Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Bau Badan


__ADS_3

"Deg," jantung Ken berdengup saat itu juga.


"Ya, Tuhan. Lupa lagi aku," ia menepuk keningnya lagi. Kali ini dengan suara yang cukup keras hingga terdengar seperti orang sedang memukul nyamuk yang hinggap dan mengisap darah di tubuhnya.


Ceklek [ suara pintu di buka]


Dengan penuh keberanian, Ken keluar dari kamar. Kemunculannya yang tiba-tiba cukup mengejutkan Al. Saat membalikkan tubuh ke arah datangnya suara, naas baginya. Lantai yang penuh dengan cipratan minyak itu justru membuat tidak bisa mengendalikan diri. Tubuhnya jatuh, tergelempang. Kepala membentur lantai hingga menimbulkan suara yang begitu keras. Gelas yang tengah ia pegang dan akan diisi air pun terlempar ke lantai. Pecah berhamburan di lantai.


"Pak!" seru Ken kaget. Ia hanya berdiri lalu melihat adegan itu tanpa tau apa yang harus diperbuatnya.


"Saya mau nyiapin air putihnya," Ken berusaha memberikan penjelasan kenapa ia keluar kamar dan bikin dirinya dengan terbata-bata.


Cukup lama keduanya diam pada posisi masing-masing. Rasa sakit yang didera oleh Al tidak sebanding dengan rasa malunya. Ia ingin marah, namun ia sadar semua akibat keisengan dia. Akhirnya ia memilih diam untuk beberapa saat hingga bisa mengangkat tubuhnya kembali.


"Saya bantu," Buru -Buru Ken mengulurkan tangannya ke arah Al ketika melihat pria itu berusaha untuk berdiri namun karena ubinnya licin jadi agak susah.


"Pelan-pelan, Pak. Ada pecahan gelas," Sekuat tenaga Ken manarik tangan Al, membatunya agar bisa berdiri.


Saat tangan Ken menariknya, Ken merasa justru Al menarik tangannya hingga tubuhnya tidak bisa bertahan. Ia ikut tertelungkup, persis di atas tubuh pria itu.


"Kok ditarik, sih," protes Ken antara bingung dan takut. Kini Ken bisa memandang wajah pria itu dari jarak yang begitu dekat.


Jantungnya mendadak berdengub kencang, nafasnya juga menjadi tidak beraturan. Ken juga merasakan hal yang sama. Pria itu cukup gelagapan juga di pandangi oleh Ken.


"Siapa yang narik. Aku mau berdiri ubinnya licin," sahut Al dengan nada yang cukup tinggi.


Ken bisa merasakan bahwa pria itu begitu marah, dadanya berdetak kencang dan nafasnya begitu berat.


"Kapan terakhir mandi? Kenapa tubuhmu bau sekali," Ujar Al setengah beberapa saat ia mendengus tubuh yang ada di atasnya dan segera memalingkan tubuhnya.


"Buruan berdiri, aku ga kuat nyium bau badanmu," bentak pria itu lagi.


Ken tidak menjawab, ia menatap pria itu dengan kesal. Sebelum menjatuhkan tubuhnya ke samping ia sempat mendaratkan pukulannya ke dada Al.


"Buk," suaranya begitu mantap.


Ken tidak perduli dengan Al yang masih telentang di ubin, ia segera bangkit dan berlari ke kamarnya.

__ADS_1


"Brak," suara pintu yang di banting Ken terdengar cukup keras.


"Kurang ajar sekali laki-laki itu. Dia yang menarikku. Menahan tubuhku cukup lama di atas tubuhnya, tapi dengan entengnya dia bilang tubuhku bau," gerutu Ken yang langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya yang tertelungkup terlihat bergetar. Ken mulai terisak.


"Menyebalkan sekali," gerutunya lagi sambil memukul-mukul bantal.


Berulang kali Ken memeriksa bau keteknya dan menciumi kaos yang iya kenakan dari siang tadi. Memang Ken belum mandi sore dan berencana akan mengguyur tubuhnya setelah ia selesai masak.


"Bau asem dikit," bisik Ken dalam hati.


"Tapi kan wajar aja. Aku baru selesai masak. Dasar laki-laki ga berperasaan," pekik Ken dalam hati sambil menahan tangis.


Ia begitu sakit hati dikatai seperti itu oleh majikan ibunya. Apalagi melihat ekpresi wajahnya yang begitu membuatnya kesal saat bicara seperti itu.


"Mau dibandingkan tubuhnya yang wangi? Mana bisa? Kerjanya cuma main game, ruang ber-AC. Keringet ga pernah nempel ditubuhnya," oceh Ken berkelanjutan.


Ia kesal, sakit hati sekaligus malu dibilang badannya bau. Walau Ken tidak pernah melakukan perawatan tubuh di salon, tidak sanggup membeli parfum yang mahal, dan tidak punya baju berbahan bagus, bisa menyerap keringat dengan baik tapi baru kali ini ada orang yang menghinanya.


Tangisnya tidak bisa tertahan. Isaknya makin menjadi. Agar tidak terdengar oleh sang majikan, ia menyembunyikan kepalanya di balik bantal. Ken terus menangis hingga ia tidak sadar, isaknya makin lama makin hilang dan berganti dengan suara dengkuran.


Ken tergaja begitu mendengar suara berisik dari plafon kamarnya. Seperti suara tikus yang berlarian mengejar mangsa. Meskipun ia tahu itu suara tikus, namun tetap saja suara itu begitu mengganggu pendengaran dan membuatnya takut. Belum lagi suasana rumah yang makin sepi.


"Pantes aja sepi, udah larut malam," bisiknya dalam hati.


Ken turun dari tempat tidurnya, dengan langkah yang begitu hati-hati, ia mendekati pintu kamar. Seperti biasa, diintipnya suasana luar dari balik hordeng. Setelah memastikan suasana cukup aman, Ken membuka pintu dengan pelan dan keluar menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur tanpa ada pembatas.


Ia masih melihat pecahan gelas yang berserakan di lantai dan makanan yang ada di atas meja itu masih utuh. Tanpa di sentuh sedikitpun oleh Al.


"Ternyata ia tidak makan!" gumamnya lirih.


Ken merapikan makanan itu dan menutupnya kembali dengan tudung saji. Masih dengan kesadaran yang belum penuh, Ken mengambil sapu dan ingin membersihkan ruangan itu.


"Sapunya ga ada. Dimana ya?"


Setelah berpikir beberapa saat, ia baru ingat jika sapu yang ada di ruang ini masih tertinggal di kamar atas. Tadi pagi ia lupa membawanya keluar begitu meninggalkan kamar itu dengan terburu-buru.


Akhirnya ia mengambil kain lap kering untuk menyapu pecahan gelas itu. Setelah tidak ada yang tertinggal, ia mengepel bagian ubin yang terkena cipratan minyak hingga berkali-kali agar tidak licin dan memakan korban lagi.

__ADS_1


"Beres, kini waktunya mandi,"


Ken melangkah ke kamar mandi, kali ini ia akan membersihkan tubuhnya yang mulai gerah dan berasa lengket. Ken tidak sadar jika sejak tadi ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya dengan jarak yang begitu dekat.


"Hemmmm, untung ada air panasnya," guman Ken ketika melihat kran yang ada di kamar mandi itu ada warna hijau dan merah.


"Seperti bisa mandi tanpa harus menahan dingin,"


Ken segera melucuti pakaiannya setelah air yang ada di kolam itu berada hangat. Ia mengguyur tubuhnya mulai dari rambut, hingga air hangat itu menelusuri seluruh lekukan tubuhnya.


"Seger banget," gumamnya begitu menikmati guyuran air. Ken juga menggosok-gosok tubuhnya tanpa ada bagian yang terlewatkan.


"Mana yang bau? Ini.....ini... atau yang ini? ," Ujarnya penuh emosi sembari menggosok bagian ketiak, leher, dan punggungnya. Begitu sampai pada bagian tubuhnya yang paling sensitif, ia malah tertawa geli.


"Mana mungkin yang ini. Tak mungkin bisa tercium oleh hidung pria itu walau lubangnya segede gorong-gorong. Ha..Ha....,"


Ken terus saja bicara sendiri, tertawa sendiri agar kesepian di rumah itu tidak bisa menghilangkan rasa takutnya.


"Eh, mana handuknya? Baju gantinya juga ga ada?"


Ken baru sadar jika ia masuk kamar mandi dengan tangan kosong. Tanpa handuk dan pakaian ganti.


"Hem....," Ken mengeryitkan keningnya begitu ia selesai namun bingung untuk mengeringkan tubuhnya yang mulai dingin.


"Baiklah, pake ini dulu,"


Meski sepi dan tidak ada orang, Ken tetap waspada. Sebelum keluar ia memastikan keadaan sekitar dengan mendongakkan kepalanya keluar. Setelah dipastikan cukup aman, ia keluar dengan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara.


********


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏

__ADS_1


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. Terimakasih!


__ADS_2