
Karena Bu Ros baru saja tiba, nyonya Lisha membiarkan wanita itu untuk Istirahat di kamarnya setelah mereka selesai makan siang. Sementara Ken dan Lisha, gotong royong membereskan meja makan dan mencuci piring.
"Biar kami yang beres-beres. Ibu istirahat aja dulu," Lisha mencegah Bu Ros yang sudah mengangkat piring dari meja.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Di jalan juga sudah Istirahat kok,"
"Sudah, biarkan saya dan Ken yang membereskannya," cegah Nyonya Lisha lagi.
"Iya Bu, biar aku yang beres-beres. Ibu istirahat dulu di kamar," Ken ikut menimpali.
Bu Ros akhirnya mengalah. Ia mohon izin untuk masuk ke kamar dan membereskan barang-barang. Sebelum meninggalkan ruang tamu, ia juga heran melihat Ken yang terlihat begitu akrab dengan nyonya Lisha. Ken sudah terbiasa berkomunikasi dengan wanita itu, tidak canggung lagi seperti dulu.
"Mamanya Tuan Al baik sekali. Kemana mereka selama ini? Kok bisa selama aku kerja di sini belum pernah melihat batang hidung suami istri itu?" berbagai pertanyaan muncul di kepala Bu Ros.
Ia senang melihat majikan sudah ceria dan bertemu orang lain, namun ia masih bingung dengan rahasia keluarga ini. Bu Ros mengangkat kedua bahunya dan memutup pintu kamarnya dengan rapat. Ia sudah diizinkan untuk istirahat berarti ada waktu untuk membereskan barang bawaannya.
*******
"Coba kamu jelaskan, kenapa kalian berantem di bawah meja. Ibu jadi ga faham denganmu?" tanya Bu Ros ketika Ken sudah ada di kamar.
"Ibu bawa oleh-oleh apa untuk aku?" tanya Ken. Ia tidak mengindahkan pertanyaan ibunya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab dulu pertanyaan ibu!" Protes Bu Ros.
"Engga ada apa-apa, Bu,"
"Ibu ga percaya. Al yang ibu kenal tidak seperti itu. Kenapa dia jadi berubah drastis?"
"Kok ibu tanya ke aku? Ken mana tau. Dia jadi banyak omong setelah bertemu dengan kedua orangtuanya,"
"Iya, ibu juga kaget. Dateng-dateng kok rumah ini sudah rame. Bagaimana kok mereka bisa ketemu?" selidik ibu
Ken menceritakan bagaimana Al bisa ketemu dengan Baron dan Mamanya berikut semua yang dialami majikannya itu. Tentu saja Ken masih merahasiakan hubungan dengan Al.
"Ya Allah, sangat memprihatikan sekali hidupnya selama ini. Apa dia menceritakan semuanya padamu?" selidik ibu lagi.
"Sebagian iya, sebagai lagi aku dengar ketika mereka bicara?"
"Mereka?"
__ADS_1
"Bram dan Al, Bu,"
"Jaga sikapmu, Nak. Meskipun dia menganggap kita sebagai keluarga atau apalah sebutannya, namun faktanya mereka itu majikan ibu. Kau juga harus menaruh hormat pada mereka. Jangan sampe melotot-melotot begitu kalau bicara sama Tuan Al," ibu menasehati Ken. Ia belum bisa menangkap jika hati putrinya itu sudah bertambat pada tuan majikannya.
"Iya, Bu. Ken faham," ucap Ken tertunduk malu.
"Ibu sangat berterimakasih padamu. Kau sudah membantu ibu dengan baik. Kelihatannya mereka cukup puas dengan hasil kerjaku. Jadi karena ibu sudah datang, kau bisa bebas sekarang. Kau bisa istirahat dulu di kampung?"
"Di kampung?" tanya Shabil kaget.
"Iya. Kau bilang urusan di kampus sudah selesai dan tinggal ujian dua minggu lagi, ada yang salah?" ibu malah jadi penasaran, kenapa Ken se-kaget itu.
"Enggak, Bu,"
"Nah, sembari menunggu ujian baiknya kau di kampung aja. Kita tidak usah memperpanjang sewa kontrakan lagi,"
"Iya, Bu. Kontrakannya sudah habis ya?"
"Iya, akhir bulan ini pas setahun. Kau kemasi barang-barang kita. Untuk perlengkapan rumah tangga titip sama tetangga sebelah dulu, nanti kalau ibu libur ibu yang akan mengambilnya,"
"Iya, bu. Ken akan membereskannya secepat mungkin,"
"Sore ini kau bisa ke kontrakan. Ibu sudah pesan tiket kereta untuk besok pagi. Malam ini berkemas, besok bisa langsung ke kampung,"
"Kenapa wajahmu kau tekuk seperti itu?"
"Enggak, Bu. Lagi mikir kalau aku ada urusan ke kampus nginep di mana?" tanya Ken pura-pura lugu.
"Ibu akan minta izin sama Tuan Al agar memperoleh kau menginap di sini,"
"Oh," Ken jadi lega mendengar jawaban itu. Berarti ia masih punya kesempatan untuk ketemu Al.
""Baik Bu, Ken akan pulang siang ini," ucap Ken tidak bersemangat.
Bu Ros tidak memberikan hadiah apapun pada Ken karena barang-barang yang ia beli untuk putrinya itu ia tinggal di kampung. Ia pikir Ken akan pulang ke sana jadi tidak usah repot-repot di bawa ke sini.
Bu Ros hanya membawa satu jerigen air zamzam, kurma segar dan coklat untuk majikannya.
******
__ADS_1
Menjelang sore, Ken sudah siap dengan tas ransel kucelnya. Ia melihat kamar Al tertutup rapat, begitu juga dengan kamar Lisha dan Baron. Mungkin karena akhir pekan dan market juga sedang libur, Al tidur pulas. Sampai-sampai ia tidak membaca WA yang di kirimnya.
Ken mau pamit, ia akan nginep di kontrakan malam ini. Besok dan sampai batas yang tidak ditentukan ia akan tinggal di kampung, bersama neneknya. Ia ingin sekali pamit pada Al sebelum ia berangkat namun karena Bu Ros ada di dekatnya, Ken tidak mungkin ke kamar Al.
Ken sudah memesan ojek online, sembari menunggu ia menyempatkan diri memetik beberapa sawo untuk dirinya sendiri. Bakalan cemilan di kontrakan. Ia berharap driver itu tidak segera datang sebelum Al keluar dari kamar dan mencegah pergi.
"Bawalah sawonya yang agak banyak, tuan ga marah kok. Nanti kau kasih tetangga sebelah kontrakan yang akan di tutupi barang," Bu Ros membantu anaknya memilih sawo yang sudah tua.
"Iya, Bu,"
"Kok ojeknya lama banget. Apa mungkin dia nyasar?" tanya Bu Ros lagi.
"Jam segini mungkin mereka pada tidur di pengkolan. Ga sadar kalau ada orderan masuk. Biasanya begitu,"
"Oh, kalau memang lama batalkan saja. Naik ojek pengkolan. Kau harus jalan ke depan,"
Ken mengecek ponselnya, ia melihat WA yang dikirim ke Al masih conteng satu. Beralih ke aplikasi ojol, ternyata drivernya sedang menuju ke TKP.
"Sekitar dua menit lagi, Bu. Begitu info yang ada di aplikasi,"
"Oh. Ya sudah, buruan keluar. Jangan sampai dia membunyikan klakson, ganggu yang punya rumah. Mereka sepertinya lagi pada istirahat,"
"Ia, bu," Ken pamit dulu," perempuan itu memasukkan sawo yang ada di dalam plastik ke tas punggungnya. Ia mencium tangan dan memeluk ibunya sebentar sebelum meninggal rumah itu.
Ken sedih, dalam situasi begini ia ingin Al muncul dan menahannya. Ia tidak mau pergi dari rumah ini, tidak mau jauh dari Al.
"Aku sangat merindukanmu," bisik Ken ketika ia menghampiri ojol yang akan menjemputnya di depan pintu gerbang . Meskipun sudah duduk di jok belakang ia masih berharap ada keajaiban.
Ternyata Ken harus menelan kekecewaan, hingga motor bebek itu sudah berkilo-kilo meninggalkan rumah, tidak ada yang memanggilnya untuk kembali .
🎀🎀🎀🎀🎀
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
__ADS_1
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!