
Ditemani Barent, Om Ryan menemui Maria di ruang tahanan polres. Sudah lima malam Maria menginap di sini karena kasusnya belum disidangkan.
"Maaf, Bu. Aku membawanya ke mari," Sebelumnya Barent minta izin ke mamanya bahwa Om Ryan ingin menjenguk. Namun dengan keras Maria menolak.
Saat ini ia tidak mau di temui oleh siapapun. Ia beranggapan bahwa semua yang datang hanya ingin melihat bagaimana kondisi saat terpuruk. Tidak ada yang membantu, justru ingin memberikan kesaksian agar ia mendapatkan hukum yang seberat-beratnya.
Maria menatap pria yang pernah menjadi kaki tangannya itu dengan penuh dendam. Memori langsung memutar kejadian sepuluh tahun yang lalu, orang ini yang membuatnya masuk ke dalam bui. Kini ia datang pada saat Maria juga ada di balik jeruji.
"Angin apa yang membawamu kemari?" tanya Maria sinis.
"Aku ingin menjengukmu. Aku baru melihat berita yang ada di TV,"
"Hem.....jangan bohong," Maria mencibir. Ia tidak percaya ucapan pria itu begitu saja.
"Baiklah, aku langsung ke permasalahannya saja. Apa kau ingat dengan Fatma?" tanya Om Ryan serius.
Sebelum menjawab, Maria melihat ke arah Barent. Ia tidak ingin putranya itu tahu tentang banyak hal, terutama urusan rumah tangganya dengan Kadir.
"Bisa tinggalkan kami sebentar," pinta Maria.
"Baik, Ma. Aku sekalian mau pamit. Ada pekerjaan di toko," Barent segera pamit karena sang Mama tidak menghendaki kehadirannya.
"Terimakasih sudah menjenguk," ucap Maria.
"Aku akan datang setiap hari dan membawakan mama makanan," sahut Barent penuh kasih.
Pria itu segera pergi setelah mencium tangan mamanya dan bersalaman dengan Om Ryan.
"Apa yang ingin kau sampaikan," todong Maria ketika Barent sudah meninggalkan ruangan itu.
"Di mana Fatma?" Om Ryan mengulang kembali pertanyaan.
"Kenapa kau ingin tahu keberadaannya?"
"Ada seseorang yang mencari keberadaan wanita itu. Pria dari keluarga yang kaya raya dan berpengaruh di negara kita," ucap Om Ryan berbohong.
Ia terpaksa melakukan hal itu agar Maria terpengaruh dan mau memberikan informasi yang dibutuhkannya.
"Kenapa pria itu mencarinya?" selidik Maria lagi. Kali ini ia memasang wajah yang cukup serius.
"Ia ingin melamar putri Fatma sebagai menantu di keluarga mereka?"
"Apa?" Maria langsung berdiri dari tempat duduknya. Kalimat yang diucapkan Om Ryan itu seraya petir yang menyambar ubun-ubunnya.
"Iya, putri Fatma tumbuh menjadi gadis yang cantik dan berpendidikan. Nasibnya begitu baik, putra kesayangan konglomerat itu jatuh cinta padanya dan ingin menjalin hubungan yang serius. Untuk itu ia mencari keberadaan orang tua kandung gadis itu,"
"Hem..... beruntung sekali wanita itu,"
"Di mana dia?" desak Om Ryan.
"Apa kepentinganmu ikut campur urusan dia?" tanya Maria dengan ketus.
__ADS_1
"Aku bekerja dengan calon menantu Fatma. Dia berani bayar mahal jika ada seseorang yang bisa menemukan keberadaan ibu kandung tunangannya,"
"Enak di situ, ga ada untungnya di aku, dong,"
"Bagaimana jika kita membuat kesepakatan. Kau boleh minta bantuan advokasi padanya dengan catatan kau bisa menemukan Fatma,"
"Pembicaraan lisan itu bisa di hianati, aku mau ada MOU diantara kita,"
"Baiklah, kau bisa percaya padaku. Dia juga sudah menyerahkan urusan ini padaku. Tapi benarkan wanita itu masih hidup?"
"Aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak. Sejak aku mengusirnya aku tidak punya urusan lagi dengannya?"
"Aku mau kau jujur, jika ada satu informasi yang kau sembunyikan dan itu bisa diketahuinya, kita gagal dapat uang,"
"Aku yang minta Fatma pergi dari rumah ketika ia hamil tua. Ia tidak pulang ke kampung tapi tinggal di panti sosial dan bekerja sebagai tukang masak di sana. Fatma melahirkan anak kembar, laki laki dan perempuan. Ia menitipkan anaknya pada sahabatnya sebelum ia pergi ke Arab,"
"Fatma pergi ke Arab?" tanya Om Ryan tidak percaya.
"Lebih tepatnya aku yang memaksanya pergi. Aku yang merekayasa dokumen atas nama dia hingga ia benar-benar hengkang dari negara ini. Aku muak, dia mengandung anak Kadir. Padahal aku mengizinkan mereka menikah di bawah tangan dengan catatan tidak boleh ada anak yang lahir. Mereka sudah menghianatku,"
"Ya Tuhan. Lalu di mana anak laki-laki!nya?"
"Mana ku tahu, aku hanya memastikan anak itu tidak ada dengannya dan tidak boleh diketahui keberadaannya oleh Kadir,"
"Kau kejam sekali,"
"Mereka yang melanggar kesepakatan. Kenapa kau mengalahkan aku, kadir yang harus bertanggung jawab atas hak ini,"
"Aku hanya ingin melindungi anakku. Aku tidak ingin harta yang dimiliki Kadir harus dibagi dengan anak-anaknya yang lain,"
"Ok, sekarang kau beri tahu aku, dimana alamat biro perjalanan yang memberangkatkan Fatma?"
Maria menjelaskan alamat dan pemilik yayasan TKW yang ada di daerah Jakarta pusat.
"Bukankah itu yayasan ilegal?" Om Ryan mengeryitkan keningnya.
"Aku tidak peduli. Yang penting Fatma benar-benar meninggalkan suami dan anak-anaknya,"
"Ok, aku akan mencari tau secepatnya. Besok aku akan mengirimkan advokat yang akan membantumu. Kau boleh percaya padaku,"
"Aku tahu, aku sudah tidak punya kekuatan lagi. Namun aku tidak akan memberi ampunan pada orang yang menghianatku,"
"Slow, aku bukan tipe penghianat. Aku peisj dulu. Waktu kita sudah habis. Aku akan datang besok, di jam yang sama,"
"Baiklah, aku tunggu kabar baiknya,"
"Ok," Om Ryan segera pamit karena polisi yang bertugas sudah mengingatkannya untuk segera pergi, jam besuk sudah selesai.
Om Ryan segera meninggalkan ruang itu. Bulu kuduknya berdiri setelah mendengar kesaksian Maria. Ternyata ia tidak hanya memisahkan Lisha dan suaminya, bahkan Fatma sudah di dzholimi lebih dulu oleh wanita itu.
"Pantas saja nasib membawamu ke jeruji besi, sebagai wanita kau sadis sekali," ucap Om Ryan dalam hati.
__ADS_1
Belum sempat melangkah lebih jauh, langkah Om Ryan sudah di hadang oleh Barent. Sama halnya dengan Om Ryan, muka Barent terlihat pucat pasi.
"Aku mendengar semuanya," ucap Barent lemas.
"Iya, itulah wajah asli ibumu,"
"Lalu siapa yang dimaksud anak Kadir? Berarti dia juga adik kandungku?" tanya Barent serius.
"Calon istri Al," Om Ryan menarik nafas panjang dan melihat Barent dengan tatapan serius.
"Dunia ini sempit banget, ya Om," keluh Barent.
"Iya, siapkan dirimu. Kau punya adik kembar. Satu lagi belum diketahui keberadaannya,"
"Apa Ayah sudah tau,"
"Tadi kami bertiga dari rumahmu tapi ayahmu belum tahu kalau gadis yang bersama kami itu putri kandungnya,"
"Hemm........ ," gumam Barent.
" Aku pamit dulu, ya. Al sudah menungguku,"
"Iya, Om. Semoga urusanmu cepat kelar,"
"Terimakasih. Semoga Tuan Kadir bisa kumpul dengan anak-anaknya," ucap Om Ryan optimis.
"Aamiin,"
🎀🎀🎀🎀🎀🎀
Hay, semuanya.
Maaf ya, Ken baru bisa update karena seminggu ini lagi ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Biasanya aku nabung bab, kalau ga sempet nulis masih tetep bisa update setiap hari di jam yang sama.
Lupa.....kalau tanggal 11 itu sudah bab yang terakhir dari tabungan aku. 🙈🙈🙈
Untuk reader yang minta crazi up, bukan saya tidak mempertimbangkan keinginan kalian, 😍😍😍😍 ( bahasanya 🤣)
Rating novel ini sangat miris, pembaca dan komentar setiap harinya sangat sedikit jadi sangat berpengaruh pada level dan penghasilan.
Saya kurang tahu bagaimana penentuan level, karena meskipun saya update setiap hari kok bulan ini level turun. Dan tau ga sih, meskipun sudah 98 episode novel ini baru berpenghasilan 16.000 saja (baca 16 juta) biar ga miris banget nih idup🤣🤣🤣🤣🤣
(Hasil menulis berbulan-bulan belum bisa buat beli nasi Padang. Udah itu minimal penarikan di sini kan harus 1,4jt)
Entah tahun kapan saya bisa menarik penghasilan dari novel " Temani Aku, Ken!" 🙈🙈🙈🙈🙈
Jadi, meskipun saya tidak bersemangat untuk menulis di NT namun saya tetap punya komitmen untuk menyelesaikan NOVEL ini hingga selesai. Demi kesetiaan reader setia saya yang selalu menunggu kelanjutannya. He...he......
Insya Allah tidak saya bikin tamat secara paksa 💪💪💪💪
Terimakasih, happy reading All 😘😘😘😘😘
__ADS_1