
Maria menerima foto dari pesan WA, orang yang ia bayar untuk mengikuti Baron satu hari ini. Untuk menjawab kecurigaan, kenapa suaminya itu tidak pulang kemarin malam.
"Tuh kan bener dugaan mama, Ferdy sudah bohong sama kita. Dia bilang Baron ada di kantor nyatanya dia baru datang jam 10,"
"Kan dia bilang Papa lagi minum kopi sama klien nya, mungkin dia memang baru balik lagi ke kantor jam segitu," bantah Barent.
"Bisa jadi seperti itu. Tapi foto ini, Barent. Coba kamu lihat ini," ucap Maria begitu panik ketika ia membuka foto yang dikirim orang itu setelahnya.
"Apa,Ma?" tanya Barent heran. Ia melihat mamanya mendadak pucat pasi. Bak mayat hidup.
"Mereka ternyata sudah kumpul kembali," Maria memperlihatkan foto yang ada di hp itu pada anaknya.
"Ternyata diam-diam mereka sudah kumpul," Barent mengulang ucapan mamanya.
"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan?" tanya Maria panik.
"Culik wanita itu. Bila perlu jangan sampai ia menginjak bumi lagi?" Lanjut Maria begitu emosi.
"Jangan main kekerasan, Ma. Aku tidak mau jika Mama sampai berbuat nekat seperti itu," Ujar Barent keberatan.
"Bagaimana jika Lisha memperlihatkan surat cerai itu. Bisa-bisa Baron mengirim ku ke penjara,"'
"Surat cerai? Apa maksud mama?" selidik Barent.
Maria menceritakan bagaimana ia mengusir Lisha dari rumahnya dengan caranya yang licik termasuk mengirimkan surat cerai palsu. Surat cerai yang sebenarnya tidak pernah ada. Surat cerai orang ia scan dan diubah namanya serta memalsukan tanda tangan Baron.
"Ma, aku tidak pernah mengira mama sejahat itu. Selama ini aku percaya Lisha meninggalkan suaminya karena cemburu pada mama, ternyata mama juga telah membohongiku,"
"Aku melakukan semuanya agar kau bisa hidup enak. Kenapa sekarang malah menyalakan mama. Ingat, apa yang kita miliki sekarang itu karena istri dan anaknya Baron pergi dari sisi pria itu. Jika mereka sudah bersatu, kita harus siap kehilangan semuanya. Mereka pasti akan balas dendam,"
"Kita cari cara lain. Jangan main kekerasan lagi. Apapun yang terjadi pada Lisha dan Al, pasti Papa tau jika kita yang melakukannya. Itu sangat berbahaya, Ma. Papa bisa-bisa berubah pikiran dan menarik asetnya yang sudah dilimpahkan ke kita,"
"Habisi Al dan Lisha. Itu kuncinya," ucap Maria makin panik.
"Tidak. Aku tidak setuju mama menggunakan cara seperti itu. Apa mama mau kembali lagi ke jeruji besi?" bentak Barent.
"Jangan bicara keras padaku. Apa yang bisa kau lakukan, hah? Semua yang kau miliki sekarang itu hasil pemikiran mama," umpat Maria.
"Sudahlah. Kita baiknya tidak usah emosi. Bersikap seolah-olah tidak tau saja. Bersikaplah semanis mungkin dengan papamu, jika perlu minta bantuan Nora untuk mempengaruhi Baron. Pria itu masih mau mendengar ucapan wanita itu," ucap Maria.
__ADS_1
"Iya, Ma. Nanti aku akan bicara lagi sama Nora. Mudah-mudahan dia bisa membantu,"
"Heh....belagu sekali wanita itu. Baru dapet ruko dan modal usaha segitu aja sudah merasa diperlakukan istimewa oleh Baron. Sombong," gerutu Maria lagi.
********
Al memberi kesempatan pada orang tuanya untuk bicara lebih banyak, makanya malam itu ia mengajak Ken keluar rumah dengan alasan mencari makan.
"Liat apa?" tanya Al ketika mobil yang mereka tumpangi terjebak macet.
"Orang pacaran naik motor. Sepertinya mesra sekali," pandangan Ken tertuju pada sepasang muda mudi yang tengah mengendarai motor gede berhenti di samping mobil Al. Si perempuan ngelendot di tubuh sang pengemudi. Nempel, karena jok belakang didesain condong ke depan.
"Kamu mau naik motornya atau mau ngikut adegannya. Kalau cuma adegan begitu kan perlu naik motor. Bisa memelukku dari belakang," goda Al.
"Ih, bukan itu. Tapi kesannya romantis banget. Seperti orang pacaran beneran," sahut Ken memberi alasan.
"Pacaran beneran, kau kira selama ini kita boong-boongan?" Protes Al.
Ken tidak menjawab, selama ini dia belum pernah melakukan hal-hal layaknya orang pacaran. Palingan juga Al cuma pegang tangan. Kencan mereka gagal.
"Kok diem. Beneran apa boongan?" selidik Al karena Ken tidak menjawab pertanyaan.
"Ok, kalau kau mau kita jalan naik motor seperti itu. Besok aku akan mengajakmu naik motor keliling kota," ucap Al lagi.
"Ha..ha..Yang penting kan bisa meluk pacarnya dari belakang. Itu kan yang kamu mau?" Ledek Al.
"Tau ah," sahut Ken kesal.
"Ken, Minggu depan Bu Ros udah pulang. Mengingat papa ingin tinggal bersama mama, seperti aku juga akan kembali ke rumah itu lagi. Aku mau tinggal bareng mereka. Bagaimana jika ibumu sudah kembali kau tinggal di apartemen, jangan di lontarkan lagi," ucap Al.
"Nanti aku bilang ibu dulu,"
"Apa dia sudah tau kalau kita pacaran?" tanya Al penasaran.
"Enggak. Aku ga cerita,"
"Kenapa?"
"Aku kan diminta untuk mengganti tugasnya sebagai pembantu di rumah itu bukan seperti yang susah terjadi,"
__ADS_1
"Memangnya salah. Kau jomblo yang ga pernah dapet pasangan, ga laku meski sudah tebar pesona diman-mana, terus aku juga pria bebas. Ga masalah kan?" Ujar Al seenak perutnya sendiri . Ken hanya bisa menarik nafas panjang mendengar ucapan Al yang begitu sombong.
"Aku ini anak pembantu yang lahir entah dari hubungan seperti apa? Bisa jadi bapakku itu majikan ibu atau juga teman kerjanya yang sama-sama jadi pembantu. Ibu selalu pesan padaku, jangan cari jodoh dari jenis manusia yang nomer satu itu. Orang itu aneh-aneh karena mereka banyak uang. Ibu lebih suka jika aku menikah dengan orang biasa-biasa saja,"
"Kalau perkara itu biar aku yang urus. Aku kan bukan majikan ibumu. Aku sudah menganggapnya sebagai keluarga. Sebagai ibuku sendiri,"
"Apalagi kalau keluarga, pasti akan di tentang keras kalau kita pacaran,"
"Emang kenapa,?" tanya Al makin bingung.
"Kalo dia ibumu berarti kita saudara satu muhrim. Mana bisa laki- laki menikahi keluarganya sendiri," canda Ken.
"Cup," satu kecupan mendarat di pipi Ken. Ia yang sedang bicara dengan antusias mendadak diam. Mukanya jadi merah saat itu juga.
"Kecupan kedua. Sama ga rasanya. Melihat ekspresimu seperti yang ini lebih istimewa," goda Al.
"Kenapa menciumku?" tanya Ken malu.
"Kan kita keluarga. Kau bilang muhrimmu, jadi boleh dong. Lagian itu cuma kecupan. Kecupan sayang dari saudara. Kalo ciuman beda lagi. Apa mau mencobanya juga?" tanya Al makin nakal.
"Ih, ini di jalan tau. Keliatan orang,"
"Kalo ga dilihat orang ma"
"Apaan sih?"
"Cewek yang naik motor tadi juga nyium pacarnya di jalan. Katanya mau seperti mereka biar kelihatan pacaran beneran. Gimana sih?" Protes Al sengaja menggoda Ken yang sudah terlihat serba salah.
"Gimana?" todong Al lagi.
"Apanya?" Ken pura-pura tidak faham dengan arah pembicaraan Al.
"Ga jadi?"
"Apanya yang ga jadi?"
"Naik motornya!" Tegas Ken.
"Tapi ciumnya boleh kan?"
__ADS_1
"Paan sih," Ken makin grogi dipojokkan seperti itu oleh Al. Al merasa menang, malam ini ia sudah berhasil membuat Ken merah padam dan satu keuntungan lagi untuknya, ia sudah mendaratkan kecupan kedua di pipi Ken yang mulus. Tidak seperti pertama kali ia melakukannya, kaki ini sudah tidak se- nervous dulu.
Al tersenyum, perasaan makin senang dengan banyaknya perubahan hidup yang ia alami akhir-akhir ini. Bisa menemukan keluarganya satu persatu dan bisa ketemu Ken yang akan diperjuangkannya sebagai teman hidupnya hingga maut memisahkan mereka.