Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Dia Calon Mantuku?


__ADS_3

"Silahkan, Pa. Nih bau ikannya udah kecium. Wangi banget," Al terlihat begitu senang. Tidak seperti biasanya, hari ini ia begitu banyak omong dan selaku menyunggingkan senyuman.


"Silahkan," Al menarik kursi paling pojok agar Papanya duduk di situ. Kursi yang biasanya diperuntukkan untuk kepala keluarga.


"Terimakasih, Al," ujar Pria itu. Ia begitu bahagia diperlakukan seperti itu oleh putranya.


"Ken, duduklah di sini! Kita makan bareng, Nak," ajak Lisha. Ia melihat Ken akan masuk kamar begitu usai menyiapkan hidangan.


"Sini, duduk sini. Ga usah malu," Al malah menggeser kursinya. Menarik bangku kosong yang ada di antara Baron dan Om Ryan dan meletakkannya di samping kursinya.


"Iya, terimakasih,"sahut Ken yang terlihat sedikit canggung. Saat menyiapkan hidangan, lamat-lamat ia mendengar obrolan mereka di ruang tamu. Ken bisa menyimpulkan bahwa pria ini adalah Tuan Baron, papa kandung Al.


"Dia calon mantuku?" tanya Baron sekenannya. Sejak menuju meja makan ia memang sudah mengamati gadis itu. Cantik dan rapi, wajar saja jika Baron mengira ia bukan pembantu di rumah itu.


"Lisha yang duduk di samping Baron hanya tersenyum. Ia sengaja' diam, biar Al yang menjelaskan pada papanya.


"Dia ini seumur hidupnya belum pernah punya pacar, aku kasian. Jadi ya kita jadian aja," sahut Al diiringi tawanya yang tertahan.


"Eh, kok begitu sih. Kamu bercandanya keterlaluan," Lisha membela calon menantunya. Ia tahu gadis itu masih canggung makan bersama mereka, mendengar ucapan Al wajahnya makin merah.


"Ha...ha.....kamu bisa ngelucu juga Al. Berarti gadis ini yang waktu itu kau belikan baju di butik Nora?" selidiki Baron. Pria itu tidak sadar jika ia secara tidak langsung menyebut nama istri ketiganya padahal Al belum memberitahu Mamanya akan hal ini.


"Siapa Nora?" tanya Lisha. Ia menunda suapan yang nyaris masuk ke mulutnya.


"Kenalan Al, Ma. Waktu itu aku belanja ke sana dan ketemu Papa lagi kumpul-kumpul sama temannya," sahut Al terpaksa berbohong.


"Oh, bolehlah kapan-kapan kita ke sana Ken. Biar kenal juga sama Nora," canda Lisha. Ia menangkap ada sesuatu yang dirahasiakan oleh anak dan suaminya itu.


"Pasti, Al akan ajak kalian ke sana. Ayo makannya dilanjutkan. Karena hari ini aku begitu senang, jadi papa ga boleh pulang. Harus nginep di sini. Kita kumpul layaknya keluarga," seru Al begitu gembira.


Baik Lisha maupun Baron tidak ada yang menanggapi ucapan putranya itu. Hanya Om Ryan yang sedikit merasa keberatan atas keputusan sepihak itu.


"Aku pulangnya gimana?' tanya Om Ryan bingung.


"Banyak ojek dan taxi, Om. Yang online ada, yang mangkal di depan juga sepi penumpang," dengan entengnya Al menjawab pertanyaan itu.


"Ah, tadi janjinya mau dianterin lagi sampe apartemen,"

__ADS_1


"Om Ryan tinggal di apartemen itu juga?" tanya Lisha penasaran.


"Tidak, aku tinggal tidak jauh dari situ. Paling 10 menit kalo naik motor. Motorku juga di tinggal di sana,"


"Nginep di sini juga ga apa, masih ada kamar kosong. Sekalian liat akunku yang sudah tiga Minggu ini tidak tersentuh,"


"Terserah kaulah, ngomong sama bos mah ga pernah menang," sahut Om Ryan pasrah.


"Besok pagi kita pulang sekalian anter papa," ucap Al lagi.


"Ah, kenapa dia begitu banyak omong begini. Apa karena sudah bisa kumpul dengan orang tuanya hingga hatinya segitu bahagia. Atau kepepet juriq bawel. Hi. ...," Ucap Ken dalam hati.


Makan siang itu terus berlanjut, mereka menghabiskan masing-masing satu ekor ikan bakar dengan berat 500 gram. Pak Parman sengaja memilih ikan yang sudah siap konsumsi agar dagingnya banyak.


"Sudah lama aku tidak makan dengan situasi yang begitu akrab seperti ini," Baron membasuh tangannya dalam air kobokan yang sudah di siapkan. Lisha menggeser tisyu yang ada di depannya agar suaminya bisa mengering tangannya.


"Terimakasih," ujar Baron.


"Racikan bumbu dalam hidangan ini sangat akrab di lidahku belasan tahun yang lalu. Meskipun sudah lama, aku tetap tidak bisa melupakannya," Baron berkata dengan nada yang begitu sedih. Ia yakin Lisha yang memasak semua makanan yang dihidangkan untuk mereka, karena rasa masakan ini begitu sama dengan masakan yang selalu dihidangkan Lisha untuk suaminya.


"Papa jangan sedih, mulai hari ini papa akan bisa menikmatinya kapanpun papa mau. Mama akan memasaknya untuk papa. Iya kan, Ma?" tanya Al pada Lisha.


Usai makan, para lelaki itu kembali lagi ke ruang tamu. Sedangkan Lisha membatu Ken membereskan meja makan.


"Biar saya yang mengerjakannya, ibu istirahat aja,"


"Udah ga apa, itu cucian piringnya banyak sekali. Biar Mama yang beres-beres,"


"Iya, terimakasih," ucap Ken dengan sopan.


Setelah Lisha bergabung lagi dengan mereka, Al ingin memberikan kesempatan pada orang tuanya untuk bicara empat mata, menyelesaikan perkara hati mereka yang mungkin saja masih tersakiti satu sama lain.


Untuk itu, ia mengajak Om Ryan ke kamarnya dengan alasan untuk memberitahukan ruang kerjanya. Rencana, ia meminta pria itu membantunya trading karena analisa pasar dan pengalamannya cukup diacungkan jempol.


"Ayo, Om ke ruang kerjaku. Akun yang terbengkalai itu mungkin bisa dimanfaatkan selama aku tidak disini," ajak Al.


Tidak menunggu waktu lagi, pria itu mengikuti Al menuju ruang kerja yang dimaksud di lantai atas.

__ADS_1


"Wah, keren juga ruang kerjamu. Bisa punya beberapa PC begini," Om Ryan terperangah begitu melihat kondisi ruang iru. Sama seperti ketika Ken melihat ruang ini untuk pertama kalinya.


"Modalnya cukup lumayan. Om bisa mengelolanya. Aku percayakan semuanya,"


"Kenapa tidak dibawa ke apartemen?" tanya Om Ryan heran.


"Aku tidak selamanya di sana. Males mau bongkar pasang. Aku tetep main kok. Dari akun pertama yang aku buka dulu,"


"Wah, ternyata kau orang yang konsisten dan berkelanjutan. Berarti masih pake MT 4 ya?" tanya Om Ryan.


"Iya, hanya ini dan ini yang menggunakan MT 5," Al menujuk pada PC yang sudah diinstal dengan akun yang terbaru.


"Modalnya luar biasa, ini baru satu akun. Bagaimana kau tidak kaya raya. 10% saja dari satu akunku susah bisa beli mobil," seru Om Ryan begitu ia membuka komputer yang ada di depannya dan melihat modal yang ada di akun itu.


"Tidak begitu juga. Ga semua akun bisa tutup dengan menghadirkan profit. Aku sih cari aman aja Om, yang penting bisa makan,"


"Kau ini, segini gedenya modal masih merendah saja. Modalku malah tidak sampai 3 persennya. Habis gara-gara los,"


"Wah, itu pasti terlalu ambisius,"


"Iya, tuntutan kebutuhan,"


Cukup lama keduanya saling bertukar pikiran tentang dunia trading. Sementara Baron dan Lisha sudah mengambil posisi di gazebo depan. Mereka terlihat begitu serius, entah apa yang dibicarakan oleh suami istri yang sudah lama terpisah itu.


Ken dimana? Karena semua sibuk, gadis itu memilih berdiam diri di kamar. Ia menyiapkan berkas untuk persiapan ujian Minggu depan. Meskipun masih lama, ia sudah menyiapkan diri sebaik mungkin dengan mempelajari skripsinya berulang-ulang dan membaca referensi yang menjadi dasar teorinya.


*******


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.

__ADS_1


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2