Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Jadwal Konsultasi


__ADS_3

Kursi panjang yang terbuat dari besi putih di depan ruang Pak Arya sudah penuh. Begitu juga kursi yang ada di depannya. Beberapa mahasiswa yang memegang file box yang terlihat mulai jenuh. Beberapa diantaranya ada yang bersandar di tembok dan terlihat begitu pulas. Beberapa lagi masih kuat berseteru dengan ponselnya.


Satu kursi bisa ditempati 6 orang. Sementara di koridor itu ada sekitar 20 pasang yang di susun berseberangan namun hanya kursi di depan ruang itu yang terisi penuh.


Ken mengambil tempat duduk yang masih kosong, kira-kira berjarak 100 meter dari ruangan yang akan di tuju.


"Mau ketemu siapa?" tanya Ken pada pria yang lebih dulu duduk di sampingnya.


Pria itu hanya memalingkan wajahnya sebentar kemudian kembali menatap layar ponselnya.


"Pak Arya" jawabnya singkat.


"Pembimbing satu atau dua," tanya Ken lagi. Meskipun ia yakin pria ini tidak berminat untuk diajak ngobrol namun Ken sekedar ingin tahu bagaimana pengalamannya selama dibimbing Pak Arya.


"Dua," jawab pria itu lagi. Singkat bahkan tidak memberikan reaksi apapun.


"Dih, nyebelin banget," gumam Ken sembari mencibir ke arah cowok dengan style klimis itu.


Merasa orang yang disampingnya tidak ingin diganggu, Ken mencari kesibukan yang lain. Ia mengedarkan pandangannya, tidak satupun mahasiswa yang ada di koridor itu yang dikenalnya. Akhirnya dia pasrah, satu-satunya hiburan adalah ponselnya.


Meskipun statusnya mahasiswa tapi Ken tidak mempunyai banyak teman. Jadi notif hp yang muncul di layar hp miliknya tidak seramai temannya yang lain. Ia hanya menyimpan beberapa nama dalam daftar kontaknya dan memiliki dua grup WA. Satu grup kelas dan satunya lagi .... Sedangkan sosmed yang dimilikinya hanya WA dan FB.


"Test," satu pesan WA masuk dari nomer yang tidak di kenal. Dikirim 20 menit yang lalu.


"Ting," jawab Ken. Pesan terkirim namun sang penerima tidak sedang online.


Ken membuka berita online, membaca informasi terkini yang sudah ia lewatkan beberapa hari ini karena sibuk sebagai pembantu pengganti dan revisi skripsi.


"Ya.....," keluh Ken. Ternyata kuotanya tidak memungkinkan untuk menggunakan internet. Tapi ia cukup lega karena masih bisa WA.


"Masih lama ya ga, ya? Kalo turun beli pulsa masih keburu apa enggak," tanya Ken pada dirinya sendiri. Ia takut begitu ia tinggal malah dosennya pergi.


"Kira-kira masih lama ga ya? Soalnya aku mau beli pulsa dulu," Ken memberanikan diri bertanya lagi pada cowok di sebelahnya itu.


"Jangankan beli pulsa, kau tinggal ke Puncak juga masih sempat," jawab pria itu ketus.


"Takutnya begitu aku turun, dia pergi,"


"Ya itu namanya nasib,"


Ken menyudahi pembicaraannya. Ia sebel bicara dengan orang yang model seperti ini. Ketus dan tidak menghargai lawan bicaranya.


"Sekali tes langsung bunting," sebuah pesan WA di terima. Ternyata balasan dari nomer yang tidak dikenalnya tadi.


"Dih. Maaf ini siapa?"


"Cepat pulang, aku ga mau telat makan malam" bunyi pesan itu. Ia tidak memberitahu siapa dirinya namun memperingatkan Ken agar tidak terlambat pulang.


"Hemmm...die lagi. Dari mana dia tau nomer ponselku?" guman Ken.


"Baru juga jam 2 lewat, aku juga baru lima menit sampai," protes Ken lagi.. Ia berangkat dari rumah jam 13 karena harus jalan kaki dulu sekitar 500 meter, nungguin angkot sekitar 10 menit, nunggu kereta 15 menit, dalam perjalanan ke Jakarta 40 menit, belum lagi harus naik angkot lagi ke kampusnya. Ia belum beli pulsa jadi ga bisa naik ojol. Kalau naik ojek pengkolan harganya suka nembak semaunya sendiri. Jarang sekali ketemu yang baik.

__ADS_1


"Aku sudah beli sarapan dan makan siang. Makan malem harus masak. Titik!"


"Tadi udah disiapin makan siangnya," Ken coba menjelaskan.


"Udah dingin. Ga mau,"


"Jeder......," Ken memukul keningnya. Makanan di masak jam 12, dia makan siang jam 14 masa sudah ga mau. Manja sekali. Kan ada microwave?


"Maaf, Pak. Tadi kan sudah diizinkan pergi,"


"Iya, tapi sebelum magrib pulang!"


"Insya Allah,"


"Magrib pintu aku tutup. Jika kau telat, tidur di luar,"


"Aku mau makan sama ikan bakar,"


"Jeder.....," lagi-lagi Ken memukul keningnya.


Ken tidak menjawab, ia hanya mengirimkan stiker jempol dengan ukuran yang besar.


"Tidak ada toleransi. Ini sama aja nyuruh aku pulang secepatnya," Oceh Ken pada dirinya sendiri.


Setelah mengirim pesan yang terakhir, Al sudah tidak online lagi. Beberapa kali Ken mengintip WA itu, hasilnya tetap sama.


"Dasar tidak berprikemanusiaan. Jam segini mau cari ikan dimana?"


Ken melihat belum ada pergerakan antrian sementara jam sudah menunjukkan pukul 15.00 wib. Jika magrib harus sudah sampai di rumah, paling tidak Ken harus meninggalkan kampus pukul 15.30 supaya aman mengingat jam segitu kereta akan penuh, jam pulang kantor.


"Pusing, kasih izin ke kampus tapi waktunya dibatasi. Mana mungkin dalam tempo satu jam aku bisa konsultasi jika antrian seperti ini,"


"Beli pulsa dulu biar bisa pesen ojol,"


Ken berangkat dari tempat duduknya, ia mau turun sebentar untuk membeli pulsa karena paketannya sudah habis.


******


Baru saja Ken masuk koperasi, HP yang ada di sakunya bergetar. Buru-buru ia mengecek notifikasi, ternyata ada pemberitahuan 3 SMS dari provider yang digunakannya.


Ken tidak tertarik untuk memeriksanya, karena selama ini pesan yang masuk hanya pemberitahuan masa tenggang, atau promo produk mereka.


"Bang, pulsa xx yang 2GB aja?" pesan Ken pada penjaga koperasi itu. Mengingat uang sakunya tinggal sedikit, ia harus berhemat agar bisa hidup hingga akhir bulan.


"Bentar ya, saya cek dulu," pria itu terlihat memilah-milah kartu yang ada di etalase. Ternyata apa yang dicarinya tidak ada.


"Lagi kosong, adanya tinggal yang 10 GB ke ke atas. Mau?" tanya pelayanan itu.


"Wah," gumam Ken ragu. Sebelum memberikan keputusan, ia mengecek uang yang ada di dompetnya.


"Duh," gumam Ken lagi. Ternyata uang yang ada di dompetnya tinggal 250 ribu. Jika memaksakan diri untuk membeli pulsa, ia bakal ga punya ongkos lagi.

__ADS_1


"Enggak dulu,deh. Maaf," Ken minta maaf dan segera meninggalkan koperasi itu.


"Kalau mau keluar bisa ketinggalan, nih. Baiknya aku balik lagi ke atas," bisiknya dalam hati.


Tiba di koridor menuju ruang Pak Arya, ternyata antrian mahasiswa yang ada di depan ruangannya sudah sepi. Hanya pria yang duduk disampingnya tadi yang masih terlihat di situ. Sepertinya ia sedang terlelap karena tidak menyadari kehadiran Ken yang sudah berdiri di depannya.


"Hei, bangun," Ken memberanikan diri menyentuh pundak pria itu.


Cukup sekali panggilan, ia sudah terjaga dan buru-buru membenahi duduknya.


"Kenapa?" tanyanya pada Ken.


"Kok sudah sepi. Mereka ke mana, ya?"


Kontan saya pria itu mengalihkan pandangannya ke arah bangku yang ada di depan ruang pak Arya. Ia kaget seketika itu juga.


"Kok?" Gumamnya bingung. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke ruang pak Arya.


Pria itu mengetuk pintu ruang Pak Arya beberapa kali kemudian terlihat ia masuk ke dalam dengan langkahnya yang pelan. Ken yang sejak tadi ada di belakangnya mengikuti apa yang dikerjakan pria itu.


"Maaf, mbak. Pak Arya masih ada?" tanya pria itu pada wanita yang duduk di dekat pintu.


"Baru aja keluar," jawabnya singkat.


"Oh, jam kerjanya sudah selesai ya?" Gumam pria itu lagi.


"Ke Bina Harapan saja mas kalau penting banget. Tadi yang antri di depan ada yang ikut ke sana, kok,"


"Jauh?" tanya Ken


"Daerah Kuningan. Dari sini bisa 30 menit,"


"Jeder.....," Ken memukul keningnya.


"Kalau aku ke sana gimana dengan ikan bakar? Belum lagi aku ga punya pulsa buat ojol. Naik angkutan umum bisa sampe ke TKP tengah malem. Daerah macet," pekik Ken putus asa.


"Baik, Mbak. Terimakasih atas infonya,"


"Sama-sama, Mas. Beliau sampai jam 10 di sana. Udah biasa kok mahasiswa sini konsultasi ke sana,"


"Iya, terimakasih," Ken ikut menimpali.


Ken dan pria itu segera meninggalkan ruang itu. Mereka keluar dengan wajah lesu dan langkah yang tidak semangat.


*******


Happy reading all, terimakasih atas kunjungan setianya!


Jangan lupa vote, like, dan komen yang banyak, ya (spam komen juga ga apa) biar saya makin semangat untuk update.


Aku juga nulis novel yang lain loh,

__ADS_1


Bukan Yang Pertama


Jangan lupa kepoin juga, siapa tau kalian juga suka sama ceritanya.


__ADS_2