Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Sekali Lagi


__ADS_3

"Maaf jika harus seperti ini. Kau tidak bisa tinggal di sini, besok Maria pulang" Baron mengusap lembut punggung Nora. Malam ini, mereka menghabiskan waktu bersama. Saling memberi dengan penuh kasih.


"Iya, Bang. Aku faham. Jauh sebelum memutuskan untuk menerima tawaran Barent waktu itu, aku sudah siap dengan kondisi seperti ini," ujar Nora dengan tenang. Ia menatap lembut wajah suaminya, pria yang telah menikahinya secara sirih dan tinggal bersama di rumah ini selama sembilan tahun terakhir.


Nora memainkan anak rambut sang suami dan tak henti-hentinya mengembangkan senyum. Ia merasa beruntung bisa dipertemukan dengan pria yang telah memperlakukan nya dengan lembut dan perhatian.


"Aku sudah minta Barent menyiapkan tempat tinggal untukmu. Kau juga tetap mendapatkan uang bulanan dariku," jelas Baron lagi.


"Iya, terimakasih kasih," ujarnya pelan. Sesaat keduanya diam, Baron mengelus kembali tubuh polos istrinya itu dan merekatkan tubuh mereka. Dengan lembut ia mencium bibir lembut perempuan itu.


"Aku akan sangat merindukan mu," suara Baron terdengar begitu parau. Terlihat jelas kesedihan yang amat dalam dari wajahnya, matanya yang tajam mulai basah, bulir air mata telah mengambang di telaga itu.


"Kita masih bisa ketemu, kan?" tanya Nora yang tak kalah menahan haru.


"Aku akan mengunjungimu sesering mungkin," sahut Baron. Kecupan lembut kembali mendarat di bibir wanita itu.


"Akan sangat membosankan jika aku hanya menghabiskan waktuku di rumah tanpa ada yang bisa ku kerjakan," keluh Nora.


"Aku tidak mengizinkanmu kembali ke club',"


"Aku tau. Bagaimana jika aku membuka butik?" tanyanya ragu. Meskipun sangat mustahil permintaan itu dikabulkan, Nora tetap mencobanya.


Baron menyapu wajah wanita yang tengah terngadah memandangnya. Ia tatap mata itu dengan tajam sebelum ia memberikan jawaban atas pertanyaan wanita itu.


"Aku akan mencari tempat yang strategis untukmu," akhirnya izin itu keluar begitu ia melihat mata itu sangat penuh harap. Baron tau, wanitanya ini akan sangat kesepian jika tidak ada aktifitas yang bisa dilakukannya selama tidak ada dirinya.


"Bagaimana jika butik dan rumah tinggalku jadi satu. Jadi aku tidak harus keluar rumah setiap hari,"


"Aku cari untukmu," tegasnya lagi.


"Terimakasih, kau begitu baik padaku," ujar Nora penuh haru. Ia merapatkan pelukannya.


"Aku suamimu, sudah kewajiban ku untuk bertanggung jawab padamu,"

__ADS_1


"Terimakasih," sahut Nora lagi. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali air matanya yang bicara.


"Sudahlah, jangan seperti itu. Aku tidak bisa melihat air mata," Baron mengusap air mata yang sudah mulai mengalir di pipi istrinya.


"Kau mengingatkan ku pada seseorang," bisiknya pelan.


"Ibu dari anakmu?" selidik Nora. Meskipun ia tidak begitu suka disamakan dengan wanita lain, tapi ia cukup faham. Baron punya perhatian lebih padanya karena ia punya kesamaan sifat dengan istri pertama. Lembut dan perhatian.


"Iya,"


"Apa kalian berpisah?"


"Tidak, mana mungkin aku meninggalkannya. Dia yang memilih pergi dengan pria lain tanpa alasan,"


"Kau sudah mencari tau tentang keberadaannya?"


"Maria yang melakukan semua. Sejak ia pergi dari rumah ini, Maria yang mencarinya hingga ke kota kelahirannya. Rupanya dia tidak ada di sana, terakhir aku mendapat kiriman foto dari seseorang yang menjelaskan betapa bahagia kehidupannya dengan pria yang membawanya pergi,"


"Aku ikut prihatin, tapi apa ada yang bisa memberikan kesaksian bahwa mereka punya hubungan khusus. Bisa jadi mereka hanya teman atau rekan kerja," ada keraguan di hati Nora, bisa jadi semua ini rekayasa Maria dan anaknya. Sembilan tahun tinggal satu atap dengan Barent, Nora jadi lebih faham. Ibu dan anak itu begitu ingin menguasai bisnis dan kekayaan suaminya.


"Mereka yang pergi dariku tidak akan pernah aku panggil untuk datang kembali," ucapnya dengan tegas. Ada nada kecewa dan kesedihan dari suara itu.


Baron meraih pinggang istrinya, kini tidak ada jarak diantara mereka. Selimut yang menutupi tubuh keduanya juga sudah nyaris tanggal dengan sendirinya.


"Hem ...," Guman Nora diiringi senyum yang menggoda.


"Satu kali lagi," bisik pria itu tepat di kuping Nora. Tubuhnya menggeliat seketika hingga membuat gerakan yang cukup membakar gelora sang suami yang sudah mulai terbakar.


"Sudah larut, aku takut penyakitmu kambuh," elak Nora dengan hati-hati. Kondisi suaminya yang sudah tidak muda lagi, belum lagi beberapa penyakit yang menggerogotinya membuat Nora tak habis pikir. Antara kebutuhan biologis dan kondisi kesehatan yang sangat bertolak belakang. Nora jadi geleng-geleng kepala dibuatnya. Baron tidak mengindahkan ucapan istrinya itu.


"Cukup lama Baron bermain di bibir perempuan itu, menelusurinya dengan pelan dan sesekali menggigitnya dengan lembut. Mengecupnya dengan penuh kehangatan. Nora begitu termanjakan, ia memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan lembut yang diterimanya.


"Ah...," Nora menggeliat manja.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Baron. Ia menghentikan ciumannya.


"Geli, ga cukuran sih!" ujarnya manja. Tangannya bergelayut di bahu suaminya. Sementara dagunya ia gesek-gesekan ke atas bibir pria itu. Daerah yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus karena telat bercukur.


"Sengaja, hadiah untukmu," sahut Baron yang dikuti kecupan lembut di bibir perempuan itu. Untuk beberapa saat kemudian, mereka melanjutkan permainan di sekitar bibir.


"Duh, kayak penganten baru aja. Udah ga inget umur nih aki-aki," guman Nora dalam hari. Iya jadi terkekeh sendiri jika melihat suaminya sudah seperti ini. Karena tuntutan biologis, jiwanya bak pria berusia 30 tahunan lagi.


Meski usia mereka terpaut hingga 20 tahun, namun Baron bisa mengimbangi permainan istrinya. Diusianya yang sudah menginjak kepala lima, ia memang mengidap penyakit serius namun tidak jadi penghalang bagi dirinya untuk melakukan ibadah dengan istrinya.


Puas bermain-main dengan bibirnya, kini tangan yang ditumbuhi banyak bulu-bulu halus itu sudah menelusup ke dalam selimut yang masih menutupi bagian perut Nora hingga ke bawah.


"Bang....," desah Nora yang sudah tidak bisa bertahan lagi.


"Ah......," desahannya makin memicu semangat Baron untuk berbuat lebih dari itu. Mereka tidak sadar, jika desahan-desahan itu terdengar dari luar kamar. Bukan karena suaranya yang keras namun karena suasana rumah begitu sunyi.


Jam sudah menunjukkan pukul 24.30 WIB. Suasana rumah juga begitu sepi dan udara semakin dingin karena Jakarta baru saja di guyur hujan. Barent baru saja datang, malam ini ia pulang lebih awal karena ingin bicara dengan ayahnya, prihal mamanya yang akan datang besok.


Begitu ia akan mengetuk pintu kamar sang Ayah, tangan itu jadi kaku seketika. Ia mengurungkan niatnya. Kini ia memasang telinganya dengan baik, agar bisa memastikan apa yang sedang terjadi di dalam sana.


"Sialan, dasar tua Bangka berotak mesum, udah setua itu masih aja nafsunya ga ketulungan," ujar Barent begitu geram.


"Pinter banget tuh perempuan. Bisa-bisanya dia bikin si bangke bau tanah itu tekuk lutut sama dia," gerutuanya lagi dengan nada yang semakin geram.


Karena suasana hatinya makin panas, Barent meninggalkan tempat itu. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui sang ayah.


*****


Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.


Aku tetap menunggu


VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.

__ADS_1


Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗


__ADS_2