
Meski sepi dan tidak ada orang, Ken tetap waspada. Sebelum keluar ia memastikan keadaan sekitar dengan mendongakkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. Setelah dipastikan cukup aman, ia keluar dengan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara.
"Makanlah dulu, biar ga sakit," suara yang begitu dikenalnya itu membuatnya kaget dan menghentikan langkahnya. Ken yang sudah memegang handle pintu membalikkan tubuhnya saat itu juga.
Ia melihat Al duduk dengan tenang di sofa yang ada di depan TV. Posisinya menghadap ke arah ruang makan.
Yang membuat Ken heran, di depannya sudah tersaji bungkusan dan gelas minum.
"Sejak kapan dia duduk di situ? Ada makanan segala, kapan belinya?"
Ken masih mematung di depan pintu dengan kondisi pakaian yang setengah basah dan rambut yang masih meneteskan air. Pandangannya tertuju pada sumber suara.
"Buruan," perintah Al lagi. Sengaja ia mengeraskan suaranya agar terdengar jelas oleh Ken.
"Saya tidak lapar!" Ken memberanikan diri untuk menjawab. Dia sengaja berbohong karena masih takut bercampur kesal dengan pria itu. Untuk itu ia sengaja menolak tawarannya meskipun perutnya begitu lapar dan ingin minta makan.
"Aku sudah pesan makanan untukmu. Ambil,"
Ken hanya diam. Ingin masuk kamar ia tidak berani, mau menghampiri pria itu tubuhnya terkunci.
"Nawarin atau merintah. Kasar sekali," Ken makin sebel dengan orang itu.
Karena tidak ada reaksi dari Ken, pria itu bangkit dari tempat duduknya. Ia membawa satu box dan gelas berisi minuman ke arah Ken. Langkahnya yang tenang semakin dekat menuju ke arah Ken berdiri.
"Ini, makanlah selagi hangat," ujar pria itu sembari mengulurkan makanan yang ada di tangannya.
Ken masih mematung. Ia tidak menerima kotak itu karena cukup kesal. Sudah capek-capek masak bahkan tangannya kecipratan minyak tapi tidak disentuhnya sama sekali. Ia lebih memilih makanan yang di beli.
"Kalau niat jajan kenapa ia tidak bilang dari sore. Aku ga harus masak untuknya," Ingin sekali Ken mengungkapkan kekesalannya itu namun mulutnya tetap terkunci. Ia tidak berani mengucapkan satu katapun begitu Al sudah berada di depannya.
"Ini," ujar pria itu lagi. Tangannya tetap terulur ke arah Ken. Cukup lama karena Ken ragu menerimanya.
Akhirnya Ken terpaksa mengambil bungkusan itu karena khawatir akan menimbulkan masalah lagi jika ia menolaknya.
"Terimakasih,"
"Ganti bajumu sebelum makan. Mau pamer, ya?" setelah mengucapkan kata itu, Al membalikkan tubuhnya dan kembali lagi ke tempatnya semula. Tanpa melihat reaksi Ken, ia kembali melanjutkan makan dengan tenang.
Ken memeriksa tubuhnya, matanya membulat dan mukanya mendadak merah. Ia baru sadar jika keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan daleman. Karena kaos yang ia kenakan basah oleh tetesan air dari rambut ya, otomatis dadanya yang cukup besar itu nyemplak dengan jelas.
__ADS_1
"Pamer? Sembarangan sekali mulutnya,"
"Ah," keluhnya begitu malu.
"Lagi-lagi aku begitu ceroboh," Ken masuk ke kamarnya tanpa pamit lebih dulu dengan pemilik rumah. Ia menutup kembali pintunya dengan rapat dan duduk di sisi tempat tidur.
********
"Tok...tok....tok....," pintu kamar Ken di ketuk.
Ken baru saja mengganti pakaiannya, makanan yang dikasih Al masih ada di atas kasurnya.
"Ada apa lagi?" gumamnya lirih.
Ken berjalan pelan ke arah pintu karena ketukan itu terus saja diulang-ulang.
"Udah makan belum?" tanya Al begitu Ken membuka pintu dan berdiri di depannya.
Ken tidak menjawab, namun ia menoleh ke arah kasur dimana makanan itu belum tersentuh sama sekali. Al yang mengikuti arah pandang Ken hanya tersenyum tipis.
"Makannya di luar aja. Filmnya bagus,"
"Buruan, ya!"
Setelah mengucapkan kalimat yang terakhir, Al membalikkan tubuhnya dan berjalan lagi ke arah sofa.
Ken mengambil kotak makanannya, kemudian meninggalkan kamar. Ia tidak langsung menuju ke tempat Al menunggunya, namun ia mesakukkan kotak makanan itu dalam lemari es.
Ken kembali ke meja makan. Kali ini ia mencampurkan cah kangkung yang sudah dibuatnya dengan penuh perjuangan dan menuangkan gepuk gosong dalam piring itu. Dengan membawa piring dan gelas minuman dari Al, ia menghampiri pria itu.
"Kok makanannya di taro kulkas?" tanya Al yang sejak tadi melihat Ken dari tempat duduknya.
"Buat besok. Sekarang makan ini aja," ujarnya santai sambil menyendok cah kangkung dan menyuapkan ke mulutnya.
"Makanan gosong begini kamu makan?"
"Iya. Ga apa,"
"Buang aja, makanan itu ga layak di makan,"
__ADS_1
"Saya sudah memasaknya dengan susah payah. Hanya tampangnya aja yang seperti ini, tapi rasanya tetep enak,"
"Maaf, kalau aku ga bisa makan makanan seperti itu,"
"Faham. Kalian orang yang berduit dengan gampang membuang makanan yang tidak kalian sukai, karena terlalu gampang menghasilkan uang jadi bisa makan apapun yang kalian mau,"
"Tapi, buat kami yang sudah begini tidak akan seperti itu. Bisa makan seperti ini saja sudah jadi rezeki yang patut disyukuri. Jadi saya tidak akan membuang makanan ini," ujar Ken lagi.
Al hanya bisa diam. Apa yang dikatakan Ken memang ada benarnya. Ia sudah bersusah payah membuat masakan namun gara-gara gosong dengan gampangnya ia pesan makanan yang lain.
"Sebagai anak pembatu, saya harus pintar-pintar membelanjakan uang dari ibu. Yang penting biaya kuliah dan transport, Pak. Kalau urusan perut seketemunya aja. Kalau lagi ada uang bisa makan pake ikan atau ayam, kalau lagi bokek bisa ketemu nasi sama sambel juga bahagia,"
"Ga usah terlalu di dramatisir begitu?" sahut Al sekenanya.
"Siapa yang mendramatisir. Ini fakta. Bagiku kuliah yang utama. Jelas itu biayanya sangat berat untuk ukuran kami. Belum lagi harus bayar kontrakan. Tahu sendiri lah, ngontrak di Jakarta itu ga murah. Petakan yang aku tempati itu cuma ukuran 2x3 meter saja tapi harus bayar 300 ribu perbulan. Masih untung ibu kerja di sini gajinya lumayan, jadi kami masih bisa mengaturnya dengan baik,"
"Maaf ya, aku tadi membiarkan makanan yang sudah kau hidangkan,"
"Kan anda sudah bilang, Pak. Ga apa-apa, kok. Memang saya yang salah. Saya belum terbiasa mengerjakan pekerjaan dapur,"
"Apa kau tidak sakit perut menghabiskan sayur dan lauk sebanyak itu," tanya Al dengan wajah penuh keheranan.
"Tenang aja, Pak. Ususku panjang. Makan segini ga bakal bikin ngep, dan untungnya lagi, meskipun makan banyak badanku begini-begini aja. He....he.....,"
Al memaksakan diri untuk tersenyum melihat Ken yang makan masakannya sendiri meskipun tampilannya lebih mirip pantat wajan. Selain hitam, daging yang ia gigit juga terlihat alot. Ken tampak begitu kekusahan mengigitnya.
Mereka terus saja mengobrol. Meskipun awalnya Al minta di temani nonton tv manun ia lebih tertarik dengan ocehan Ken. Hingga makanan itu habis begitu juga capuccino hangat yang di dapat dari Al sudah kering di tenggaknya, Ken tetap duduk di depan Al. Ia tidak sadar kapan ia berhenti ngoceh dan tertidur di sofa itu.
*******
Happy reading all! Jangan lupa tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih.
__ADS_1
Kunjungi juga novelku yang lainnya ya, yang berjudul I am Feeling Blue dan Temani Aku, Ken. Barangkali kalian berkenan. Terimakasih!!!