
Mobil yang ditumpangi Al berhenti tepat di depan NRButiqu, tempat usaha sekaligus kediaman Nora. Istri ketiga Baron yang terpaksa harus keluar dari rumah besar mereka karena Maria sudah bebas dari penjara. Maria tidak ingin ada wanita lain di rumah itu selain dirinya, hanya ada satu nyonya besar. Dan itu harus dirinya.
Berbekal alamat dan informasi dari Bik Sum, Al mendatangi tempat ini seorang diri. Ia ingin bicara secara pribadi dengan Papanya. Menurut Bik Sum, setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu ia akan mendatangi Nora, itu juga tidak sampai bermalam.
"Permisi," ujar Al ketika ia membuka pintu kaca dan melangkah masuk. Pada bagian depan pintu sudah bertuliskan OPEN.
"Silahkan, Pak. Ada yang bisa saya bantu? Di sini kita menyediakan pakaian khusus perempuan," seorang perempuan muda yang tengah memasang blus pada sebuah manakin buru-buru meninggalkan pekerjaan dan menyambut kedatangan Al dengan sambutan yang ramah.
"Saya butuh beberapa blues. Pulihkan yang bagus-bagus. Ukuran lebih kurang seperti anda," sahut Al. Sekilas ia mengamati ukuran tubuh pelayan toko itu.
"Silahkan duduk, Pak. Ditunggu sebentar ya! Saya pilihkan beberapa koleksi terbaik dari butik kami, nanti bapak bisa pilih sendiri," wanita itu mempersilahkan Al duduk di Sofa yang ada di dekat tangga. Tidak lupa, ia juga menyediakan satu botol kecil air mineral siap saji.
"Silahkan. Saya permisi dulu sebentar," ujarnya lagi dengan sopan.
Al menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, sementara wanita itu memilih beberapa blus yang tergantung di dalam etalase.
Ruko ini berukuran sekitar 4x 8 M2 dan terdiri dari tiga lantai. Lokasinya cukup strategis, ada pusat pertokoan yang ada di kompleks perumahan mewah di pinggiran Jakarta. sementara wanita itu memilih beberapa blus yang tergantung di dalam etalase.
"Yang tertutup, lengannya jangan terlalu pendek dan leher juga tidak terlalu rendah," request Al.
"Baik, Pak," wanita itu menaruh kembali dua blues terpilih dan menukarkan dengan koleksi yang lain.
"Suka warna apa, Pak?" tanya wanita itu lagi.
"Dia berkulit putih dan rambutnya sedikit kecoklatan. Tolong disesuaikan saja," pinta Al.
"Baik," wanita itu memilah-milah blus sesuai pesanan dan ukuran yang dicari oleh tamu pertamanya pagi ini.
"Ini saya bawakan beberapa, silahkan dipilih," Wanita itu meletakkan 7 potong blues di atas meja, di depan sofa yang di duduki Al.
"Kejutan untuk istrinya?" selidik wanita itu dengan nada bercanda.
"Saya belum menikah," sahut Al tanpa menoleh ke arah wanita itu. Sementara tangannya sibuk memilih blues yang ada di depannya.
"Calon?" Tanya wanita itu lagi.
"Iya,"
"Duh senengnya. Pasti calon istrinya sangat senang dikasih hadiah seperti ini,"
Al tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Setelah memilih blus yang dibawakan oleh pegawai butiq itu, Al memilih tiga saja. Dengan model, warna, dan motif yang berbeda.
"Saya pilih yang ini, tolong carikkan padanan nya,"
"Jeans atau kulot?"
__ADS_1
"Keduanya boleh"
"Ukurannya, pak?"
Al tampak berpikir sejenak. Ia berusaha mengira-ngira ukuran celana yang biasa dibiasa digunakan Ken.
" Saya tidak tahu," ujarnya pasrah.
"Lebih gede atau kecil dari say" tanya wanita lagi. Ia berusaha membantu dengan mencari perbandingan.
"Kan sudah saya bilang tadi, cuma lebih tinggi sedikit," sahut Al setelah ia memandang sekilas wanita yang berdiri di depannya itu.
" Oh iya, maaf saya lupa. Kalau saya biasanya pakai Size M atau pinggang 29. Tapi jika ukurannya kurang pas bisa ditukar kok, harga menyesuaikan,"
" Pilihkan saja! Aku kurang faham soal itu,"
"Berarti pilih yang pakai karet aja ya, Pak. Biar lebih pleksibel,"
"Boleh,"
"Ok, saya cari dulu padanan untuk blus ini ya,"
Wanita itu kembali melangkah ke arah etalase yang memajang aneka celana panjang, ia mengambil beberapa pilihan. Kemudian beralih ke rak yang berisi kulot dan joger. Ia juga melakukannya hal yang sama.
Setelah mendapatkan beberapa pilihan, ia kembali membawanya pada Al agar pria itu bisa memilih yang cocok sesuai seleranya.
"Assalamualaikum," sapa Baron yang membuka pintu dan langsung masuk.
"Al..." Ia langsung mengenali anaknya. Pandangan mereka bertemu. Keduanya hanya diam beberapa saat.
"Ibu masih jongging, Tuan" wanita yang sejak tadi melayani Al dengan ramah itu seperti sudah kenal dengan pria ini.
"Iya," sahut pria itu. Tatapannya masih tertuju pada Al yang sudah menghentikan kegiatannya dari tadi.
"Bagaimana kau bisa ke sini?" tanya Baron pada putranya.
"Aku mau bicara, sangat sulit menemui Papa di rumah. Maaf, aku terpaksa ke mari," sahut Al dengan tenang.
Wanita yang berada di antara kedua jadi tahu hubungan antara pria muda ini dengan suami bosnya itu. Ia buru menarik diri dan ingin meninggalkan mereka berdua.
"Biar kami ke atas," Baron menahan Della yang sudah membalikkan tubuhnya dan ingin meninggalkan tempat itu.
"Baik, Tuan," sahut Della. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali berdiri dan menundukkan kepalanya. Ia jadi serba bingung berada pada suasana yang begitu kaku seperti ini.
"Ayo, kita ke atas," ajak Baron.
__ADS_1
"Tolong kemasi yang ini. Satu lagi pilihkan yang cocok saja," Al menyingkirkan satu kulot dan satu celana panjang diatas tumpukan blus yang sudah dipilihnya.
Baron mengamati barang-barang yang dipilih anaknya itu dengan tatapan penuh selidik.
Namun ia tidak berani bertanya. Begitu Al bangkit dari tempat duduknya, ia melangkah lebih dulu menapaki anak tangga yang hanya beberapa langkah saja dari tempatnya berdiri.
"Siapa yang melarangmu datang ke rumah?" tanya Baron setelah keduanya duduk di sofa di ruang tamu lantai dua.
"Dua kali aku ke sana, Barent selalu melarangku masuk dengan alasan kesehatanmu,"
"Aku baik-baik saja. Bisanya dia membuat alasan seperti itu," ucap Baron sambil menatap mata Al dengan tajam. Ia berusaha mencari kebenaran dari ucapan putranya itu.
"Itu bukan urusanku. Aku datang ada sesuatu yang ingin aku sampaikan,"
"Al, berhentilah bersikap kaku seperti itu padaku. Aku ini Papamu. Aku sudah melupakan semua yang terjadi pada kita," pinta Baron dengan sepenuh hati. Ia menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan putranya itu.
"Tapi Papa belum percaya kalau aku tidak bersalah atas semua yang terjadi waktu itu,"
"Semua butuh waktu. Maafkan Papa. Papa akan memperbaiki semuanya," ujar pria itu lagi. Kaki ini ia menepuk pundak Al dengan lembut. Ada perasaan yang begitu susah untuk diungkapkan dari tatapan pria yang sudah berumur itu.
"Al," panggil pria itu lagi.
"Iya,"
"Apa kau baik-baik saja?"
"Seperti yang kau lihat," sahut Al dikuti dengan senyum terpaksa.
"Maksudku....," Baron belum selesai bicara namun Al sudah mengerti maksud pembicaraannya.
"Sejak kecil aku sudah mahir trading. Tidak sedikit rupiah yang mengalir di rekeningku dan dimanfaatkan Maria untuk bisnis investasinya. Sejak aku pergi dari rumah, aku mulai semuanya dari Nol. Lihat saja, aku bisa hidup dari hasil kerjaku,"
Baron menarik nafasnya. Sepertinya ia menyesali tindakan selama ini. Ia membiarkan darah dagingnya berjuang sendiri di luar sana, sementara dirinya menghidupi anak bawaan Maria.
"Maafkan Aku," ujar pria itu lirih.
"Semua sudah berlalu, menyesal pun tak ada guna," seru Al lirih.
Bersambung.........
*******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
__ADS_1
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗