya menjalankan tugas. Tapi jika kalian berdua mau menyampaikan pesan saya pada Barent atau Maria, saya akan memberikan bonus yang cukup untuk menikmati akhir pekan dengan keluargamu," ujar Al sambil menatap kedua pria yang ada di depannya itu.
"Maksudnya apa?" tanya Ferdy pura-pura tidak mengerti dengan arah pembicaraan Al.
"Saya tahu kalian terus mengintai di sekitar sini karena perintah mereka. Saya bisa memastikan itu karena Baron, papa kandungku sudah dengan tegas bilang ke saya jika ia sudah menarik orang suruhan. Jadi, jika kalian mau bekerja sama, saya akan mengabaikan perasaan tidak nyaman selama dimata-matai kalian," ucap Al lagi. Kontan saja ucapannya kali ini cukup membuat Ferdy dan temannya merasa terjebak dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kalian tau, siapa yang berkuasa atas semuanya. Jika masih ingin menjadikan pekerjaan ini sebagai sumber dapur keluarga, jadi pikirkan baik-baik ucapan saya,"
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Ferdy
"Sampai pada Barent atau Maria jika aku mau bicara empat mata dengannya. Tolong berikan nomer ini padanya. Satu lagi, jangan pernah mengganggu orang-orang yang ada di sekitarku jika masih ingin ketemu dengan keluargamu," Al menyodorkan kertas yang sudah ditulis deretan angka. Kertas yang ia ambil dari daftar pesanan yang ada di meja itu.
"Tolong sampaikan ini. Semoga kita bisa bekerja sama untuk kedepannya," Al berangkat dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya pada Ferdy dan temannya itu.
__ADS_1
"Sampai ketemu lagi Bang Ferdy, aku tunggu kabar secepatnya," ucap Al lagi sebelum ia meninggalkan tempat itu.
Ferdy dan temannya hanya bisa saling pandang mengetahui Al bisa mengenali mereka, lebih-lebih Al bisa tahu namanya.
"Siapa?" tanya Ken begitu Al sudah ada di sampingnya.
"Tukang parkir di sini," sahut Al sekenanya.
"Oh, tapi dia suka ngojek juga loh. Waktu itu dia nawarin aku agar mau di antar. Lagi sepi penumpang katanya,"
"Oh, ya. Aku tau dia cuma jagain parkiran," Sahut Al. Dalam hatinya ia mengumpat Ferdy yang sudah berani bertindak terlalu jauh pada Ken.
"Aku minta anter dia aja daripada pesan ojol,"
"Jangan, pesan ojol aja. Jam segini dia kan harus kerja,"
"Oh, baiklah,"
"Sudah selesai makanya," tanya Al sembari memandang mangkuk bubur ayam yang sudah kosong.
"Sudah,"
"Cepet banget, ga di kunyah apa?"
"Bubur pake di kunyah, tinggal telen lah," protes Ken.
"Iya, maksudku kamu makan ga pake nafas lagi apa, dal satu kedip aja satu mangkok sudah pindah ke perut,"
"He...he....maaf, aku laper banget," sahut Ken malu-malu.
"Buruan ke kampus biar cepat selesai?" perintah Al.
"Ia, ini lagi order. Orangnya lagi menuju ke sini,"
"Pulang naik taxi aja, langsung ke rumah. Jangan mampir ke mana-mana," perintah Al lagi.
"Iya,"
Setelah membayar bubur, dan memastikan Ken sudah berangkat dengan ojol yang di pesannya, Al buru-buru meninggalkan tempat itu. Ia sempat melambaikan tangan ke arah Ferdy yang masih duduk manis menikmati kopinya.
Ferdy memaksakan diri untuk tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Al hingga tubuh pria itu menghilang di balik pagar apartemen.
******
Hay semuanya, maaf ya...
Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
__ADS_1
Happy reading to semuanya 🤗