
"Bagaimana dengan Mamamu?" Ken memberanikan diri untuk bertanya karena Al belum menyinggung wanita yang telah menghadirkan dirinya ke dunia ini.
Al menghela nafas panjang, cukup lama ia diam. Sepertinya ia sedang menata perasaannya agar bisa menjelaskan tentang mamanya.
"Ia pergi ketika aku berusia 13 tahun. Sejak itu aku tidak pernah mendengar kabar tentang dia," tukasnya. Ada nada kesedihan ketika Al menyampaikan ini.
Ken melihat pria itu menggigit ujung bibirnya, matanya terpejam beberapa saat. Tampak sekali, pria ini begitu sedih untuk mengingat apa yang telah dialaminya.
Ken memegang tangan Al dengan kedua tangannya. Sesekali ia menepuk punggung tangan pria itu untuk memberikan kekuatan.
"Maaf, apa aku terlihat cengeng," tanya Al.
"Tidak," sekali lagi, Ken menepuk pelan tangan Al yang masih ada dalam pegangannya.
Al menarik ujung bibirnya, ia mencoba untuk tersenyum. Tangan kanannya ia tangkupkan di punggung tangan Ken. Keduanya saling melempar senyum. Al bahagia bisa dalam situasi secair ini terhadap Ken.
"Mama orang yang pendiam, ia sangat perhatian dengan keluarga. Kata Papa, sejak mereka menikah mama berhenti dari pekerjaannya. Mama seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta terkenal di Jakarta, mereka bertemu ketika papa mengalami kecelakaan dan dirawat di sana,"
"Kenapa ia meninggalkan rumah?" tanya Ken penasaran.
"Sejak Maria jadi guru privatku hingga diberi kepercayaan me- tradingkan uang Papa, sejak itu ia makin sering ke rumah. Bahkan ia sering menginap di rumah. Papa menyediakan kamar khusus untuknya, ruang kerja sekaligus tempat ia istirahat jika terpaksa harus tinggal. Aku melihat makin lama hubungan mereka tidak lagi sebatas rekan kerja, aku sering memergoki Papa tidur di kamar Maria,"
"Apa Maria masih single?" selidik Ken lagi.
"Iya, tepatnya single parent. Ia punya anak laki-laki lebih tua tiga tahun denganku. Satu bulan sebelum mama pergi, Maria memboyong anaknya ke rumah kami. Barent, putra tunggal wanita itu juga mendapat kamar khusus di rumah kami, bahkan Papa membelikan mobil mewah untuknya,"
"Papamu menikahinya?"
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Aku sendiri tidak perduli terhadap hubungan mereka. Aku hanya memikirkan Mama yang sering aku dapati menangis dan mengurung diri di kamarnya,"
"Sebelum pergi, ia sering minta maaf padaku bahkan satu hari sebelumnya ia hanya berdiam diri di kamarku, menemani belajar, trading, hingga menemaniku tidur. Ia tidak mengatakan apapun, hanya satu surat yang sempat ia tulis untukku,"
"Papamu tidak mencarinya?"
"Tidak, Papa memang jarang di rumah. Saat Mama pergi, Papa sedang di luar kota. Maria bisa meyakinkan Papa bahwa Mama pergi dengan pria yang dikenalnya di dunia Maya. Padahal, menurut Pak Komar sopir yang sering mengantar mama kemanapun ia pergi, Mama minta diantar ke pasar dan akan pulang sendiri naik taxi. Ia tidak membawa apapun selain tas layaknya orang yang akan berbelanja,"
"Kasihan Mama," gumam Ken.
"Aku curiga ada campur tangan wanita itu. Mama orang yang sabar, ia bisa terima suaminya berbagi hati dengan Maria. Ia juga bisa terima Papa lebih mengistimewakan Barent daripada putranya sendiri. Jadi aku tidak percaya jika Mama pergi begitu. Pasti ada alasan yang membuatnya menjauh dari anak dan suaminya,"
"Iya, siapa juga yang bisa tahan tinggal satu atap dengan madunya yang culas itu," Ken jadi ikut terpancing emosinya.
Ken merapatkan tubuhnya, ia sangat prihatin dengan keadaan Al. Laki-laki yang terlihat begitu tegar dan penuh misteri itu kini menetes air mata di depannya. Ada gurat kesedihan yang begitu menyiksa pikirannya.
"Lalu bagaimana dengan trading yang kau pelajari darinya?"
"Wanita itu berakal bulus. Aku dijadikan ajang promosi bagi kelas yang dibukanya. Beberapa akun dan hasil tradingku kerap ia shere sebagai bukti keberhasilan dia membimbingku. Awalnya aku tidak terlalu pusing dengan masalah itu namun ketika ia mulai mererima invest dengan menjual namaku, aku mulai tidak suka. Ia melakukan semuanya tanpa sepengetahuan Papa. Ia cukup berani, profit yang dijanjikan pada investornya sebesar 10-15% dari modal yang mereka setor,"
"Kenapa dia tidak main sendiri?"
"Tidak semua guru bisa menguasai teori dan praktek secara bersamaan. Nah, Maria trasuk trader yang menguasai teori namun kurang berani untuk bermain secara langsung. Bisa jadi karena faktor modal juga, jadi dia harus meminimalisir resiko,"
"Oh, begitu," Ken menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia mulai faham dengan kehidupan orang tua Al yang begitu pelik.
"Maria sangat rakus. Uang yang dititipkan investor tidak pernah masuk ke akunku untuk di dagangkan. Namun ia membayar profit mereka dari hasil tradingku. Setiap Minggu aku dipaksa WD dan hasilnya dinikmati sendiri. Aku memang punya tiga akun, satu atas namaku sendiri, dua yang lainnya menggunakan nama dan no rekening Maria. Dari dua akun itu ia bisa mendapatkan profit 300 hingga 500 persen dari trading," Ken bisa mendengar gigi Al yang gemretak menahan amarah.
__ADS_1
"Banyak ya jumlah duitnya?"
"Ratusan juta yang ia tarik dari akunku. Ia memaksa aku supaya fokus trading agar bisa menjadi mesin penghasil uang baginya,"
"Kau tidak menceritakan itu pada Papamu?"
"Sudah, namun ia lebih percaya pada wanita itu. Maria berkelit, ia menerima investor untuk membangun kepercayaan pejabat dan pengusaha agar ke depannya aku bisa punya nama yang besar dan menjadi trader handal. Papa tidak tahu juga sudah banyak orang yang termakan janji palsunya. Karena uang itu tidak didagangkan, ia akhirnya pusing sendiri sehingga tercium adanya skema Ponzi,"
"Apa dia bekerja sendiri,"
"Tidak. Dia cukup dekat dengan Om Ryan. Yang aku tau, Om Ryan ini pemilik broker ilegal. Namun Maria memperkenalkan dia pada Papa sebagai rekan kerjanya.
"Untuk memberikan kesan kredibel dan bonafide kepada para investor dan calon investornya, Maria menemui mereka di hotel bintang 5 dan restoran ternama. Status Om Ryan sebagai pemilik broker semakin memuluskan rencana mereka. Tak sedikit pejabat dan masyarakat yang terlena dengan bujuk rayu mereka,"
"Ya Allah," gumam Ken yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
" Di tahun pertama dan kedua, investor mendapatkan bagi hasil sesuai dengan yang dijanjikan. Namun di tahun ketiga, pembagian keuntungan mulai mengalami masalah alias macet. Padahal jumlah investor mereka diperkirakan mencapai ribuan orang dengan jumlah dana yang terhimpun sekitar Rp 13 triliun,"
"Inalillahi, dikemanakan uang itu?" tanya Ken makin penasaran.
"Mereka membangun hotel dan tempat hiburan di pulau terpencil. Selebihnya digunakan untuk poya-poya Om Ryan dengan wanita-wanitanya tanpa ikatan pernikahan,"
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja karena terbentur dengan tugas kantor yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Ojo lali!
__ADS_1
VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.